
"Ugh...! Lalu bagaimana ini? Apakah saya harus mengabaikan Nona begitu saja?!"
Jean dengan paniknya mondar mandir, dia khawatir dengan Clara yang mengambil keputusan ceroboh tanpa memikirkan Jean. Padahal gadis itu bisa saja menunggu Jean sebentar lagi.
Terlebih lagi sudah semalam penuh kerjaan Jean hanya panik dan mondar mandir tak jelas. Dia belum mengambil tindakan untuk mencari Clara yang padahal sudah diketahui titik keberadaannya.
HIAT!
Seorang pria dengan kuda yang ia tunggangi berhenti di depan Jean sambil bergaya keren. Mendadak Jean merasa muak ketika dia sudah bisa melihat dengan jelas siapa penunggang kuda itu.
Masalahnya pria ini selalu merusuh sana sini kalau dia berada di istana kekaisaran. Seolah - olah istana Hortensia adalah rumahnya sendiri.
Oke, Jean paham betul jika pria ini adalah sahabat akrab sekaligus teman masa kecil Kaisar. Tapi bukan berarti Jean punya kewajiban bersikap baik dan sopan kepadanya. Beruntung pria ini tak pernah mengingat tentang Jean.
"Ah, kau anak buah Meiger itu 'kan?" Ucapnya bernada riang.
Jean mendecakkan lidahnya membabi buta.
"Apakah mungkin aku bisa membantumu?"
Awalnya Jean yang merasa kesal setengah mati, jadi mendapatkan ide bagus terhadap tawaran Edmond. Dia menatap Edmond sebagai penyelamatnya (setidaknya hanya untuk kali ini saja).
"Tentu saja Pangeran."
Jean berkata dengan senyuman manisnya.
Ada yang bisa ia manfaatkan disini.
Tunggu saya Nona, saya akan menyusup ke Istana Freesia dan menyelamatkan Nona!
...❀...
Seminggu setelahnya.
Hari - hari berlalu seperti biasa di istana silver. Seperti penyelinapan Clara ke kamar George yang endingnya diusir dengan segala cacian dan makian. Sudah seminggu sejak pertama kalinya Clara menginjakkan kaki di istana ini.
Hubungannya dengan George tidak memburuk ataupun membaik. Tapi setidaknya pria itu tidak memakinya dengan volume tinggi, karena biasanya dia separah itu.
Sejujurnya di khawatir dengan keadaan Jean, namun Clara juga belum bisa keluar dari Istana Freesia. Tidak sampai dirinya berhasil memengaruhi George agar mau kabur bersamanya.
Hari ini juga berjalan seperti biasanya. Clara menyelinap ke kamar George dengan seenak jidatnya. George sudah geram dengan kelakuan Clara, tapi gadis ini adalah senjata senior. Salah - salah George akan kena tebasan kalau membuatnya tersinggung.
Ditambah lagi ingatannya tentang Clara yang dengan santai mengeksekusi penjahat. Itu saja sudah membuat George merinding karenanya. Yang penting dia tak berulah, itu sudah cukup.
"Hei, kamu belum mau kabur denganku?"
Clara menatap George dengan sungguh - sungguh, ini adalah kalimat pertamanya di setiap hari. Dan George terlanjur mengetahui apa yang diinginkan Clara darinya.
"Mengapa kau begitu gencar ingin membuatku ikut denganmu? Ini tidak seperti kau mau memanfaatkanku 'kan? Sebab aku tidak akan berguna." Jawab George, dia masih terfokus pada buku - buku bacaannya.
"Siapa bilang saya mau memanfaatkan kamu? Saya hanya mau kamu pergi dari Freesia, tidak lebih."
"Harus berapa kali kukatakan? Freesia adalah rumahku." Ujar George dengan nada kesal.
"Besok saya akan datang lagi."
...❀...
Keesokkan harinya.
"Sekarang bagaimana? Sudah mau kabur belum?"
Kepala Clara menyembul dari celah pintu kamar George. Berharaplah George tidak membanting pintu karena kesal, atau kalian akan kehilangan senjata cantik ini.
George awalnya memang kesal dengan pertanyaan aneh Clara. Namun lama kelamaan dia terbiasa untuk mengacuhkan pertanyaan itu, dan sekarang George bahkan sudah melatih dirinya agar tidak mendengar segala ocehan Clara.
Clara hanya cemberut, dia masuk ke kamar tanpa izin seolah - olah pemiliknya takkan marah jika dia melakukannya. Clara telah melakukan ini berulang kali, dan George masih belum luluh hatinya.
__ADS_1
Clara diam - diam mengintip ke dalam isi buku yang sering dipegang George. Sudah seminggu berlalu dan George selalu berkutat pada halaman yang sama. Clara sadar, namun dia tak berniat mengorek privasi George
"Apa kamu benar - benar tak mau kabur dengan saya? Tidak ada ruginya loh." Tawar Clara.
Sayang sekali, George punya pendirian yang kokoh hingga hari ini. Dia hanya akan menganggap semua kata - kata Clara sebagai angin lalu.
