
"Huh... huh..."
BRUK
Frederick menjatuhkan dirinya di atas rerumputan. Setelah pelatihan pedang dengan guru barunya, Zavius. Frederick yang kelelahan langsung ambruk dengan nafas terengah - engah.
Tatapannya terpaku pada tumpukan buku yang ada di sebelah Zavius. Frederick kembali duduk, dia menatap gurunya yang asyik menulis di salah satu buku.
"Guru, buku - buku itu mau diapakan...?"
Zavius mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya, menoleh pada kumpulan buku yang sampulnya rata - rata sudah terkoyak. Meski begitu, tak ada niatan bagi Zavius untuk membuangnya.
"Aku memberikannya untukmu."
"Huh? Sebanyak ini? Bagaimana bisa aku membawa semuanya?"
"Kau hanya perlu membawanya satu persatu. Begitu saja dibuat susah. Otak itu dipakai, jangan cuma dijadikan pajangan."
Frederick mendengus kesal, meskipun sudah dewasa kelakuan gurunya sangat kenakakkan, terkadang Frederick sampai dibuat jengah dengan tingkah lakunya itu. Membuat Frederick kelepasan menyindirnya, untung Zavius punya kesabaran tingkat dewa.
"Sejarah singkat Lavoisiér?"
Frederick menggumam, membaca buku dengan judul yang aneh. Masalahnya nama Lavoisiér baru pertama kali dia dengar. Tak ada bangsawan atau pahlawan kebangsaan yang punya nama keluarga Lavoisiér. Rasanya aneh sekaligus asing.
"Guru?"
"Hng?"
"Lavoisiér itu siapa?"
Zavius menghampiri Frederick dan langsung merebut buku yang ada di tangan Frederick. Kesal, Frederick mendelik pada gurunya. Dia bertanya dan gurunya malah bertindak menyebalkan.
"Ini nama keluarga bangsawan. Mereka dari tanah Barat."
"Hortensia?"
Zavius mengangguk.
"Tapi aku tidak pernah tahu bahwa ada bangsawan Lavoisiér." Frederick mengernyit, ini adalah pengetahun baru baginya. Ternyata Zavius tahu banyak, atau mungkin itu hanya rekayasa?
"Memang benar. Karena Lavoisiér telah punah sejak lama."
Zavius kembali memasukkan buku tersebut ke dalam jubahnya. Melihat itu membuat Frederick kesal. Dia sudah sangat penasaran dengan Lavoisiér, namun bukunya malah diambil kembali. Tahu gitu Frederick takkan menanyakan tentang buku itu.
"Kapan kita berlatih pedang lagi?"
Frederick bertanya, dia sudah mengabaikan rasa penasarannya. Zavius hanya mengangkat sebelah alisnya, ingat jika dia punya murid yang tak mungkin diangguri.
"Lakukan seperti biasa saja."
__ADS_1
"Kau bercanda pak tua?! Aku menyelinap kesini setiap hari dan ilmu yang kau berikan kepadaku cuma itu! Entah kenapa aku rasa usahaku selama ini agak percuma." Gerutu Frederick.
Walau Frederick menggerutu. Dia tetap menjalankan latihan yang diperintah gurunya. Sebenarnya perkataannya tadi tidak sepenuhnya benar. Dengan latihan itu, dia seolah berteman dengan pedangnya dan semakin pandai setiap harinya. Hanya saja karena dia belum sampai tahap selanjutnya, kemampuan Frederick tidak jauh dari kata standar bagi para prajurit. Meski itu sudah bagus untuk remaja seusia Frederick.
"Kudengar kau bertambah hebat dan sekarang mempunyai rival. Anak tertua dari Count Cheltics 'kan?" Tanya Zavius.
Frederick sejenak menghentikan ayunan pedangnya. Namun kembali melanjutkannya setelah melihat ke arah Zavius. Itu adalah fakta. Frederick akhir - akhir ini selalu ditantang duel oleh anak tertua Count Cheltics, Gerald Cheltics.
"Aku tidak terganggu olehnya. Lagipula Gerald meskipun selalu menantangku, dia membelaku di saat - saat tertentu."
"Saat kau bersitegang dengan orang tuamu?" Tanya Zavius setengah mengejek.
Mendengar ejekan gurunya, Frederick merasa telinganya sangat gatal. Dia benar - benar kesal saat Zavius tidak pernah mau membelanya dan tak pernah membantunya saat Frederick kabur dari kediamannya. Karena Frederick nyaris saja gagal kabur. Amarah ayahnya setelah Frederick pulang ke kediaman Wayne sudah menjadi makanan sehari - harinya. Tapi semua itu hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Semua perkataan kasar ayahnya hanya dianggap angin lalu oleh Frederick.
"Berarti dia memang hanya sekedar rival. Kau akrab tidak dengannya?"
"Lumayan. Karena aku calon Duke dan dia calon Count. Kami yang berada di situasi sama saling memahami. Aku senang mempunyai rival dan teman sepertinya." Tanpa sadar Frederick mengukir senyum tipis.
"Yah, teruslah membangun hubungan yang sehat dengannya. Meski kalian juga sering bertengkar, tapi keesokan harinya kalian langsung sembuh dari pertengkaran." Zavius berpendapat.
Karena walau tinggal jauh dari lingkungan para bangsawan, Zavius selalu menyempatkan mengawasi kondisi anak didiknya. Karena Frederick sendiri masih sembilan tahun, mental nya masihlah seperti anak - anak pada umumnya. Dia akan mudah goyah akan sesuatu.
"Eh? Bukankah itu adalah hal yang normal?"
"Tidak juga. Pertengkaran kadang menimbulkan amarah dan dendam."
