
"Hah... hah... hah... apakah kita sudah sampai, Jean?"
"Um... se-sedikit lagi Nona, jadi berjuanglah oke!"
"Kau juga mengatakan itu sekitar setengah jam yang lalu dan sampai sekarang pun kita belum sampai juga. Apakah Freesia memang sejauh itu dari Hortensia??"
"Lumayan..."
Clara dan Jean masih dalam perjalanan menuju Freesia. Meski semangat Clara begitu tinggi sebelumnya, namun setelah lama sekali berjalan dan belum menemukan tanda - tanda sampai. Clara mulai kehilangan semangatnya.
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu?" Saran Clara.
"Tapi Nona, belum lama ini kita sudah istirahat bukan?"
Mendengar Jean, Clara menghela nafasnya dengan kasar.
"Ah...! Kapan kita sampai ke Freesia!!!"
...❀...
Perjalanan masih terus berlanjut, tentu saja dengan segala macam keluhan yang dilontarkan Clara. Pada dasarnya, kalau bukan demi menghindari ending kelam hitam itu. Clara mana mau repot - repot seperti ini.
Sebenarnya dalam novel perang pecah karena dirinya. Tapi Clara hanya berjaga - jaga saja kalau semisal senjata kedua buatan Freesia ini menjadi pemicunya.
"Apa Nona sudah lelah berjalan?"
"Hng? Tidak juga. Tapi kalau kau mau membantuku berjalan, aku tidak masalah sama sekali kok."
"Maksud Nona apa? Kita sebentar lagi sampai-"
SRET
Clara merentangkan kedua tangannya pada Jean. Dengan wajah yang bersinar penuh harapan dia menatap pengawal pribadi kaisar itu. Jean yang pasrah kemudian mengambil posisi jongkok membelakangi Clara. Langsung saja Clara memeluk leher Jean.
"Hehe... digendong olehmu adalah yang terbaik, Jean." Clara mulai tertawa dengan cara yang aneh.
"Saya pikir ini bukan pertama kalinya."
"Benar juga yah... itu terjadi ketika...!"
Clara refleks memegang bibirnya, wajahnya bersemu merah. Nyaris saja keluar asap dari kepalanya. Kemudian Clara mengeratkan pelukannya pada Jean.
Ini buruk, aku jadi ingat adegan ciumanku dengan Yang Mulia.
"Nona, bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya Jean.
"Huh? Hm... oke - oke." Jawab Clara, masih dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
"Apakah Nona mencintai Yang Mulia?"
Clara yang awalnya sibuk menghapus segala macam pikiran kotor dalam otaknya seketika merasa semua memorinya menghilang. Dan itu semua bisa terjadi karena satu pertanyaan dari Jean.
Tidak salah jika Jean bertanya seperti itu. Selama ini Jean tahu kalau semua wanita yang pernah bertemu Meiger pasti menempatkan hatinya pada orang itu. Apalagi kalau kasusnya seperti Clara yang setiap hari bersama dengan Meiger. Mustahil Clara tidak terikat hatinya.
Lalu, saat momen terpergoknya Clara bersama Meiger di perpustakaan sebelumnya. Jean mulai berpikir yang tidak - tidak mengenai apa yang terjadi sebelum dirinya membuka pintu.
__ADS_1
Jean sebenarnya tidak terlalu peduli tentang itu, namun karena Clara menjadi seseorang yang berharga baginya sejak beberapa waktu lalu, hal ini membuatnya menjadi penasaran.
Tidak masalah baginya jika pun seluruh gadis di Hortensia, baik yang bangsawan maupun yang bukan mencintai Meiger. Akan tetapi hanya Clara saja yang Jean harapkan tidak menaruh hatinya pada Meiger.
"Berjanjilah untuk tidak mengejekku, Jean." Ucap Clara mengancam.
"Tentu saja itu tidak mungkin Nona, saya tidak berani melakukannya."
"Bagus." Clara mengangguk mantap.
Clara sedikit menjauhkan tubuhnya dari Jean, dia menatap ke langit biru yang membentang luas. Pandangannya menjadi sendu, mengingat betapa ironisnya cinta pertamanya di dunia ini.
Yah, Clara menyatakan ini cinta pertamanya bukan tanpa alasan. Meskipun sebelum masuk ke dunia novel Clara pernah sekali berpacaran. Tetapi jujur saja, Clara sendiri tak terlalu mengerti apa alasannya mau menerima pria itu sebagai kekasihnya, semuanya mengalir begitu saja seperti air. Seolah pria itu memakai pelet untuk membuat Clara menerima cintanya.
"Aku ini berkata jujur Jean, aku mencintai Yang Mulia dengan segenap cintaku."
Itu benar, hanya Meiger saja yang mampu membuat jantung Clara berdegup kencang. Hanya orang itu saja yang bisa membuat Clara merasa cemburu padanya ketika ada wanita lain bersamanya.
Mendadak Jean merasa tak enak di dadanya.
"Tapi aku kepikiran untuk mundur saja daripada terus maju." Sambung Clara.
Jean yang sebelumnya merasa sedih, kini sedikit bahagia mendengar pernyataan itu. Tapi selain bahagia, dia juga penasaran dengan alasan kenapa Clara memilih untuk mundur.
Oke, dari parasnya Clara memang adalah gadis yang luar biasa cantik, tanpa keraguan sedikit pun. Namun ini bukanlah dunia dimana kecantikan bisa menguasai segala hal.
"Kenapa Nona memilih mundur?"
"Karena aku bukan seorang yang punya darah bangsawan." Jawab Clara.
