The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 107 - Hari Eksekusi


__ADS_3

"Pfft! Tadi itu lucu sekali! Mereka menantangmu dan berakhir dengan kekalahan yang memalukan."


Gerald tertawa terbahak - bahak sambil menepuk pundak Frederick. Para bangsawan menantang mereka dan saat duel kalah dibantai Frederick. Itu adalah sesuatu yang memalukan, mereka pulang dengan wajah memerah karena malu.


"Kapan kau mau pulang?"


Frederick dan Gerald sejak tadi hanya duduk di lapangan pelatihan memperhatikan bangsawan lain pulang dengan wajah malu, Gerald bahkan menertawakan mereka dengan terang - terangan.


"Nanti saja bersama Ayahku. Karena sebentar lagi Ayah akan kembali. Mereka pasti sedang berdiskusi dengan utusan Freesia." Tutur Gerald, dia meneguk botol air sebab tenggorokannya kering karena terlalu banyak tertawa.


"Utusan Freesia itu, kenapa harus seusia kita?"


"Tidak tahu. Tapi aku pernah mendengar rumor tentangnya, dia memang jenius dan sangat kritis." Jawab Gerald asal, dia benar - benar mengikuti banyak hal berbeda dari Frederick yang sering ketinggalan info.


"Akhir - akhir ini kau belajar berpedang dengan siapa? Sepertinya kemampuanmu bertambah pesat. Apa mungkin gurumu adalah keturunan prajurit perang di masa lalu?"


"Huh? Bicaramu mulai ngawur. Mana kutahulah!"


Gerald mendengus. Selama pelatihan dia hanya diam dan mengikuti instruksi pelatih. Tak ada yang bisa diajak bicara olehnya karena semua anak bangsawan tidak menyukainya yang suka dekat dengan Frederick.


"Tapi dia guru yang hebat bagiku." Frederick berbisik.


Gerald kini mengulas senyum. Sulit sekali untuk membuat Frederick jujur karena dia terlalu suka memendam perasaannya. Saat dimarahi ayahnya, Frederick tidak menentang dan hanya mendengarkan walau acuh. Saat Gerald menanyakan sebabnya, Frederick malah makin tertutup.


Hal itu membuat Gerald geram setengah mati, dan akhirnya tak pernah menanyakannya lagi. Biarlah Frederick hidup dalam diam dan tidak mengekspresikan perasaannya.


"Saat kau bertemu dengan wanita yang kau pikir cocok menjadi pendamping hidupmu, maka kejarlah dia dan katakan bahwa kau cinta pada nya." Ujar Gerald tiba - tiba.


Frederick menaikkan sebelah alisnya, "Kau tahu kalau kita masih sembilan tahun? Kau kesambet apa sampai berani membawa topik cinta? Masih lama bagi kita untuk mencapai tahap itu."


"Oh? Benarkah?" Tanya Gerald dengan kesal.


Sebenarnya hal yang membuatnya berani membawa topik ini adalah karena saat Frederick menatap utusan Freesia, tatapan matanya agak mengundang dan sangat rumit. Gerald tahu maknanya karena pamannya seringkali menatap wanita yang akan menjadi target cintanya seperti itu.


Maksudku, jika kau mencintai Putri Eleanor maka yang perlu kau lakukan adalah mengejar cintanya. Jangan dia yang harus dibingungkan dengan kode - kodemu! Kau bukan wanita!


Tetapi Gerald memilih untuk diam. Sebab di usia mereka yang sekarang, belajar adalah hal utama daripada memikirkan cinta. Lagipula usia umum seorang bangsawan memiliki tunangan adalah 17 tahun untuk perempuan, sementara lelaki tak mematok usia atas pertunangan mereka.


Sejujurnya ini adalah hal yang cukup tidak adil bagi para perempuan. Perempuan yang menjadi perawan tua akan dicemooh oleh masyarakat, berbeda dengan perjaka tua. Wanita di dunia ini sangat diwajibkan terikat dalam pernikahan.


"Apakah besok kau akan kabur lagi?" Tanya Gerald.


