
Kau takkan pernah tahu apa yang takdir akan berikan padamu, apa yang takdir akan datangkan kepadamu dan apa yang takdir akan ambil darimu.
Semuanya adalah rahasia yang tidak pernah bisa diketahui oleh siapapun.
Kau juga takkan bisa mengorek bagaimana cara dunia bisa berjalan selama ini, tentu saja karena itu juga termasuk rahasia yang maha kuasa.
Terkadang kita selalu bisa mengatakan bahwa 'semua akan baik - baik saja'. Namun saat sesuatu yang buruk menimpamu. Apakah kau masih bisa untuk tetap mengatakan itu bahkan dengan senyuman?
Seperti yang pernah dikatakan olehnya.
Jawabannya adalah tergantung.
Tahukah kalian?
Bahwa sebenarnya peperangan ratusan tahun lalu diselesaikan oleh sihir hitam. Ivory de'Lavoisiér menggunakan sihirnya untuk mencapai perdamaian atas permintaan seseorang.
Bisa dikatakan jika kedamaian di benua Herbras selama ini hanyalah ilusi semata.
Dendam dari Crater membuat dirinya meminta hal tersebut pada Ivory. Dia memanfaatkan itu untuk membalas dendam pada dunia yang tidak menginginkan Lavoisiér.
Sihir hitam yang disebar Ivory memang berakibat baik yaitu terciptanya perdamaian dunia. Akan tetapi itu bersifat sementara, karena benua Herbras mulai diselimuti dendam dan benci tak lama setelah perjanjian perdamaian diusulkan. Sebab sihir hitam yang tertanam dalam pikiran mereka menimbulkan dendam dan segala perilaku jahat.
Ini semua rencana Crater.
Seluruh Lavoisiér telah dibantai termasuk ayah dan ibunya. Yang hanya menyisakan dirinya dan kakaknya, Zavius de Lavoisiér.
Sayangnya, Zavius berbeda dari dirinya. Kakaknya itu merasa jika ketakutan orang - orang kepada mereka adalah alami karena beberapa kemampuan yang mereka miliki itu diluar pikiran manusia pada umumnya.
Dan setelah kematian Crater. Zavius mencari cara untuk menghapuskan segala macam sihir hitam yang ada di benua Herbras akibat ulah adiknya. Dan disanalah Zavius bertemu dengan gadis muda yang mampu menyerap semua sihir hitam itu.
Dialah Lyserith. Zavius tahu betul dari siapa gadis itu mewariskan kekuatannya. Lyserith mendapatkannya dari permaisuri Kaisar Hortensia pertama, Ivory de'Lavoisiér. Yang mati dieksekusi karena dia bagian dari Lavoisiér.
Gadis bersurai camelia dengan iris putih persis seperti pearl. Mereka awalnya hanya berteman biasa, Zavius mencoba untuk membuat Lyserith membantu dirinya. Dan usaha itu tidak sia - sia, Lyserith dan mawar putihnya berhasil menyerap sihir hitam. Mawar putih yang digunakan sebagai wadah warnanya berubah menjadi biru.
Lyserith bahkan mengucapkan janji itu dan nama belakang yang diberikan Zavius adalah bentuk dari janji Lyserith kala itu.
Mereka mengelilingi benua Herbras dan menyerap sihir hitam tersebut. Kemudian, perjalanan itu diakhiri dengan kematian Lyserith. Zavius sendiri adalah makhluk yang tidak bisa menua jiwa maupun raganya sehingga dibunuh adalah satu - satunya cara untuk dia mati.
Pada akhirnya, misi Zavius untuk menghapus sihir hitam terhenti setelah kematian gadis yang ia cintai, Lyserith. Dia mengelilingi benua Herbras secara acak dan sembunyi - sembunyi hingga sampai ke wilayah pusat benua, Kerajaan Ranunculus.
