The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 41 - Menyesuaikan Diri


__ADS_3

Keesokkan paginya, Clara yang masih mengantuk merasa kalau ada seseorang yang membangunkannya. Dia hanya menggumam pelan.


"Avrim... aku masih mengantuk, tunggu 5.555 menit lagi..." Racaunya.


Namun orang yang membangunkan Clara semakin gencar melakukan berbagai cara agar Clara mau bangun dari tidurnya itu.


"Nona, saya adalah Jean bukan Avrim. Tolong Nona bangunlah atau anda akan terkena masalah."


"Hm? Jean...?" Clara masih mengigau setengah sadar.


"Ya, Nona."


Mendadak Clara bangkit dari tidurnya serta memaksa kedua matanya untuk terbuka lebar. Saat itu, dia melihat Jean dengan raut wajah yang khawatir akan sesuatu.


Gasp...!


Gawat! Ini bukan kediaman Wayne dan orang ini juga bukanlah Avrim. Aku harus merubah kebiasaanku atau Yang Mulia akan langsung menendangku kembali ke Ranunculus...!


"Um, Jean...? Dimana aku bisa mandi disini?"


"Oh ya Nona, di setiap kamar selalu disediakan tempat membasuh diri. Nah, ada disana tempatnya jika Nona mau membasuh diri."


Jean menunjuk ke sebuah pintu selain pintu menuju keluar di ruangan ini. "Apakah saya harus membantu Nona?"


"Hee?! I..itu sama sekali tidak perlu, ahaha." Sambil menahan rasa gugup dan malunya, Clara tersenyum selebar mungkin pada Jean.


"Kalau begitu saya akan menunggu disini saja."


"Eh?! Ta..tapi kau akan merasa bosan jika menungguku, bukan? Kau bisa keluar dan kembali mengerjakan aktivitasmu seperti biasanya."


"Huh? Apa yang Nona katakan? Nona sendiri tahu bukan bahwa saya memang diberi perintah khusus oleh Yang Mulia untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga Nona, setidaknya sampai Bibi Avrim kembali."


"Um... tapi itu agak..." Clara melirik ke arah lain masih dengan wajahnya yang sudah merah padam.


Aku tidak terbiasa diurus orang meskipun itu adalah Avrim. Dan sekarang apakah aku perlu diurus juga olehnya?! Astaga siapa saja galilah lubang untukku mengubur diri...!


"Saya paham kalau Nona tidak terbiasa dengan orang baru seperti saya tapiー"


"Tidak! Bukan seperti itu! Ak...aku hanya malu jika orang yang mengurusku adalah laki - laki?!" Clara tanpa sadar memotong kalimat Jean sambil berteriak hingga suaranya bergema di seluruh ruangan.


Jean terdiam. Dia menelaah setiap kata - kata Clara. Kemudian tersenyum tipis untuk menanggapinya.


Menyadari kalau ia berbicara dengan buruk, Clara segera mengoreksinya. "Ma..maksudku, di kediaman Wayne yang mengurusku adalah Avrim. Tambahan Avrim adalah perempuan jadi... selanjutnya kau bisa mengerti maksudku, bukan...?"


"Ya. Saya paham. Lalu apa bedanya dengan pernyataan yang pertama?"


"A..ah... sepertinya tidak ada sama sekali."


"Baiklah Nona. Tapi karena saya juga tidak bisa mengabaikan perintah bisakah saya menunggu Nona disini?"


Sebenarnya aku juga merasa kasihan kepada anak muda ini karena bekerja pada kaisar 'hitam' sepertinya. Mungkin kalau aku masih punya keberanian aku mau sedikit bernegosiasi lagi dengannya.

__ADS_1


...****...


Dan hal itu hanya akan menjadi omong kosong belaka dari Clara. Nyatanya dia tidak begitu berani untuk sekedar menyapa Meiger di meja makan. Mereka hanya bisa tenggelam dalam lamunan masing - masing.


Dan di saat yang sama pulalah, Clara menyadari kalau yang duduk di meja makan ini hanyalah dia dan Meiger. Sementara Jean berdiri di samping Meiger.


Ini sudah cukup membuktikan jika keluarga Westhley hanya terdiri dari Meiger seorang.


Keluarganya apakah sudah meninggal...? Sepertinya begitu, aku tak terlalu yakin. Bahkan dalam novel, latar belakang Meiger tidak diceritakan sama sekali. Ya ampun! Penulis payah itu hanya memikirkan adegan romantis saja rupanya!


"Hentikan itu dan makanlah sarapanmu segera sebelum aku membuangnya."


Saat asyik melamun, suara Meiger mengagetkan Clara. Dan tanpa disuruh dua kali, Clara segera menghabiskan apa yang disediakan di piringnya tanpa mengeluhkan apapun.


Meski ia benci dengan kehadiran terong disana.


