
"Apakah Nona Clara pernah menemukan sebuah surat yang ditunjukkan untuk Nona Cinta?"
"Nona Cinta...?" Clara mengangkat sebelah alisnya, dilanda oleh kebingungan.
Dia merasa tak asing dengan nama yang disebut Edmond barusan. Namun sulit baginya untuk mengingat lagi memori - memori yang sudah lalu. Efek samping dari penyerapan sihir hitam yang tidak disengaja saja sudah separah ini, apalagi kalau Clara sengaja.
Clara memegang dagunya, masih berusaha mengingat dimana dia menemukan surat yang bertuliskan nama Nona Cinta di dalamnya. Lama Clara berfikir, tapi hanya kebuntuan yang ia dapati.
"Saya tak ingat apapun mengenai surat."
"Begitu..." Terdengar sekali Edmond kecewa.
Kekecewaan Edmond menciptakan tawa sinis dari Jean. Dia sangatlah bahagia saat si buaya penggoda wanita ini tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Lagipula, si penerima surat pasti merasa jijik dengan surat Edmond dan memutuskan untuk tak membalasnya. Begitulah pikiran Jean berjalan.
"Oh, satu lagi Nona Clara." Edmond menepuk tangannya.
"Apa?"
"Apakah ada sesuatu diantara dirimu dan George?"
Clara menepis pertanyaan itu dengan halus. "Tidak ada. Dan mengapa anda penasaran tentang saya dan dirinya?"
Edmond tersenyum penuh makna, "Tak ada kok Nona Clara. Tiba - tiba saja jiwa menggosipku keluar. Karena aku ini tidak mendukung dirimu dengan George maupun dia."
Edmond menunjuk ke belakang tanpa menengok, dimana disana ada Jean yang berdiri mengawasi mereka. Jean mendelik kesal, dia tahu betul kemana arah pembicaraan ini menuju. Namun sayangnya Clara terlalu naif untuk memahaminya. Atau mungkin karena sihir hitam yang telah mengikis sedikit demi sedikit ketajaman otaknya.
"Menurutmu, bagaimana Meiger?" Edmond bertanya dengan nada nakal, menaik turunkan alisnya.
"Yang Mulia?"
Edmond mengangguk.
"Beliau pria yang patut dihormati. Saya sendiri kagum dengan bagaimana hasil dari kinerja Yang Mulia selama ini untuk rakyatnya. Mereka damai, makmur dan sejahtera." Jelas Clara panjang lebar.
Edmond sadar, Clara bisa saja menjelaskan tentang Meiger lebih banyak dari ini, tapi dia tidak melakukannya. Edmond tersenyum menyeringai, betapa menariknya hubungan diantara keempat manusia itu.
Dia melirik kebawahnya, dimana ada Meiger yang sedang mengawasi mereka bertiga dengan mata elangnya. Tapi Edmond bukanlah orang yang penting baginya, sampai Meiger perlu mengawasinya. Menurut Edmond, Clara dan Jean adalah kandidat terkuat yang mungkin akan diawasi oleh Meiger.
Senyum Edmond semakin lebar.
Matanya dan mata Meiger saling berpapasan. Tatapan Meiger semakin menusuk, sedangkan Edmond malah terkekeh kesenangan.
Edmond tahu, dia sangat tahu.
Meiger selalu mengawasinya sejak dulu.
...❀...
[11 Tahun Lalu]
__ADS_1
Seorang anak lelaki tengah terdiam di perpustakaan sambil membaca buku. Dia fokus pada bukunya, tak menghiraukan tumpukan buku yang ada di sampingnya. Mata ruby indahnya menyusuri setiap kata dalam buku.
"Jadi benar kau ada disini."
Anak itu menghentikan aktivitas membacanya. Menatap datar pada pria dewasa yang punya garis wajah serupa dengannya. Mereka sangat mirip, nyaris tak bisa dibedakan. Hanya saja pria itu bermata safir, sedangkan si anak lelaki bermata ruby.
"Kaisar?" Anak itu bertanya pada pria dewasa yang adalah kaisar Siegward.
Kaisar Siegward tersenyum pilu pada anak semata wayangnya, "Kau tidak memanggilku ayah?"
"Itu tidak sopan. Kaisar adalah pemimpin negeri ini." Anak lelaki itu, Meiger kembali membaca bukunya dengan tenang. Dia mengacuhkan Kaisar Siegward yang sudah duduk di sebelahnya.
"Bagaimana dengan akademi?" Kaisar Siegward bertanya, dia melakukannya supaya memecah keheningan.
"Biasa."
"Lalu latihan pedang?"
"Biasa."
"Apakah hari ini tidak ada yang spesial? Bagaimana dengan hari - hari sebelumnya?"
"Sama."
Kaisar Siegward mengehela napasnya. Dia benar - benar payah dalam menghadapi perubahan sikap Meiger yang berubah drastis hanya dalam sekejap. Memang, kematian ibunya bukanlah hal mudah yang bisa diterima oleh Meiger begitu saja dalam sekejap mata.
