
Seorang gadis duduk di samping kakaknya yang terbaring di rumah sakit dengan segala selang infus yang menempel padanya. Sulit sekali bagi Mirye untuk orang tuanya mau membayar biaya perawatan kakaknya.
Akhirnya Mirye meminta bantuan para tetangga dan berjanji akan menggantikannya ketika ia mempunyai uang. Meski begitu, mereka tampak tidak mempermasalahkan jika Mirye tidak membayarnya kembali. Sebab tahu Mirye tak mampu.
Juga, kakak dari Mirye adalah sosok yang pekerja keras. Orang - orang percaya kalau dia kelelahan setelah kerja banting tulang demi menghidupi orang tua dan adiknya, dan berakhir mengalami pecah pembuluh darah.
Hingga seminggu berlalu dan Lilia belum menunjukkan tanda - tanda dia akan bangun. Padahal pagi sebelum Lilia drop, gadis itu masih tertawa bersama Shafira setelah pulang sekolah.
Shafira, guru serta teman sekelasnya datang mengunjungi Lilia di hari ketiganya di rumah sakit. Mereka juga membawa uang sumbangan satu sekolahan dan diberikan pada Mirye demi meringankan biaya rumah sakit.
Para tetangga pun tak luput datang. Beberapa dari mereka dengan senang hati membantu pekerjaan yang Lilia tinggalkan setelah memasuki keadaan koma.
Mirye tak mampu menggantikan segala bantuan mereka selain mengucap terima kasih sebanyak mungkin.
"Kak Rara..."
Mirye berseru pelan pada kakaknya. Tidak aneh jika Lilia dipanggil Rara, karena nama panjang gadis ini adalah Lilia Rasyania. Nama yang indah dari kedua orang tua mereka yang mulai sinting.
"Cepatlah bangun. Padahal kau belum melihat versi komik dari novel kesukaanmu itu!"
Mirye menggenggam tangan kakaknya erat dan mengecup lembut punggung tangannya yang diiunfus. Matanya berkaca - kaca dan mulai mengalirkan air mata.
"Flower's Girl, bukan? Karena kau sering membicarakannya, aku juga terpaksa ikutan baca demi meladeni ocehanmu!"
Terus dan terus saja Mirye memaki Lilia dalam hatinya karena kakaknya tak kunjung bangun. Sudah seminggu dia tertidur sambil menghirup oksigen dari tabung.
Apakah dia tidak merasa bosan? Ataupun lelah karena selalu dalam posisi sama sejak beberapa hari ini. Mungkin saja Lilia akan pegal setengah mati saat dia bangun karena tidur panjang. Itu juga kalau dia masih mau bangun...
"Kak Rara bodoh! Bangunlah dengan cepat dan kita bisa menghabiskan uang gaji pertamaku tanpa perlu membaginya dengan ayah dan ibu!"
Namun, selama seminggu pula Mirye hanya bisa berbicara dengan dirinya sendiri. Karena Lilia takkan menjawabnya sedikitpun. Bahkan bibir tipisnya yang biasa digunakan untuk mengumpat belum ada pergerakan.
"Aku akan kembali ke rumah untuk mengambil pakaian ganti. Jangan bangun tanpa aku di sisimu, Kak Rara." Mirye mengucapkannya sambil tersenyum.
"Selamat malam."
...****...
Mirye menatap rumah sederhananya dengan jengkel. Pasalnya, setiap kali dia pulang ke rumah. Ibunya akan menggila dan mendorong Mirye melakukan apa pun untuk mendapat uang.
Ayahnya juga sama saja. Dia mempekerjakan Lilia dan merampas uangnya dengan paksa hanya untuk membeli minuman keras.
Masih beruntung Lilia dan Mirye dibiarkan hidup oleh mereka.
Ada desas - desus yang beredar di antara para tetangga yang mengatakan bahwa Mirye adalah anak haram, hasil dari perselingkuhan ibunya dengan pria lain. Sementara Lilia ditemukan oleh ayah mereka di tempat pembuangan sampah.
Fakta itu menyakitkan.
Dengan tangan gemetaran Mirye mengetuk pintu rumah. Tidak ada yang menjawab. Yah, harusnya Mirye tahu betul tabiat kedua orang tua mereka.
Tanpa mengucap salam apa pun, Mirye memasuki rumah. Dia melihat sekeliling dan tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada bekas botol kosong minuman keras yang berserakan di lantai.
"Benarkah itu? Kau mau membawaku ke luar dari tempat menjijikkan ini?"
Tempat menjijikkan? Bersyukurlah kami masih membayar sewa untuk kau berteduh, j*lang! Bawa pergi saja j*lang itu pria asing! Kami tak membutuhkan lebih banyak beban di sini.
