
"Nona Scoleths!"
Vester berlari kearah Clara yang sudah bersimbah darah. Sejujurnya luka itu takkan dengan cepat membunuhnya. Tetapi sebelum ini Clara sudah mendapatkan banyak luka yang bahkan belum kering sepenuhnya.
Vester terkejut melihat sosok orang yang telah membunuh Clara. Tubuh Clara semakin pucat karena mulai kehilangan banyak darah dalam tubuhnya. Dia memegangi Clara dengan erat, tapi dia hampir lengah pada sekitarnya.
TRANG
Vester tidak sempat mengambil pedangnya, beruntung seseorang langsung menangkis pisau beracun yang dilemparkan oleh Meiger. Berdiri di belakang mereka dengan ekspresi rumitnya.
"Jadi, anda memanglah..."
Hendrick tidak melanjutkan kalimatnya. Ia sangat dikejutkan pada penampilan Meiger yang sekarang. Ini sedikit berbeda dari Kaisar Hortensia yang ditemuinya di Agapanthus. Pria di depannya terus menampilkan senyum liciknya.
Di Agapanthus, Raģe pernah memperingatkan ia tentang orang - orang dari Hortensia. Sebab mereka cenderung tertutup dan misterius, Raģe juga merasakan kejanggalan saat melihat mereka. Hendrick hanya tidak tahu bahwa semua peringatan Raģe bukan tanpa berdasar.
Aku ragu... apa Hortensia selalu damai karena ulahnya yang menyebarkan sihir hitam? Yang benar saja. Teori ini terlalu gila untuk diwujudkan.
"Bawalah Clara pergi."
"A-ah baik!"
Vester dengan cepat menggendong tubuh Clara dan beranjak pergi. Hendrick merasa aneh sebab Meiger tidak menghalangi mereka pergi dan tetap diam memperhatikan.
"Anda tidak menahan mereka disini?" Tanya Hendrick.
"Untuk apa? Lagipula gadis penghalang itu sudah mati. Tidak akan ada yang dia lakukan selain melebur menjadi bunga setelah ini." Ucap Meiger acuh.
Tubuh Hendrick menegang. Dia tidak mengharapkan akhir yang seperti ini. Setidaknya, kembalinya Clara ke Ranunculus jangan sampai berakhir buruk. Itu tidak boleh. Sebab Hendrick tak mengizinkannya.
Sudah mati... benarkah?
...****...
Di padang rumput yang teramat luas. Warna hijaunya telah dikotori oleh pekatnya darah. Banyak orang telah tergeletak disana dengan luka di sekujur tubuh. Entah mereka masih bernapas atau tidak.
Raģe terbatuk - batuk ketika berusaha bangkit. Tangannya mati rasa, sebab ada luka tusuk yang tersampir di sepanjang lengannya. Keadaan Raja Agapanthus pun tidak baik sama sekali, kepalanya membentur tanah dengan keras.
__ADS_1
Cepat - cepat Raģe memeriksa keadaan Raja Agapanthus. Ia bisa bernapas lega mengetahui pria tua itu hanya pingsan. Namun Raģe tidak bisa tinggal diam melihat luka besar di kening Raja Agapanthus.
Keadaan George juga tidak baik - baik saja. Karena saat melawan Meiger, George lah yang paling bersikeras untuk tetap melawan Meiger meski dia sudah babak belur.
"Apa kau bisa mendengarku?" Tanya Raģe, memeriksa apakah George sadar atau tidak.
Saat tubuh George menggeliat lemah, Raģe menghela napas dengan lega. Namun Raģe menatap kumpulan mayat di padang rumput ini yang benar - benar tak bisa diselamatkan lagi. Kekuatan dari Lavoisiér memang tak boleh diremehkan. Raģe ragu bila masih ada yang hidup selain mereka bertiga.
"Sejak kapan kau mencurigainya?"
Raģe kembali menatap George yang bahkan kedua matanya masih terkatup rapat. Hanya terdengar suaranya yang lemah dan serak.
"Saat Kaisar berkunjung ke Agapanthus bersama pengawal pribadinya. Awalnya aku hanya curiga pada Jean, tapi saat di meja makan untuk sarapan pagi harinya..."
"Pantas saja firasatku tidak enak."