Hanya saja, ini sudah hampir setahun sejak kematian ibunya. Mungkin Meiger takkan menangis seperti halnya ketika ibunya dimakamkan. Padahal, Meiger selalu berdoa ke kuil untuk berdoa sampai menangis demi kesehatan ibunya. Rupanya takdir berkata lain.
Saat mereka masihlah keluarga yang utuh, Meiger sangat ceria seperti anak - anak pada umumnya. Dia bermain ditemani dengan ibunya dan sesekali dengan Kaisar Siegward ketika dirinya sedang senggang.
Namun sekarang?
Terkadang memori yang terkenang itu terasa lebih indah dibandingkan dengan apa yang terjadi sekarang.
Hubungan indah antara ayah dan anak yang terukir di masa lampau hanya akan menjadi sejarah. Alasan Meiger bersikap dingin kepada ayahnya memang ada, yaitu karena dia yang tak bisa berbuat apapun saat istrinya sekarat padahal dia seorang kaisar.
Namun Kaisar Siegward merasa aneh dengan diamnya Meiger pada orang lain selain Kaisar Siegward. Mereka tidak salah apa - apa malah kena batunya. Kaisar Siegward akan mengajarkan Meiger bersikap lebih profesional.
"Bagaimana jika ayah memperkenalkan dirimu pada seseorang?"
"Seseorang?"
"Yah... perempuan sih... dan masih lebih muda usianya dibandingkan kau. Mau bertemu dengannya?" Kaisar Siegward menawarkan.
"Tidak perlu. Edmond saja sudah cukup membuatku risih. Aku tak mau ada perusuh lain yang mengganggu hidupku." Ketus Meiger.
Pupus sudah harapan Kaisar Siegward akrab dengan anaknya.
"Huft... baiklah."
__ADS_1
...❀...
Seminggu setelah kejadian itu. Seperti hari - hari biasanya. Meiger selalu menyempatkan diri membaca buku yang belum ia baca di perpustakaan. Dia ingin menamatkan satu rak dalam satu minggu, terdengar gila memang tapi itulah yang harus ia capai minggu ini.
Meiger mengambil salah satu buku di rak yang menempel pada dinding, "Judul bukunya aneh."
GREK
"Eh? Apa?"
Meiger terkejut bukan main ketika dia mengambil buku di rak tersebut, dan sekarang rak nya bergerak dengan sendirinya. Membuka kearah dalam, seolah rak ini adalah pintu untuk memasuki ruangan rahasia.
Dan benar saja, ada ruangan rahasia di balik rak tersebut. Padahal Meiger mengira disana hanya ada dinding rata.
Karena rasa penasaran telah menggerogotinya, Meiger memasuki ruangan misterius dalam perpustakaan itu. Dia melangkah perlahan supaya tak menimbulkan suara. Jaga - jaga saja bila Kaisar Siegward menangkap basah dirinya memasuki ruangan misterius ini.
"Lagipula apa - apaan tempat ini...?" Gumam Meiger.
Meiger melihat sekelilingnya, dimana hanya ada buku - buku berserakan. Tidak ada bedanya dengan perpustakaan diluar, ini seperti perpustakaan di dalam perpustakaan. Sudahlah! Terlalu banyak kata perpustakaan disini.
Namun, sesuatu menarik perhatian Meiger. Yaitu sebuah ranjang besar di tengah - tengah perpustakaan kecil ini. Saat itu juga Meiger sadar, ada lemari pakaian di samping ranjang besar itu.
Rasa penasaran Meiger semakin memuncak. Setelah menimang - nimang keputusan, Meiger akhirnya memilih mendekati ranjang tersebut.
"Ah...!"
Ternyata, ada seorang gadis mungil meringkuk disana. Surai putih bersih, serupa dengan warna salju di musim dingin. Kulitnya yang pucat, kulitnya pasti tidak pernah berinteraksi dengan sinar matahari.
Gadis kecil itu sangat mempesona, wajahnya saat tidur begitu teduh. Tapi entah kenapa, Meiger merasakan ada sesuatu yang ganjil pada gadis ini. Alasan kenapa dia ada disini, dikurung dalam ruangan misterius.
"Heh? Jangan katakan padaku bahwa dialah yang mau Kaisar kenalkan kepadaku? Begitu... aku mengerti."
Kemudian Meiger kembali menyusuri setiap sudut ruangan aneh itu. Sebuah buku tebal yang tergeletak tak jauh dari ranjang gadis kecil itu menarik perhatiannya.
Meiger mengambilnya dan membuka lembar pertama buku.
Meiger mengernyit, "Scoleths ialah dirimu dan diriku?"
GREK!
Meiger diserang panik dadakan, mungkin ada orang lain yang akan memasuki ruangan ini. Meiger terlalu lama berdiam di sarang musuh.
Sialan!
TBC
Un... lanjutan cerita Meiger ini ada di sub bab 'Arti Maaf di Hari Itu'. Aku sengaja tidak memasukkannya dalam cerita karena sama saja dengan mengulangnya.
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~