The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 93 - Gagal Menyatakan


__ADS_3

Tidak ada rasa apapun, warna emosi dan perasan apalagi. Raģe paham mengapa Clara tidak mengalami gejolak emosi. Itu sudah jelas membuktikan jika Clara hanya menganggapnya sebagai teman lainnya.


Jujur, Raģe kesal karena hanya dianggap teman. Tapi dia bisa apa. Pertemuan Raģe dan Clara terbilang singkat dan ini adalah sebuah keajaiban saat Raģe menyukai Clara yang belum seberapa ia kenali.


Sesaat dia mengingat pertemuannya dengan Hellen dan Rovers di kediaman Wayne. Disana pertama kalinya dia mendapatkan bocoran dari Hellen sendiri mengenai perasaan kakaknya pada Clara.


Sekarang aku paham mengapa pria itu bisa menyukai Clara Scoleths. Pikir Raģe sambil meneguk teh sorenya.


Di hadapannya, daripada meminum teh miliknya, Clara lebih sibuk melahap brownis cokelat yang cukup besar. Sepertinya gadis itu melakukannya untuk mengantisipasi apabila Raģe memakan brownis juga. Padahal dia sendiri masih ingin makan. Karena Clara belum sempat makan siang dan baru cemilan saja, jadi tak ayal cacing di perutnya masih meronta meminta makanan.


Di bawah meja, Raģe menggenggam sebuah kotak kecil untuk diberikan kepada Clara. Lagipula tujuannya membuat Clara memenuhi janjinya waktu itu adalah sesuatu yang cukup menguntungkan bagi Raģe. Kalau dia mengatakannya langsung pada Clara, Raģe bisa selangkah lebih maju dibandingkan rivalnya yang lain.


Menyatakan perasaannya adalah hal yang utama.


Raģe enggan nasib percintaannya menyedihkan seperti James. Motto nya adalah, 'bergeraklah lebih cepat dan ungguli lawanmu. Masalah berhasil atau tidak itu urusan nanti'. Walaupun Raģe agak mengharapkan keberhasilan meski tahu persentase kegagalannya juga tinggi.


"Clara."


"Mm?" Clara menelan brownis dalam mulutnya dan menatap Raģe dengan tatapan seriusnya.


Kenapa dia ini? Mendadak jadi serius begitu...


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Kata Raģe. Tatapannya semakin menunjukkan betapa seriusnya dia saat ini.


...❀...


"Dimana Kak Raģe? Mendadak hilang begitu saja. Kata Ayah, Kak Raģe ada disekitar siniー"


James menghentikan kalimatnya, memandangi sekumpulan pria yang tengah berpose sembunyi di balik dinding istana sambil mengintip taman lavender.


Awalnya James kesini untuk memastikan keberadaan kakaknya. Karena sebelumnya pria itu nampak tergesa - gesa kesana kemari. Apalagi kedatangan dadakan dari Kaisar Hortensia membuat Raģe kelihatan semakin sibuk lagi.


James hanya ingin bertanya mengenai kalung buatannya yang diberikan pada Hellen. Rupanya adalah hadiah yang Hellen berikan kepada Clara Scoleths. Dia hanya mau mendiskusikan pada Raģe soal kalung safir, itu saja.


Namun saat itu berjalan keluar istana yang jalannya langsung tembus ke halaman istana tempat dimana taman lavender berada. James malah memergoki Duke Wayne, pemuda misterius serba silver, serta pengawal pribadi Kaisar Hortensia. Mereka sedang dalam posisi mengintip. Karena James penasaran, dia pun mengarahkan pandangannya kearah yang sama dengan mereka.


"....."


Mata James melebar sesaat, dia tak mampu berkata - kata. Masalahnya yang menjadi fokus utama ketiga pria itu adalah kakak sepupunya yang tengah berbincang serius dengan Clara Scoleths, James bisa menangkap wajah serius Raģe disana.


Rasa penasaran James makin tinggi, jadi dia memutuskan berdiri di belakang Duke Wayne yang memang posisi bersembunyinya terletak di paling belakang. Sedangkan pemuda serba silver berjongkok di paling depan, dan di belakangnya ada pengawal pribadi Kaisar Hortensia yang agak membungkukkan badannya.


"Mengapa Nona menerima begitu saja permintaan orang asing itu! Saya tidak sudi lahir batin." Jean mendesis dan menatap tajam pada Raģe yang masih mempertahankan mimik wajah seriusnya.


