The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 89 - Jawaban Atas Keraguan


__ADS_3

Diskusi antara Hendrick dan George telah selesai. Dia tidak terlalu terkejut mendapati kenyataan jika ia dan senjata kedua itu adalah saudara sepupu. Awalnya memang dia tak tahu jika nama asli ibunya adalah Eleanor Northern, sampai hari itu...


[Flashback On]


Hendrick berjalan di lorong kediaman Wayne. Setelah kepergian Clara, dia memang menjadi semakin penyendiri. Hendrick juga jadi lebih rajin mengerjakan tugasnya dibandingkan saat masih ada Clara di sampingnya.


Mungkin ini adalah sesuatu yang ia lakukan untuk mengalihkan rasa rindunya pada senjata dengan banyak rumor buruk itu.


Tentang rumor buruk Clara. Rumornya agak mereda setelah sebulan kepergian gadis itu. Raja menghentikan pencarian Clara, apalagi selepas Raģe sendiri yang memberikan laporan ata kaburnya senjata tersebut.


Sejauh ini, hubungannya dengan Hellen baik - baik saja. Walaupun hubungan Hendrick dengan ayahnya agak sedikit merenggang. Dia semakin meragukan ayahnya sekarang, tentang apa yang dilakukannya dahulu, Hendrick masih mencari tahu. Bahkan alasan Freesia mengincar ayahnya...


"Hm... hm..."


Hm? Suara ini... Ibu?


Hendrick memandang keluar jendela besar. Dia melihat sosok ibunya yang tengah duduk diluar sambil menatap butira salju. Karena pakaian yang digunakan ibunya cukup tebal, Hendrick tak terlalu mengkhawatirkannya.


Tapi karena dia sedang tidak ada kerjaan. Hendrick memutuskan menghampiri ibunya di taman.


"Ibu?"


Eleanor menengok ke belakangnya. Hendrick memanggilnya dengan wajah tersenyum, ini sungguh tidak biasa. Bahkan kepada Clara dan Hellen, Hendrick tak pernah memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. Frederick malah lebih parah.


"Erick? Rupanya anak kesayangan Ibu. Ada apa memanggil ibu?"


Erick, nama kecil Hendrick. Hanya ibunya yang memanggil dirinya begitu. Ayah atau adiknya tak pernah memanggilnya dengan nama tersebut.


Hendrick duduk di samping Eleanor, "Aku hanya merasa kesepian saja, ibu. Aku juga merasa kelelahan dengan jabatan baru yang kuemban. Menjadi seorang Duke itu nyatanya sulit, tidak seperti kelihatannya."


"Ayahmu juga sama."


"Tidak. Kami berbeda. Nampaknya ayah lebih berleha - leha kalau dibandingkan dengan semua Duke sebelum dirinya." Hendrick langsung menyela, tidak membiarkan Eleanor membela suaminya.


Eleanor tertawa ringan menanggapi sikap Hendrick yang masih dingin pada ayahnya. Kemudian dia menatap Hendrick dengan seksama.


"Kalau dilihat - lihat Erick lebih mirip ayah, bukan?"


Hendrick mendengus sebal, itu memang tidak bisa terbantahkan. Dari seluruh yang ia punyai, sebagian besar ia dapatkan dari ayahnya. Hendrick ragu jika ada yang mengatakan dia mirip dengan ibunya.


"...bahkan Hellen juga sama. Ini lebih bagus sih. Jika kalian apalagi Hellen mirip ibu, maka terungkap sudah." Sambung Eleanor.


"Kenapa?"


Eleanor menatap anaknya dengan serius, "Karena ibu mempunyai darah Northern dalam diri ibu."


[Flashback Off]


Hendrick memandang kepergian George dalam diam. Pemuda serba perak ini ternyata ada hubungan darah dengannya. Tidak. Jauh sebelum itu. Hendrick dan Raja Willem sendiri masih punya hubungan.


Hah... ini membuatku pusing. Pak tua itu memang minta ditendang olehku dari kediaman.


...❀...

__ADS_1


"Sampai sini kau mengerti?"


