
"Mulai hari ini, setelah diskusi panjang kami membuat keputusan bulat. Kau harus menjadi penasihat kerajaan berikutnya setelah Grand Duke Harold turun jabatan."
Raģe terkejut mendengar ayahnya mengatakan itu. Padahal ayahnya tahu bahwa Raģe tidak berminat menjadi seorang pejabat tinggi kerajaan dan semacamnya.
Daripada belajar sastra, sejarah dan hukum. Aku lebih menyukai pedangku...
Meski dalam hatinya ia menolak dengan pasti. Raģe tidak begitu ingin terlibat perdebatan dengan ayahnya, sehingga ia memutuskan untuk menyetujuinya.
"Baiklah Ayah."
...****...
SWOSH SWOSH
Suara ayunan pedang terdengar di lapangan latihan. Raģe masih diawasi oleh gurunya, Duke Wayne dalam mempelajari seni pedang.
Biasanya Raģe akan bersemangat, akan tetapi hari ini dia tidak memiliki tenaga untuk mengayunkan pedangnya sama sekali. Karena itu Duke Wayne mendekat padanya.
"Raģe, hari ini kau tidak begitu baik."
"Ah, benarkah guru Fred? Aku yakin aku seperti biasanya."
"Jangan mengelak, Raģe. Kau tahu? Dalam rapat keputusan besar hari itu aku juga ikut berdiskusi. Yah, seharusnya kau sadar jika semua anak Grand Duke Harold adalah perempuan."
Raģe diam tak bergeming.
"...'Jangan putus asa dalam mimpimu', meskipun aku pernah mengatakannya. Tapi ada beberapa hal yang membuatku sendiri terjebak dalam lingkaran masalah ini."
Raģe tersadar kembali, dia mendongakkan kepalanya, menatap gurunya dengan seksama.
"Apakah Guru Fred tidak ingin menjadi Duke?"
"Ahaha! Aku memang pernah melakukan sesuatu yang tidak kukehendaki dan itu bukanlah aku yang menolak menjadi Duke. Namun itu adalah permintaan terakhir dari orang yang kuhormati, aku akan melakukan segala cara untuk membalas dirinya. Karena itulah kulakukan semampuku. Meskipun pada akhirnya, bisa dikatakan bahwa aku menyesal telah melakukannya."
"Tapi... Guru Fred, mereka yang memintaku menjadi penasihat kerajaan bukanlah orang yang kuhormati secara batin." Raģe merenggut kesal.
"Ah, kau terlalu jujur. Akan tetapi, semuanya menjadi keputusanmu. Entah kau memilih 'ya' ataupun 'tidak', pada akhirnya kau akan tetap menjalaninya suka tak suka..."
...****...
"Melakukannya meskipun tak ingin? Dunia ini berjalan hanya untuk mereka... bukan untukku." Keluh Raģe.
Saat ini dia sedang mengendarai kudanya perlahan untuk mencari Clara. Yah, sebenarnya misi penangkapan Clara yang dia emban ini tidak ingin dia laksanakan kalau bukan karena adanya label 'misi'.
"Memang samar - samar sih, tapi seharusnya yang menculik gadis itu tampak seperti pangeran. Manusia satu itu sangat nekat. Dan lagi, aku tak mengira bahwa tujuan mereka adalah wilayah barat."
Mungkin kedengarannya tidak sopan, tapi pada dasarnya Rovers dan Raģe adalah teman masa kecil. Mereka selalu bersama sejak kecil, sehingga tidak ada lagi bahasa formal diantara mereka.
Awalnya Raģe merasa tak enak hati meskipun Rovers sendiri yang memintanya. Tapi sekarang dia terbiasa juga untuk menyebut Rovers sebagai 'manusia itu'.
"Sepertinya dia lupa apa hukuman yang diberikan kepada orang yang membantu buronan untuk kabur....huh! Menyusahkanku saja."
JDER
"Mengagetkan saja, malam ini memang tak bisa diajak kerja sama."
Raģe mengeluh ketika cuaca malam ini lebih meleset dari perkiraannya. Dia kira malam akan cerah, rupanya hujan badai sudah turun kembali.
Ah, entah kenapa aku jadi ingat alasan manusia itu menginap di kediaman Wayne. Itu karena hujan badai, bukan? Akhir - akhir ini cuaca sangat tidak bisa diprediksi yah...
