The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 66 - Mengulang Sejarah


__ADS_3

Siang yang begitu kelam, menjelang sore. Sudah hampir seharian ketiga orang itu pamit guna melakukan misi penculikan di Freesia. Semoga saja semuanya baik - baik saja. Sebab kenangan buruk dari dua diantaranya ada disana, meski Kaisar sendiri tak yakin Clara masih ingat.


Sementara itu di Istana Kekaisaran Hortensia, dua makhluk berbeda sifat masih berkumpul di satu tempat. Yah, Kaisar sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengusirnya. Tapi apalah dayanya ini, pria itu punya pendirian yang kuat.


Tentang lonceng kuil yang jatuh pagi ini, itu sudah diurus bahkan sampai ke bangunan - bangunannya. Walaupun Meiger melestarikan kuil itu, tapi tetap saja. Kenangan buruk mengenai ibunya berada disana, berharaplah Meiger tidak mengubah keputusannya di tengah - tengah renovasi.


"Cepatlah pergi dari sini dan berkelana lah mencari cinta baru. Aku muak melihat wajahmu berjam - jam yang sok kuat itu, lebih kearah menjijikkan sebenarnya."


Dengan kata - kata kejamnya yang mungkin sudah disaring tapi belum bersih, Meiger tanpa ucapan tersirat ataupun mengindahkan kalimatnya memaksa makhluk kasat mata yang satu itu untuk angkat kaki dari istananya.


Sayangnya dia adalah pewaris Vinca, buaya ini yang setiap mengatakan 'setia' selalu membuat Meiger mau muntah dengan ucapan cintanya. Edmond tak pernah bisa diusir kecuali dengan cara - cara tertentu.


Nampaknya Meiger harus membuat istana nya semakin gelap, mengingat pria ini benci kegelapan.


Karena terakhir kali dia menggunakan kamper, istana miliknya malah jadi 'wangi' dan Edmond malah semakin betah.


Dan ketika pakai bawang, mendadak penghuni istana menjadi melankolis.


"Jahat sekali kau ini! Kita ini sudah berteman lama sekali bukan?"


"Jangan jadikan waktu sebagai patokan segala hal, bodoh."


"Ek! Mulutmu memanglah jahat. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Clara saat kau berbicara begini padanya. Kau menyukai gadis itu yakan~" Goda Edmond.


Meiger mengerutkan keningnya, menyadari jika Edmond dengan Clara punya kesan yang sama. Entahlah dari mana Meiger bisa befikir bodoh seperti itu.


"Dia terkadang takut dan terkadang bahagia."


"Uhuk! Bahagia?!" Pria itu tersedak, bukan karena makanan atau minuman. Melainkan ucapan Meiger yang ambigu.


"Saat aku mengancam nya terakhir kali, dia kelewat bahagia." Sambung Meiger.


Lelucon macam apa lagi ini? Diancam dan bahagia adalah dua kata yang tidak bisa disandingkan begitu mudahnya. Kecuali kalau Clara adalah seorang...


...masokis?


Dengan ragu - ragu Edmond menolehkan kepalanya pada Meiger yang masih sibuk berkutat pada dokumen tercinta miliknya, Edmond tak mau tahu apa isinya. Karena nanti dia akan tahu sendiri kok. Mimpi buruk itu akan segera menghampirinya.


"Hey Meiger, jangan katakan pada senjata itu punya kelainan di otaknya? Kau tahu 'kan? Sesuatu seperti itu..." Edmond memilih setiap kosakata yang dia gunakan dan menyaringnya sebersih mungkin atau sahabat karib nya ini akan serius dalam mengusirnya.


Masalahnya saat Meiger menuju ke kuil, Edmond yang tak mau berurusan dengan kuil memilih berbaur dengan penghuni istana ini.


Dan menurut informasi yang didapatkannya dari Nero dan kawan - kawan. Clara adalah benda antik disini, nyaris punah dan harganya sangatlah mahal. Seperti vas cantik dari kaca yang rawan pecah, begitu rapuh dan tak bisa diperbaiki.


Sebenarnya mereka juga tak tahu sejak kapan Clara menjadi berharga disini, semuanya secara alamiah terjadi. Yang mereka tahu adalah, baru - baru ini Meiger bertingkah seperti suami siaga bagi Clara, itu saja.


Meiger mendengus kesal.


"Tanyakan saja padanya, otaknya miliknya bukan milikku."


Edmond mendecak membabi buta, memang setan manusia ini. Ia hanya bisa berharap Clara tidak memilih orang ini sebagai pendamping hidupnya. Tetapi karena mereka bersahabat, di sisi lain Edmond juga mendoakan pria ini supaya cepat menikah sebelum semakin diserbu para gadis bangsawan.


Edmond berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu.


