The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 19 - Memori Hortensia III


__ADS_3

BRUG


"Aduh...!!!"


Hellen menabrak dinding di depannya kemudian dengan kesal menendangnya.


"Siapa sih yang menaruh dinding di sini?! Apa dia tidak tahu kalau ini untuk jalan orang."


"Hm?" Hendrick yang mendengar keluhan Hellen mendadak menghampirinya. "Ada apa, Hellen?"


Hellen menengok dengan kesal dan terlihat kalau matanya sudah berair karena air mata. "Kakak..."


GREP


"Eh?"


Hellen tiba - tiba memeluk Hendrick kemudian mulai menangis histeris.


"Eh? Ada apa? Kenapa kau menangis? Jarang sekali kau mengeluarkan air matamu untuk hal yang sia - sia."


"Hiks... Hiks..."


Tak mendapat jawaban. Hendrick membawa Hellen untuk duduk dan menunggu adiknya tenang dahulu. Setelah tangisan Hellen mereda, Hendrick mulai menanyakan alasan mengapa adiknya menangis.


"Mengapa kau jadi cengeng? Apa yang terjadi padamu?"


"Rara, dia bersikap dingin kepadaku, seolah - olah aku dan dia tidak pernah berteman sebelumnya. Awalnya kupikir itu hanya sebagian dari permainan kebohongannya. Tapi saat aku melihat matanya, saat itulah aku yakin kalau Rara sudah tak mengingatku lagi. Dia bersikap dingin padaku. Padahal 'kan kami sudah berteman lama sekali..."


Padahal Hendrick hanya bertanya sedikit. Tidak disangka ia akan mendapatkan jawaban yang panjang dan curhatan sebagai tambahannya. Yah... Hendrick memakluminya. Saat ini Hellen memang butuh telinga untuk mengeluarkan keluh kesahnya.


"Kak."


"Hm?"


"Aku ingin ke akademi di ibu kota."


"Huh? Dulu saat Kakak menawarkanmu kau bilang tidak mau. Sekarang kau malah berubah pikiran. Kau tahu Hellen? Belajar dengan adanya beban pikiran atau hanya untuk pelampiasan takkan bermanfaat bagimu."


"Sudahlah, Kakak."


"..."


"Aku tidak mau melihat wajahnya. Itu menyebalkan bagiku."


Hendrick menghela napasnya.


"Baiklah, Kakak akan meminta izin pada Ayah dulu sebelum memberangkatkan mu ke ibu kota. Kau juga harus memberi tahu hal ini kepada Ibu, oke?"


Hellen mengangguk lesu. "Oke."


...****...


"Ayah, bolehkah aku masuk?" Hendrick berteriak dari luar ruangan.

__ADS_1


"Masuklah."


Hendrick memutar kenop pintu dan berjalan mendekati ayahnya.


"Ayah, Hellen bilang ingin bersekolah di akademi ibu kota. Apakah Ayah akan mengizinkannya?"


Duke Wayne menghentikan kegiatan mengisi dokumennya. "Apa? Mengapa tiba - tiba sekali? Dulu dia menolaknya 'kan? Sekarang mengapa berubah?"


Hendrick bungkam.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Clara Scoleths?"


Hendrick masih terus bungkam.


Merasa yakin kalau penyataannya tepat sasaran, Duke Wayne mendengus kasar. "Dia pulih terlalu cepat." Gumam Duke Wayne.


"Ayah mengatakan sesuatu?" Tanya Hendrick, dia merasa jika ayahnya menggumamkan sesuatu. Namun terlalu samar sehingga Hendrick tak mendengarnya dengan jelas.


"Tidak, tidak ada sama sekali."


"Begitu." Hendrick hanya bisa menelan kekecewaan.


Lagipula ini bukan kali pertama Duke Wayne menyimpan rahasia darinya juga dari keluarganya. Hendrick hanya perlu pura - pura bodoh dan tidak ikut campur urusan ayahnya terlalu dalam.


"Soal permintaan Hellen. Baiklah, Ayah akan mengizinkannya. Tapi dengan satu syarat, dia harus fokus menyelesaikan sekolahnya sampai selesai. Katakan padanya untuk melupakan saja pertemanannya dengan Clara Scoleths. Karena itu akan sukar untuk dikembalikan seperti semula."


"Saya undur diri dulu, Ayah."


"Baik. Mungkin Hellen akan berangkat esoknya. Dia mengatakan sesuatu semacam 'melihat wajahnya terasa menyebalkan', bukan?"


...****...


"Jadi, Ayah sudah memberimu izin."


"Benarkah?"


Hendrick mengangguk pelan.


"Namun dengan satu syarat."


"Apa itu?"


"Fokusmu hanya perlu pada sekolahmu. Jangan pikirkan hal lain, karena itu akan mengganggu sekolahmu. Selain itu, kau harus menyelesaikan sekolahmu sampai tuntas, jangan setengah - setengah."


"Kedengarannya bukan hanya satu."


"Sudahlah, segeralah bersiap - siap. Besok kau berangkat. Lebih cepat akan lebih bagus. Kau tidak ingin melihat wajahnya lebih lama lagi dari ini 'kan?"


"Tentu saja!"


...****...


Esok harinya.

__ADS_1


"Semuanya sudah dikemas dan lengkap. Aku hanya tinggal berangkat saja."


Hellen menatap sendu pada ibunya. Dia mungkin akan lama menempuh sekolahnya itu.


"Sampai jumpa lagi, Ibu. Hellen akan menyelesaikan sekolah Hellen sesegera mungkin supaya Ibu bisa bertemu Hellen dengan cepat."


"Haha... Belajar bukan cepat atau lambat patokannya. Jangan lupa tujuan awalmu ke akademi, rajin - rajinlah belajar, Hellen anakku."


"Ayah, jaga Ibu baik - baik, oke?"


"Tentu."


GREP


Hellen memeluk Duke Wayne. "Hellen akan merindukan Ayah ketika sudah sampai disana."


"Maksudmu apa dengan 'ketika sudah sampai disana'?"


"Hehe..."


"Bagaimana denganku?" Celetuk Hendrick.


Hellen menatap Hendrick dengan tatapan mengejek.


"Tidak mungkin aku melupakan Kakakku yang tampan ini. Nanti kucarikan calon pengantinmu disana, Kak." Hellen berkata jahil.


"Hey, beruntung kau adalah Adikku."


"Sampai jumpa, Kakak tampanku~"


"Sebenarnya dia belajar menggoda dari siapa?" Gerutu Hendrick.


Duke Wayne melirik pada istrinya yang sedang senyum - senyum tak jelas. Dia tahu siapa yang membuat anak perempuan satu - satunya ini menjadi seperti itu.


"Ada apa?"


"Tidak, tidak ada. Tidak usah dipikirkan. Tak penting juga."


Di dalam kereta kuda, Hellen memandangi jendela kamar milik seseorang yang sekarang menjadi sangat tertutup. Hellen menatapnya dengan benci. Kemudian ia mengepalkan tangannya dengan kuat.


Aku akan kembali dan membuatmu menyesal atas sikapmu kepadaku, Clara Scoleths.


...****...


"Jadi, apa yang membuatmu berubah hari itu?" Hendrick menatap tajam Clara.


Clara bungkam seketika. Ia baru tahu kalau sebelum tubuh ini dimasuki olehnya. Clara Scoleths mempunyai sikap yang sering berubah - ubah layaknya kulit bunglon.


"Saya mungkin sudah lupa, Tuan Hendrick."


Hanya itu saja yang mampu Clara katakan.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~


__ADS_2