
Hari dimana Clara akan kabur bersamaan dengan penyerangan membabi buta Freesia telah tiba. George dan Clara masih bersikap biasa saja, tapi George sedikit gusar karena ini adalah hari terakhir Clara ada disini.
Entah kenapa George tidak rela membiarkan Clara pergi begitu saja.
George juga sebenarnya merasa heran kepada ayahnya itu. Padahal ini musim dingin, masih awal - awal sih. Tetapi tetap saja, hanya pemimpin idiot yang mengirim pasukannya di tengah kedinginan untuk menyerang negeri musuh. Jujur, itu membuat George berdecak kesal jika mengingatnya.
Sarapan bersama Clara, ini adalah rutinitas yang baru tercipta kemarin. George menyesal karena baru melakukannya sekarang. Seharusnya dia tidak segengsi itu hanya untuk sarapan dengan senjata senior ini.
George melirik pada Clara yang asyik mengupas kulit buah, ada yang aneh disini. Biasanya gadis itu tanpa mengupas kulitnya sekalipun akan langsung ditelan. Akan tetapi sekarang?
Wow, fenomena lain terjadi disini.
Lirikan George ditangkap oleh Clara, "Kenapa George? Apa ada noda di wajahnya sampai kau melihatku seperti itu?" Katanya sambil meraba pipinya.
"Tidak bodoh. Mengapa kau bodoh 'sih?" Kata George dengan geram.
Hey? Dia ngajak gelud rupanya!
"Clara."
"Hm?" Clara mengambil roti di depannya dan memakannya dengan ganas.
"Bisakah kau ke kamarku malam ini? Hanya untuk terakhir kalinya..."
Hm? Perkataannya agak ambigu bagiku. Positive thinking, sobat!
"Oke, asalkan kau tak macam - macam." Ucap Clara tanpa sadar.
"Huh?" George menautkan alisnya, heran.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Makan saja sarapanmu."
...❀...
Malam pun tiba. Clara sudah menyiapkan dirinya yang akan kabur dari Freesia. Namun sebelum itu dia ada janji dengan George untuk mengunjunginya terakhir kali.
Jean akan datang kapan, ya???
Clara membuka kamar George, ia melihat jika George tengah memandang rembulan di langit malam yang berbintang. Clara tertegun akan keindahannya, dia tidak sadar kalau malam ini begitu indah.
Dia mendekati George perlahan.
Pemuda itu tampak menikmati terpaan angin yang menerpa wajahnya. Clara jadi melihat ketampanan maksimal juniornya ini.
Menyadari kalau ada seseorang yang berdiri di sampingnya, George menoleh pada Clara. "Ini hari terakhirmu disini." Gumamnya.
Namun Clara bisa mendengarnya dengan jelas. Dia menatap pemandangan langit malam yang begitu indah. Ini mengingatkannya saat Clara masih tinggal di kediaman Wayne. Dimana Clara selalu menyelinap di malam hari dan berhenti melakukannya ketika dia tak sengaja bertemu Rovers, insiden yang membuat trauma berat.
Malam bertaburan bintang begitu memesona mata. Tanpa sadar Clara berdecak kagum pada langit malam ini. Agak tidak biasa, karena biasanya malam di musim dingin itu dipenuhi awan mendung.
"Kau tidak keliru 'kan? Pergi dari sini itu... bukan keputusan yang tergesa - gesa bukan?" George mendesak Clara dengan banyak pertanyaan.
"Huft... harus berapa kali kukatakan? Sejak awal tujuanku datang kesini adalah untuk membawamu, dan kau menolakku. Karena itu, aku akan meninggalkanmu di Freesia, ini rumahmu dan Hortensia adalah rumahku." Papar Clara.
George membuang pandangannya dengan kesal, dia mencengkeram kuat tangannya. Seolah kepergian Clara adalah hal yang tidak boleh terjadi dan tidak akan dia biarkan.
Namun siapa dirinya di mata Clara?
Tidak ada. Selain junior payah yang bahkan segan membunuh penjahat. Pengecut yang tak mau melihat darah. Semuanya buruk, tak ada yang bagus. Nihil hasilnya jika George mau memulai semua kembali dari awal, karena durasinya sudah habis.