Juga, mungkin karena istana kekaisaran Hortensia sangatlah kelam dan minim cahaya. Bahkan di pagi hari seperti ini, Clara bisa ke meja makan tanpa menggunakan cadar penutup atau pakaian yang berlebih.


"Jika kau tidak menyukainya kau tidak perlu memaksa untuk memakannya."


Hm? Dia sadar yah... kalau aku berniat menyisihkan terong untuk dihabiskan sendirian. Dia langsung tahu kalau aku tak menyukainya.


"Um..."


"Ada apa dengan tangan dan bahumu?"


"Eh?"


"Itu Yang Mulia, malam tadi saat perjalanan kemari kami dicegah oleh banyak orang dan Hamba juga turun tangan menanganinya. Dan inilah hasil yang Hamba dapatkan." Clara tertawa kaku.


Dia masih sangat canggung ditambah takut untuk mengakrabkan diri pada Meiger. Karena dilihat dari sisi manapun, Hendrick, Rovers dan Raģe lebih mudah diajak berbincang santai daripada Meiger.


"Kau bersama Avrim saat itu bukan?"


Gawat! Kalau Yang Mulia menyadari jika Avrim tidak ikut membasmi orang - orang itu. Apakah Avrim akan dihukum?


"Avrim ikut membantu, hanya saja hamba lengah saat itu jadi beginilah akhirnya."


"Begitu." Dengan sedikit kepercayaan Meiger mengakhiri percakapan mereka pagi ini dan lanjut ke ruang kerjanya.


Sementara karena Meiger sudah pergi, Clara bisa bernafas lega sekarang. Jean ternyata tidak mengikuti Meiger, dia masih tetap setia menunggu Clara menyelesaikan sarapannya.


"Apa kau sudah sarapan, Jean?"


"Uh? Saya Nona?"


"Iya. Apakah sudah?"


"Sudah Nona, saya biasanya sarapan sendiri di dapur istana. Tidak mungkin bagi saya untuk sarapan disini bersama Yang Mulia."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nona sendiri juga tahu 'kan?"


Perkara status lagi, bahkan Hortensia pun menganggap status itu sangatlah penting.


"Apakah Yang Mulia yang melarangnya?" Clara bertanya - tanya.


Jean pun menggeleng pelan. "Tidak Nona, tapi saya juga sadar akan posisi saya disini. Agak tidak sopan jika saya malah menghancurkan pembatas itu."


"Namun, apakah sepenting itu, status?"


Jean kemudian tersenyum. "Saya juga tidak tahu."


...****...


Ya ampun, Avrim belum pulang dan aku masih belum bisa dekat dengan siapapun disini! Apakah mereka menganggap aku lebih spesial dari mereka hanya karena aku sarapan di meja yang sama dengan Yang Mulia?!


"Avrim kembalilah..." Gumam Clara.


"Nona, jika Nona merasa bosan Nona bisa mengelilingi taman." Jean yang berada di belakangnya memberikan usulan.


Clara menengok ke belakang dan menatap Jean dengan malasnya. "Apa kau berniat untuk mengejekku?"


Jean langsung diingatkan kembali jika Clara tak bisa keluar dan menemui sinar matahari serta cuaca yang panas karena kulitnya yang sensitif. Avrim bahkan menyatakan jika Clara akan mengalami luka bakar jika terlalu lama terkena sinar matahari.


"Ah! Maaf Nona, saya sama sekali tidak bermaksud untuk itu-"


"Tidak apa - apa, aku sudah terbiasa. Bahkan di perjalanan kesini Avrim malah memberikan lobak hangat kepadaku, betapa menyebalkannya itu."


"Ahaha, begitukah. Bahkan Bibi Avrim yang sudah bersama Nona selama enam tahun terakhir bisa melupakannya."


"Yeah, aku sudah tak paham lagi dengan mereka."


"Saya dengar Nona sudah ahli mengatasi banyak dokumen ketika masih berada di kediaman Wayne. Apakah Nona juga mau membantu Yang Mulia dalam mengerjakan tugas - tugasnya?"


"Jean... kumohon... aku baru saja tinggal semalam disini. Tidak mungkin jika aku sudah diperbudak dalam waktu sesingkat itu." Rengek Clara, dia nyaris menangis mendengar usulan Jean barusan.


"Maafkan saya lagi Nona, saya benar - benar tak tahu bagaimana selera para gadis. Jadi saya tidak bisa merekomendasikan apapun kepada Nona. Karena saya mendengar berita itu dari Bibi Avrim, saya kira Nona menyukai pekerjaan seperti itu..."


"Itu kulakukan karena tak ada kerjaan saja."


"Ng? Bukankah sekarang Nona juga sedang senggang?"


"Apa yang kau bicarakan Jean? Aku tidak senggang, aku sedang menunggu Avrim pulang. Itu adalah kerjaanku, jangan meremehkannya."


"Uh huh... baiklah Nona."


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2