"Apapun itu, lebih baik berteduh secepatnya, tidak ada jaminan kalau petir takkan menyambarku. Aku tak mau mengambil resiko besar walapun hidupku di masa depan tak sesuai yang kuinginkan."
Ketika rintik - rintik hujan sudah jatuh ke bumi. Anehnya, Raģe malah memacu kudanya lebih lambat dibanding sebelumnya. Padahal ia harus mencari tempat aman demi menghindari dampak buruk dari cuaca ekstrim malam ini.
Raģe menyentuh kepalanya, "Di saat begini mengapa rasa sakitnya malah tambah parah. Sungguh, ini lebih menyebalkan dari yang kukira."
BRUK
__ADS_1
Tubuh Raģe terjatuh dari atas kudanya, dia kehilangan kesadaran dengan cara terburuk di seumur hidupnya. Sebelum kesadarannya benar - benar hilang, ia berbisik diantara bisingnya suara hujan.
"Semoga saja ada yang menemukanku..."
...****...
"Mengapa tiba - tiba turun hujan begini sih? Padahal tinggal sedikit lagi kita menuju Hortensia. Aku tak sudi untuk tetap disini...!"
Dan karena hujan badai yang sama, Clara serta Avrim juga berteduh di gua terdekat. Avrim sendiri sudah mengecek isi gua dengan teliti sebelum membiarkan Clara memasukinya.
BRUK
"Hng? Apa itu diujung sana...?"
Clara menaruh tangannya seolah bersikap hormat. Matanya melihat situasi sekitar layaknya seorang detektif yang sedang dalam kasus.
"Yah... kelihatan seperti manusia bagiku... tapi entahlah, aku tak begitu yakin."
"Ada apa Nona?"
Avrim di belakangnya langsung bertanya pada Clara.
"Yah, ini seperti aku mendengar BRUK! Dan saat kulihat lagi dengan mata detektif-ku, rasanya aku melihat manusia di sekitar sana." Tunjuk Clara.
Detektif? Bahasa apa itu? Dan apa artinya...?
Namun Avrim tetap melihat ke tempat yang Clara tunjuk tersebut. "Ah, Nona. Itu memang manusia."
SRET
"Apa...?"
Angin memang kencang di cuaca begini, tapi perasaan Avrim tak enak ketika melihat Nonanya berlari dengan kecepatan tinggi sepersekian detik setelah Avrim mengucapkan 'manusia'.
"Nona?!"
"Kalau memang itu benar - benar manusia, mengapa bisa dia hanya memiliki satu pose dan tak bergerak sedikit pun?!"
Ketika sudah dekat, Clara bisa melihat lebih jelas lagi. Ada seseorang dengan pakaian bangsawan, di sampingnya masih ada kuda yang menemaninya.
"Bukankah dia bangsawan yang menyerang punggung Avrim? Tapi sudahlah, keadaannya saat ini lebih menyedihkan dan Avrim punya kemampuan aneh itu. Jadi kuputuskan untuk menolongmu..."
...****...
Perlahan, kedua mata Raģe yang tertutup rapat terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah gadis tercantik yang pernah ia temui seumur hidupnya, tapi Raģe tak begitu terkesan dengan wajahnya.
Karena bagaimanapun gadis ini ialah targetnya.
"Selamat malam." Bisik Clara pelan.
"Apa? Mengapa kau mengucapkan hal aneh seperti itu di saat seperti ini?"
Merasa tak mau matanya tercemar, Raģe langsung menutupi wajahnya dengan tangan kirinya. Menghindari kontak mata dengan targetnya itu.
"Hanya mau saja, lagipula ini memang malam."
Saat itulah Raģe menyadari jika kepalanya tidak berada di tempat yang keras seperti diatas batu. Itu terasa lembut sampai - sampai Raģe terlena dan lupa berfikir logis.
Kepala Raģe berada di atas pangkuan Clara.
"Posisi ini... aku pikir terkesan ambigu...?"
"Hng? Avrim menyarankan melakukan ini, dia mengatakan bahwa anda pingsan karena kedinginan dan saya tak mau memeluk anda. Jadi hanya ini yang bisa saya lakukan..."
Apa? Aku kedinginan? Aku pikir ini karena sakitku yang tambah parah bukannya kedinginan. Apa pelayan dari gadis ini membohonginya...? Tidak sebentar!