Sebenarnya George tertarik untuk melihat dunia luar. Tapi dia tidak bisa keliling benua Herbras, tidak sampai apa yang ia inginkan tercapai. Semoga saja dia tidak terpengaruh pada kalimat manis yang dilontarkan Clara.
TOK TOK TOK
Pintu diketuk, George tidak ada niatan untuk membuka pintu. Jadi Clara mengambil inisiatif untuk membukakannya. Disana, ada seorang kepala prajurit yang gagah. Tidak, fokus Clara bukan pada sang kepala prajurit. Melainkan seseorang berwibawa di belakangnya.
"Mungkinkah kalian tengah mengakrabkan diri?" Ujar sang pria berwibawa.
Clara hanya bisa mengangguk, dia tak berani berucap karena takut salah.
"Orang yang kalian eksekusi minggu lalu, kalian ingat?" Tanya Raja Willem.
Lagi - lagi Clara mengangguk.
"Kerja bagus untuk kalian. Aku hanya ingin mengatakan itu. Oh... tentu saja katakan itu juga pada George. Dia cukup hebat karena bisa tahan di dalam ruang eksekusi lumayan lama. Kuharap dia bisa sepertimu secepatnya."
Raja Willem membalikkan badannya, melangkah menuju keluar istana silver diikuti oleh sang kepala prajurit. Clara hanya menatap kepergian Raja Willem tanpa bergeming. Setiap kalimat dari Raja Willem telah menjelaskan segalanya.
Tapi, apakah George memang selemah itu?
Lantas apa yang membuat Raja Willem masih mempertahankan eksistensinya sebagai senjata alias mesin pembunuh? Apa ada sesuatu diantara mereka?
Setelah Raja Willem tak terlihat lagi, Clara kembali masuk ke kamar dan menghampiri George yang berada di dekat jendela dengan buku kesayangannya. Buku yang selalu dipegangnya erat - erat, seperti dia akan kehilangan buku itu.
"Apakah itu a-maksudku Raja?" Tanya George dengan sedikit tergagap.
Ini bukan kali pertama Clara mendengar George terpeleset memanggil Raja Willem menjadi 'a' yang entah lanjutannya apa. Memang benarkan kalau ada yang istimewa diantara mereka?
Persetan dengan itu! Seminggu lebih kuhabiskan dengan sia - sia. Tidak ada kemajuan signifikan. Aku harus cepat - cepat membuat George mengatakan 'mau'.
George mengalihkan pandangannya pada pemandangan diluar jendela. Dia terlihat ragu - ragu dan akhirnya malah menggantung pertanyaan Clara. Clara semakin merasa janggal dengan perubahan ini, padahal sebelumnya pria ini nampak ketus. Tapi sekalinya mendengar Raja Willem mengunjunginya, dia mendadak jadi limbad.
Aku muak didiamkan oleh pria ganteng, di Hortensia aku 'kan sudah sering dicuekin! Jangan disini juga donk! Bahkan pacarku yang notabene menembakku duluan juga tak lebih baik dari ini... mengapa pria di sekitarku semuanya kejam - kejam?
Aku kangen Kaisar.
Clara mendekat ke jendela dan duduk di sampingnya. Mengabaikan tatapan menusuk dari George. Clara memandang keluar jendela, dimana pemandangan malam yang sunyi dan tenang terpampang.
"Kamu mempunyai ikatan dengan Yang Mulia Raja, saya salah?"
Pundak George sedikit gentar, "Aku tak mau membicarakan ini. Jadi keluar dari kamarku sekarang!"
Suara George terdengar gemetar, dia punya hubungan dengan Raja Willem namun hubungan tersebut agak tidak baik kalau menggunakan bahasa halusnya. Clara harap dia tak ikut campur. Tapi mungkin ini juga bisa menjadi kesempatannya.
Aku akan bertanya pada para pelayan, sejujurnya melihat anak ini semenyedihkan ini, hatiku jadi terenyuh. Kalau begitu aku akan membantunya memperbaiki hubungan dengan Raja meski aku tidak tahu mereka ada masalah apa.
Ikut campur sedikit saja tak apa 'kan?
Clara keluar dari kamar George, perasaannya begitu campur aduk. George bukanlah pria yang ramah, Clara mengetahuinya bahkan sejak pertama kali mereka bertemu. Akan tetapi masalah yang dihadapi George diluar atau bukan terkait identitasnya sebagai senjata, pria itu masih tabah dalam menjalani hidupnya. Setidaknya Clara tahu bahwa George bukan tipe orang yang akan gantung diri karena tekanan hidup.
Kebetulan sekali ada seorang pelayan yang sedang membersihkan sisa - sisa salju di lantai istana. Clara berinisiatif untuk bertanya pada pelayan itu. Karena fisiknya terlihat tua, sudah dipastikan kalau pelayan ini telah lama disini. Dan kalau begitu, dia pasti tahu tentang masalah George.
"Permisi." Bisik Clara.
Pelayan wanita tersebut yang menyadari kehadiran Clara kemudian tersenyum padanya, sungguh profesional sekali. Dia memang sudah lama bekerja di Istana Freesia.
"Apakah Nona membutuhkan sesuatu?"