Mirye mendengar suara ibunya yang sangat manja. Membuat Mirye ingin muntah. Ibunya akan bersikap seramah mungkin di depan selingkuhannya.
Dalam hatinya dia terus mengumpati ibunya dengan kata - kata mutiara. Saking bagusnya, Mirye tidak membiarkannya didengar orang lain. Jika ada, pasti dia akan mendapat tamparan dari j*lang hidup ini.
"Bawalah pacarmu ke tempat lain. Kencan kok di tempat menjijikkan." Sindir Mirye, meski suaranya rendah agar tidak ada yang mendengar.
Dia segera masuk ke kamarnya tanpa perduli pada ibu serta selingkuhannya di ruang tamu. Mirye sudah sangat muak dengan kelakuan orang tuanya.
Andai saja dia sudah dewasa dan mampu mencari uang sendiri. Mirye pasti akan meninggalkan rumah sewa ini dan mencari kontrakan untuk ditinggali bersama Lilia.
__ADS_1
Sayangnya, itu hanyalah angan - angan yang tidak bisa direalisasikan. Membuat hati semakin mengiri pada kehidupan orang lain yang bahagia bersama keluarganya.
Jika nenek masih hidup, dia takkan menelantarkan kami tanpa kasih sayang seperti ini.
Biasanya Mirye akan mengadu kepada Lilia ketika ayah atau ibunya lagi - lagi mengambil uang pemberian Lilia. Dan gadis itu akan tersenyum sambil memberikannya uang lain untuk membayar SPP.
"Aku tidak hanya harus mengambil kerja paruh waktu," Ujar Mirye. "Setelah kakak sadar, kita berdua harus mengubah nasib menyedihkan ini!"
...****...
Sambil membawa pakaian ganti, Mirye kembali menuju ruang perawatan kakaknya.
"Permisi, nona."
Merasa terpanggil, Mirye menatap pada perawat cantik dengan seragam putihnya. Perawat tersebut tersenyum manis kepadanya.
"Iya, ada sesuatu?"
"Ada yang menitipkan nona surat ini. Tolong dibaca." Sang pesawat menyodorkan sepucuk surat pada Mirye membuat gadis itu menatap bingung.
"Siapa pengirimnya?"
"Pengirimnya adalah anonim, nona. Dia tidak menyebutkan namanya." Jawab si perawat.
Meski agak mengerikan menerima surat yang tidak ada nama pengirimnya, tapi Mirye tetap mengambilnya dari perawat itu. Kalau isinya tidak jelas, dia hanya perlu membuangnya saja.
"Oh begitu, terima kasih sudah mengantarkan."
"Tentu, nona."
Mirye membolak - balikkan amplop surat yang hanya tertera nama dan alamat sang penerima. Sementara infomasi sang pengirim sama sekali tidak ada.
Mirye duduk di kursi tunggu. Dia ingin membacanya di sini daripada di dekat kakaknya. Entahlah, hatinya ingin begitu.
「Mirye, ini kakak.」
Bukankah kakaknya sedang terbaring dengan semua alat bantu bernapas itu di dalam sana? Kakaknya tidak mungkin bangun selama beberapa detik hanya untuk menuliskan surat ini 'kan?
"Ini bohong, pasti ini trik dari ayah atau ibu."
「Mungkin kau berpikir jika ini adalah bohong karena kakakmu yang masih berbaring tidak sadarkan diri di sini. Tapi percayalah, ini adalah kakak yang kau rindukan.」
「Maaf karena mendadak semuanya menjadi buruk begini. Padahal kita sudah memiliki janji di masa depan untuk pisah rumah dengan ayah dan juga ibu agar mereka tidak mengambil uang bulananmu untuk sekolah lagi. Kakak harap Mirye tidak marah karena telah meninggalkanmu sendirian bersama mereka.」
Apa? Aku tidak marah tentang itu! Jadi, cepatlah kembali padaku...
「Tapi, maaf. Tidak ada kesempatan kedua. Mulai hari ini, tidak akan ada kata 'kita' lagi. Mirye bisa membenci kakak, tapi jangan pernah untuk putus asa dalam hidupmu. Mirye bilang ingin menjadi guru, bukan? Gapailah cita - citamu itu! Kakak akan berdiri di belakang dan terus mengawasimu.」
"He?"
Mirye tertegun. Dia membaca setiap kalimat demi kalimat lebih cermat lagi agar tidak ketinggalan. Walaupun dalam hatinya Mirye masih berfikir bahwa ini adalah hasil dari tipuan orang jahil.
