
Suara pedang dari Clara dan Hendrick saling beradu. Lebih tepatnya suara dari pedang Hendrick yang nyaris mematahkan mata tipis milik pedang Clara. Tapi dalam sekali tebasan itulah, Clara berhasil menggores wajah lawannya.
Darah mengalir di wajah tersenyum Hendrick. Akhirnya dia mengerti alasan ayahnya membawa gadis ini pulang ke kediaman Wayne. Tentu saja karena kemampuannya yang tidak bisa diremehkan. Bahkan pendekar pedang sekelas Hendrick saja masih bisa mendapat goresan di wajah hanya dengan sekali gerakannya.
"Apakah kau akan menertawakanku jika aku kalah di sini?" Tanya Hendrick di sela-sela serangan dan elakannya.
Clara membalikkan arah mata pedangnya ke belakang dan memukul perut Hendrick dengan gagang pedangnya.
"Ugh!"
"Saya tersanjung anda mulai mengakui saya saat ini. Jadi saya akan menyimpan semua ejekan untuk nanti."
Hendrick yang masih menahan rasa sakit menarik kerah pakaian Clara dan melemparnya sejauh yang ia bisa.
Meski terlempar bagitu jauh, saat mendarat Clara masih memiliki keseimbangan untuk tidak jatuh ke tanah. Dia memegangi lehernya yang berdarah karena tergores oleh bilah pisau.
Tidak kuduga kalau gaya bertarungnya sangat rapi seperti ini. Kalau begini terus, aku bisa kalah.
Clara dengan cepat melempar pisau andalannya kearah Hendrick. Namun pisau itu bisa dibelokkan oleh lawannya dan sekarang sudah tertancap di samping Duke Wayne berdiri.
"Mereka bertarung hanya berdua 'kan? Mengapa aku juga ikut jadi sasaran?"
Setelah menangkis pisau tersebut, Hendrick sempat bingung ke mana Clara pergi. Sebab dia tidak terlihat dimana pun.
Clara tiba-tiba datang di depan Hendrick dan menendang tubuh pria itu. Hendrick yang tak siap tersungkur ke tanah dan sebelum dia berhasil bangkit ada sebilah pedang bermata tipis yang nyaris mencongkel matanya keluar.
"Tidak kusangka akan secepat ini selesainya, padahal ini cukup seru untuk ditonton." Gumam Duke Wayne, kemudian dia menghampiri tempat dimana Hendrick terjatuh.
Clara dengan pedang yang terjulur ke wajah Hendrick berdiri di hadapannya dan belum merubah posisinya sejak tadi sampai Duke Wayne tiba.
"Saya ini sangat cepat, bukan?" Ujar Clara, sebuah senyuman mekar di bibirnya.
Hendrick mengangkat kedua tangannya tanda sudah menyerah. Lalu Clara menarik kembali pedangnya dan menyarungkannya.
"Sebenarnya ini cukup memalukan bagiku karena kalah dari orang tak terkenal sepertimu. Apalagi dalam waktu secepat itu." Hendrick segera bangkit sambil mengambil pedangnya yang sempat terlempar jauh ke belakang.
"Maksudnya?" Clara jadi bodoh tiba-tiba.
"Maksudnya kau yang tidak diketahui eksistensinya apalagi kemampuannya. Bagaimana bisa mengalahkan Hendrick yang sudah menjadi pendekar pedang sejak usia dini? Jadi akan memalukan baginya untuk mengakui kekalahan darimu." Duke Wayne berujar.
"Oh..." Clara mengangguk paham.
"Lagi pula, apa-apaan kalian tadi." Duke Wayne jadi terlihat kesal.
"Apa?" Tanya Hendrick dan Clara bersamaan.
__ADS_1
"Kalian mengarahkan semua senjata kalian kepadaku. Padahal ada banyak lahan kosong yang bisa digunakan untuk tempat pembuangan senjata."
"Sebenarnya itu bukan sengaja, Ayah." Ucap Hendrick tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Benar-benar, kebetulan tempat anda berdiri cukup strategis. Jadi... anda tahu 'lah."
"Ck!"
"Baiklah, aku akan ke kamar lebih dulu. Soal hadiah, besok saja, ini sudah malam." Hendrick berjalan menjauh dari kedua orang itu.
Dia cukup terkejut dengan kenyataan kalau Clara lebih hebat darinya. Ayahnya benar-benar mendapatkan hadiah besar setelah kepulangannya dari misi enam tahun yang lalu.