"Kau pikir aku sudi? Tentu saja tidak." Timpal George, wajahnya masih sedikit ramah walau terselip raut jengkel disana.


"Diamlah. Jika kalian terlalu banyak bicara. Kita akan ketahuan." Ujar Duke Wayne dengan suara pelan.


Sebenarnya Hendrick juga jengkel pada Raģe yang menempel pada Clara. Tapi untuk saat ini dia masih belum bertindak apapun karena Raģe masih dalam batas wajarnya. Kalau berani sentuh - sentuh, Hendrick juga tak segan menggor*k leher Raģe. Lagipula kemampuan bertarung Hendrick ada diatas Raģe.


"Hee... Kak Raģe memang cekatan. Tapi tidak kukira jika dalam urusan cinta juga dia gerak cepat. Apa takut ditikung?"


Ketiga pria itu tersentak karena kehadiran James yang sudah berdiri di belakang mereka. Celetukan darinya barulah menyadarkan ketiga pria itu bahwa ada kehadiran orang lain selain mereka disini.


"Mengagetkanku saja." George mendengus kasar.


"Kalau kalian suka, kenapa tidak bertindak cepat saja seperti Kak Raģe? Padahal kalian sendiri tak mau didahului orang lain."


"Dengar yah, bocah sepertimu itu terlalu gegabah dalam mendapatkan cinta. Kau tidak paham bagaimana orang dewasa mendapatkan pendamping hidup mereka." Duke Wayne berdecak samar saat James mengomentari keterlambatan mereka dalam urusan cinta.


"Saya tidak berfikir untuk menjadikan Nona pendamping hidup, kami cukup berteman. Tapi saya tetap takkan dengan mudahnya melepaskan Nona pada lelaki lain." Jean buka suara, dia terdengar sangat kesal dan menahan amarah dalam dirinya.


"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan. Posisiku sulit untuk maju. Kalau kau berada di posisiku dan merasakan cinta bertepuk sebelah tangan pasti tahu bagaimana sulitnya untukku dapat kesempatan." George juga ikut memaki James yang semena - mena.


James bungkam setelah mendengar ucapan pemuda misterius itu.


Sebenarnya aku sudah merasakannya kok. Tenang saja, aku paham. Jadi kalian bertiga berhentilah memakiku seolah aku tak tahu apapun terkait kehidupan percintaan. Usiaku sudah 15 tahun.

__ADS_1


"Sedang apa kalian berempat?"


Lagi, mereka senam jantung lagi ketika ada suara seseorang yang memergoki mereka. Mengapa mau mengintip saja susah sekali?


Duke Wayne yang pertama sadar siapa yang berbicara, lalu dia mendelik padanya dan melanjutkan kegiatan mengintipnya. Berbeda dengan James, George dan Jean, mereka memberikan salam hormat kepada Rovers dan Kaisar Hortensia. Meski James melakukannya dengan setengah hati.


"Salam sejahtera untuk Kaisar Hortensia dan Pangeran Mahkota Ranunculus." Ujar mereka serentak.


Rovers kemudian tersenyum tipis mendapati calon kakak iparnya yang mengacuhkannya. Dia sudah terbiasa dengan perilaku dingin Hendrick. Yang Rovers khawatirkan hanyalah sikap kurang ajarnya kepada Kaisar Hortensia. Semoga pria ini tidak membuat satu - satunya wilayah netral bergabung ke pihak lawan.


Rovers juga selain melihat James, ada juga pengawal pribadi Kaisar Hortensia. Namun seseorang yang di samping Jean dengan penampilan serba peraknya, Rovers tidak mengetahui identitasnya.


"Namanya George." Kaisar berucap dengan nada datar. Mengobati rasa penasaran Rovers terhadap pria muda ini.


"Begitu." Rovers semakin meneliti garis wajah George yang agak familiar dengan seseorang. "Wajahmu sedikit mirip Raja Freesia, apa kalian ada hubungan?" Tanya Rovers, menipiskan senyumannya.


Duke Wayne mendengus samar disela - sela acara mengintipnya. Dia tahu. Sangat tahu. Pria bersurai emas ini pasti sedang menyindir George. Sebab bagaimanapun juga anak itu punya dua wajah. Duke Wayne yakin, tanpa bertanya pun Rovers akan tahu jika George dan Raja Willem ada hubungan darah.


