
"Raģe, bukan?"
Hening. Satu kata yang mendeskripsikan segalanya saat ini. Tidak ada respon dari Raģe, pria itu sibuk pada dunia nya sendiri yang entah sedang memikirkan apa. Sedangkan Edmond sudah waspada saja kalau ada pengintai yang dikirim sobatnya itu.
Setelah lama tak ada yang berbicara, Clara sadar kalau itu adalah kesalahan baginya untuk menyapa anak dari Count Cheltics dengan santai.
"Ahaha... maaf Tuan Muda Cheltics. Saya keceplosan." Clara tertawa garing, berusaha mencairkan suasana.
Akhirnya Raja yang sejak tadi ikut diam tertawa pelan. Raģe bukannya enggan untuk menyapa balik, anak itu jiwanya pasti sedang tidak ada disini. James dan Valentina melirik Raja yang malah tertawa.
"Namamu siapa nona muda?"
"Um... hamba Clara Scoleths, Yang Mulia."
Valentina terkesiap, dia tahu nama itu. Saat di akademi, Hellen seringkali mengucapkan nama itu. Kadang Clara, kadang juga Rara. Hellen selalu menggumamkan nama itu dengan wajah kesal yang tertahan. Valentina mengira jika gadis ini adalah musuh Hellen.
Namun, terselip rasa kagum dalam hati Valentina ketika melihat paras cantik Clara. Gadis ini, kalau dia secantik ini bagaimana bisa tidak diketahui olehnya. Tahu - tahu Valentina bertemu dengannya ketika Clara sudah beranjak dewasa.
Clara sangat cantik, sungguh. Valentina bersumpah kalau gadis ini bisa menggeser posisi Hellen dari gadis tercantik di benua Herbras. Kecantikan Hellen yang tersohor mendadak tidak ada apa - apanya setelah Valentina bertemu Clara.
Pokoknya Clara sangat cantik bagi Valentina.
"Ouh... Scoleths, yah..." Raja mengerutkan dahinya. "Tidak ada keluarga bangsawan bernama Scoleths. Bahkan para pedagang terkenal pun tak ada."
Raja tentunya penasaran dengan nama belakang Clara yang cukup asing di telinganya. Tidak ada nama Scoleths di seluruh benua Herbras, bahkan benua tetangga pun tidak ada. Pedagang besar yang terkenal pun, Raja yakin tak ada. Kalau rakyat kelas bawah, mereka tak mempunyai nama belakang. Lantas, darimana nama Scoleths ini?
Namun Raja tak bisa untuk mengulik lebih jauh. Clara bukan berasal dari Agapanthus, dirinya tidak punya hak.
Setelah itu, Raja mempersilahkan ketiga tamunya untuk masuk ke dalam istana. Edmond berbincang dengan Raja, di belakangnya ada Valentina yang tidak banyak bicara. Lalu George dan Clara. Raģe sedang tidak dalam jangkauan Clara saat ini, jadi mengajaknya berbicara bukanlah keputusan yang tepat.
"George, setelah ini kau masih mau di Vinca atau ikut denganku ke Hortensia?"
George melirik Clara, "Entahlah. Aku ikut denganmu saja. Lagipula kau sendiri sudah berjanji untuk selalu berada di sampingku."
Sebuah senyuman terbit di wajah Clara, meski gadis ini lebih cocok disinari cahaya rembulan, bukan berarti matahari buruk untuknya. Menurut George, dimanapun dan kapanpun Clara itu cantik dan tidak ada siapa - siapa yang bisa menandinginya. Maklumin saja.
"Jadi, dia akan terang - terangan mendekatinya?"
Clara berbisik pada George, menunjuk Edmond serta Valentina yang ada di depan mereka. Karena tujuan utama mereka kesini adalah untuk Edmond bisa menjadikan Valentina sebagai permaisurinya. Mungkin ada kiat - kiat khusus yang perlu dilakukan orang itu supaya bisa memenangkan hati sang Nona Cinta.