"Apa kau hanya membawaku kesini tidak dengan kudaku?"
__ADS_1
"Ah yah, saat saya membopong anda, kuda itu mengikuti saya dengan sendirinya." Clara menunjuk kearah dua kuda yang sedang memakan rumput di ujung gua.
"Aku paham sekali..."
Raģe menatap pada Clara lamat - lamat, ini terasa agak aneh setelah mereka nyaris terlibat pertarungan satu lawan satu tapi sekarang malah bersikap damai seolah hal itu tidak pernah terjadi.
"Nona, bagaimana dengan lobak bakar? Ini masih hangat juga."
"Ingatanmu sepertinya kacau, Avrim. Sini biar kuperbaiki hingga ke akar - akarnya, supaya cara berfikirmu tak mengancam hidupku."
Avrim menghampiri Clara dengan lobak bakar di tangannya. Kemudian dengan sedikit bantuan Clara, Raģe mengambil posisi duduk sambil bersandar pada dinding gua.
"Apa lobak bisa dibuat seperti itu?" Gumam Rage.
"Tidak, lebih daripada itu. Bagaimana bisa lukamu sembuh sepenuhnya secepat itu? Bahkan aku yakin tak ada lilitan perban disana." Tanya Raģe pada Avrim.
"Dia bisa sihir loh~" Clara menjawabnya dengan sedikit kebanggaan disana.
"Oh."
"Heh? Hanya 'oh' saja, kenapa!!!" Teriak Clara dan berakhir bergelut dengan kuda.
Abaikan saja Clara, dia sedang meracau tak jelas. Sementara Avrim terlibat percakapan dengan Raģe meski hanya sebentar saja.
"Jadi, kau benar - benar bisa menggunakan sihir huh?"
"Kelihatannya memang seperti sihir." Ucap Avrim sesingkat mungkin.
"Hm... sepertinya manusia itu pernah mengatakan sesuatu mengenai 'sihir'. Apapun itu, semuanya sekarang baik - baik saja. Dan... apakah dia akan meledak lagi?" Bisik Raģe pada Avrim.
"Nona tidak akan meledak lagi jika tidak ada yang memicu kemarahannya."
"Yeah..."
Pandangan Raģe lagi - lagi tertuju pada Clara. Gadis bodoh yang memperebutkan lobak bakar dengan dua kuda itu. "Aku ingat kalau dia tak mau makan itu... mengapa sekarang dia malah ribut menginginkannya?"
"Yah, awalnya masih panas dan sekarang mungkin sudah lumayan dingin."
"Avrim, kau bisa istirahat sampai hujan badai ini mereda. Aku akan membangunkanmu saat cuaca mulai memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan." Saran Clara, dia sadar kalau Avrim sudah menguap berkali - kali sejak mereka menemukan gua ini.
"Baik Nona, saya harap Nona tidak mengendorkan pertahanan." Avrim berbaring di ujung gua.
Clara yang duduk di samping Raģe langsung mendapat pandangan heran dari bangsawan muda itu.
"Apa?"
"Apa? Kau bertanya 'apa'? Kupikir kau kelewat sopan bahkan untuk pelayan sepertinya..."
"Heh? Apa salahnya dengan itu? Bagaimanapun juga kami sederajat karena sama - sama manusia. Tidak, seperti derajat Avrim lebih tinggi karena dia bisa sihir."
"Sejak tadi kau menyebutnya bisa menggunakan sihir. Tapi kemampuan regenerasi milik pelayan itu menurutku pemberian dari seseorang."
"Memang pemberian dari seseorang bukan? Kepada kakek dari kakeknya kemudian kakeknya dari kakek kakeknya ke kakeknya dan kakek kakeknya terus berlanjut ke kakek dari kakeknya."
"Bukan, bodoh. Lagipula 'kakek'mu terlalu berlebihan. Ini seperti seseorang yang leluhurnya memang diberikan sihir. Kemudian orang itu karena alasan tertentu memberikan sihirnya kepada Avrim."
"Ah, saya paham - saya paham. Tapi, apakah memang bisa...?"
"Bukankah kau sudah melihatnya sendiri?"
"Hm, saya kurang yakin."
"Aku juga tidak memaksamu untuk percaya ucapanku."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~