Frederick dengan acuh hanya mengedikkan kedua bahunya. Walau dia menjawab pada Gerald belum tentu, namun Gerald tahu bahwa kemungkinan besar dia akan kabur dan belajar berpedang kepada guru hebat yang tak Gerald ketahui.


"Sejujurnya aku ingin tahu siapa gurumu." Celetuk Gerald, namun lagi - lagi Frederick hanya acuh.


"Permisi."


Baru saja Gerald mau protes atas sikap semena - mena Frederick terhadapnya, suara feminim yang penuh kelembutan menyapa pendengaran mereka.


Mereka berbalik menghadap pemilik suara. Dia adalah gadis yang menjadi utusan dari Freesia, tersenyum dengan lembutnya pada Frederick serta Gerald. Surai peraknya menari mengikuti semilir angin, pipinya dipenuhi semburat merah yang terkesan memikat hati.


"Ada apa?"


Secantik apapun gadis itu, Gerald tidak benar - benar tertarik kepadanya. Ada dua sebab, pertama karena dia memang sudah menempatkan labuhan hatinya pada bangsawan Harold dan membuat janji manis melibatkan pernikahan, kedua karena sepertinya Frederick menunjukkan ketertarikan kepadanya sebagai lawan jenis.


"Bisakah aku bertanya siapa nama kalian? Aku hanya ingin lebih mengenali para bangsawan di Ranunculus." Sahutnya dengan suara tak kalah lembut dengan ekspresinya.


Kalau Gerald tidak ingat pada Aerola Harold, dia benar - benar sudah jatuh dalam pesona Eleanor. Gerald mengintip bagaimana ekspresi Frederick saat ini. Tapi seperti sudah menduganya, Gerald melihat wajah normal Frederick. Dia sangat pandai bersandiwara, dia pantas masuk ke perkumpulan teater.


"Namaku Gerald Cheltics. Dan dia Frederick Wayne." Gerald memperkenalkan Frederick sekalian.


Eleanor mengangguk. Belum sempat dia juga memperkenalkan diri, Gerald menangkap sosok prajurit yang tengah berlari dengan buru - buru ke arah mereka. Frederick serta Eleanor juga menatap heran pada prajurit itu.


"Kenapa?"


"Seseorang... seseorang akan dieksekusi oleh Kaisar Hortensia! Dia bermara ruby yang terkutuk. Semua bangsawan dari berbagai negeri harus datang menyaksikannya."


DEG


Frederick menutup mulutnya rapat - rapat. Mata ruby... hanya satu orang yang Frederick tahu memiliki fisik istimewa itu. Tubuhnya membeku, Frederick menatap tajam pada si prajurit pembawa berita.


"Kapan?"


"Sepertinya sore ini tepat di wilayah netral." Prajurit itu menjawab sedikit gugup sebab mendapat pandangan setajam elang dari anak tunggal keluarga Duke Wayne yang terpandang.


Secara refleks, Frederick menarik pergelangan tangan Gerald dan menyeretnya menuju keluar istana kerajaan. Gerald tidak tahu mengapa suasana hati Frederick mendadak berubah. Sebab tadi dia seperti monyet yang baru menemukan cintanya, dan sekarang dia malah mengamuk seolah akan memporakporandakan semua benda yang ada di hadapannya.


"Oy, mau kemana kita? Jangan katakan padaku bahwa kau mau menonton seorang kaisar memenggal kriminal?"


"DIA BUKAN KRIMIMAL!!!"

__ADS_1


Gerald terlonjak saat menyadari Frederick sedang dalam keadaan emosional saat ini. Gerald sendiri bukan tanpa sebab menyebut orang yang akan dieksekusi Kaisar Hortensia sebagai kriminal. Karena Kaisar agung dari wilayah yang luas itu tidak mungkin meletakkan pedangnya di leher seorang penjahat biasa saja. Dia akan memerintahkan orang lain untuk melakukannya supaya tangannya tak kotor.


Namun bilamana penjahat itu berhasil membuat Kaisar Hortensia sendiri yang turun tangan, itu berarti kesalahannya benar - benar besar. Dan jika... eksekusi ini dipertontonkan ke khalayak ramai dengan tujuan mempermalukan si kriminal sebelum dia menemui ajal, maka Gerald semakin yakin akan kekuasaan Hortensia itu.