Raja Agapanthus menatap keponakannya dan anaknya yang duduk bersebelahan. Saat ini dia sedang melatih keponakannya, keberadaan James cuma sebagai bonus.


Raģe hanya mengangguk. Sedangkan James yang memperhatikan sikap acuh Raģe sedikit merasa kasihan padanya. James tahu betul jika Raģe menolak mentah - mentah jabatan ini. Akan tetapi, ada kalanya kau perlu mengalah.


Keluar dari ruangan Raja. Raģe serta James berjalan beriringan menuju taman lavender yang ditanam oleh James dan dibantu Valentina.


"Kak, menurutku kau harus menerima jabatan ini. Kakak sendiri tahu bukan kalau ini adalah titah langsung dari Raja Ranun-"


"Diamlah. Aku muak mendengarnya."


James kemudian mengikuti keinginan Raģe, dia tidak bicara lagi setelahnya.


Setelah sampai di taman lavender, James agak melambatkan langkahnya. Membiarkan Raģe untuk mempunyai waktu sendirinya. Biarkan dia merenung untuk masa depannya, dan masa depan negeri ini.


Lebih baik aku ambilkan kakak minuman buah saja.


James segera pergi meninggalkan Raģe yang sudah duduk di bangku taman. Yang Raģe lakukan hanyalah menatap hamparan bunga lavender yang bisa tercium harumnya. James cukup pandai mengurusi taman ini.


"Tidak baik loh, melamun. Kalau kerasukan bagaimana? Orang lain juga yang susah."


Siapa?!


Raģe terperanjat, di sudut pandangannya, dapat ia lihat gadis muda yang kemarin dia tolong dari rebutan dua dara. Mereka saling tarik menarik gadis ini karena masing - masing mengatakan bahwa gadis ini adalah teman mereka.


Kondisinya kemarin agak memperihatinkan setelah adegan tarik menarik. Kalau Raģe tidak salah ingat, gadis ini kena efek samping yaitu mual dan pusing. Dia bahkan muntah pelangi semenit setelah bebas.


"Dia bisa melakukannya sendiri." Jawab Clara dengan acuh.


"Ouh..."


Raģe yang tidak terlalu mempedulikannya kembali menatap kumpulan lavender yang menari karena angin. Tanpa disuruh, Clara mengambil tempat duduk di sebelah Raģe.


James yang baru datang setelah mengambil minuman di dapur. Mendadak menghentikan langkahnya karena melihat Raģe yang duduk berduaan dengan seorang gadis. Gadis itu datang bersama dengan pewaris Vinca kemarin.


James agak sedikit ragu untuk menghampiri mereka. Karena dia mengira kakak sepupunya punya hubungan spesial dengan gadis itu. Karena biasanya... Raģe tidak pernah dekat dengan lawan jenis selain sepupunya sendiri, Valentina.


Jadi James pikir kalau gadis bernama Clara ini akan menjadi calon kakak sepupunya atau semacam itu. Apapun yang terjadi, James akan mendukung Raģe dengan gadis manapun.


Karena tak mau mengganggu, akhirnya James memilih untuk kembali ke dapur dan menyimpan minuman buah yang barusan dia ambil. Setelah ini mungkin dia akan menggosipkan masalah Raģe pada Valentina.


Di sisi Raģe. Setelah Clara duduk, mereka tidak melakukan apapun selain diam memandang taman lavender. Aroma terapi yang ditimbulkan bunga - bunga sangat menenangkan bagi Clara maupun Raģe.


"Tentang anda yang menjadi penasihat kerajaan. Saya baru dengar dari Yang Mulia sebelum perjalanan kemari." Celetuk Clara.


Raģe melirik Clara, gadis ini selalu punya bahasan yang tidak menyenangkan. Tapi beruntung kalau di dekatnya, Raģe tidak merasa tersiksa dengan adanya rasa pahit di lidahnya. Suara Clara sangat manis bagi Raģe, jadi dia tidak masalah dengan segala ocehan Clara.


"Itu benar." Jawab Raģe seadanya.


"Yang anda tanyakan saat sebelum saya ke Hortensia. Apakah karena masalah ini?"


"Mungkin..."