"Dengarlah George. Mulai saat ini berhentilah untuk menahan semua perasaanmu. Jadilah dirimu sendiri. Tak perlu memakai topeng karena itu pasti melelahkan. Jika kau mau melakukannya, maka lakukan! Jika kau mau mengambilnya, maka ambillah! Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin apabila kau mau berusaha."
Clara memberikan nasihat panjang pada George seolah dirinya yang paling bijaksana. Padahal kalimat ini ia ambil dari dialog Hellen, dan semua berakhir dengan ketertarikan George padanya.
Eh? Dia takkan tertarik padaku 'kan? Sejauh ini dia terkesan tidak menyukaiku daripada tertarik padaku. Kebetulan saja dia mau menerimaku yang sudah membuatnya sakit hati itu. Dia sangat berbesar hati.
George yang mendengar kalimat nyeleneh itu jadi tersadarkan akan sesuatu hal. Matanya bersinar meski terkesan redup. Tanpa Clara sadari, George tersenyum tipis dan melonggarkan cengkeramannya.
"Berhenti menahan perasaanku... kah?" Lirih George.
"Umu!" Clara yang mendengarnya mengangguk ceria. "Sebagian hal yang kau inginkan perlu kau utarakan, karena sekedar memberi kode tak akan membuatmu mendapatkan yang kau mau."
Karena ini aku benci wanita yang kasmaran. Selalu memberi kode yang tak jelas pada pria! Hey kaum hawa! Tidak semua pria peka akan kode mu itu!
Hari semakin larut, padahal mereka hanya memandangi langit malam saja. Tidak disangka akan menghabiskan waktu sebanyak ini. Clara memutuskan untuk kembali ke kamarnya, karena mungkin Jean sudah menunggu disana.
Clara merenggangkan tubuhnya dan menatap George.
"Yah... ini sudah saatnya."
DEG
Hanya dengan satu kalimat saja. Perasaan George menjadi tak karuan, rasanya campur aduk.
Perasaan macam apa ini? Aku benar - benar tak ingin kesepian lagi. Aku sangat enggan kehilangannya... Batin George.
Saat Clara membalikkan tubuhnya, sebuah tangan besar menggenggam pergelangan tangannya. Clara melihat George dengan aneh, anak ini sepertinya salah minum obat tadi pagi saat sarapan.
__ADS_1
Mereka masih berdiri di depan jendela. Dimana kalau dilihat dari dalam kamar George, malam bertabur bintang dengan rembulan bersinar terang itu menjadi latarnya.
Clara semakin menatap George aneh. Pandangan pemuda itu penuh tekad. Mungkinkah motivasi Clara barusan telah membangkitkan tekadnya ini? Tidak ada yang tahu.
"Ada apa denganmu?" Tanya Clara sedikit hati - hati.
George mengeratkan pegangannya, namun pegangan itu tidak sampai menyakiti Clara. "Aku... tidak harus menahan perasaanku, benar bukan?"
"Heh? Iya..." Clara jadi semakin tak paham.
SRET HUG
Arere? Apa - apaan ini...?
Otak Clara jadi buntu dan tak dapat digunakan olehnya untuk berfikir.
George menarik Clara perlahan masuk dalam pelukannya. George sengaja menyembunyikan wajahnya diantara helaian rambut Clara, dia terlalu malu untuk menunjukkannya pada gadis itu.
Dia melingkarkan tangannya pada pinggang Clara yang ramping. Serta memeluknya lebih erat lagi. Tentu saja otak Clara makin tak bisa diajak berfikir lagi, seolah dia disihir oleh penyihir supaya jadi patung batu.
"Bagaimana sekarang?" George berbisik di tengkuk Clara, jujur saja itu terasa geli bagi Clara.
"Heh? Apanya?" Clara yang tidak fokus malah dihujani pertanyaan oleh George.
Samar - samar pipi Clara memerah, dia tersipu karena pelukan pria ini. Terakhir yang bisa membuat jantung Clara berdebar adalah Meiger. Clara bersyukur kali ini jantungnya berdebar tidak sekencang saat berhadapan dengan Meiger.
Clara tidak tahu kalau wajah George lebih merah darinya. Bahkan debaran jantungnya lebih cepat dari gadis itu. George mungkin sedikit mengerti perasaan ini, dia bahagia sekaligus marah karenanya.
