The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 27 - Hari Hujan


__ADS_3

Saat ini Clara hanya sendirian di ruang kerja Hendrick. Awalnya memang Hendrick tak mau terlibat dengan Rovers, namun apalah daya Hellen memaksanya dengan gigih.


Dengan pandangan penasaran Clara menengok ke bawahnya di jendela. Karena ruang kerja Hendrick berada di lantai dua sehingga hal itu membuat Clara leluasa melihat pemandangan di bawahnya.


Clara melihat jika wajah Hendrick terlihat agak terganggu dengan paksaan Hellen serta kesopanan yang terlihat dibuat - buat untuk Rovers.


Dia memang sangat tidak menginginkannya eh...


Karena tumpakan dokumen di meja Clara sudah sebanyak seperti di meja Hendrick. Alhasil Clara menyudahi kegiatan mengintipnya dan segera kembali mengisi TTS.


"Hm...? Bukankah masalah ini seharusnya menjadi privasi anggota kerajaan? Mengapa bisa si mulut beracun itu memilikinya?"


Clara memandang aneh pada lembaran dokumen yang isinya adalah hal - hal menyangkut perseteruan Freesia dan Ranunculus.


Padahal jika dipikirkan kembali, hal sedetail ini hanya boleh diketahui oleh segelintir orang penting saja termasuk Duke Wayne. Namun, jika Hendrick bahkan bisa memilikinya itu berarti...


Apakah Duke tua itu lupa memisahkannya dari milik Hendrick? Ataukah memang disengaja?


Dengan mengendap - endap Clara memastikan kalau Hendrick tidak akan datang sampai waktu tertentu. Kemudian ia membaca isi dari dokumen yang tipis itu.


"Aku dan temanku, Lraigth memasuki sebuah wilayah di perbatasan Ranunculus. Nama wilayah tersebut adalah Freesia, atau lebih dikenal dengan wilayah Utara Herbras."


"Kami melakukan hal terlarang tersebut demi bisa menyelamatkan seorang gadis kecil dari sebuah sangkar emas. Pada akhirnya, meskipun kami berhasil melakukannya, namun Lraigth tewas karena serangan Raja Freesia." Sambung Clara.


Namun Clara merasa kalau ada lompatan cerita diantara dua paragraf tersebut. Seperti ada yang terlewatkan.


Clara memeriksa kedua paragraf itu dengan membacanya ulang. Dan benar saja, itu hanya akan menjadi cerita yang rumpang bilamana Clara membacanya kembali.


"Mungkinkah ini adalah cerita singkat bagaimana Duke Wayne dan Yang Mulia Raja sebelumnya menyelamatkanku? Ini adalah barang yang penting baginya, pasti. Aku sangat penasaran tentang kisah lama itu, tapi... nampaknya akan sulit menemukan cerita original dari Clara Scoleths ini."


Lagipula... suara yang tiba - tiba muncul dalam pikiranku itu, suara siapa?


Clara enggan untuk memikirkan kembali ketika suara itu muncul. Itu sangat mencekam sekaligus mengerikan. Hanya ada hitam dan kelam disana.


Juga gadis bermata putih itu...


"Arrrgggghhhh! Penulis cerita ini pastilah seorang yang abal - abal! Bagaimana bisa dia mengeksekusi sebuah cerita dengan cara yang buruk seperti ini! Bahkan Clara Scoleths yang penuh misteri pun tidak pernah ia ungkapkan latar belakangnya secara detail."


"Yang lebih aneh lagi, bagaimana bisa aku membaca novelnya sampai tamat?" Clara bertanya - tanya pada dirinya sendiri.


"Haish... sungguh menyebalkan menjadi Clara Scoleths. Karakter kontroversial paling terkenal saat novel Flower's Girl memasuki ******* dalam ceritanya."


TIK TIK


JRASS


Ketika asyik berfikir, mendadak suara rintik - rintik hujan bertemu dengan permukaan bumi terdengar. Clara kemudian memandangi hujan lewat jendela.