「Maafkan kakakmu, Mirye.」
Mirye tertunduk dalam. Dia meremas surat tersebut menjadi gumpalan kertas dan membuangnya ke tempat sampah. Tipuan ini sangat mengerikan. Orang jahil ini harus tahu batasan untuk menjahili orang lain.
Mirye bangun dari kursi dan berjalan lagi menuju ruangan kakaknya.
Baru saja masuk dan menaruh pakaian gantinya di kursi tersedia. Mirye merasa aneh karena kakaknya yang tidak bernapas selama semenit lamanya dia perhatikan.
Mirye menoleh pada elektrokardiogram dan disana hanya ditunjukkan garis horizontal lurus.
Ini bohong. Surat itu hanyalah buatan orang iseng.
Dengan tergesa - gesa Mirye memencet tombol darurat untuk memanggil dokter atau perawat agar ia bisa mengetahui kondisi kakaknya.
__ADS_1
Sekitar dua menitan, dokter beserta perawat datang dan langsung menghampiri Lilia. Setelah melihat grafik yang ditampilkan elektrokardiogram, sang perawat menggeleng lemah pada Mirye.
Tidak perlu memeriksa denyut jantungnya karena sudah terlihat jelas. Namun dokter yang bersamanya memeriksa denyut nadi di pergelengan tangan dan leher Lilia.
"Pasien sudah tidak bisa diselamatkan."
Mirye menggertakkan giginya, air bening mengalir dari sudut matanya. Mengepalkan kedua tangannya erat - erat. Tidak adakah yang bisa dilakukan Mirye agar kakaknya kembali padanya?
Itu mustahil.
Kak Rara...
Sedetik kemudian, Mirye pingsan di tempat yang membuat dokter dan perawat barusan seketika kaget.
"Dokter, keluarga pasien ini-"
"Dia hanya pingsan, rawat dia sampai siuman."
"Baik, dokter."
...****...
"Bu, lihatlah! Gio menggigit mainanku!"
"Gio tidak melakukannya! Kia yang memberi Gio mainan Kia."
Gio dan Kia tidak mau mengalah. Hanya karena Kia memberikan mainannya kepada Gio, tapi bukan berarti Gio bisa menggigitnya sampai penuh dengan air liur.
Seorang wanita yang menjadi guru paud mereka hanya tersenyum kecut. Anak - anak sangat suka menggigit di usia balita. Sang guru hanya perlu bersabar dan melerai pertengkaran ini.
"Sudah, sudah. Gio dan Kia harus saling berbagi, oke?" Ucap sang guru seramah mungkin.
Gio dan Kia mengangguk meski terlihat dipaksakan.
"Kau masih terlihat palsu." Ujar guru lelaki di sebelahnya.
"Diam, kau juga terlihat palsu menurutku." Ucap sang guru wanita dengan tajam.
Mereka sebenarnya di sini hanya untuk bekerja paruh waktu, mereka tertarik karena gajinya yang besar. Tapi tidak disangka kalau mereka juga harus memiliki kesabaran yang besar untuk mengurus semua anak kecil nan imut ini.
Beruntung imut, kalau tidak 'kan bawaannya bikin stres.
Padahal guru wanita itu mempunyai cita - cita menjadi seorang guru di masa depan. Kalau mengurus mereka saja tidak kuat, apalagi yang susah diatur seperti para remaja.
Pelatihan kesabaran sudah dimulai sejak dini.
"Hei, Mirye. Lihatlah, ada murid baru di sini." Kata sang guru lelaki sambil menunjuk pada seorang ibu yang memegang tangan mungil anaknya.
Heh, senangnya punya orang tua yang penyayang.
Mirye memicingkan matanya karena merasa familiar dengan wajah imut anak tersebut. Mirye mendekat pada mereka berdua.
"Apakah anakku masih boleh masuk ke sini?" Tanya sang ibu ramah.
"Tentu," Mirye menjawab tak kalah ramahnya.
Dia menunduk dan mendapati sepasang mata bulat menatap ke arahnya. Mirye tersenyum tipis kepadanya. Ah, sudah tujuh tahun berlalu sejak terakhir kali Mirye menemui wajah anak imut ini.
"Siapa namamu, gadis kecil?"
"Um... Laura!"
Special Chapter - Mirye: "Come Back To Me" End
Sorry banget eps ini dipost sangat telat. Aku lupa sendiri kalau Grein udah janji ke Clara buat ngasih surat perpisahan dan permintaan maaf pada Mirye. Dan malah ngurusin novel baru.
__ADS_1
Oh satu lagi, jangan lupa mampir ke novelku yang baru ^-^