
"Apa kau kedinginan? Apa kau butuh jubah tambahan?"
Setelah Jean sadar sepenuhnya, dia mulai memperhatikan hal - hal kecil. Clara hanya tak ingin Jean yang baru saja selamat malah mati karena kedinginan. Ditambah, meskipun mereka berada dalam lubang, Clara mengetahui bahwa salju pertama turun pagi ini.
"Tak apa Nona, lebih baik Nona mengkhawatirkan diri Nona sendiri saja. Lagipula kita sama - sama hanya punya satu jubah." Ucap Jean, wajahnya masih pucat dan suaranya terdengar serak.
"Oh ya, kita harus sesegera mungkin mencari Avrim dan kuda - kuda itu, tentu saja setelah kau merasa baikan."
Jean tersentak, dia sadar kalau dirinya belum mengatakan kebenarannya pada nona-nya ini. Perasaan bersalah timbul di hatinya. Di satu sisi dia tidak bisa membohongi Clara, namun di sisi lain dia juga masih belum bisa menerima kematian kakaknya.
Ini adalah masalah internal Jean.
Namun, Jean juga tak mau membohongi Clara untuk seterusnya.
"Nona... saya rasa hal itu tak perlu dilakukan."
"Hng? Apanya?"
"Itu..."
Clara menjadi penasaran, namun semua kalimat yang ingin dikatakan Jean serasa tersangkut di tenggorokannya. Kebohongan ini harus berakhir, tapi Jean tak mampu untuk mengakhirinya. Andai saja Kaisar disini, dia akan mengatakannya tanpa basa - basi.
"Maksud saya, ayo kita cari Bibi Avrim sekarang saja. Kita tidak bisa membuang - buang waktu."
Jean dengan tubuhnya yang masih lemah berusaha bangkit, karena itu Clara membantunya. Dia memandang Jean cemas.
"Apa kau yakin? Kau masih lemah..."
"Tak apa kok Nona. Saya harus membiasakannya."
Mengapa anak ini bertingkah semakin aneh saja? Awalnya selalu salah arah, lalu murung, dan sekarang...?
"Umm... Jean?"
Di tengah pencarian Avrim, Clara memanggil Jean pelan. Alhasil Jean menempatkan perhatiannya pada Clara, dia memiringkan kepalanya tanda penasaran dan bingung.
"Ya, Nona?"
Clara berhenti melangkah, dia mulai memainkan jari - jarinya, dia selalu saja begini kalau merasa gugup. "Soal kemarin malam... maafkan aku!"
"Eh? Tak masalah Nona, lagipula saya yang membuat Nona kesal lebih dulu. Seharusnya saya fokus namun..."
"Ti-tidak apa - apa, aku yang salah kok."
Clara kepikiran sampai kapan mereka akan saling menyalahkan diri sendiri. Ini takkan pernah berakhir kalau mereka terus melanjutkan percakapan yang hanya membuang - buang waktu ini.
"Kalau begitu ayo kita cari Avrim!"
Clara memimpin jalan, dia memandangi dinding tanah di sekelilingnya. Mereka mencari Avrim sekaligus mencari jalan keluar.
Kalau sudah keluar dari sini aku jadi kepikiran, kami akan ke Freesia menggunakan apa? Mungkinkah mau balik lagi ke Hortensia untuk meminjam kuda?? Lawak sekali, pasti dia akan menandaiku sebagai senjata yang payah- Eh? Kalau diingat - ingat lagi Yang Mulia pernah mengataiku senjata rusak bukan?
GREK
"Huh?"
Clara menatap kakinya, dimana dia menginjak sesuatu. Rasanya itu keras namun di sisi lain itu juga rapuh, sesuatu seperti... tulang?
Clara bergegas berjongkok dan melihat lebih dekat apa yang dia injak. "Eh? Inikan...?"
Wajah Clara dan Jean menjadi pucat pasi, melihat Clara yang mulai menggali. Otomatis Jean ikut membantunya, seharusnya seorang gadis yang anggun itu tidak boleh menggali tanah.
Ah sudahlah, bahkan Avrim sudah tak heran jika gaun yang dikenakan Clara pasti di ujungnya terdapat noda tanah. Avrim itu-
DEG
Tatapan Clara terpaku pada tangan seorang perempuan yang sudah membusuk. Bagaimana dia tahu kalau itu adalah seorang perempuan? Tentu saja karena mereka sudah melihat dengan jelas wajah dari pemilik tangan itu.
Seseorang yang mereka kenali, tertimbun oleh tanah. Meski tidak terlalu dalam tetapi tetap saja kalau itu disebut tertimbun.
Wajahnya yang keriput nampak sudah menghitam karena proses pembusukan. Pakaian pelayannya sudah lusuh, sudah berapa lamakah dia tertimbun?
TES
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Clara.
Kini...
Avrim telah tiada.
__ADS_1
Clara menghapus air matanya secara kasar, melanjutkan penggaliannya. Begitu juga dengan Jean, melihat mental Clara yang semakin rusak. Dia membantu Clara untuk terus menggali jasad Avrim yang tertimbun dalam tanah.
