
"Kak Lea? Apakah Kakak masih di dalam?"
Willem menyembulkan kepalanya ke dalam kamar kakaknya. Saat melihat seorang gadis yang dibalut dengan gaun berwarna silver, Willem memberanikan diri memasuki kamar tersebut. Willem melihat kakaknya yang sudah sangat siap.
Pernikahan ini akan dilaksanakan di Kerajaan Freesia. Tepatnya di salah satu katedral yang biasa digunakan untuk tempat perucapan janji suci di Freesia ini. Mungkin pihak dari calon suaminya sudah datang sekarang dan menunggu kesiapan Eleanor.
Padahal aku tak menginginkan pernikahan ini...
Eleanor menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangisan yang sejak tadi ingin keluar menerobos pelupuk matanya. Dia meredam segala kesedihan melalui rasa sakitnya. Eleanor tak menginginkan pernikahan ini, namun tak mampu menolaknya.
"Pernikahannya sudah akan dimulai?" Tanya Eleanor dengan suara pelan, dia tak ingin Willem tahu bahwa suaranya sangat serak sehabis menangis.
Willem mengangguk.
"Aku datang kesini untuk menjemput Kakak. Pangeran sudah datang di Kerajaan Freesia, menunggu pengantinnya keluar." Ucap Willem dengan wajah berseri - seri.
Eleanor semakin tak kuasa untuk mengatakan sumpah serapah bahkan dalam hatinya. Mengapa takdir membuatnya menjalani ini? Dia hanya mau bersama dengan orang yang mencintai dirinya.
Willem mengulurkan tangan kanannya, Eleanor hanya menerima uluran itu dengan pandangan kosong, selesai sudah masa lajangnya. Setelah ini dia akan menghabiskan hidup dengan suami yang bahkan tak ia ketahui wajahnya hingga sekarang.
Eleanor dan Willem melangkah melewati lorong istana. Disana sudah diletakkan karpet merah lalu bunga - bunga berbagai jenis untuk menghiasi lantai.
Eleanor tersenyum getir.
Inikah akhirnya? Biasanya aku tidak pernah berhalusinasi tetapi... aku harap ada pangeran berkuda putih yang mau menculikku dari sini.
Eleanor sampai di samping kereta kuda yang mewah berwarna putih dan emas. Seorang pria dengan pakaian pengantin berwarna putih mengulurkan tangannya pada Eleanor. Masih dengan tatapan gamang, Eleanor melepaskan tangan Willem dan mengambil tangan pria itu yang tergantung di udara.
"Kalau begitu, mengapa tidak kau saja yang menikahiku?! Kita bisa bahagia hidup bersama. Dan membangun keluarga sendiri!!!"
Eleanor tersenyum sinis dibalik cadar putihnya.
Aku sudah seperti boneka saja.
SRET
"AKH!!!"
Semua kesenangan yang ada tiba - tiba tergantikan oleh wajah ketakutan. Saat sebilah pisau mengenai telapak tangan sang pangeran dan menancap cukup dalam. Dia memekik kesakitan di hadapan Eleanor yang kembali menarik uluran tangannya.
Semua orang mendadak waspada. Para prajurit mengambil posisi mengelilingi kereta kuda juga para bangsawan yang hadir.
Raja dari benua tetangga juga nampak waspada. Bola matanya bergerak liar kesana kemari hanya untuk menemukan pelaku yang melemparkan pisau pada anaknya di hari pernikahannya.
"MAU MENGAMBIL TUAN PUTRI ELEANOR? KAU SALAH KALAU KAU BERFIKIR BISA MELAKUKANNYA."
Suara yang menggelegar memenuhi udara. Pandangan semua orang sekarang tertuju pada satu tujuan, menara istana. Seorang dengan jubah hitamnya berdiri disana dengan santai.
Mata Eleanor membulat sempurna, dia tahu siapa orang disana.
Gerald? Aku tak menyangka kau melakukan sejauh ini? Lalu... dimana Edrick?
BUGH
__ADS_1
Tubuh sang pangeran mendadak ditendang seseorang dari belakang. Eleanor nyaris berteriak ketika sebilah pisau bertengger manis hampir menggores lehernya. Tangan seseorang melingkar di lehernya hanya untuk menahan pergerakan Eleanor.
Eleanor makin panik, apalagi saat orang yang sama itu juga menginjak punggung pengantin pria dengan mudahnya. Serta pisau yang dia pegang semakin menipiskan jarak dengan lehernya.
