
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"
Grein mengerling jahil ketika melihat seorang gadis yang biasanya membuatnya naik darah sekarang duduk di hadapannya dengan fisik yang sedikit berubah, hanya sedikit.
Gadis itu adalah Clara, namun sekarang surainya berubah warna menjadi kamelia merah muda. Begitu mirip dengan seseorang. Sayangnya, iris matanya yang lapis lazuli dan merah ruby membuat sosok di depannya ini hanya seperti Clara Scoleths saja.
"Aku sudah mati?"
"Tidak. Kau tidak mati."
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?"
Bukannya menjawab pertanyaan Grein. Clara malah bertanya balik. Dia begitu shock dan tak mampu berbuat apa - apa selain diam dan melanjutkan tidurnya yang mirip orang mati.
"Sejak awal dia sudah berbohong padamu, kok." Jawab Grein ambigu.
"Huh?"
"Si Meiger itu."
Tatapan Clara berubah sayu. Dikhianati orang yang dicintainya adalah hal terburuk yang terjadi padanya dalam tujuh belas tahun hidupnya. Ini terasa lebih menyesakkan dibanding ia saat menjadi Lilia yang harus kerja banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga.
"Kau tahu tidak, saat hari - hari pertamamu di Istana Kekaisaran dan ada insiden pembakaran buku di perpustakaan? Sebenarnya pelakunya adalah Meiger sendiri. Dia bertanya padamu untuk menghindari kecurigaanmu, itu saja dia sudah terhitung bohong."
"Kenapa Yang Mulia membakar bukunya?"
"Dia tidak ingin mengingat Lavoisiér, kau pernah berfikir dia membenci mereka, bukan?"
Clara mengangguk samar.
"Sebenarnya adalah dia hanya enggan mengingat kenangan pahitnya. Meski awalnya dia tidak mempunyai ingatan itu. Namun, semua memori Crater ia dapatkan 12 tahun yang lalu."
Clara semakin membisu. Semua yang terjadi kepadanya setelah terdapat rumor buruk tentang dirinya, mungkin saja telah direncanakan oleh Meiger sendiri.
Hei inikan...
"Bagaimana dengan rumor tentangku? Apa kau tahu siapa yang menyebarkannya?" Tanya Clara sedikit khawatir.
"Itu Jean." Jawab Grein sedikit hati - hati. "Aku tidak memberitahukannya padamu sebab aku tahu itu akan mengganggumu. Dia bisa sihir hitam juga, kau ingat."
Suasana hening menerpa. Clara sudah tidak bisa mengatakan apa - apa lagi. Sejak awal dia terlalu bodoh untuk mencurigai orang - orang di sekitarnya. Padahal dia sudah diperingati untuk tidak percaya begitu mudah.
"Nona, maafkan aku telah membohongimu."
"Aku ingat dia pernah meminta maaf padaku sebelumnya. Yang Mulia juga..."
Grein menyesap cangkir tehnya. Di situasi ini Meiger memang telah banyak berbuat salah pada Clara. Meski gadis itu masih berhubungan dengan Ivory, tetapi tindakannya tetap terhitung salah.
"Jean memang sungguh - sungguh meminta maaf padamu. Tetapi, saat pria itu yang melakukannya dia hanya meminta maaf atas perbuatan Sieg yang memunculkan Claire dalam dirimu."
Clara menatap sepiring kue kering yang belum disentuhnya. Pertama dan terakhir kalinya dia kemari, kue yang disajikan oleh Grein habis dalam waktu sebentar saja.
Clara menarik piring kue itu mendekat.
"Aku kira kau tidak selera makan."
"Nafsu makanku saat sedang sedih dan marah akan bertambah berkali - kali lipat daripada saat aku sedang senang."
__ADS_1
"Oh..."
Dalam sekali jentikkan jarinya, Grein membuat beberapa piring lain dengan isi yang berbeda pula. Clara tidak salah sebenarnya. Sebab beberapa orang termasuk dirinya jika sedih akan melampiaskannya pada makanan.