Sekarang Clara tahu kalau Nona Cinta yang dimaksud oleh Edmond adalah Valentina. Dia tahu dari namanya. Mendadak Clara merasa bodoh karena tidak menyadari kalau Nona Cinta yang dikatakan Edmond adalah sang villain sampingan dari novel Flower's Girl.
Clara mencuri lihat ke belakangnya, dimana sejak kedatangan Clara, Raģe tak mengatakan sepatah kata pun.
Ada apa dengannya? Apa aku sudah melakukan kesalahan?
.
.
__ADS_1
.
Saat ini, Clara, Edmond dan George tengah berkumpul bersama di halaman istana Agapanthus. Mereka sedang berdiskusi tentang bagaimana cara supaya Edmond bisa menyatakan cintanya pada Valentina. Sebenarnya yang berfikir hanya Edmond. George dan Clara cuma menemani pria itu berfikir.
"Sudah ketemu idenya belum? Kalau belum jangan katakan apapun." Ujar Clara.
"..."
BRAK!
"Hei! Kalau ditanya orang lain itu jawab!"
"Apa sih?! Aku belum menemukan satu pun ide. Dan tadi kau bilang kepadaku jangan katakan apapun kalau belum menemukannya. Jadi perempuan itu jangan labil." Sahut Edmond, dia terlihat kesal dengan gadis yang sering berubah - ubah suasana hatinya.
"Bilang donk!"
"...Terserahmu." Edmond memutar bola matanya, malas menanggapi sikap bar - bar Clara.
Gadis ini bukan gadis yang anggun, hebatnya dia bisa membuat orang - orang menyukainya begitu saja. Edmond benar, Clara menggunakan guna - guna untuk menggaet para pria termasuk temannya sendiri.
"George, bisakah kau memberikanku ide yang bagus?" Edmond menyerah, dia hanya bisa mengandalkan George saja.
"Mengapa tidak mundur saja?" Dengan santainya George menawarkan surat pengunduran diri sebagai calon suami Valentina.
Hal ini membuat Edmond naik pitam, mengajak dua senjata beda periode ini nyatanya hanya membuat dia darah tinggi. Tidak ada konstribusi apapun yang dilakukan mereka berdua, yang mereka lakukan hanya menemaninya ke Agapanthus. Edmond menyesal sudah menyeret Meiger waktu itu, sekarang dia harus dihadapkan dengan manusia - manusia yang didesain tanpa hati ini.
"Seharusnya aku tidak mengajak kalian." Ketus Edmond.
"Eits! Kau tidak akan bisa pulang tanpaku, loh." Edmond tersenyum penuh kemenangan.
Clara merenggut kesal, melepaskan tangannya dari lengan baju George. Berjalan meninggalkan Edmond dan George berduaan. Dia mau ke taman Agapanthus saja, supaya rasa kesalnya pada Edmond bisa hilang dalam sekejap.
Di taman, Clara menemukan sesosok pria yang dia kenal. Orang itu ialah Raģe. Anak tertua dari Count Cheltics yang ternyata juga adalah keponakan dari Raja Agapanthus. Yang Clara dengar dari Edmond, Raģe disini untuk melakukan pelatihan sebagai penasihat kerajaan di masa mendatang.
Raģe menikmati semilir angin diantara hamparan bunga lavender. Wangi bunga itu membuatnya merasa lebih rileks, lupa sesaat akan kesulitannya dalam pelatihan.
"Apa yang akan kau pilih jika dihadapkan dengan dua pilihan. Sesuatu yang kau inginkan atau yang mereka butuhkan?"
"Ah, jadi ini yang ia maksud tempo hari. Dia tidak menginginkan jabatan dan tanggung jawab itu. Apakah jawabanku waktu itu bisa membantunya?"
Raģe menghembuskan nafas, dia nampak begitu kelelahan. Dan kalau dilihat lebih teliti lagi, ada kantung mata yang menghitam. Mungkin Raģe begadang untuk perjalanan ini, atau terlalu memikirkan tentang pelatihan yang akan dilaksanakan. Clara tidak tahu apa yang Raģe pikirkan dan rasakan.
Gadis itu berjalan menghampiri Raģe, namun dia berhenti di belakang Raģe karena kepergok oleh orangnya.