__ADS_1


Clara mendengus pelan. Padahal kemarin, Raģe cukup ramah kepadanya. Apa mungkin karena Clara tidak memanggilnya dengan akrab dia jadi merajuk? Atau karena kedatangan mendadak Hendrick yang membuatnya kesal? Clara jelas tidak bisa membaca isi hati Raģe.


Terkadang Clara dipusingkan dengan sikap beberapa pria di sekitarnya. Mereka bersikap ramah, namun di sisi lain berlaku kejam padanya. Clara tak paham sama sekali dengan keinginan mereka.


Sejauh ini, yang bisa dia baca perilakunya hanya Hendrick dan Kaisar. Mungkin karena Hendrick yang paling lama bersama Clara. Dan Clara sendiri tahu jika Hendrick menyimpan rasa kepadanya, minus belum dibalas olehnya.


Untuk kaisar, Clara lumayan memahaminya. Karena setelah pernyataan Kaisar tempo hari, Clara menjadi tahu bahwa perasaan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Dan kenalannya yang lain seperti George, Jean, Raģe, dan Nero. Clara hanya menebak saja.


Eh? Sampai saat ini aku belum tahu kemana Nero. Dia juga sepertinya belum pulang ke Hortensia... tidak. Apakah dia memang pergi dari Hortensia? Akh! Sudahlah!


"Sudah menentukannya?"


"Apa?" Raģe menoleh pada Clara dengan tatapan bingung.


"Pilihanmu. Bukankah saya sudah menjawab apa yang anda tanyakan waktu itu? Anda perlu melihat dari berbagai sisi untuk menentukan sebuah pilihan. Lagipula, egois dalam masalah ini bukanlah solusi yang tepat."


Raģe terdiam, dia memang mendengarkan tapi fokusnya tetap pada rasa manis di lidahnya. Ini adalah pengobatan setelah dirinya melakukan pelatihan tak menyenangkan itu.


"Kau benar. Hanya aku yang bisa melakukannya. Mereka membutuhkan diriku."


Raģe memandang ke kejauhan, dimana ada hutan luas yang membentang lalu perumahan bagi penduduk.


Senyum Clara merekah kala menatap Raģe yang sudah memutuskan pilihan hidupnya. Apa yang akan dia lakukan di masa depan, untuk siapa dan kenapa. Kemudian Clara juga menatap kearah yang sama dengan Raģe.


Aku juga harus memberitahukan pilihanku kepada Yang Mulia. Apa yang harus kulakukan demi menjaga dunia yang indah ini. Tugasku... hanya bisa dilakukan olehku. Serta orang - orang ini membutuhkanku...


"Apa yang ingin anda lakukan? Setidaknya saya bisa menemani anda bersenang - senang sebelum menjadi seorang penasihat kerajaan."


Penawaran yang bagus. Raģe sendiri tidak ada pikiran sampai sejauh itu. Bersenang - senang sebelum kesengsaraan menghampirinya, begitulah Raģe menyebutnya. Dia senang kalau ada yang bisa mengerti dirinya seperti gadis di sebelahnya ini.


"Nanti saja akan kupikirkan. Tapi kau berhutang satu janji ini denganku. Aku harap kau tidak lupa."


"Baiklah." Clara mengangguk paham.


"Clara Scoleths." Panggil Raģe, setelah sedari tadi diam.


"Kenapa?"


"Kelainanku ini juga bisa membuat diriku mengetahui apa yang kau rasakan. Entah itu perasaan senang, sedih, marah, cemburu, dendam ataupun cinta. Apakah kau tahu?"


Clara terhenyak sesaat, kemudian kembali menatap Raģe yang tersenyum dengan sejuta makna. Ah, Clara seharusnya mempunyai intuisi yang lebih kuat jika di hadapannya adalah Raģe. Setidaknya dia harus menjadi tidak terbaca khusus di depannya.


Bukankah dia ini tidak ada bedanya dengan cenayang? Apapun itu... dia ini seharusnya tahu diri 'kan, dengan tidak membaca perasaan dan emosi orang lain.


...Pria ini curang!


TBC


Jangan lupa letakkan like dan komen.


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2