"Ini aneh, kupikir hari ini lebih cerah dari biasanya. Bagaimana bisa awan membiarkan isinya jatuh di hari indah ini?"


Tunggu dulu, jika hari ini hujannya awet maka... ada kemungkinan kalau bəjingan Ranunculus itu tidak pulang ke habitatnya bukan?!


...****...


Di ruang tamu, Hellen dan Rovers sedang berbincang santai. Mereka berbincang tanpa menggunakan bahasa formal. Mungkin ini adalah tanda - tanda kalau Hendrick sebentar lagi akan mempunyai adik ipar.


Dengan sinis Hendrick menatap dua orang yang sedang kasmaran itu.

__ADS_1


Sialan, adik payah itu mengajakku kemari hanya untuk diangguri. Memang seharusnya aku menolak ajakannya. Lebih baik mendengar ocehan payah si mayat hidup itu daripada menjadi nyamuk disini.


Hendrick bersusah payah menyembunyikan rasa kesalnya. Ketika sedang melirik kanan kiri, di ujung matanya ia melihat Avrim, pelayan pribadi Clara yang sedang membawa teh hangat.


"He? Apakah hujan atau memang cuacanya dingin. Tapi aku pikir masih lama untuk musim dingin." Gumamnya.


Samar - samar Hendrick mendengar tetesan air hujan di luar.


Eh? Perasaanku buruk kalau hujan turun...


Hendrick melirik kearah Rovers yang masih setia mendengarkan ocehan Hellen. Rovers hanya tersenyum kecil ketika mendengar Hellen yang entah sedang membicarakan apa.


Aku yakin bocah calon raja ini datang kemari hanya dengan seekor kuda. Kuharap hujan hanya turun sebentar agar dia bisa pulang...


...****...


Harapan Clara maupun Hendrick tidak dikabulkan.


Hujan malah turun semakin deras dan kelihatannya akan lama untuk reda. Sementara hari sudah mulai petang, Rovers hanya melihat keluar jendela melihat tetesan hujan yang menerpa kaca.


Hellen sendiri sedang bertanya pada ayahnya tentang kereta kuda yang ingin dipinjam Rovers untuk pulang ke istana. Sayangnya ayahnya tidak ada bersama dengan kereta kudanya.


Duchess Wayne yang baru datang ke ruang tamu kemudian berkata, "Bagaimana jika Putra Mahkota bermalam disini sambil menunggu hujan reda?"


Hendrick terlonjak, hal yang paling tidak diinginkan olehnya malah terjadi karena ulah ibunya. Namun apalah dayanya, ibunya lebih menakutkan ketika marah dibandingkan ayahnya.


Ujung pandangan Hendrick, dia kembali menangkap sosok Avrim. Hanya saja kali ini ia hanya membawa nampan kosong. Hendrick langsung berasumsi bahwa Avrim memang datang ke ruang kerjanya.


Tanpa aku anak antah berantah itu semena - mena saja, tch!


"Eh?" Rovers menatap tak enak hati pada Duchess Wayne yang sudah tersenyum lebar.


"Bermalam disini?" Hellen mengulangi kata - kata ibunya barusan.


Duchess Wayne mengangguk pelan, meski sudah berumur Duchess Wayne masih tetap mempertahankan gaya anggun sebagai wanita bangsawan.


"Ayahmu membawa kereta kuda keluarga. Dan Putra Mahkota datang menggunakan kuda, itu akan meresahkan bila tetap mengendarai kuda saat hujan turun."


"Saya agak riskan, lagipula ini agak aneh jika saya bermalam disini." Ucap Rovers.


Hendrick sendiri hanya memperhatikan drama aneh yang tidak penting itu. Baginya, lebih baik menyelesaikan seluruh dokumen serta kasus di wilayah Wayne dibandingkan harus menonton drama ini.


Jika bocah itu hanya menyelesaikan bagiannya maka aku akan begadang lagi malam ini. Sigh...


"Tapi..."