"Kita akan kesana dengan kuda?"


"Tentu saja!"


Kesal dengan Frederick yang terus emosi membuat Gerald juga jadi ikut - ikutan kesal. Dia menghentakkan tangannya yang ditarik kesana kemari oleh Frederick dan mendesis padanya.


"Aku bisa jalan sendiri. Lagipula kalau pakai kuda sendiri, apakah kau berfikir kalau kakimu itu sampai?" Ejek Gerald.


Frederick terdiam, seolah tersadarkan oleh tindakannya karena dibutakan oleh emosi. Kini langkahnya tertuju pada sebuah kereta kuda yang terparkir manis di dekat gerbang istana. Sebelum menaikinya, Frederick menoleh pada Gerald yang masih berdiri tak bergeming.


"Kau jadi kusir."


Wajah Gerald berkedut menahan amarah.


"Keparat kau! Menjadikan aku kusir seenak dengkul." Hardik Gerald, dia mendengus kesal sambil melangkah ke kereta kuda dan duduk di bagian kusir. "Kau berhutang besar padaku."


"Tunggu dulu!"


Suara melengking terdengar menahan mereka. Frederick menatap malas orang itu karena telah memperlambat dirinya menuju wilayah netral. Gerald menyambutnya dengan senyum dan bertanya padanya.


"Ada apa?"


"Bisakah aku ikut dengan kalian?" Tanya Eleanor.


Gerald menoleh ke belakang hanya untuk mendapati wajah Frederick yang berubah kusut dan tambah ketus. Menyadari tatapan Gerald, Frederick merotasikan bola matanya.


"Bawa saja dia."


...❀...


"TUNGGU AKU, FRED!!"


Gerald memaki kesal saat mereka tiba di wilayah netral dan Frederick langsung bergegas lompat dari kereta kuda dan berlari menuju tempat eksekusi, yang mana tempat itu sudah dihadiri oleh banyak bangsawan dan penduduk setempat yang menyaksikan. Gerald kesal saat Frederick lagi - lagi meninggalkannya.


Gerald berdecak, dia mendongak menendang kagum cakrawala berwarna jingga yang memesona mata. Sayangnya, di hari yang indah ini... seseorang akan dieksekusi tanpa ia tahu alasannya.


"Kenapa Fred begitu cemas? Memangnya siapa yang akan dieksekusi?"


SRET


"Eh! Tuan Putri Eleanor, tunggu aku!"


Di sisi lain, Frederick menyempil diantara ratusan penonton berusaha menerobos hingga ke depan. Yang bisa dilihatnya dari sini hanya sosok Kaisar Hortensia yang tengah memegang pedangnya. Pastilah si korban eksekusi ini dipaksa bertekuk lutut.


"Sial." Frederick mengumpat, dia masih belum bisa melihat seseorang yang akan tewas hari ini juga di hadapan para bangsawan.


Namun Frederick tidak putus asa, dia terus menyeret kakinya melangkah ke depan. Tidak peduli pada sumpah serapah yang tertuju pada dirinya karena dia sembarangan menerobos.


".....!"


Frederick membeku, langkahnya terasa semakin berat untuk maju. Matanya membelalak, meneteskan kristal bening yang meluncur tanpa seizinnya. Tangannya bergetar kemudian mengepal erat. Giginya bergemelutuk, menahan amarah yang membuncah dalam dirinya.


"Keparat...!"


Teriakan Frederick berhasil mengalihkan pandangan semua orang padanya. Bahkan Kaisar Hortensia sendiri dan si korban...


Saat Frederick berlari ke arahnya, tubuhnya ditarik ke belakang oleh seseorang, itu Gerald. Dengan mata menyalang Frederick menatap Gerald, namun Gerald tidak bergeming seolah tak sadar dan terus menahan Frederick agar tak menerobos ke atas altar.


"Apa yang kau lakukan, Gerald!"


"Tolong tenanglah." Kata Eleanor dengan suara menghanyutkan.


