The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 40 - Wilayah Barat


__ADS_3

BRUK


Aduh...!


SRING


Eits...


Saat Clara ingin membuka pintu kereta kuda. Lehernya nyaris ditebas oleh sebilah pedang dengan mata yang tajam.


Clara membuka matanya yang terpejam dan melihat seorang pria berjubah hitam menatapnya tajam. Kemudian ia memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang.


SRET


"Ugh...!"


Ketika kaki Clara ingin keluar dari kereta kuda tersebut. Ia tersangkut dan berakhir jatuh ke tanah dengan tak elitnya. Namun, terlihat dengan jelas kalau pria itu enggan menolong Clara. Dia lebih memilih untuk menunggu Clara bangkit sendiri.


Tch! Pria ini pasti bukan dari jajaran pria romantis. Kalau saja dia mau menolongku, adegan menebas barusan takkan kuhitung sebagai percobaan pembunuhan!


Tangan kiriku yang malang tambah parah saja lukanya... hiks... Padahal dalam perjalanan kemari sudah mulai membaik.


Tapi Clara hanya berani untuk memaki dalam batinnya saja. Sebab, pria di hadapannya ini bukan sekedar ksatria abal - abal yang hobinya sembarang menebas orang lain.


Dia adalah Kaisar wilayah Barat.


Meiger Westhley.


Kalau Clara tahu dari awal, dia takkan melarikan diri ke Hortensia. Tetapi Avrim menjebaknya dan memberi tahu tentang siapa yang menunggunya ketika Clara sudah menyusup ke dalam kereta.


"Nona akan bertemu dengan Kaisar Hortensia saat sudah sampai wilayah Barat. Jadi, mohon jaga sikap Nona, kalau sampai Kaisar tahu Nona punya kelakuan seperti ini. Sudah pasti akan..."


Tubuh Clara merinding seketika setelah ia mengingat kembali kalimat terakhir Avrim kemarin malam.


Clara mendongakkan kepalanya menatap langit wilayah Barat.


Sepertinya fajar mulai menyingsing.


Hanya sedikit saja, Clara melirik wajah samping Meiger dengan takut - takut.


Parasnya seperti penguasa kegelapan saja.


Mata ruby adalah yang paling spesial diantara yang lainnya. Hanya ada dua orang di benua Herbras yang memiliki keunikan ini.


Pertama tentu adalah Meiger Westhley.


Dan kedua ada Grein de'Lavoisier.

__ADS_1


Clara tidak tahu dimana Grein berada karena tidak diceritakan secara eksplisit dalam novelnya. Seolah karakter Grein tidak penting sama sekali menurut penulisnya.


Padahal Grein punya kemampuan sugesti yang luar biasa. Alasannya adalah mata ruby nya itu, mata itu akan menyala jika pemiliknya sedang melakukan sugesti pada lawan bicaranya.


Clara bisa mengetahuinya tentu saja karena Grein dan mata ruby miliknya pernah beraksi seperti itu di satu - satunya scene dia keluar dalam novel. Hanya dengan sedikit kalimat dia sudah bisa menguasai kesadaran lawan bicaranya.


Sekali lagi Clara mencuri lihat mata ruby Meiger.


Dia juga seharusnya punya kemampuan itu 'kan?


"Sekali lagi kau melirikku, sudah kupastikan bola matamu kucongkel keluar dari tempatnya."


Saat asyik melirik Meiger, suara dingin Meiger menghentikan kegiatannya. Kemudian Clara langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Hee? Aku merasakan sensasi de javu disini.


"Nama."


"Huh? Nama hamba Clara Scoleths Yang Mulia."


Wajah Meiger menghitam. "Scoleths?"


"Ya..ya, nama hamba ialah Clara Scoleths. Yang Mulia bisa memanggil hamba dengan sebutan apa saja."


Melihat respon Meiger, Clara jadi takut salah. Dia jadi gemetaran ketika menyebutkan namanya yang entah dimana salahnya.


"E..eh? Itu tidak bisa Yang Mulia. Hamba terlahir dengan nama ini, jadi... begitulah..."


Waduh, jika aku salah langkah disini, habis sudah diriku. Padahal aku baru saja sampai di Hortensia. Huhu... Avrim, kalau aku mati disini, orang yang kuteror pertama kali adalah kau.


"Kau bisa mendapatkan yang lebih bagus dari nama itu."


Clara menggeleng dengan cepat. "Itu tidak bisa Yang Mulia. Hanya nama ini yang bisa Hamba ingat, karena itulah..."


"Ck. Kapasitas otakmu terlalu kecil."


Hey! Dia ini kembarannya Hendrick atau apa? Mirip sekali cara bicaranya! Yah... meskipun Hendrick menang tipis dari Meiger kalau soal berekspresi.


"Karena nama belakangmu menyebalkan. Lebih baik kupanggil kau Clara saja."


DEG


Clara agak tersentak ketika mendengar Meiger mengucapkan nama depannya. Bahkan Hendrick pun akan memanggil Clara dengan sebutan 'anak antah berantah' atau 'Clara Scoleths' yang paling mendekati normal.


Hanya Duke Wayne dan Hellen yang memanggilnya begitu sejauh ini. Rovers pun memanggil Clara dengan sebutan 'Nona Scoleths'.


Mendengar seorang kaisar besar memanggil nama depannya seperti itu membuat Clara diam membeku. Di zaman ini, dipanggil nama depannya oleh seorang pria sudah cukup membuktikan kalau mereka punya hubungan spesial.

__ADS_1


Tapi bagi Clara yang baru bertemu Meiger beberapa menit lalu tidak mungkin langsung mempunyai hubungan sejenis itu. Namun, Clara bisa apa. Pria ini adalah seorang kaisar.


"Hamba mengerti."


"Karena Avrim belum bisa datang ke Hortensia. Selama kau disini, Jean yang akan mengurus semua kebutuhanmu." Ucap Meiger lagi.


"Jean? Terdengar seperti nama pria bagi hamba." Clara menimang - nimang dagunya. Dia menautkan alisnya bingung.


"Jean memang seorang pria."


"Uhuk!" Clara terbatuk keras. "Namun hamba seorang wanita, Yang Mulia. Diurus oleh lawan jenis rasanya agak..." Clara menjawab ragu sambil menatap punggung Meiger.


Meiger berbalik menghadap Clara.


"Dia adalah orang kepercayaanku. Jangan membantah dan ikuti saja. Kau ini sudah menumpang di tempatku. Jangan macam - macam."


"Ba..baik." Clara menunduk lesu.


Avrim... kau tidak akan kuteror deh... karena itu cepatlah datang kemari...


Memasuki istana kekaisaran, Clara dibuat kagum dengan banyak hal. Berbeda dengan kerajaan Ranunculus yang mayoritas tempatnya digapai cahaya. Tempat ini seperti kamarnya, pencahayaan minim dan aura yang kelam.


"Jean!"


"Ada apa Yang Mulia?"


Ek...! Muncul dari mana dia?!


Clara mengalami syok mendadak ketika seorang pria bernama Jean itu muncul entah dari mana setelah Meiger memanggil namanya.


"Bantu dia menemukan kamarnya."


Jean menunduk, "Baik Yang Mulia."


Lalu Meiger pergi meninggalkan Clara dan Jean.


"Nona, bisakah Nona mengikuti saya?"


"Um... tentu saja..."


Jean mengantarkan Clara menuju kamarnya. Dan setelah memastikan Jean sudah pergi, Clara langsung mengistirahatkan dirinya. Malam yang panjang akhirnya sudah sampai di penghujung.


Hingga matahari kembali terbit di pagi harinya.


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2