Disana ia bertemu dengan anak kecil berbakat yang meminta Zavius untuk menjadi gurunya. Status murid dan guru lalu tersemat diantara mereka. Anak itu adalah Frederick Wayne.
Frederick sangatlah lincah dan cakap, dia mempelajari banyak hal dari Zavius begitu cepat.
Ketenangan Zavius berakhir, ketika orang - orang menemukan dirinya. Keturunan Lavoisiér harus dilenyapkan secara 'bersih'. Zavius merasa sudah menyerah pada hidupnya dan mati dieksekusi.
Namun sebelum hari pengeksekusiannya. Zavius memberikan buku yang ia tulis pada Frederick sebagai peninggalan terakhirnya. Kemudian meminta Frederick untuk menyelamatkan gadis kecil di Freesia yang mereka jadikan senjata di masa mendatang.
Singkat cerita, Frederick berhasil menculik anak perempuan yang dicuri kebebasannya oleh Freesia. Dendam Freesia semakin besar pada Frederick sebab sebelumnya Frederick menculik putri berharga mereka yaitu Eleanor Northern.
__ADS_1
Gadis bersurai dan iris berwarna putih bersih. Kulitnya juga sangatlah pucat, namun badannya begitu kurus hingga terlihat hanya tulang berlapiskan kulit saja.
Namun setiap gadis itu menyerap sihir hitam. Matanya yang putih lama - kelamaan berwarna safir seperti mawar putih yang menjadi biru setelah tersimpan sihir hitam di dalamnya.
Gadis itu tewas karena pribadi dalamnya sendiri dan sebuah jiwa asing masuk ke dalam raga tersebut. Diketahui bahwa dia adalah reinkarnasi dari pemilik raga itu yang telah tiada.
Dia kemudian menggantikan Lyserith mengumpulkan sihir hitam dalam dirinya. Meski ada perpindahan 'wadah' sebentar. Tapi akhirnya gadis itu tetap berada di jalannya, sebagai reinkarnasi dari Ivory dan Lyserith serta Clara.
Ia lenyap bersama dengan sihir hitam.
Akan tetapi, kenangan banyak orang tentangnya tetap takkan hilang. Mungkin begitulah adanya, dia akan menjadi orang paling berjasa di benua Herbras ini.
Sebagai seseorang yang mampu menciptakan kedamaian tanpa kebohongan.
...❀...
"Hellen, apakah kau sudah siap? Aku dan Ibu mau segera ke makam."
Suara ketus terdengar dari luar kamarnya, Hellen yang sibuk memakai pakaiannya yang serba hitam itu mengeluh.
Mereka akan ke makam, sebenarnya tidak ada jasad juga di makam itu. Ketiga keluarga Wayne itu menyebut tempat tersebut sebagai makam karena disanalah akhir dari riwayat Frederick Wayne, jadi mereka menyebutnya makam.
"Sabarlah Kak! Bagaimanapun juga aku sedang berbadan dua! Tidak mungkin bagiku bergerak lebih cepat dari biasanya." Protes Hellen.
"Benar Hendrick, bersabarlah." Ujar Eleanor dengan nada lembut.
"Mungkin saja dia sedang bersama Pangeran Southbayern. Besok 'kan orang itu akan menikah dengan Valentina. Mustahil Kakak melupakannya!"
"Aku tidak melupakannya! Aku hanya tidak mau mengingatnya!"
"Huh." Hellen mendengus pelan mendengar itu.
Hellen telah selesai bersiap, dia didampingi Eleanor agar bisa berjalan lebih seimbang. Mungkin karena sekarang usianya kandungannya sudah sembilan bulan. Perutnya yang membesar tidak bisa membuatnya beraktivitas seperti biasa lagi.
Meski begitu, Hellen sangatlah senang karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.
"Aku ingin tahu rasanya menjadi Ibu." Ujar Hellen.
Eleanor yang mendengar itu tersenyum lembut. Sedangkan Hendrick diam saja, dia memang senang karena adiknya sebentar lagi akan jadi seorang Ibu. Tapi Hendrick belum sepenuhnya menerima fakta bahwa ayah dari anak Hellen adalah Rovers.