Tetapi emosi Frederick terlanjur membara. Dia hendak menghentakkan tarikan Gerald, sayang sekali para prajurit yang melihatnya langsung menahannya. Frederick didudukkan dengan paksa, berlutut di hadapan altar tepat di depan orang itu.


"Guru..." Ucap Frederick nyaris tak bersuara.


Zavius hanya tersenyum getir. Dia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu tanpa bersuara. Frederick tersentak, dia tidak tahu mengapa Zavius mengatakan hal seperti itu.


Para bangsawan dan penduduk yang menonton mulai berbisik mengenai hubungan diantara Frederick dengan sisa sampah yang harus dimusnahkan itu. Reputasi Frederick kini sudah hancur di mata publik. Namun Frederick nampak acuh, dia hanya menatap dalam gurunya.


Frederick tahu, dia sangat tahu bahwa gurunya pasti mampu melepaskan diri dan berlari sejauh mungkin demi menghindari eksekusi ini. Tapi Zavius tidak melakukannya, Frederick tak paham mengapa Zavius pasrah dan menerima kematiannya begitu saja. Bahkan Frederick tak tahu alasan Zavius harus mati secara memalukan di tempat ini.


Frederick masih berontak untuk melepaskan kuncian tangannya. Namun prajurit itu malah tambah kesal dan berakhir mendorong wajah Frederick dengan paksa mencium permukaan tanah. Gerald menggeram kesal, tapi dia tak mampu melakukan apapun selain menyaksikan. Eleanor apalagi, dia seorang perempuan dan mana mungkin menantang prajurit bertubuh besar itu.


Zavius juga memandang tajam kejadian itu. Dia melirik Kaisar Hortensia yang menontonnya dalam diam dengan tatapan datar. Zavius menatapnya sengit, Kaisar Hortensia lagi - lagi tidak bergeming. Dia hanya menatap kebodohan Zavius dengan datar.


"Beraninya kau memperlakukan muridku seperti binatang. Lepaskan dia!" Teriak Zavius, lagi - lagi Kaisar Hortensia tidak merespon banyak. Ini menyebalkan. Zavius terkuras habis emosinya, sementara pria ini tetap dalam keadaan setenang lautan.

__ADS_1


"Kau mengoceh tidak jelas di hari kematianmu, lumayan juga kau Lavoisiér." Bisik Kaisar Hortensia tajam. "Terkutuklah kalian darah penyihir hitam. Kalian semua sama saja dengan penyihir pria itu... menjijikkan."


Zavius menatap sinis, "Kuharap kau tidak menjelekkan kami para Lavoisiér terlalu jauh. Karena kau pasti akan menyesalinya."


Kaisar tak merespon.


"Kau tahu, tidak?"


"....."


Senyum Zavius semakin mengembang. Kaisar telah bersiap dengan menggenggam pedangnya erat, mengangkatnya ke udara untuk menebas kepala seseorang yang menurutnya penuh dosa itu. Dia mengindahkan teriakan histeris Frederick serta bangsawan dan penduduk yang menunggu kematian terakhir dosa dunia.


"Keturunan anakmu... dia akan dikutuk! Darah Lavoisiér akan mengalir dalam dirinya dan kau hanya bisa melihatnya terus hidup meneruskan perjuangan kalian berdua untuk Hortensia. Anak itu akan menjadi bumerang. Dan kau akan mati di tangannya--"


CRASH


"GURU!!!!"


...❀...


"Fred? Mau kue kering tidak?"


Frederick hanya menggeleng lemah saat Gerald menawarkan beberapa camilan yang dia beli dengan uangnya sendiri. Semua itu dia lakukan untuk membuat Frederick kembali seperti semula. Gerald tidak tega membiarkan Frederick terus larut dalam kesedihannya.


Aku baru tahu bahwa pria itu gurunya. Batin Gerald.


"Gerald..." Panggil Frederick dengan suara lirih.


Gerald merespon dengan cepat, sebab ini kali pertama Frederick mau berbicara padanya setelah lewat beberapa hari dari eksekusi orang asing itu. Disanalah Gerald baru mengetahui siapa sosok yang menjadi guru sahabatnya.


"Kenapa?"


"Apa kau tahu alasan Kaisar Hortensia membunuh Guru?" Tanya Frederick, suaranya semakin tak terdengar karena habis.