"Jangan sampai makan terlalu banyak. Kalau kau gemuk, kau tidak bisa bertarung."
"Apa? Memangnya aku masih bisa bertarung?"
"Tentu saja. Hanya tinggal menunggu Thanatos menjemput nyawamu." Ujar Grein diselingi tawa.
"Tolong hentikan. Pembicaraan ini mulai keluar dari konteks."
Grein yang terus tertawa dengan cara menjengkelkan lama - lama membuat Clara jengah juga. Namun dia melampiaskan kekesalannya pada Grein dengan melahap habis kue - kue dalam piring.
"Omong - omong, Yang Mulia pernah berkata kalau dia benci Scoleths. Apa dia punya alasan kuat untuk itu?"
Grein menarik salah satu piring kue mendekat padanya. Sebelum dia kehabisan, Grein harus gerak cepat. Tidak ada yang menjamin jika Clara tidak bisa menelan semua makanan pemberian Grein ini.
"Alasannya simpel. Para Scoleths menyerap sihir hitam untuk menghilangkannya. Sedangkan dia adalah 'ayah' dari sihir hitam, makanya dia kesal setengah mati kepadamu dan Lyz."
"Kukira itu Ivory yang menyebarkannya."
Grein terdiam sejenak.
"Intinya mereka berdua dalang utama dari berkembangnya sihir hitam di Benua Herbras ini. Meski otak utamanya tetap adikku yang payah itu." Omel Grein.
Clara semakin diam. Dia belum mati, itu yang dikatakan oleh Grein. Masih ada sedikit waktu, dia bisa melakukan sesuatu terhadap sihir hitam di Benua Herbras.
"Apa kau bisa membantuku, Grein?"
Clara yang sedari tadi jarang meresponnya membuat Grein cukup kecewa. Ia juga khawatir terhadap kesehatan mental Clara saat ini. Hari ini adalah hari melelahkan baginya, dia banyak kehilangan dan sekarang ditusuk dari belakang.
Grein mengangguk pelan, menyesap kembali teh camomile.
"Kau pasti sudah lelah dan membutuhkan banyak istirahat. Karena itu aku takkan banyak basa - basi."
Clara memandang wajah Grein yang begitu teduh. Seingatnya, Lyserith adalah gadis yang menaruh hati padanya. Grein juga membalasnya dalam diam, tanpa kata namun dalam tindakan.
Sekarang Clara ada di depannya dalam wujud Lyserith. Mungkin karena Grein tahu dia bukan Lyserith asli, Grein tampak santai berdiskusi dengannya. Tidak ada ekspresi gelisah karena reuni tak langsung dengan kekasihnya.
Grein kembali menjentikkan jarinya, dia menunjukkan jari telunjuk dan tengah. Secara tidak langsung mengatakan angka dua.
"Aku akan memberimu dua pilihan. Pilih dengan benar karena energiku tinggal sedikit dan aku tak bisa terlalu ikut campur dengan para manusia diluar dunia mimpi ini."
"Katakan saja. Aku akan memilihnya jika itu membantuku!"
Senyum Grein melebar.
"Pilihan pertama. Aku akan membantu jiwamu kembali dalam tubuh Lilia, dan menjalani hidupmu disana dengan seperti semula. Jangan khawatir, akan kuhilangkan semua memori yang kau miliki disini supaya hidupmu bahagia. Sebab pada dasarnya kau hanya mengalami koma di duniamu."
Aku masih hidup disana?! Aku ingin bertemu dengan Mirye lagi... dia pasti merindukanku. Sudah sejak lama aku menantikan ini.
"Tolong dengarkan pilihan keduamu."
Melihat Clara yang memendam kebahagiaannya saat mendengar bahwa dia masih hidup di dunia aslinya dan sedang dalam koma. Grein segera menginterupsi rasa senang sesaat itu, sebab Clara masih diharuskan memilih.
"Kau tahu, sebenarnya yang membuat novel Flower's Girl adalah aku. Dan itu diangkat dari kisah nyata disini." Grein mengembalikan topik.