Bahagia karena kehadiran Clara telah merubah hidupnya. Marah karena gadis ini akan meninggalkan dirinya di Freesia sementara dia kembali ke Hortensia.
Haduh...! Pertama Hendrick, lalu Yang Mulia, setelah itu aku tanpa sengaja memeluk Jean dan sekarang George juga?!?!
"Ck! Kau menyuruhku untuk tidak memendam apa yang kurasakan. Sekarang aku tidak hanya menahannya, jadi bagaimana denganmu?"
Clara mengangkat sebelah alisnya.
"Biasa saja."
George melepaskan pelukan diantara mereka, dia mendengus geram karena tidak peka nya Clara.
Yah, karena pengaruh sihir hitam indera Clara sedikit menumpul, juga kepekaan nya terhadap apa yang dirasakan orang lain. Padahal dia bisa menebak perasaan Hendrick padanya sebelum ini.
Apa Freesia dipenuhi oleh sihir hitam?
Clara menatap penasaran pada George yang kesal.
"Aku akan pergi, George. Jadi... selamat tinggal." Senyum manis terpatri di bibir tipis Clara.
George terkesima dengan senyuman manis itu. Karena selama ini Clara hanya menunjukkan senyum konyol dan ekspresi yang menggelikan yang seharusnya tidak ia temukan pada seorang gadis. Jadi ini sedikit terkenang dalam ingatannya.
"Semoga kita bisa berjumpa lagi, Clara."
Akhirnya George memutuskan bicara dan merelakan kepergian perusuh ini. Hanya ada senyum tipis disana, belum tentu dia rela sepenuhnya.
Clara terkekeh pelan.
"Itu terdengar seperti sebuah keajaiban bagiku."
George semakin menipiskan senyumnya.
"Sebuah keajaiban? Yah... aku harap, aku bisa mendapatkan keajaiban itu."
Memori indah yang takkan pernah dilupakan oleh George. Tengah malam adalah batas dari pertemuan indah ini.
Ya ampun! Ini bukan kisah antara cinderella dan prince charming!
Apapun itu, George bersyukur telah dipertemukan dengan gadis senjata ini.
...❀...
"Jean? Sudah berapa lama kau menunggu?"
Saat Clara masuk ke kamarnya, ternyata Jean sudah berada disana. Dia memandang langit malam yang indah. Kegiatan yang tak beda jauh dengan dirinya dan George.
"Tidak lama kok."
Jean berjalan mendekati Clara, tatapannya pada nona rusuh itu sulit diartikan.
"Salam perpisahan yang manis, tetapi kita tetaplah mengalami kegagalan."
Clara mendadak merasa bersalah, padahal Jean sudah repot - repot mengantarnya kemari. Dan Meiger sudah memberikan izin pada Clara. Sayangnya Clara malah gagal dan mengkhianati ekspetasi mereka.
Tatapan Clara berubah penuh tekad.
"Jika pun perang antara dua wilayah benar - benar terjadi. Bukan berarti Hortensia akan menerima kekalahan begitu saja! Kita ini wilayah yang kuat!"
Jean tersenyum simpul.
__ADS_1
"Nona sangat optimis. Sedikit berbeda dari yang dulu."
"Hehe..." Clara yang malu menggaruk tengkuknya. "Oh ya? Kita langsung saja nih. Penyerang mereka belum dimulai 'kan?"
Jean mengangguk.
"Bukan belum, tetapi akan. Semuanya sudah disiapkan dengan rapi oleh Raja Willem. Apalagi dengan bantuan orang itu..."
"Orang itu?"
"Ah...! Bukan siapa - siapa kok Nona. Kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka melancarkan serangan. Karena tak ada jaminan kita akan baik - baik saja jika kita tertangkap."
"Ayo kita kabur, Jean!"
Jeang mengangguk lagi.
Pertempuran berdarah itu... akan segera dimulai.
...❀...
Dengan usaha mengendap - endap yang penuh keringat. Akhirnya Clara dan Jean sampai di tempat dimana Jean menyimpan kudanya. Dia hanya membawa satu kuda saja, jadi mau tak mau Clara akan menunggangi kuda bersama Jean.
