
Habislah aku...
Wajah Clara nampak pucat pasi. Melihat kehadiran seseorang yang sudah berbulan - bulan lamanya tidak ia temui. Namun kini, orang itu berdiri di hadapannya dengan ekspresi jengkel.
"Ma-maksud saya Duke Wayne..." Clara meralat kalimat pertamanya. Menyapa Hendrick yang masih bersidekap.
Clara menormalkan wajahnya, dia melirik sana - sini untuk mencari seseorang lagi. Yang mungkin ia pikir akan datang juga kemari.
"Hellen tidak disini. Awalnya dia memang memaksa ikut. Tapi tidak kusangka dia akan berangkat kemari dengan brengse- maksudku Pangeran Rovers." Hendrick berdehem, memperbaiki cara memanggilnya pada Rovers.
Lalu tatapannya beralih pada Raģe yang diam. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun setelah Hendrick datang dan menegur Clara. Karena bagaimanapun, pria ini lebih dekat dengan Clara, otomatis rasa rindunya pada gadis ini sudah menumpuk.
"Jadi kau sudah datang. Bersama siapa?" Tanya Hendrick pada Raģe.
"Saya datang bersama sepupu saya, Valentina Harold."
Hendrick menautkan alisnya, "Ouh... gadis itu."
Hm? Kenapa responnya begitu?
"Sepertinya saya akan pamit dulu untuk menemui paman saya. Jadi, saya permisi." Raģe menundukkan badannya pada Hendrick dan melangkah menjauh dari dua orang itu. Raģe mengira mereka akan memasuki mode rindu - rinduan setelah ia pergi.
Clara menatap kepergian Raģe, padahal dia masih ingin mewawancarai pria itu untuk kasus sindrom yang ia idap. Tapi apalah daya, keberadaan Hendrick lebih penting daripada narasumber nya sendiri.
"Oi, kau belum menjawab pertanyaanku."
Clara menatap Hendrick, karena Hendrick lebih tinggi darinya, maka Clara perlu mendongak. Dia mengerutkan keningnya, merasa ada yang janggal dengan pertanyaan Hendrick.
"Justru saya yang seharusnya bertanya begitu. Setelah mengirim surat terakhir di dua bulan yang lalu. Tidak ada balasan dari anda, saya hanya menuggu surat balasan dari anda selama ini."
"Huh? Yang terakhir mengirim surat itu aku, kau lupa?"
Dengan cepat Clara menggelengkan kepalanya. Menyanggah pernyataan Hendrick barusan. Nyatanya memang Clara lah yang terakhir mengirim surat.
"Bukan Tuan Hendrick! Tapi saya. Saya ingat betul, di tengah musim dingin saya mengirimkan sepucuk surat untuk anda. Apakah suratnya tidak sampai?"
"Tidak ada satu pun merpati yang bertengger di jendela kamarku." Hendrick menjawab jujur.
__ADS_1
"Eh? Jadi suratnya tidak sampai?!" Clara memekik keras, membuat Hendrick menutup kedua telinganya.
"Mungkin..."
Hendrick selama ini menunggu surat balasan dari Clara. Tapi surat yang ditunggu tak kunjung datang. Mau menulis surat lagi, tapi gengsi nya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Ditambah dia mendadak bodoh merangkai kata kalau media yang ia tulis adalah kertas surat yang akan dikirimkan pada Clara.
Selama ini juga Hellen lah yang menuliskan surat balasan Clara untuknya. Tetapi setelah balasan surat pertama, Hendrick mulai mengawasi adiknya saat sedang menulis surat tersebut. Dia mewanti - wanti kalau saja adiknya kembali menuliskan hal absurd di dalamnya.
Dan sekarang, penantian Hendrick dibayar dua kali lipat lebih besar. Saat dirinya membawa pesan dari Ranunculus untuk Agapanthus, Hendrick malah mendapat kejutan dengan kehadiran Clara. Gadis yang kabur ke Hortensia ini malah dilihatnya sedang duduk santai di taman lavender. Dalam ingatannya, Hendrick akan menghapus sosok Raģe Cheltics yang ada di samping Clara.
"Apa Tuan Hen- maksud saya Duke Wayne membenci Valentina Harold?"
"Panggil saja aku seperti biasa."
Hendrick duduk di rumput seperti yang dilakukan Clara. Sejauh mata memandang, yang bisa ia pandang hanyalah hamparan lavender.
"Baiklah." Clara mengangguk kecil. Clara akrab dengan Hendrick sebelum kenal dengan Kaisar Hortensia. Maka tidak masalah bukan kalau kali ini peringatan kaisar ia langgar?
"Soal pertanyaanmu barusan, jawabannya adalah tidak. Tidak ada yang membenci Valentina Harold. Kalau Hellen, dia hanya sekedar tidak suka padanya."
"Kenapa Allen tidak suka padanya?"
Satu kalimat dari Hendrick saja sudah menjabarkan segalanya. Menjawab pertanyaan Clara. Tidak perlu menceritakan semuanya, Clara tidak sebodoh itu untuk menyatukan benang merah di cerita hanya dengan sebuah kalimat saja.
Seorang gadis kalau sudah mencintai seseorang, terlebih lagi ketika orang tersebut juga sudah mencintainya. Maka gadis itu akan menganggap orang itu sebagai miliknya dan tidak ada seorang pun yang boleh mengambilnya. Posesif istilahnya.