Raģe diam membisu. Dia memang curiga, tapi hanya sekedar curiga. Setelah itu, tidak ada yang dilakukan olehnya. Raģe tidak sampai menelusuri identitas kedua orang itu lebih dalam. Tak disangka sikap abainya merubah banyak hal secepat ini.
Mungkin Meiger tidak merencanakan tentang peledakan dan kebakaran hutan tempo hari. Dia hanya menunggu Freesia dan Vinca menyerang, sementara dirinya akan muncul di waktu yang tepat untuk mengambil kembali sihir hitamnya.
"Haha! Aku gagal melindunginya. Kuharap dia tidak mati..."
"Kita harus kesana!" Ujar Raģe.
"Keadaan kita hanya akan semakin menyusahkan mereka. Kita harus menunggu luka ini membaik-"
"Persetan! Kalau kau tidak mau, biar aku saja."
George yang masih menutup matanya, hanya mendengus geram atas keputusan Raģe yang tergesa - gesa.
"Sudah terlambat, pria itu pasti sudah meratakan Ranunculus."
...****...
Di tanah Ranunculus. Kepulan asap hitam memenuhi udara, langit malam kelam yang hanya ditemani oleh satu bintang. Mayat - mayat bergeletakan di sepanjang jalan. Sejauh yang bisa dilihat hanyalah pemandangan penuh darah yang menyakiti mata.
Sebagai ksatria kedua yang mahir dalam seni pedang setelah Frederick Wayne, Hendrick masih bisa bertahan melawan Meiger. Sejak tadi hanya ada serangan sepihak dari Hendrick, sementara Meiger dengan santainya menangkis setiap serangan yang tertuju padanya.
__ADS_1
Meski selalu gagal memberikan serangan, Hendrick tidak menyerah begitu saja. Beberapa aliran pedang yang didapatkannya dari wilayah lain dia gunakan dalam upaya melumpuhkan Kaisar Hortensia ini.
"Kau lumayan juga..." Meiger tersenyum sinis.
Pertarungan beberapa saat lalu yang dirinya lakukan bersama senjata dari Freesia itu masuk di ingatannya. Walaupun George hanya mampu bertahan selama sepuluh menit.
Sementara kemampuan Hendrick jauh diatas George. Sehingga Meiger harus mengeluarkan lebih banyak tenaga dan sihir hitam untuk mengalahkannya.
Sekarang fokus Meiger terbagi menjadi dua. Yaitu pada pertarungannya dengan Hendrick dan proses penyerapan sihir hitam ke dalam pedang emasnya. Pedang yang dia gunakan untuk melawan George maupun Hendrick.
Hendrick menggeram kesal saat dia dipukul mundur cukup jauh karena tak mampu menahan serangan balik dari Meiger. Ia mengabaikan rasa sakit akibat dari pertarungan sebelumnya. Meiger pasti tidak menggunakan seluruh kemapuannya mengetahui kondisi Hendrick yang tidak prima.
"Tolong..."
"Huh?"
Hendrick tercenung seketika saat ada suara mendengung yang memenuhi pikirannya. Hendrick kehilangan fokusnya dan menyadari Meiger yang menodongkan pedangnya cepat tepat di wajahnya.
Hendrick semakin dipukul mundur, terseret hingga meninggalkan bekasnya pada permukaan tanah.
"Tolong aku..."
Sialan! Semua suara minta tolong ini sangat menganggu fokusku.
Sambil terus menghilangkan segala suara yang mengganggu pikirannya. Hendrick membalikkan serangan Meiger. Namun usahanya selalu gagal, fokusnya sudah buyar dan dia berada di level yang jauh dari kaisar di depannya ini. Tinggal menunggu waktu hingga kekalahannya.
TRANG
Pedang Meiger dan Hendrick beradu. Berbeda dari Meiger yang wajahnya tak menampakkan kesusahan. Hendrick menggeram, tangannya mencengkeram gagang pedang dengan kuat.
Tanpa sadar, Hendrick menatap kedua mata ruby milik Meiger yang mengkilat tajam. Ada sesuatu disana, yang menyebabkan Hendrick tercengang tidak percaya.
"Kumohon, tolonglah aku dari dendam ini."
Yang meminta tolong sejak tadi, bukan pria ini 'kan?
TBC
__ADS_1
Like + Komen, see you in the next chapter ~