"Bisa aku bertanya satu hal tentang George?"
Pelayan itu sedikit terperanjat, Clara bisa melihat jelas kalau kedua pundaknya sedikit naik. Biasanya refleks seperti itu bisa terjadi bukan tanpa alasan. Clara makin penasaran dengan latar belakang George dan Raja Willem.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Mungkinkah George dan Yang Mulia Raja punya hubungan? Apa saja yang kau ketahui." Clara semakin menurunkan volumenya, berjaga - jaga suapaya tidak ada yang bisa mendengarnya selain sang pelayan.
Sang pelayan membisu, enggan menjawab pertanyaan Clara. Kebisuan sang pelayan sebenarnya sedikit menjawab pertanyaan Clara, tidak semua. Tetapi kalau jawabannya seperti ini kemungkinan besar yang akan dikatakan pelayan tersebut adalah 'iya'.
Walaupun jawaban semacam ini tak memperjelas ada hubungan seperti apa diantara kedua manusia yang saling bertolak belakang itu. Kalau saja Clara bisa mengatasi ketakutan George. Maka seterusnya tidak akan sebegitu rumit.
"Me-mengapa Nona tiba - tiba bertanya begitu?" Sang pelayan jadi tergagap, sebuah reaksi yang akan terjadi kalau memang ada sesuatu.
"Tidak ada sih... tapi, menurutku mereka sedikit mirip 'kan?" Clara memancing.
Jujur, kesamaan dari George dan Raja Willem hanyalah dari segi bentuk wajah, itu saja tidak ada yang lainnya. Dan hanya orang yang luar biasa saja yang bisa menebak ikatan diantara mereka.
Clara bukanlah termasuk dadi para luar biasa itu. Namun dengan semua kelakuan aneh George terhadap Raja Willem. Semua itu patut dipertanyakan. Mulai dari ketaatan George hingga pendiriannya tentang Freesia adalah rumahnya.
Hm... apa mungkin kalau aku menyebut Hortensia maka George baru akan mau? Tapi kalau aku mengatakan Hortensia, bahaya kalau George ada di kubu Raja Willem. Bisa mati aku! Mana Yang Mulia tak ada rasa khawatir lagi kalau aku kenapa - napa.
Pelayan itu semakin tidak bisa berkata apa - apa lagi, lidahnya terasa kelu. Kalau bibirnya tak sengaja terpeleset maka akhirnya adalah dia akan dihukum gantung dengan cara terburuk. Dia tak boleh memberi bocora apapun, terlebih senjata pertama ini barulah kembali dari Ranunculus yang adalah wilayah musuh bebuyutan, waspada harus setiap saat.
"Maaf Nona, sa-saya sama sekali tidak tahu."
Jawaban final.
Sejauh ini yang pelayan bisa lakukan hanyalah ini. Clara tak memaksa diberikan jawaban, dia memilih masuk ke kamarnya tanpa mengucap sepatah katapun. Bahkan dia izin undur diri pada sang pelayan hanya dengan tersenyum.
Tidak masalah. Besok aku akan beraksi dan membuat benang merah semakin terlihat jelas.
...❀...
Pagi datang dengan cepatnya, matahari berusaha menyinari setiap celah dan sudut. Hembusan angin di pagi hari terasa begitu menyejukkan dan menenangkan. Yah, setidaknya untuk beberapa orang selain dia.
BRUK
Pintu kamar George terbuka dengan kerasnya, ternyata seseorang menendang pintu kamarnya tanpa hati. Beruntung tidak ada kelecetan pada pintu, kalau tidak George akan melaporkan si pembuat onar ini.
George masih begitu setia memegang bukunya, yang sudah ia coreti dengan berbagai tulisan. Entahlah apa yang ada di dalam sana, sejujurnya ketebalan buku itu tidak seperti hanya diisi oleh tulisan semata.
Tatapan datarnya ditujukan pada sang penendang pintu. Gadis yang kecantikannya menyaingi malam, begitu bersinar kalau bulam purnama menghampiri. Sayangnya ini pagi, dan matahari tampak kontras dengan dirinya, lebih ke tidak cocok sih.
George melemparkan bukunya keatas kasur dan menatap Clara menantang.
"Ini sudah kesembilan kalinya kau seenaknya masuk ke kamarku. Itu sangat menggangguku."
"Kenapa kamu begitu suka di Freesia?"
"Huh?"
Clara yang mendadak masuk dan bertanya hal - hal aneh semakin membuat pikiran George tersendat. Itu adalah pertanyaan yang malas untuk dijawab olehnya, sebab tak penting.
"Mengapa kamu terlihat tidak masalah dijadikan senjata oleh Yang Mulia Raja?"
"Kau mulai meracau tidak jelas."
"Padahal kau sendiri takut untuk membunuh, namun tetap menerima identitas barumu sebagai senjata penggantiku. Katakan kepadaku, mengapa pendirianmu begitu teguh!"
"Kau sepertinya mulai tidak waras."
"Beritahu aku George, mengapa dia tidak memperlakukan dirimu selayaknya dia memperlakukan anak - anaknya? Kau anaknya bukan?"
".....!"
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1