"Kau ingat tidak Jean? Kau sendiri pernah berkata kalau setiap permaisuri dari kaisar Hortensia itu semuanya berasal dari bangsawan? Nah, dari sanalah aku mulai berfikir kesempatanku untuk berhasil semakin mengecil. Jadi aku hanya memilih opsi paling aman."
Jean terdiam, dia tidak mengira kalau Clara akan mundur hanya karena perkataannya. Padahal kalau mau, Clara bisa saja merusak tradisi kuno itu. Ditambah lagi, kenyataan bahwa Kaisar melihat gadis senjata ini agak berbeda dari gadis kebanyakan.
Pada akhirnya, mungkin Jean akan mendukung mereka untuk bersatu, tapi dia takkan membantu mereka sekecil apa pun, itu saja. Dia hanya tak mau menjadi pihak yang dirugikan disini.
"Begitu yah, pokoknya kita sudah sampai Nona."
Jean menghentikan langkahnya, berdiri menghadap sebuah gerbang besar yang menjadi perbatasan antara Hortensia dan Freesia. Yap, tidak ada wilayah netral diantara Barat dan Utara, tidak seperti wilayah lainnya.
"Hng? Apa? Sudah sampai? Rasa - rasanya aku baru naik, bagaimana bisa secepat ini?" Tanya Clara, keheranan.
"Astaga Nona... bukankah saya sudah mengatakannya sebelum Nona mau naik. Sebentar lagi kita akan sampai. Tapi Nona tidak mau dengar dan tetap mau saya gendong."
"Tidak adil sekali hidup ini." Keluh Clara.
Clara turun dari punggung Jean dan mulai menggunakan kakinya sendiri untuk berjalan. Mereka berdua segera memakai tudung kepala dan memilih mengambil jalur belakang, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.
Jalur belakang Freesia bahkan lebih mengerikan dari Hortensia. Tidak salah kalau menyebut wilayah Utara ini sangatlah kuat dan menyeramkan dari segi pertahanan wilayah.
Sejak perang dingin dengan Ranunculus, semua pertahanan untuk setan ini dimulai.
Yang mereka lewati sejauh ini adalah hutan lebat, tidak ada kehidupan para hewan disini. Suasana hutan juga terasa mencekam. Kalau saja Clara sendirian ke Freesia, maka yang pasti tak akan ada kemajuan yang dia buat. Karena hanya untuk sekedar melewati hutan ini saja dia tak berani.
Clara terus menempel sedekat mungkin pada Jean.
__ADS_1
"Nona? Apakah Nona takut?"
GREP
Clara mengeratkan cengkeraman tangannya pada jubah Jean. Dia menatap Jean dengan mata berair, sepertinya senjata ini sangat ketakutan.
"Je-jean...! Perlukah kita lewat sini? Kurasa jalur depan lebih efisien loh." Ujar Clara dengan suara bergetar.
"Kalau lewat depan, kita akan dicurigai para prajurit. Mereka 'kan hapal sekali yang mana penduduk asli dan yang mana para turis. Tapi karena sekarang situasinya sedang buruk, mereka tidak menerima pendatang. Jadi kita hanya bisa menyusup."
"Ber-bercanda 'kan!"
KREK
"Hii...! AKHH!!!"
Clara berteriak histeris hanya karena dia tak sengaja menginjak ranting. Untung saja Jean adalah tipe orang yang penyabar, Clara tak mau membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika posisi Jean saat ini digantikan oleh Kaisar.
Mimpi buruk yang lebih buruk dari yang terburuk!
"Ayolah Nona, itu hanyalah ranting. Lagipula ini sudah pagi. Nona bahkan pernah keluar dari wilayah Ranunculus di malam hari."
"Tetapi saat itu ramai karena banyak yang mengincarku!"
"Jadi Nona mau diincar oleh musuh...?"
"Bukannya begitu!"
Jean tertawa kecil melihat tingkah lucu nona-nya. Namun tak berapa lama, dia mulai mengambil sikap waspada. Karena kewaspadaan jean, Clara refleks menyentuh gagang pedangnya.
"Apa itu prajurit Freesia?" Clara bertanya dengan berbisik.
Jean mengangguk pelan.
Pandangan mereka tertuju pada beberapa pria dewasa dengan pakaian besi serta senjata yang menggantung di zirah mereka. Walau jumlahnya tak seberapa, namun Clara sadar kalau kekuatan tempur mereka tak main - main. Kaisar bahkan pernah memperingatinya kalau Freesia bukanlah negeri kecil yang lemah.
Justru karena tidak lemahnya mereka, Ranunculus memerlukan bantuan Agapanthus jika saja Freesia memulai perang. Mereka hanya bersiaga terhadap tindak tanduk Freesia yang tidak dapat diantisipasi itu.
"Bagaimana cara kita melewati mereka?"
"Ikuti rencana saya Nona."
"Baiklah."
Berharap sajalah kalau malam ini tidak akan ada pertumpahan darah yang terjadi. Akan tetapi, nampaknya itu hanyalah harapan kosong saja. Sebab pertaruhan demi bisa menyelinap ke dalam Freesia adalah hal yang perlu dilakukan menurut Clara.
Ending yang buruk hanya akan membuat cerita ini menjadi sia - sia. Parahnya lagi, pembaca pasti akan protes dengan akhir yang tidak sesuai ekspektasi mereka.
Intinya adalah...
Mari culik George dan jauhkan cerita ini dari ending membagongkan yang tidak diharapkan oleh pembaca sepertiku.
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~