Pandai sekali kau menutupi sifat aslimu. Kalau bukan karena Hellen yang juga suka padamu. Aku takkan menyerahkan adikku begitu saja pada pangeran berwajah dua sepertimu. Pikir Duke Wayne lalu memicingkan matanya, berusaha fokus pada target pengintipan.


George tidak menjawab pertanyaan Rovers. Pada akhirnya hanya ada keheningan diantara mereka semua. Hanya Duke Wayne dan Jean yang kembali fokus pada Clara dan Raģe.


"Anda pasti salah lihat." Setelah sekian lama diam, George angkat bicara. Dan setelah itu menatap Clara yang asyik berbincang dengan Raģe.


Rovers dan James mengarahkan pandangan mereka pada kedua orang itu. Rovers tersenyum semakin tipis, ternyata benar dugaannya selama ini. Raģe melepaskan Clara kala itu bukanlah untuk hal yang cuma - cuma. Ada alasan dibalik semua tindakannya waktu itu.


Kaisar memandang Clara sebentar. Lalu beralih pada Raģe, tercetak senyuman di wajahnya walau dia sedang dalam mode serius. Kaisar mengerutkan keningnya menatap Raģe. Dia tak ada niatan untuk sekedar berhadapan langsung dengan Raģe. Dia mungkin akan berbincang lebih lama dengan Raja Agapanthus.


Rovers memutuskan untuk ikut mengintip sebab sepertinya itu menarik. Sementara Kaisar hanya acuh dengan pemandangan yang seharusnya membuatnya panas hati itu. Kaisar lebih memilih meninggalkan tempat ini.


Jean menatap kepergian Kaisar.


Yang Mulia...


...❀...


"Apa yang kau pikirkan mengenai cinta?"


"Entahlah." Jawab Clara singkat.


"Tolong jawab yang serius. Aku benar - benar membutuhkan jawabanmu saat ini."


Melihat wajah Raģe yang memang masih sama seriusnya. Clara jadi tidak bisa menjawab asal - asalan lagi. Tapi Clara juga tidak bisa banyak bicara mengenai cinta.


Sebab, kekasih di dunia aslinya saja putus dengannya. Walaupun putusnya hubungan mereka secara baik - baik dan masih berkomunikasi setelah putus. Namun Clara bukanlah orang yang begitu romantis dan puitis soal cinta. Dia bukanlah anak senja atau penikmat tetesan hujan lalu membuat puisi.


"Maaf Tuan Muda Cheltics, tapi saya bukanlah orang yang mendalami cinta. Karena sampai saat ini saya belum ada pikiran untuk memiliki pendamping hidup." Clara akhirnya menjawab jujur.


Kalau cinta, sejujurnya Clara bisa saja menjawab jika saat ini dia mencintai Kaisar Hortensia. Hanya saja hal itu tidak akan berlangsung lama. Seperti yang pernah dikatakan Jean, hanya bangsawan yang dapat mendampingi Kaisar di sisinya. Tidak ada kesempatan untuknya, jadi dia akan mengubur dalam - dalam cintanya.


Walaupun Kaisar memberikan tanda - tanda bahwa dia juga mencintai Clara. Namun Clara tidak yakin, dia masih ragu untuk mengajak Kaisar untuk menikah, terus terang saja. Mungkin Clara akan mencari pasangan bukan dari kalangan bangsawan supaya hidupnya damai.


Karena meski penghuni istana Hortensia setuju. Para rakyat belum tentu akan mempunya pendapat yang sama.


Aku tidak mau berpandangan skeptis. Tetapi... harus kuapakan sebenarnya cintaku ini? Yang Mulia juga tidak bertindak apapun setelah mengetahuinya.


GREP


"Clara."


"Huh?"


Kesadaran Clara kembali menginjak bumi, dia menatap heran ketika tangan kanan Raģe menyentuh tangannya. Bahkan pria itu telah menggenggamnya.


"Jika kau tidak mengetahui cinta. Aku bisa mengajarimu tentang itu."


He?

__ADS_1


"Sesuatu yang ingin kubicarakan sebenarnya adalah..."


Ayo katakan saja! Aku penasaran setengah hidup jika kau mengatakannya tidak lengkap!


"Clara, maukah kau..."


"Iya?"


"...menjadi..."