"Kudengar dia keturunan Lavoisiér." Jawab Gerald sekenanya, dia mendapat informasi singkat itu dari kakak iparnya.


"Lavoisiér?" Frederick mengernyit. Dia jadi ingat pada sebuah buku yang tidak jadi dibawa olehnya karena gurunya.


"Iya. Kau ingat tidak dengan legenda penyihir pria dan seluruh darah yang terikat dengannya? Yang bercerita bahwa mereka semua adalah keturunan iblis karena mempunyai kemampuan mengendalikan dan menciptakan sihir hitam."


Frederick mengangguk. Sebuah cerita yang awalnya hanya dia anggap fiktif karena selama ini dia tidak pernah tahu keberadaan orang - orang dengan kemampuan seperti itu.


"Lavoisiér adalah nama keluarga bangsawan dengan darah iblis itu." Sahut Gerald, seketika ekspresinya berubah serius.


Badan Frederick menegang. Dia merundukkan kepalanya dalam - dalam. Itu adalah alasan paling masuk akal kenapa Kaisar Hortensia berani melakukannya. Meski di sisi lain dia baru tahu bahwa cerita itu benar - benar legenda nyata. Frederick sadar, gurunya adalah seorang kriminal yang diburon banyak orang karena dia masihlah terikat dengan darah iblis.


"Bagaimana Kaisar mengetahuinya?"


"Mata ruby."


DEG


Frederick terkejut mendengarnya. Andai dia tidak menanyakan buku berisi Lavoisiér itu pada Zavius, Zavius pasti takkan mengambilnya. Setidaknya, dia sedikit tahu tentang keluarga bangsawan yang pernah ada itu.


Keturunan penyihir. Terikat dengan darah iblis. Mampu menggunakan sihir hitam dan dengan mudah mengendalikannya.


Harusnya Frederick sadar ketika melihat keahlian Zavius yang sangat luar biasa dan diluar nalar.


Frederick jadi ingat, kalimat terakhir yang dilontarkan Zavius padanya sebelum kepalanya terpenggal dan tubuhnya mengurai menjadi bunga.


"Tolong aku mencari Scoleths. Bantu dia mendapatkan kebebasan yang orang - orang curi darinya."


Scoleths...?


...❀...


Di istana kekaisaran Hortensia. Kaisar berjalan mondar - mandir tidak karuan. Menggigit kuku jarinya dengan perasaan cemas. Anak tunggal Kaisar, sang Pangeran Mahkota Siegward tentu menatap ayahnya bingung serta penasaran.


"Ayahanda, kenapa sejak tadi kelihatannya khawatir sekali?"


Kaisar berhenti berjalan. Tatapannya mengarah pada anak semata wayangnya. Perkataan Zavius padanya di saat - saat terakhir hidupnya itu sangat mengganjal di pikiran Kaisar.


"Keturunan anakmu... dia akan dikutuk! Darah Lavoisiér akan mengalir dalam dirinya dan kau hanya bisa melihatnya terus hidup meneruskan perjuangan kalian berdua untuk Hortensia. Anak itu akan menjadi bumerang. Dan kau akan mati di tangannya--"


Kaisar menggenggam pedangnya kuat - kuat. Pedang yang ia gunakan untuk memisahkan kepala dari badan si pendosa besar itu. Orang yang masih satu ikatan darah dengan si penyebar sihir hitam itu di benua Herbras.


Benarkah Sieg akan memiliki keturunan yang punya ikatan dengan Lavoisiér? Aku harap ucapannya saat itu cuma main - main.


TBC


Hohoho, ada yang ingat dengan percakapan singkat antara Clara dan Claire di dunia mimpi Meiger disutradarai oleh Grein? Mereka sedikit menyinggung tentang si penyebar sihir hitam itu walau tak secara eksplisit demi tidak mengulik terlalu dalam mengenai pelakunya. Itu ada di sub bab 'Grein de'Lavoisiér'. Aku sudah memberikan cukup banyak clue mengenai siapa seseorang dibalik layar ini. Kalian bisa menebak kalau mau. Kalau tidak, ya sudahlah -_-.

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2