Kasus ini juga ternyata terjadi pada Hellen. Dia yang sudah tunangan dengan pangeran mahkota merasa perlu menjaga pria pujaan hatinya itu agar tidak ada siapapun yang bisa merebutnya.
Namun datanglah Valentina. Gadis tercantik kedua sebenua Herbras. Dan dia menunjukkan keterkarikannya pada Rovers sebagai seorang perempuan yang mencari cintanya. Hellen menyadarinya, dan semuanya berakhir seperti yang bisa dilihat Clara.
Clara sedang berfikir. Saat kedatangan Hellen bersama tunangannya itu, ekspresi apa yang akan diperlihatkan oleh Valentina? Dan bagaimana reaksinya? Akankah dia terang - terangan merebut Rovers dari Hellen atau dia akan kalem saja dan berakhir menjadi sad girl?
"Berhenti berfikir di depanku dengan wajah bodohmu. Padahal sudah kuperingatkan berulang kali. Kau ini lupa atau apa? Bodoh sekali." Sindir Hendrick tak tanggung - tanggung.
Clara mendelik. Padahal George yang lebih garang dari Hendrick sudah melunak sikapnya. Tapi setelah berbulan - bulan ternyata Hendrick tidak berubah sama sekali. Dia tetap menjadi pria penyindir handal yang pandai menyinggung dan membuat orang sakit hati karena kata - katanya.
"Terima kasih sudah mengingatkan. Toh, saya memang pelupa." Clara berterima kasih sambil menyunggingkan senyuman manisnya. Terselip ekspresi jengkel disana, Hendrick menyadarinya.
__ADS_1
Setelah itu, yang terjadi selanjutnya hanyalah Clara yang menceritakan cerita panjangnya saat tinggal di Hortensia. Dan seluk beluk bagaimana ia bisa terseret ke Agapanthus untuk menjalankan misi cinta seorang buaya.
...❀...
Siang hari yang begitu terik hampir berlalu. Digantikan oleh langit berwarna jingga. Matahari sebentar lagi akan terbenam. Ternyata di musim semi, pemandangan langit tidak sememukau pada pagi hari.
Valentina memandangi dua orang, seorang pria dan wanita yang turun dari kereta kuda. Wanita itu dibantu ketika turun oleh di pria. Sakit. Rasanya sesak dalam hati saat Valentina melihat dua orang yang mesra itu. Padahal masih tunangan, belum resmi menikah.
"Bukankah sudah kubikang untuk berhenti memperhatikan diam - diam pangeran mahkota?" Celetuk seseorang.
Valentina terkejut, refleks menoleh kearah kanannya dimana ada sepupunya disana. Valentina tidak menggubris perkataan Raģe. Dia malah kembali menatap pasangan yang sedang dimabuk asmara itu. Oh ayolah! Mereka masih tunangan!
Tanpa ia sadari, Valentina mencengkeram bagian dadanya. Matanya menitikkan sebulir air mata bening yang melintasi pipinya. Rasa sakit ini... menyakitkan, namun tidak bisa ia benci perasaan ini.
Keadaan Valentina begitu menyedihkan sepulang dari akademi. Dia mendengar, setelah acara ulang tahun Raja. Telah diumumkan jika pangeran mahkota bertunangan dengan putri bungsu dari Duke Wayne. Percuma saja dia mempunyai pangkat yang lebih tinggi, yang Rovers cintai adalah Hellen bukan dirinya.
"Ck! Sudah kukatakan jangan lihat lagi, bukan?! Kau punya hobi menyakiti diri sendiri rupanya. Aku jadi merinding. Sudahlah, yang penting jangan sampai melukai fisik dan mentalmu saja. Sampai jumpa."
Raģe melangkah menjauhi Valentina. Gadis itu mengusap sudut matanya yang berair, menatap Raģe yang semakin jauh darinya.
"Kemana?"
"Mau menemui James."
Valentina tidak menanggapi lagi. Dia memandangi kembali tempat dimana barusan Rovers dan Hellen baru datang kemari disambut oleh Raja Agapanthus dan anaknya. Valentina terisak, mengusap kasar wajahnya yang tampak menyedihkan lalu mengambil langkah lebar menuju kamarnya.
Ia tidak menyadari, ada dua orang yang sedang memperhatikannya dari pintu untuk masuk lorong. Mereka baru saja dari taman lavender dan akan segera masuk ke istana untuk berbincang dengan Raja. Namun tidak disangka mereka menemukan pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.
Seorang yang satunya hanya menatap datar lalu mendengus, "Dia terlihat menyedihkan. Tapi apa dia sebegitu naif nya dengan mengira air matanya bisa digunakan sebagai benteng agar dia mendapatkan si wajah dua itu."
Orang ini selalu pandai menyindir, dia sangat pandai. Hingga orang di sebelahnya mengasihani Valentina yang disindir habis - habisan oleh si penyindir handal. Dia masih mengharapkan supaya Tuhan mau memberikan manusia bermulut pedas ini pasangan yang mempunyai kesabaran tanpa batas.
Masih sama dalam novel. Ini adalah cinta satu sisi melalui perspektif Valentina. Akan tetapi, dengan kehadiran Edmond untuk mengejar cinta Valentina. Mungkinkah akan ada akhir yang lebih bahagia?
TBC
Jangan lupa letakkan like dan komen. Wahh, pembacanya banyak tapi kalian tidak like dan komen. Ckckck, Clara akan mengirimkan kalian sihir hitam nantinya.
__ADS_1
So, see you in the next chapter~