Orang - orang yang hadir awalnya memusatkan perhatian mereka pada pria berjubah hitam yang berdiri puncak istana sekarang berubah haluan pada kereta kuda yang kini diisi oleh tiga orang. Sang pangeran, pengantinnya dan orang misterius.
Para prajurit disana membeku tak bisa melakukan apa - apa. Karena keselamatan sang pengantin wanita yang mengancam, pria misterius itu menyandera Eleanor.
Pria misterius itu mendekatkan wajahnya dan mengatakan sesuatu dengan berbisik, "Tenanglah. Ini aku."
Eleanor yang bergetar ketakutan kini sedikit tenang. Dia bisa mengenali suara itu, dia Frederick. Eleanor tak heran kalau Gerald berani melakukan ini kalau ada Frederick sebagai otaknya.
"Sekarang aku mau bertanya padamu, apakah kau benar - benar menginginkan pernikahan ini?"
Eleanor tersentak. Pandangannya refleks menuju pada ayah, ibu serta adiknya yang berekspresi khawatir dan ketakutan. Tetapi adiknya sedikit memperlihatkan kilat amarah melalui matanya.
Eleanor mengatupkan mulutnya, dia menyentuh lengan Frederick yang melingkar di lehernya. Keputusan besar akan dia ambil, baru kali ini Eleanor sangat ingin egois dan tak mementingkan apapun selain untuk kebahagiannya sendiri.
"Edrick, bisakah kau menculikku?" Eleanor mendongak demi bisa melihat manik hazel milik Frederick.
Frederick tersenyum simpul, begitu juga dengan Gerald diatas sana.
"Dengan senang hati." Jawab Frederick.
Frederick mengangkat tubuh Eleanor dengan mudah, pandangannya tertuju pada Gerald kemudian dia mengangguk. Gerald tersenyum semakin lebar diatas sana.
Gerald menjentikkan jarinya dan mendadak ada kepulan asap yang sangat tebal di sekitaran kereta kuda. Gerald turun dari menara, apabila ada prajurit yang mengejar Eleanor, maka Gerald yang akan mengurus mereka.
Gerald melirik ke belakang dimana Frederick tengah menggendong Eleanor sambil berlari membelah kabut. Hal terakhir yang bisa Gerald lihat hanyalah sosok pria yang mirip Eleanor tengah menahan amarahnya yang sangat besar.
"Semuanya akan baik - baik saja 'kan?" Gerald bertanya - tanya.
......❀......
"BENAR - BENAR MEMALUKAN!"
Willem menunduk dalam ketika mendengar suara ayahnya bergaung keras dalam ruangan. Dia hanya bisa mencengkeram pakaiannya dengan erat. Sebab semuanya sudah selesai setelah Eleanor diculik oleh dua pria misterius barusan.
Aku takkan memaafkan mereka. Mereka menghancurkan reputasi Freesia dan menculik Kak Lea. Siapa sebenarnya mereka itu?!
Willem telah mengucapkan berbagai macam sumpah serapah pada dua orang penculik kakaknya. Karena masalah yang timbul dari itu bukan hanya hilangnya anggota keluarga kerajaan. Namun putusnya hubungan kerja sama antara Freesia dan benua tetangga.
Kejadian ini tentu membuat sang Raja murka. Tetapi tetap saja, dia tidak menyalahkan Eleanor dalam hal ini karena anaknya yang diculik. Namun Raja tetap mengerahkan seluruh informan untuk mencari identitas para penculik itu.
"Kita akan mencari keberadaan kakakmu, Will." Ratu Freesia mengusap lembut pucuk kepala anak bungsunya.
Dalam diam, Willem hanya bisa mengangguk. Insiden barusan benar - benar merusak nama Freesia. Dia kesal setengah mati saat orang - orang itu menghina dan memaki ayah serta kakak perempuannya. Mereka mengatakan bahwa Raja Freesia tidak becus dalam menangani keamanan wilayahnya.
Pernikahan politik sekarang dibatalkan secara sepihak.
Diantara keheningan ruangan itu, tiba - tiba seorang prajurit masuk sambil membawa berita, rupanya dia salah satu informan yang dikirimkan Raja Freesia.
"Apakah kau sudah menemukan sesuatu?"
__ADS_1
"Iya, Yang Mulia. Orang yang telah menculik Tuan Putri adalah anak tunggal Wayne yaitu Frederick Wayne dan untuk rekannya, saya kurang yakin karena dia langsung pergi setelah melumpuhkan banyak pengawal."