Hah... aku benar - benar tak mau menganggap orang itu sebagai iparku. Tapi apa boleh buat, nasibku memang sial.
Kemudian Hendrick menatap pada sebuah kalung indah di leher adiknya yang pemilik sebenarnya sudah tak ada lagi di dunia ini. Sebuah kalung safir dengan selipan amethyst sebagai tanda buatan Agapanthus, khusus dibuat langsung oleh pengrajin permata dari sana.
"Kau mengenakannya huh... Adikku tampak lebih bersinar lagi."
Hendrick sebenarnya tak bermaksud memuji, tapi wajah Hellen yang sudah terlanjur bahagia tidak bisa membuat Hendrick meralat ucapan yang keluar dari mulutnya.
Hellen menyentuh batu permata pada kalung tersebut.
__ADS_1
"Barang ini sudah kuberikan kepadanya, tapi dia malah menitipkannya kepadaku di hari itu. Aku hanya memakainya saja, jika aku memakainya aku merasa dia berada di sampingku. Tidak kusangka hari itu adalah hari terakhirku bertemu dengannya."
Dari sorot mata Hellen, terpancar kesedihan mendalam. Memorinya tentang seorang gadis berkulit pucat berkecamuk dalam pikirannya. Tapi besok adalah hari bahagia untuk Valentina dan Edmond pewaris tahta Vinca, hari ini juga dia ingin berkunjung ke makam ayahnya. Hellen harus menahan semua itu.
Hellen mengencangkan pegangannya pada kalung tersebut.
"Selain penanda buku itu, kalung ini adalah kenang - kenangan darinya."
...❀...
Setibanya di tempat dimana Frederick meninggal, ketiga orang dengan pakaian hitam itu mulai berdiri mengitari tanah kosong itu.
Eleanor yang memimpin mereka, dia meletakkan bunga calendula di atas tanah makam suaminya. "Setahun berlalu tanpamu, rasanya ada yang kurang..."
Hellen dan Hendrick membiarkan Eleanor untuk menumpahkan segala kesedihannya. Hellen tak mau menggangu ibunya, jadi dia hanya bisa berdiri sedikit jauh dari tempat ibunya berdiri.
Karena tak kuasa lagi menahan tangis, Hellen mulai menitikkan air mata. Dia mencengkeram lengan pakaian kakaknya yang berada di sampingnya.
Dalam tragedi setahun yang lalu, Hellen langsung kehilangan dua sosok yang berharga baginya. Yang pertama adalah ayahnya dan yang kedua ialah gadis berwajah dingin itu.
"Mengapa semua orang satu persatu mulai meninggalkanku...?"
Dalam keheningan, Hellen terisak. Menyembunyikan wajahnya di belakang Hendrick. Bahkan Hellen begitu tega mengotori pakaian Hendrick dengan hingusnya.
"Mereka meninggalkanmu karena kau cerewet dan merepotkan." Ucap Hendrick tanpa hati.
"Di saat seperti ini Kakak jangan berkata begitu! Ayah pergi tanpa pamit kepada Ibu... Clara juga tidak pamit padamu, Kak." Gumam Hellen.
"Yang lalu biarlah berlalu. Ketika kau selalu menengok ke belakang, maka kau akan tertinggal."
"Aku tahu..."
"Kalau begitu biarkan mereka berdua tenang disana."
"Iya..." Hellen mengangguk samar.
"Lagipula aku baik - baik saja."
Hellen tak bergeming.
Tanpa disadari Hellen, Hendrick mengepalkan kuat tangannya. Di dalam kepalan tangannya itu terdapat sebuah jepit giok dengan bentuk bunga ranunculus. Warnanya putih jernih seperti surai seseorang.
Kini, kau hanya sebatas kenangan indah... hari - hari yang kuhabiskan bersamamu takkan kulupakan.
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1