__ADS_1
Clara diam mendengarkan. Surai kamelia itu membuatnya begitu mirip dengan sosok Lyserith yang amat sangat Grein rindukan. Wanita yang sosoknya masih terperangkap dalam hati Grein. Grein mencintainya, bahkan setelah gadis itu berakhir menjadi kamelia indah yang selalu tersedia dalam vas bunga di dunia mimpi.
"Akhirnya adalah Clara benar - benar ditelan sihir hitam." Sambung Grein lagi.
"...Kau tidak melakukan sesuatu?"
"Tentu tidak. Aku di waktu itu berusaha membunuhnya, dan setengah keberhasilan kudapatkan."
Clara bingung sendiri.
"Hanya setengah?"
"Yap. Hanya setengah. Karena Clara Scoleths telah mengendalikan sihir hitam sepenuhnya. Meiger tidak terbunuh saat itu karena dia masih berhubungan dengan Lavoisiér. Sedangkan Rovers, aku memutuskan membunuhnya. Demi membalikkan keadaan." Papar Grein, helaan napas terdengar berkali - kali seiring dia melepaskan keluhan hatinya.
"...! Setelah itu, apa yang terjadi?" Tanya Clara tidak sabaran.
Di akhir novelnya, ending cerita benar - benar telah berakhir setelah kematian Hellen. Dan dalam catatan author, telah dinyatakan jika tak akan ada ekstra part, epilog alternatif apalagi sekuel nya. Ternyata Grein telah merencanakan segalanya demi akhir Flower's Girl yang lebih baik.
"Meiger adalah reinkarnasi Crater dan dia punya bola mata ruby. Saat aku berkata membalikkan keadaan, aku benar - benar membalikkannya. Bukan hanya keadaan melainkan waktu."
Clara tercengang. Tidak heran Flower's Girl mendapatkan julukan sebagai novel dengan paling banyak plot twist di dalamnya. Ternyata timeline dalam main story sendiri adalah waktu yang diulang kembali.
"Apa kau mengingat segalanya sebelum terjadinya pengulangan waktu?" Tanya Clara penuh selidik.
"Ya. Sayangnya Meiger tidak. Aku meracuni sisi Claire dan membuat pribadi dalamnya membunuh Clara Scoleths yang asli. Tapi karena aku tahu Meiger melupakan segala perjanjian yang kami lakukan sebelum pengulangan, serta dendam Crater yang mendominasi dalam dirinya. Maka pilihanku adalah membawa jiwamu masuk dalam tubuh Clara Scoleths."
"Karena itulah endingnya gantung."
Grein tersenyum lembut melihat ekspresi Clara yang tengah berfikir keras. Tangan kanannya bergerak untuk mencapai puncak kepala gadis itu. Dengan lembut Grein mengusapnya, meski akhirnya rambut Clara tetap berantakan dibuatnya.
"Aku memberimu pilihan pertama sebagai permintaan maafku karena dengan seenaknya menarik jiwamu dengan paksa kesini. Aku hanya tidak ingin akhir tragis itu terus terulang sebagai siklus kehidupanku, ini sangat menyiksa."
"Aku tetap ingin mendengar pilihan yang kedua."
Grein mengangguk mengiyakan. Sebenarnya, di pilihan kedua tidak ada untungnya sama sekali untuk Clara. Malahan dia yang rugi besar. Tapi, setidaknya dia harus mendengar pilihan kedua itu.
Senyum Grein yang lembut telah menghilang. Hanya ada garis tipis melengkung disana. Tatapannya berubah sendu, seperti senja yang mulai menutup hari.
"Hilanglah bersama sihir hitam."
TBC
Kalian pasti sadarlah dengan kalimat Grein di Chapter 1. Clue paling pertama atas jalannya alur novel ini.
Like + Komennya jangan lupa, key?
BTW Nih. Clara Scoleths & George Northern :)
...
Clara Scoleths & Claire...
So, see you in the next chapter ~
__ADS_1