Setelah beberapa lama, akhirnya Jean bisa mengeluarkan tubuh Avrim dari dalam tanah. Clara langsung memeluk tubuh Avrim yang sudah membusuk, tidak ada rasa hangat lagi melainkan sudah menjadi dingin sepenuhnya.
Clara menangis tersedu - sedu, sementara Jean menatap tubuh Avrim yang kaku dengan pilu.
"Avrim..."
...❀...
CHIRP
Terdengar kicauan burung di luar kamarnya, gadis kecil dengan surai seputih salju itu hanya bisa mendengarnya. Dia tak akan bisa keluar kamarnya karena sinar matahari yang menyebalkan itu, kenapa kulitnya berbeda dari orang lain?
"Aku mau keluar... aku sudah muak di dalam sini. Entah itu di Barat atau Utara, semua sama saja. Aku tetap disimpan di kamar."
KRIET
Gadis kecil itu melirik kearah pintu yang terbuka, dimana seorang pelayan wanita paruh baya membawakan nampan berisi makanan dan minuman untuk dirinya sarapan. Wanita itu tersenyum dengan lembut karahnya.
Sejujurnya ini bukan kali pertama dia mendapatkan senyuman itu. Namun ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan senyuman lembut yang tulus. Biasanya orang - orang di sekitarnya, bersikap baik padanya hanya untuk memanfaatkannya.
Namun kali ini...
Dia tahu kalau pelayan wanita itu tulus kepadanya. Walaupun gadis itu merasakan ada suatu kejanggalan padanya.
Gadis kecil itu menghargainya, sayangnya dia payah dalam mengekspresikan perasaannya. Dan juga, selama ini gadis itu ingin menanyakan sesuatu kepada sang pelayan wanita.
"Mengapa kau selalu bahagia di dekatku?"
"Hng? Bahagia?" Pelayan wanita itu memiringkan kepalanya, dia bingung.
Otomatis gadis kecil itu mengernyit heran, "Bukankah kau tersenyum karena kau merasa bahagia? Kau setiap hari tersenyum, itu artinya setiap hari kau bahagia. Aku salah?"
Pelayan wanita itu terkekeh mendengarnya. Tidak peduli gadis kecil itu adalah senjata terhebat sekalipun yang pernah diciptakan. Dia tetaplah seorang anak kecil berusia 10 tahun- ah! Dia sudah bertambah setahun, jadi sekarang usianya 11 tahun.
"Bukannya seperti Nona..."
Pelayan wanita itu meletakkan nampan di meja yang berada di hadapan gadis kecil itu.
TAK
"Nona jarang tersenyum." Jawabnya dengan singkat.
Gadis itu semakin bingung, "Jadi... apa hubungannya?"
Pelayan wanita itu melebarkan senyumannya.
"Saya akan terus tersenyum sampai Nona juga ikut tersenyum."
...❀...
Mayat di pangkuan Clara semakin lama terasa semakin ringan. Tubuh kaku Avrim sedikit demi sedikit berubah menjadi serpihan bunga hellebore.
Clara tidak terkejut dengan kejadian ini, sebab dalam novelnya sudah dijelaskan. Semua manusia yang meninggal akan berubah menjadi bunga, akibatnya tidak ada makam di wilayah mana pun di seluruh Herbras.
Namun ada kondisi khusus dimana orang tersebut tidak akan langsung berubah menjadi bunga, entahlah karena apa. Tidak ada penjelasannya sama sekali.
Tangisan Clara berubah menjadi isakan.
Hingga dia hanya bisa memeluk udara kosong.
Clara menahan tangisannya, memeluk erat dirinya sendiri setelah tidak ada siapapun yang bisa dia peluk. Jean diam saja, bibirnya terasa kaku untuk mengucapkan satu patah kata sekalipun. Dia tak mampu melakukan apa - apa untuk menguatkan Clara.
Biarkan saja, Clara memang butuh menangis sekarang.
"Avrim... sebelumnya... dia memang sudah tiada 'kan?"
"...!"
Jean yang awalnya menunduk, menatap Clara terkejut. Tetapi gadis itu masih tetap setia mempertahankan pandangannya pada tempat dimana dia menemukan Avrim.
Jean semakin tak mampu mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu, semua ini akhirnya terungkap. Tapi kenapa dia tak bisa mengatakan sesuatu pada Clara? Perlukah Jean menjelaskannya?
Clara sudah curiga sejak malam tadi, ketika tubuh Avrim menjadi dingin. Dan tak jarang Clara mendapati Avrim yang terdiam layaknya mayat hidup. Bahkan proses pembusukan itu terlalu cepat dari biasanya. Itu saja sudah mengartikan bahwa Avrim sebenarnya tidak benar - benar hidup.
Jean mencengkeram pakaiannya.