Di tempat para pengintip, Jean yang punya pendengaran tajam karena sihir hitam. Menggertakkan buku - buku jarinya ketika Raģe mau mengambil garis start duluan. Duke Wayne dan George juga sudah geram karena Raģe yang sentuh sana sini. James dan Rovers malah semakin menikmati drama yang tersaji.


Tidak bisa dibiarkan lebih jauh lagi, bocah ini!


"...pendamー!"


STAB!


Genggaman tangan Raģe mendadak lepas karena sebuah pisau tiba - tiba melayang dan menancap tepat dimana pergelangan Raģe tergeletak barusan.


Clara juga langsung menarik tangannya menjauh dari atas meja. Dia tidak mau kehilangan tangan mulusnya. Bukan hal yang mudah untuk dapat tangan mulus ini, dia harus mati terlebih dahulu.


Eh? Apa aku mati diduniaku?


STEP


Raģe menatap tangan seseorang yang menepuk pundaknya. Segera Raģe tepis ketika mengetahui ternyata itu tangan si pemuda serba perak yang misterius.


"Clara, kau ikut denganku."


Sebuah suara dingin memanggilnya. Clara menoleh ke samping dimana Duke Wayne dengan tatapan setajam elangnya menatap Raģe.


"Baiklah. Tapi nanti belikan saya roti bakar di pusat kota, yah? Saya dengar roti bakar Agapanthus adalah yang terenak." Pinta Clara.


"Hm."


Yes! Ditraktir!


Clara segera berdiri dan mengikuti langkah Duke Wayne yang akan keluar dari istana Agapanthus. Pergi jalan - jalan ke pusat kota dan membeli jajanan terbaik mereka itu adalah yang paling memuaskan.


Setelah ditinggal Clara dan Duke Wayne. James memandang pilu kakak sepupunya. Dia tidak mengira tak bisa menghentikan aksi dari pengawal pribadi Kaisar Hortensia. Gerakannya sangat cepat dan sukar dicegah.


STAK


Jean mencabut kembali pisau yang sempat ia lemparkan dan memasukkannya kembali ke dalam sakunya. Sedikit James mengintip isi saku Jean. Ternyata selain pisau ada beberapa benda tajam lainnya yang cenderung lebih kecil dan lebih tajam dari pisau supaya muat dalam sakunya.


James bergidik ngeri, ternyata orang - orang dari Hortensia semuanya mengerikan luar dalam.


Segera Rovers menghampiri Raģe yang kesal karena gagal menyatakan cinta, anak ini bahkan tadi kata - katanya sudah seperti lamaran saja. Tidak Rovers sangka, Raģe terjerat cinta Clara dalam waktu singkat.


"Sial." Raģe mengumpat. "Dasar pengganggu." Ucapnya yang tertuju pada keempat pria yang masih bersamanya. Tidak seperti Duke Wayne yang sudah pergi setelah menculik Clara dengan level ramah.


"Kami sengaja. Itu karena kau menyebalkan. Kau pikir dirimu siapa bisa dengan mudahnya mendekati Clara. Jikapun kau melakukannya lebih cepat dari kami, belum tentu kau menang." Geore menyindir Raģe.


Raģe merenung, memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda misterius yang belum ia ketahui namanya ini. Kalaupun dia memulai start lebih dulu, itu tidak menjamin dia menjadi yang paling pertama finish.


"Kau menyedihkan." Rovers meledek Raģe.


"Ck!"


"Saya harap anda tidak berusaha menempeli Nona setelah ini." Jean membalikkan badannya, ingin menyusul Kaisar yang sudah sejak tadi mengunjungi Raja Agapanthus. Tapi sebelum itu, dia menatap Raģe sekali lagi. "Saya akan dengan sepenuh hati menjaga Nona dari pria - pria seperti anda."


Raģe berdecak kesal. Namun mendadak dia terdiam saat melihat kepergian Jean. Matanya tidak henti - hentinya menatap pemuda itu. Lidahnya terasa pedas, Jean jelas sedang marah. Tapi apa yang dilihat Raģe jauh lebih penting dari apapun.


Itukan...


TBC

__ADS_1


Tampar aja tombol like nya, jangan lupa tinggalkan jejak dengan komenan kalian. Supaya tidak ketinggalan notifikasi update, silahkan favoritkan cerita ini.


So, see you in the next chapter~


__ADS_2