"Tenang saja, kami tidak akan macam - macam kok." Dengan senyum bermakna Duchess Wayne kembali berkata.


Astaga ibu, bagaimana jika calon menantumu malah membatalkan pertunangan ini karena wajah aneh itu. Hah... hal itu bukannya sial juga buatku sih.


"Terima kasih, kalau begitu saya akan tinggal disini untuk semalam saja." Timpal Rovers, setelah ia berfikir dengan matang - matang.


Hendrick membalikkan badannya dimana terlihat Avrim yang sehabis dari dapur, mungkin mau menuju ke kamarnya.


"Avrim." Panggil Hendrick.


Mendengar Hendrick memanggilnya, Avrim langsung berjalan kemudian berdiri di belakang Hendrick. "Ada yang bisa saya bantu Duke Muda?"

__ADS_1


"Ya. Katakan kepada mayat hidup itu kalau aku belum datang dan dia sudah menyelesaikan bagiannya maka sekalian saja kerjakan bagianku. Sepertinya aku tidak bisa kembali ke ruang kerja lebih cepat dari perkiraanku."


Avrim menganggum, "Baik, Duke Muda. Akan saya sampaikan kepada Nona."


...****...


Avrim berjalan hingga ke depan pintu ruang kerja Hendrick. Kemudian mengetuknya.


TOK TOK TOK


"Hm? Siapa?" Terdengar suara Clara dari dalam ruangan.


"Ini saya Nona."


"Oh? Kalau begitu masuklah."


Avrim memutar kenok pintu.


"Ada apa Avrim? Bukankah kau sudah mengantarkan teh padaku? Apa gulanya kurang?"


Avrim menggeleng, "Tidak Nona, saya mendapatkan pesan dari Duke Muda. Jika Nona sudah selesai dengan bagian milik Nona, kerjakan saja bagian dari Duke Muda. Nampaknya masalah Pangeran Mahkota yang mau bermalam disini membuatnya sibuk."


"Huh? Dia bahkan sudah memberiku banyak tugas?! Padahal Duke Wayne memintaku menjadi pelindung bayangannya. Mengapa aku seperti sekretaris nya sih?!" Gerutu Clara.


"Sekretaris?" Avrim berkata bingung.


...****...


Malam sudah terbit, bahkan bulan sang pengganti matahari sudah menampakkan wujudnya. Clara hanya mengerjakan sebagain kecilnya saja dari dokumen milik Hendrick.


Karena sudah malam, Clara berniat untuk melakukan rutinitas nya. Dia mengintip keluar jendela dan melihat bahwa hujan sudah berhenti entah sejak kapan.


SNIFF


Clara mengendus udara malam, karena ini musim gugur. Aroma tanah setelah disiram air hujan terasa sangat khas. Kemudian tatapan Clara terpaku pada tempat dimana Hendrick biasa duduk ketika sedang bekerja.


"Aku pikir dia tidak akan datang hari ini, nampaknya makhluk halus itu memang bermalam disinー bukankah hujan sudah berhenti?"


Clara tersenyum ceria, "Itu berarti dia sudah pulang dari sini yahoo!"


Clara melepas jubah yang sejak tadi ia pakai dan menaruhnya tepat di samping dokumen yang telah selesai ia kerjakan. Berjalan keluar sambil bersenandung ria.


Mungkin hari ini Clara akan berkunjung ke taman mawar lagi. Dengan cara ini Clara berharap bahwa orang - orang bisa mempercayainya sebagai Clara Scoleths.


Ketika sudah sampai di taman mawar, Clara menghentikan langkahnya. Seseorang sudah berdiri di tengah - tengah taman tersebut. Itu agak kontras sebab dirinya yang selalu disinari matahari tiba - tiba saja berdiri di bawah sinar bulan.


Tidak cocok sekali.


Orang tersebut menyadari keberadaan Clara, dia membalikkan badannya.


"Oh? Selamat malam, siapa yaー tunggu, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Apakah kau...?"


Tch, bagaimana bisa hal sesial ini selalu saja terjadi padaku!


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2