"Bibi Avrim itu sebenarnya adalah Kakak saya. Saya tidak fokus pada arah perjalanan semua itu karena Freesia adalah rumah kedua orang tua saya. Dan... saya dan Kakak punya hubungan buruk dengan mereka berdua, mereka memperlakukan kami tak lebih layak dibandingkan binatang..."
__ADS_1
Clara tak merespon, dia masih mendengarkan Jean. Meski tatapannya jelad tertuju pada tanah.
"Sampai Kakak muak dan memutuskan membunuh mereka berdua. Anehnya, jika Kakak melakukannya di malam hari, tapi mayat Kakak dan mereka belum berubah menjadi bunga bahkan hingga esok hari ketika saya menemukannya."
"..."
"Mungkin inilah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya membangkitkan Kakak kembali walaupun efeknya adalah wajah Kakak menua. Setelah itu, kami bertemu dengan Yang Mulia dan bersumpah setia pada Kaisar Hortensia."
"Lalu Avrim yang selama ini...?"
"Itu sebenarnya adalah saya yang mengendalikan pergerakan dan apa saja yang dibicarakan olehnya. Saya berfikir kalau Yang Mulia mungkin saja mengetahui kebenaran tentang kami, tapi saya tetap mengirim surat melalui Avrim mengenai perkembangan Nona."
"Begitu."
Jean menjadi khawatir, dia khawatir kalau setelah ini Clara akan membencinya. Jean telah berbohong, dan itu bukanlah kebohongan kecil. Dia mulai menggigit bibir bawahnya.
"Apakah Nona akan membenci saya karena ini? Saya berbohong kepada Nona... juga kepada diri saya sendiri. Di saat Nona muncul dan memperlakukan saya dengan sangat baik, saya mulai menerima kenyataan kalau Kakak telah tiada. Tetapi, saya membohongi Nona..."
Jean mulai terisak, itu aneh baginya. Jujur, dia belum pernah menangis lagi setelah kematian kakaknya beberapa tahun silam. Dan sekarang? Dia menangis hanya karena takut dibenci oleh seseorang yang baru saja dia temui di pertengahan musim gugur.
Mungkinkah ada sesuatu yang lain yang membuatnya bersikap begini?
"Maafkan saya Nona..."
"..."
"Hiks..."
"Meski begitu, aku akan tetap menerimamu apa adanya." Gumam Clara.
Mata Jean membulat, dia menundukkan kepalanya karena tak berani menatap Clara. Tapi setelah gumaman Clara barusan, terselip kebahagiaan dalam dirinya. Yah, meskipun dia masih tak berani mengangkat kepalanya.
"Jean?" Panggil Clara.
Kali ini Jean memberanikan dirinya menatap Clara. Wajah yang sering kelihatan pucat itu kini nampak sembab karena tangisan barusan. Senyuman penuh kelembutan terpancar darinya, mata safir nya pun berkaca - kaca.
"Kau adalah kau, tidak peduli apa yang dikatakan orang lain. Jean adalah Jean dimataku." Ucap Clara, sebulir air mata kini kembali jatuh.
"..."
"Setiap orang memiliki kelebihan, namun mereka yang memiliki kelebihan juga pasti punya kekurangannya. Dan itu bukan alasan bagimu untuk merasa khawatir kalau tak ada siapapun yang menerima kekuranganmu."
"Di masa depan nanti akan ada seseorang yang menerima kekuranganmu. Saat kau menemukannya, maka jangan lepaskan dia oke?"
"Benarkah?"
"Benar!" Clara mengangguk mantap. "Kau tahu? Kau hanya perlu berlari kepadaku ketika ada seseorang yang tidak mau menerima kehadiranmu. Karena aku akan selalu menerima bagaimana pun kondisimu. Jadi, jangan pesimis oke?"
"Saat kau bertemu dengannya maka kau akan tahu."
Jean mengangguk samar, terukir senyuman tipis di wajahnya.
Kakak... aku menemukannya, seseorang yang selama ini kucari.
"Kau tadi mengatakan kalau semua yang dilakukan dan dikatakan Avrim atas perintah darimu 'kan?" Tanya Clara.
"Iya..."
"Kalau begitu aku berhutang satu ucapan terima kasih kepadamu."
"Huh? Untuk apa?"
"Terima kasih karena telah menjadi alasan untukku tetap tersenyum!"
Clara tersenyum riang, memamerkan deretan gigi putihnya. Jean terpaku, senyuman yang tulus, yang jarang dia dapatkan dari orang lain. Dia merindukan perasaan bahagia ini, perasaan yang telah hilang bersamaan dengan kakaknya.
Jean menarik sudut bibirnya.
"Terima kasih juga karena telah menjadi alasan untukku tetap hidup, Nona. Sekarang ayo kita cari jalan keluar dari sini."
"Sip!"
Mereka kemudian berjalan, melanjutkan kembali perjalanan menuju Freesia tanpa satu kuda pun. Meninggalkan kelopak hellebore tertanam di dalam tanah. Mungkin bunga itu akan tumbuh diatas sana dalam beberapa bulan ke depan.
Siapa yang tahu?
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~