Meiger mendelik kesal padanya. "Kenapa baru sekarang?"


"Woy! Kita ini sahabat atau bukan sih?!"


"Hanya kau yang mengaku - ngaku disini."


"Setidaknya tanyalah padaku 'kemana kau mau pergi?' begitu?!"


Meiger menjadi makin gusar, memang manusia ini banyak sekali mau nya apalagi kalau Meiger sudah memberikan perintah padanya untuk keluar. Maka macam - macam sudah syarat yang diberikannya kepada Meiger.


Menyebalkan sekali.

__ADS_1


"Kemana kau mau pergi?"


Meiger mengalah, Edmond tersenyum menang.


"Freesia."


...❀...


Malam sudah tiba, matahari sudah digantikan oleh bulan. Hanya ada suara jangkrik dan burung hantu, menambah suasana mencekam malam ini.


Di hutan perbatasan. Beberapa prajurit Freesia sedang berjaga, bersiap melindungi wilayahnya dari para penyusup, apalagi jika itu berasal dari Ranunculus. Sudah semestinya mereka melakukan invasi pada wilayah Tengah, namun sampai saat ini belum juga tercapai.


Tetapi pemimpin mereka sedang membuat kesepakatan bersama Vinca. Bukan sekarang, tapi bukan berarti itu tak akan terjadi. Sebab Kaisar Vinca mengirim anaknya sendiri untuk kesepakatan ini.


"Ini sudah masuk jam malam, waktunya menggilir prajurit." Ucap seorang pria berbadan tegap yang sepertinya adalah kepala prajurit.


"Baik!"


Mengikuti perintah yang ada, para prajurit segera bergantian mengambil posisi berjaga. Hari semakin larut, kepala prajurit memerintahkan prajurit yang lebih senior untuk berjaga. Karena malam biasanya dipakai para penjahat untuk menyusup. Prajurit junior belum tentu bisa mengatasinya.


Sang kepala prajurit juga ikut berjaga malam.


Matanya menatap sekitar secara rinci. Mengawasi setiap pergerakan kecil yang ada. Bahkan semak - semak yang bergoyang karena tupai pun dihadiahi tatapan elang olehnya.


STAB! BRUK!


"Siapa?!"


Kepala prajurit mendengar suara kejatuhan yang lumayan besar. Dia segera memeriksa kearah suara dan menemukan bahwa salah satu anak buahnya telah tergeletak dengan anak panah yang tertancap di kepalanya. Wajahnya yang pasi telah dilumuri oleh darah.


Kejadian ini membuat kepala prajurit menjadi semakin waspada. Dia menerawang segala penjuru, berusaha menemukan sang pemanah yang berani membuat salah satu prajurit Freesia tewas.


SRET! SRING


Getaran kecil di belakangnya membuat kepala prajurit menolehkan kepalanya, mengambil pedang dan menepis serangan pedang dari musuhnya. Dengan tatapan bengis kepala prajurit mengerahkan seluruh tenaganya.


WHOSS


Angin malam berhembus dengan kencang, menerbangkan jubah musuhnya. Memperlihatkan wajah cantik yang mengerikan di kala malam berkunjung. Aura pembunuh gila selalu terpancar darinya, tidak penting tentang gender.


Pembunuh tetaplah pembunuh.


Kepala prajurit membelalakkan kedua matanya. Bukan, dia bukan terkejut karena kecantikan dari gadis yang ia hadapi ini. Melainkan dia mengenalnya, dia ini adalah...


"Senjata yang diculik enam tahun lalu." Gumamnya.


Alamak! Dia tahu pula! Sepertinya dia sudah tua... eh, maksudku sudah lama menjabat sebagai prajurit disini.


"Guakh!"


Clara menangkis pertahanan sang kepala prajurit, memukulnya mundur sejauh mungkin. Membiarkan Jean memanah satu demi satu anak buah pria ini. Jean saat ini berada di perbukitan, bertugas menghabisi para prajurit dari sana. Sementara Clara yang hanya bisa bertarung jarak dekat terpaksa turun ke bawah sendirian.


STAB!


Lagi - lagi terdengar suara anak panah diluncurkan. Kepala prajurit terlihat menggeram kesal ketika Jean berhasil membunuh targetnya hanya dengan satu tembakan.


"MUSUH!!! MUSUH!!!"


Clara terkejut, sang kepala prajurit berteriak kencang yang menjadi sinyal bagi kawanannya untuk datang.


"Hiya!!"


STAB!


Clara berhasil menancapkan bilah pedangnya pada tulang tengkorak sang kepala prajurit. Segera, otaknya takkan berfungsi lagi. Clara menarik kembali pedang mawar nya dan membiarkan tubuh kepala prajurit itu jatuh ke tanah.

__ADS_1


"Tapi apa - apaan teriakan tadi?"