Clara sampai sekarang masih kesulitan naik keatas kuda, jadi Jean lah yang membantunya naik. Lalu dirinya naik dan menempatkan posisi sebagai pengendali tunggangan nya.
"Sudah siap Nona?"
"Iya."
Jean memacu kudanya perlahan agar tidak menimbulkan suara bising. Kalau Jean ketahuan kabur dari Freesia bersama senjata emas mereka, maka hukuman mati ialah akhir dari pengawal pribadi Meiger itu.
"Nona, pakai jubahnya yang benar...!" Jean menegur Clara yang wajahnya masih terlihat jelas karena tidak benar memakai jubahnya.
"Oke - oke..." Dengan santai Clara membenarkan jubahnya supaya bisa menutupi seluruh wajah dan tubuhnya.
"Ayo jalan lagi." Bisik Clara.
"Huft... ya."
Dalam perjalanan menunggangi kuda itu, yang Clara lihat hanyalah hutan, pohon, beserta akar - akarnya yang muncul di permukaan tanah. Selama beberapa menit hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Clara agak canggung karena sudah lama tidak bertemu Jean, alhasil Clara jadi kalem seketika.
Namun sebuah pemandangan tak asing membuat pupil mata Clara membesar. Dia menarik jubah Jean dan memintanya untuk menghentikan laju kuda. Jean pasrah saja saat Clara mulai semena - mena lagi.
Bagaimana bisa Hendrick dan Meiger tahan berlama - lama dengan gadis ini?
Clara turun dari kuda, nyaris Jean memekik karena ulahnya.
"Nona...! Apa yang Nona lakukan?!" Ucap Jean setengah berbisik.
Namun pertanyaan Jean diabaikan Clara. Dia lebih fokus pada pemandangan di dalam hutan, dimana tempat itu lumayan jauh dari posisi bersembunyi Clara dan Jean.
Yang mereka lihat adalah sekumpulan pasukan dengan jumlah yang tidak banyak tengah berdiskusi tentang rencana penyerangan mereka malam ini. Tapi bukan itu yang membuat Clara meninggalkan Jean dengan kejamnya.
Seseorang yang ia kenali ada diantara kerumunan tersebut.
Wajahnya tampak murung, hanya dia satu - satunya yang tak berdiskusi dengan prajurit lain disana. Dia hanya memegang pedangnya sambil menatap kosong ke bawah. Pikirannya melayang jauh entah kemana.
"George...!" Clara memekik pelan.
Benar sekali. Pria itu adalah George. Juniornya dalam menjadi senjata alias mesin pembunuh. Clara mencengkeram gaunnya erat, dia tidak tahu kalau George akan ikut serta dalam penyerangan ini sementara dia tidak.
Bukankah Clara yang paling mahir membunuh diantara mereka?
Seharusnya Raja Willem mengajak dirinya bukan George. Clara fikir jika Raja Willem begitu terobsesi untuk menjadikannya anak haramnya ini sama seperti dia. George yang ragu membunuh dipaksa melakukannya.
Hal itu membuat Clara menggeram kesal.
Seperti itukah kasih sayang ayah kepada anaknya? Miris sekali... Sekarang aku mulai menyadari jika keluarga Wayne adalah keluarga yang bahagia. Bahkan mereka saat ini sudah menerimaku dengan senang hati.
"Kita akan menjalankan kembali misi yang gagal, Jean." Gumam Clara.
Sontak Jean terkejut dengan keputusan Clara ini. Hanya karena dia melihat George yang dipaksa membunuh, gadis ini malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam jurang yang dalam.
"Nona... yang benar saj-"
"Tidak ada penolakan. Mari lakukan penculikan yang menjadi misi utama kita saat ke Freesia. Kita benar - benar tidak boleh membiarkan George menjadi senjata mereka. Takkan pernah, kapanpun itu!"
Tekad yang begitu kuat.
Mungkin... keajaiban yang Clara sempat bicarakan sebelumnya akan terjadi sekarang. Harapan George agar keajaiban itu datang telah terpenuhi.
Sekarang, hitungan mundur sebelum kehancuran telah dimulai.
Siapa yang memiliki keberuntungan untuk tetap hidup?
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~