Tubuh sang Raja menegang mendengarnya. Dia mengepal kuat kedua tangannya. "Ranunculus?" Bisiknya dengan nada sedingin es.
"Ranunculus?" Willem mengernyit, dia menggigit bibir bawahnya menahan amarah bergejolak dalam dirinya.
Aku takkan memaafkanmu, Frederick Wayne. Tidak setelah kau menghancurkan Freesia dan menculik Kak Lea.
...❀...
"Mereka tidak mengejar kita lagi?" Tanya Frederick.
"Tidak. Tapi mereka mengirim mata - mata untuk menguak identitas kita berdua. Ini misi berbahaya, aku harap mereka terlalu bodoh untuk tahu siapa kita sebenarnya." Gerald menghembuskan napas dengan kasar.
Saat ini mereka ada di tanah tandus, tepatnya di tengah wilayah netral. Mereka harus terus memacu kuda secepat mungkin untuk sampai ke Ranunculus. Kalau mereka memutuskan ada istirahat, maka Freesia akan mengejar dan berhasil menangkap mereka semua.
"Fred, tindakan kita secara tidak langsung memperunyam masalah diantara Ranunculus dan Freesia. Aku malas kalau harus berurusan dengan pengadilan ketika aku belum menjadi Count Cheltics." Gerutu Gerald.
Frederick diam saja. Sejak awal, pertemuannya dengan Eleanor memang memunculkan banyak polemik. Tidak. Masalahnya di awal pertemuan itu mereka berdua malah memunculkan rasa yang seharusnya tidak boleh ada. Karena negeri mereka yang saling menodongkan senjata.
Kedatangan Eleanor sendiri untuk mengusulkan gencatan senjata selama beberapa waktu. Harusnya semua urusan Eleanor dengan Ranunculus putus setelah dirinya berhasil membuat usulan diterima pihak seberang.
Sayangnya berita eksekusi seorang Lavoisiér malah membuatnya mempererat hubungannya dengan Ranunculus. Bahkan dia jatuh cinta pada Frederick hanya dalam sekali pandang.
Cerita mereka tak seindah di negeri dongeng. Frederick dan Eleanor semakin memperpanjang rantai dendam diantara dua wilayah. Tetes darah akan terus mengiringi kisah cinta mereka.
Eleanor memeluk Frederick semakin erat. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Frederick. Sesuatu yang menghangatkan hati mereka berdua, namun memanaskan seseorang yang bersama mereka.
Keegoisanku ini... pasti akan merugikan banyak pihak termasuk keluargaku. Maaf karena sudah egois Ayah, Ibu... Will...
...❀...
Rintik air hujan mengguyur membasahi setiap sudut tanah. Langit telah menangisi kematian seorang yang berharga. Meski dalam hidupnya dia malah semakin menghitamkan dendam Raja Freesia.
Clara meringkuk lemas sambil memeluk erat kelopak bunga krisan putih yang tersisa. Air matanya yang banjir tampak menyatu dengan hujan. Suara tangisannya teredam rintikan air yang mencium bumi.
Clara sudah tak peduli ketika air hujan semakin deras mencium kepalanya. Rasa sakit di kepalanya serasa tidak ada apa - apanya dengan rasa kehilangan yang melandanya saat ini. Clara akui, dia kesal dengan pria tua yang pandai menyindir itu. Namun, bagi Clara dia adalah orang tua terbaik yang pernah ada, mengingat bahwa kedua orang tuanya di dunianya memperlakukan dia seperti budak.
"Terima kasih telah membawa saya pergi dari Freesia... seperti yang anda lakukan pada istri anda. Hiks..."
Rintik air hujan yang menghujam Clara seakan berhenti. Merasa aneh, Clara mendongak saat melihat ada bayangan seseorang menghadap punggungnya.
Dengan payung hitamnya, dia menaungi Clara dari derasnya air hujan. Matanya yang berkilat bagai amethyst kini menyiratkan kesedihan dan simpati. Dia ikut sedih melihat wajah Clara yang sembab, hidungnya memerah juga. Gadis ini menangis setelah kepergian seseorang yang berharga baginya.
"Ayo kembali sebelum kau terkena demam, Kak Rara." Katanya dengan nada cemas tak kalah dari ekspresinya.
Cahaya di mata Clara agak meredup. Seolah orang yang pergi adalah cahaya hidupnya selama ini. Clara masih mendongak, melihat figur seseorang yang dia anggap seperti Mirye, adiknya.
Clara kembali terisak.
"James... hiks... pak tua itu telah meninggalkan kita semua... huaa!!!"
TBC
__ADS_1