Terdengar suara riuh dari atas bukit, Clara berfikir jika ada musuh yang sudah naik, mereka langsung tahu keberadaan Jean. Tidak nampak sosok Jean dari mana pun, sepertinya dia sedang disibukkan dengan pertarungan jarak dekat.


Samar - samar Clara mendengar dari belakangnya ada yang datang.


Bala bantuan... musuh...? Aku pikir aku hanya perlu membunuh kepala prajurit nya saja. Jangan - jangan teriakan tadi untuk memanggil mereka...? Kalau begitu gawat.


Wajah Clara yang pucat semakin pucat, memperhatikan kumpulan prajurit berzirah besi serta berbagai macam senjata yang mereka bawa. Tangan Clara yang sedang memegang erat pedangnya bergetar hebat. Jumlah musuh lebih banyak dari yang ia lawan bersama Duke Wayne saat ia kabur dari Ranunculus.


Haha... Jumlah yang sangat luar biasah!! Kompak sekali.


Clara tak berani berkata - kata melihat jumlah mereka yang mungkin ada 100, bisa saja lebih namun mustahil kurang dari itu.


Belum lama dia terjatuh ke lubang dan baru bisa keluar setelah beberapa jam, ditambah perjalanan ke hutan Freesia memakan waktu yang lama. Istirahat mereka juga tak lama. Tapi sekarang apa? Mereka dikepung.


Prajurit paling depan menatap kepala prajurit yang sudah terbujur kaku dengan lubang di kepalanya. Serta beberapa prajurit lainnya juga sama, mereka sudah tak bernyawa karena ditembak panah.


"Itu beracun." Katanya dengan geraman, dia memandang Clara dengan kesal dan menunjuk kearahnya. "Kau telah membunuh mereka semua, akan kubawa kau ke bawah kaki Yang Mulia Raja!"


"Heh? Apa? Bercanda 'kan?" Ujar Clara setengah tertawa, sayangnya hatinya panik bukan main saat ini.


Clara memejamkan matanya.


Keluarlah sihir hitam! Kumohon lemahkan mereka agar aku bisa membunuh mereka!


Betapa tidak beruntungnya Clara, mungkin karena mantra nya ada yang salah sehingga tidak ada setitik pun asap hitam yang keluar dari tubuhnya. Padahal dia merasa kalau kekuatannya ini sangat tokcer di Hortensia.


Oke! Fine! Aku akan menggunakan diriku sendiri sebagai umpan. Senjata kedua itu pasti disimpan baik - baik oleh sang raja di istana, jadi mari kita ke istana meski dengan cara yang tak elit sedikitpun.


Maafkan aku Jean, ini demi misi penculikan. Yang penting kau menyelamatkanku ketika sudah berhasil menculik George maka Yang Mulia takkan memecatmu sebagai pegawai teladan.


...❀...


Seorang pria tengah menumpukan beratnya pada sebuah pedang. Nafasnya tersengal - sengal karena kebanyakan bergerak, darah segar mengalir deras di perutnya yang terdapat luka tusuk. Di sekelilingnya banyak sekali mayat - mayat bergelimpangan.


"Aku harus turun dan menemui Nona. Juga meminta maaf karena meninggalkan Nona begitu saja."


Pria itu menatap jengkel puluhan mayat yang tergeletak di tanah. "Ini semua karena mereka, bagaimana bisa mereka mengetahui keberadaanku secepat ini?"


Dia meludah kearah para mayat, memasukkan pedangnya kembali dan turun dari bukit. Jean menekan perutnya yang terasa sangat sakit, dia berusaha mengabaikan rasa sakitnya untuk segera menemui Clara.


Sayangnya Jean terlambat.


Dibawah bukit hanya ada beberapa mayat yang ia panah serta seorang kepala prajurit yang kepalanya berlubang, itu ulah Clara. Dan hanya tersisa satu hal saja.


Pedang mawar yang tertancap di permukaan tanah, nampak berkilau dibawah sinar rembulan.


Jean mendekati pedang tersebut, dan rupanya ada gambar sebuah rumah dengan hiasan bunga di tanah dekat dengan lokasi pedang mawar tertancap. Bunganya sangatlah jelek bahkan anak kecil sekalipun bisa membuat yang lebih bagus dari ini. Tapi Jean tahu itu bukanlah sekedar gambar iseng dari Clara.


Senjata itu menuliskan tempat dimana ia berada.


Jean memandang sebuah bangunan megah berwarna putih yang jauh dari tempatnya sekarang.


Clara dibawa ke istana Freesia.


"Apakah Nona sengaja menyerahkan diri? Pasrah dan cerdik itu beda tipis."


Bukankah tempat itu hanya akan membangkitkan kenangan buruk?


Sungguh senjata yang nekat.


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2