Namun semua dugaan Frederick langsung ia tepis. Walaupun memang benar ada, Frederick tidak mempunyai hak untuk ikut campur dalam urusan gurunya. Semua orang memilki privasi masing - masing. Frederick hanya perlu berlagak tidak tahu.
Sepertinya sebentar lagi sudah waktunya untukku pulang.
...❀...
Frederick melotot keheranan dengan kehadiran seseorang yang cukup tidak terduga di dalam kamarnya. Biasanya yang duduk disana sambil melipat tangan adalah ayahnya. Namun orang ini... sungguh Frederick tak memperkirakannya.
"Kenapa kau ada disini, Gerald?"
Anak lelaki seumurannya itu ialah Gerald, rival sekaligus temannya. Ini sudah larut, namun calon Count Cheltics itu malah berada di kamarnya. Dia mungkin sedang menunggu Frederick pulang dari pelatihan di luar kediamannya itu.
"Ini gawat, Fred. Nampaknya utusan Freesia akan datang besok siang."
Frederick tentu saja terkejut. Dia pernah mendengar masalah ini dari ayahnya. Jikalau Freesia akan datang mendiskusikan sesuatu yang penting antar wilayah mereka. Mungkin seperti membuat koalisi atau sejenisnya. Dan ternyata sebelum itu mereka mengirimkan seorang utusan ke Ranunculus.
"Lalu, kau mau menyelinap ke dalam kerajaan hanya untuk melihat wajahnya?"
"Sepertinya iya." Jawab Gerald dengan wajah serius.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain sampai nekat melakukan itu? Kalau kau ketahuan ayah atau bangsawan lain. Kau takkan selamat."
"Itu tidak benar. Besok 'kan kita juga ada pelatihan di kerajaan. Kau lupa kalau besok waktunya pertandingan satu lawan satu dengan anak dari keluarga bangsawan lain?" Gerald mengangkat sebelah alisnya penasaran.
__ADS_1
Frederick mengacak - acak rambutnya. Dia lupa apabila besok dia diwajibkan datang ke Istana Kerajaan untuk duel. Dia malas sekali. Lagipula entah kenapa gurunya tak mengatakan apapun barusan, padahal biasanya gurunya tak pernah ketinggalan satu pun informasi dan tidak pelit membagikannya pada Frederick.
"Ngomong - ngomong buku apa yang ada di tanganmu itu?"
Frederick segera mengangkat buku yang ia bawa. Buku pemberian gurunya, Frederick benar - benar mengikuti saran Zavius sehingga hanya membawa salah satu dari banyaknya tumpukan buku.
"Mm? Sejarah Benua Herbras? Oh, sepertinya diisi oleh sejarah perang di Benua Herbras sebelum menjadi sekarang. Dahulu kelima wilayah memang bersatu, tak ada satu pun batasan." Jelas Frederick, Gerald mengangguk paham.
"Kau wajib datang, kau tahu? Jadi jangan lupa besok kau akan bertarung denganku!"
Gerald keluar dari kamar Frederick melalui jendela yang masih terbuka lebar. Frederick kemudian hanya meneriakinya sebagai jawaban.
"Kalau kita memang saling melawan!"
Frederick tersenyum simpul. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ini adalah malam pertama tanpa omelan ayahnya sebelum tidur. Dia pasti bisa mimpi indah malam ini.
Frederick kembali menatap buku tebal itu. Sejujurnya dia telah mendengar dan mengetahui sejarah Benua Herbras dari guru kerajaan. Tapi ia ingin tahu apakah dia bisa menemukan alasan terjadinya perang di masa lalu antar wilayah.
"Guru tampak mempunyai wawasan yang luas. Mungkin aku bisa menemukannya..."
...❀...
"Yo, Fred! Kau benar - benar datang."
Saat Frederick baru memasuki lapangan pelatihan. Gerald mendadak berteriak ke arahnya bermaksud menyapa, dan menghampiri dirinya sambil berlari kecil. Sontak karena teriakan itu hampir semua anak bangsawan menatap ke arah mereka.
Beberapa menatap dengan sinis sebab Frederick baru ke tempat ini lagi setelah sekian lama. Dia yang selalu kabur dari pelatihan dengan berbagai alasan. Dan Gerald selalu membelanya, dia akan kesal dengan anak bangsawan yang mencibir Frederick di belakang.
Hm?
Frederick seketika menoleh saat pendengaran nya menangkap suara langkah kaki. Tapi tidak menuju lapangan pelatihan, hanya melewatinya saja. Gerald langsung menatap ke arah yang sama dan matanya membelalak karena terkejut.
"Siapa dia?"
Tatapan Frederick masih terpaku pada seorang gadis bangsawan dengan gaun serba putih. Surai keperakan miliknya terbang perlahan mengikuti semilir angin. Netra emerald miliknya juga mampu membuat semua pasang mata menatapnya, seolah tersihir dengan kecantikan yang ia miliki. Begitu juga dengan Frederick, dia hanya terdiam saat melihat gadis seusianya itu melewati lapangan pelatihan yang jaraknya cukup jauh dari posisi Frederick dan Gerald saat ini.
"Huh? Kau tidak tahu! Dia adalah putri pertama Freesia, Eleanor Northern." Bisik Gerald dengan nada tak percaya.
Frederick lalu tersadarkan dari lamunannya. Dia segera berjalan menuju lapangan pelatihan yang sudah ramai diisi para anak bangsawan. Gerald mengikutinya dari belakang, dia sesekali masih mencuri lihat sang putri dari Freesia.
"Begitu, jadi namanya Eleanor Northern."
Jadi dia utusan Freesia?
TBC
Special pict Eleanor Northern
__ADS_1