"Kenapa kau kesini?"
"Tidak ada. Hanya mau menemani anda, anda tidak suka?"
Raģe tak menjawab pertanyaan Clara, "Pagi ini kalau aku tidak salah dengar, kau memanggilku Raģe."
__ADS_1
Clara cengengesan, mengusap tengkuknya. Saat itu Clara sedang dalam mode santai dan akrab setelah berbincang dengan George dan Edmond. Sehingga dirinya tanpa sadar juga langsung memanggil Raģe dengan namanya.
"Aku suka."
Tawa garing Clara terhenti seketika. Satu kalimat dari Raģe membuatnya tak mampu berkata - kata. Raģe, saat pertama kali bertemu Clara, dia cenderung anti sosial dan sukar disentuh. Tapi apa sekarang? Nada bicaranya terlalu lembut sampai - sampai Clara berfikir bahwa pria ini bukanlah Raģe.
"Apa?"
"Saat kau memanggilku begitu, rasanya kita seperti semakin akrab. Teruslah memanggilku seperti itu untuk ke depannya." Ujar Raģe, pandangannya menyusuri setiap tangkai dari lavender yang mekar.
"Hm... begitu, yah. Tapi maaf, Tuan Muda Cheltics. Saya sudah berjanji kepada seseorang. Jadi, saya akan tetap memanggil anda seperti ini, setidaknya saat saya tidak kelepasan." Clara tersenyum lembut sambil menatap punggung Raģe.
"Janji yang aneh. Biar kutebak, mungkinkah itu kaisar Hortensia?"
"...!"
"Mustahil jika Pangeran Mahkota Vinca yang melakukannya. Sebab yang dia cintai adalah sepupuku."
Huh? Sepupu?
"Sepupu?"
Raģe mengerutkan keningnya, tatapannya masih tertuju pada kumpulan lavander yang menari karena semilir angin.
"Kau tidak tahu? Ayahku dan ibunya Valentina adalah adik kakak."
"Be-begitu yah..."
Ini sama sekali tidak terduga.
"Sedangkan Raja dan ibuku juga adalah saudara satu ayah namun beda ibu."
Sumpah! Hubungan keluarga mereka terlalu ribet untuk kerja otakku yang maunya gampang aja.
Mereka lalu terlarut dalam kesunyian. Raģe menautkan alisnya ketika lidahnya merasakan sesuatu yang manis. Padahal dia tidak makan. Tapi sensasi di lidahnya membuat dia terbuai sesaat dalam dunianya sendiri.
Dia melirik Clara sedikit. Namun gadis itu bisa tahu kalau Raģe menatapnya meski hanya sekedar melirik.
Raģe yang sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya membalikkan tubuhnya, menghadap Clara yang sejak tadi berdiri di belakangnya. Dia sempat menatap selidik gadis dengan mata safirnya itu.
"Hm? Ada apa?" Clara memiringkan kepalanya, bertanya pada Raģe sambil menarik sudut bibirnya. Tersenyum lembut bagaikan rembulan yang di sekitarnya terdapat lavender yang menari.
Sesuatu yang janggal membuat Raģe kembali bungkam. Lagi, selalu saja ketika Raģe menatap gadis ini, sesuatu yang manis terasa di mulutnya. Bahkan Clara di matanya saat ini dikelilingi oleh berbagai warna yang jernih. Ini adalah hal yang indah bagi Raģe yang notabene satu - satunya yang bisa melihatnya. Karena itulah, ketika Raģe melihatnya, dia selalu dibuat bungkam karena 'keindahan tak terlihat' Clara.
Angin semakin menerbangkan helai rambut Clara dengan halusnya. Membawa Raģe pada pemandangan yang semakin mengagumkan. Kini Raģe yakin jika penglihatannya waktu itu tidaklah salah. Keputusannya untuk membiarkan Clara pergi juga tidak salah.
Gadis ini, jika memang seburuk yang diceritakan rumor. Lantas mengapa 'warna miliknya' adalah cemerlang? Aku tak paham sama sekali.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa letakkan like dan komen. Dukungan kalian begitu berharga untukku :-)