Clara mengulurkan tangannya dengan isyarat meminta.
Duke Wayne tentu jadi heran. "Apa? Kau perlu uang? Jadi kau memutuskan untuk menjadi 'wanita' sekarang?"
"Bukanlah! Saya meminta kembali pedang saya."
"Kau punya dua keuntungan ternyata. Besok akan kuberikan pedangnya. Jangan lupa pakai jubahmu itu agar kulitmu tidak terbakar." Ujar Duke Wayne dengan setengah ejekan dan setengah candaan.
Duke tua ini memang minta dibakar olehku, yah.
...****...
"Avrim, aku akan ke ruangan Duke Wayne sebelum ke ruang kerja Tuan Hendrick."
"Memangnya kenapa Nona?" Avrim bertanya sambil memotong buah apel di tangannya.
"Aku akan mengambil pedangku kembali."
"Eh? Nona akan menggunakannya untuk bertarung?" Dengan nada khawatir Avrim kembali bertanya.
"Tidak. Itu 'kan punyaku, aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Kau sendiri tahu Avrim, kalau aku harus melindungi keluarga ini sebagai bayaran atas hidupku."
"Tapi Nona jangan memaksakan diri. Nona padahal seorang gadis, mengapa kediaman Wayne ini tidak memperlakukan Nona sebagaimana gadis pada umumnya?"
"Apakah itu perlu? Duke Wayne juga tahu kalau aku tidak bertingkah layaknya gadis bangsawan."
Avrim terdiam ketika mendengar kalimat terakhir dari Clara. Dia mungkin akan mendandani Clara dan membuatnya sebagai gadis sepenuhnya mulai saat ini.
Setelah membasuh diri dan mengganti pakaiannya. Clara yang menggunakan jubah besarnya pergi menemui Duke Wayne.
"Jika kau adalah Clara Scoleths, maka masuklah."
"Ini saya." Clara membuka pintu ruangan.
__ADS_1
"Ah, kau datang untuk pedangmu 'kan? Ambil saja di sana." Duke Wayne menunjuk pada pedang berukir mawar yang tergantung di dinding.
"Saya tidak tahu kalau itu ada di sana." Clara menautkan alisnya.
"Tentu saja. Aku 'kan menyimpan itu sebelumnya supaya kau tidak mengambilnya."
"Anda menjebak saya."
...****...
"Maaf saya telat. Saya ada janji dengan Duke tadi."
Hendrick menatap Clara yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku tahu itu. Kau juga datang dengan buru-buru kesini supaya mendapatkan hadiah dariku lebih cepat 'kan?"
"Hehe..." Clara tertawa renyah.
Hendrick melanjutkan goresan penanya di atas selembar kertas. "Jadi, apa yang kau minta?"
Clara mengambil posisi yang tepat di hadapan Hendrick. Tatapannya terlihat menjadi ragu dan ia mencengkeram kuat gaunnya yang dibalut jubah.
Setelah menghembuskan napas panjang. Kemudian ia membuka suaranya. "Saya ingin tahu secara detail tentang saya yang baru datang ke kediaman ini enam tahun lalu. Anda harus menceritakannya karena ini permintaan saya sebagai hadiah."
Hendrick tertegun, "Sederhana sekali."
"Tapi, saya tidak ingin membuat rasa penasaran saya semakin besar. Saya yakin Duke maupun Nona Hellen tidak akan membuka mulut untuk menceritakan ini. Jadi, saya mohon." Kepala Clara sedikit menunduk.
Melihat Clara yang memohon, Hendrick semakin bingung. Masalahnya cerita lama Clara tidak terlalu diketahui olehnya. Seperti yang pernah dikatakan Hendrick sebelumnya, Clara Scoleths saat itu memang benar menghindarinya.
"Aku bisa bicara apa tentangmu. Baiklah kalau hanya garis besarnya saja. Karena saat itu aku juga tidak terlalu dekat denganmu. Juga, mengapa kau bertanya? Apa kau lupa ingatan?"
"Eh? Itu saya... anda akan tahu cepat atau lambat. Jadi, tolong jangan bertanya sampai saat itu tiba."
"Baiklah." Meskipun masih tersisa rasa curiga, Hendrick tidak mengatakan apa pun lebih jauh. Untung saja Clara tak meminta yang aneh-aneh padanya.
"..."
"Setelah kau baru datang sekitar enam tahun yang lalu..."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1