
[James POV]
[3 Tahun Lalu]
Aku sampai saat ini masih tidak paham. Apakah menjadi pria itu berarti tidak boleh melakukan hal - hal selain bermain pedang? Harus selalu membaca buku kekaisaran.
Mengapa saat aku melakukan hal yang kusuka mereka pasti menatapku seolah aku ini adalah orang yang rendah? Aku hanya menanam lavender kesukaan Kak Valen. Lantas mengapa mereka menatapku begitu? Aku tidak menyukainya.
Hari ini, setelah aku selesai dalam pelatihan menjadi Raja. Aku segera berlari menuju taman lavender buatanku. Karena hari ini ada kunjungan Duke Wayne dari Ranunculus. Biasanya kedua anaknya akan ikut bersamanya.
Dan benar saja, seorang anak perempuan yang lebih tua dua tahun dariku. Dengan surai hazel dan mata emasnya. Di sampingnya ada kakak laki - lakinya, mereka terpaut usia 4 tahun.
Aku melambaikan tangan dengan semangat kepada Hellen. Anak perempuan itu juga melambai kembali kepadaku. Hellen segera menghampiriku.
"Bagaimana dengan taman lavender yang kau tanam?" Tanya Hellen.
"Mereka semua sudah mekar, loh. Mau lihat?"
Hellen mengangguk dengan antusias.
Aku pun membawa Hellen menuju taman lavender yang mana kutanam bersama dengan Valentina. Sesekali ketika Kak Raģe datang, dia pun akan membantuku meskipun sambil menggerutu. Haha... aku jadi tertawa kalau ingat wajah masamnya saat itu.
"Wah! Lumayan - lumayan." Hellen mengangguk - anggukkan kepalanya.
Yah, walaupun kami menyebutnya taman lavender. Sebenarnya bunga - bunga lavender tersebut kutanam dalam pot yang panjang. Jumlahnya sekitar 10 pot. Karena banyak, jadi aku, Hellen dan Valentina menyebutnya sebagai taman. Berbeda dengan Kak Raģe yang langsung menyanggah kalau ini adalah taman.
Aku dengan bangga memandang lavender yang bermekaran. Warna ungu nya sangat memukau penglihatan, bahkan aku sendiri betah berlama - lama memandang mereka semua. Lain kali aku akan menanam lavenderku sendiri di halaman istana yang lahannya lebih luas.
"Terima kasih padamu yang pernah membantuku, Hellen." Kataku lagi dengan tulus. Selanjutnya aku akan berterima kasih pada Valentina ketika dia datang.
"Hehe... bukan masalah besar, kok. Aku juga senang pada bunga meskipun lebih suka mawar dan ranunculus."
"Oh ya, James. Apakah kau masih memoles permata - permata untuk dijadikan perhiasan?"
Hm? Mengapa mendadak dia menanyakan ini?
Memang benar aku memoles batu permata lalu menjadikannya sebagai sebuah perhiasan. Tetapi hal itu tidak terlalu kudalami karena aku lebih fokus menanam bunga lavender. Namun bukan berarti aku sudah berhenti membuatnya.
"Masih. Kau mau satu?"
Hellen segera menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku mau kau membuat yang lain. Aku maunya yang dari permata safir. Karena biasanya kau membuat perhiasan dari amethyst. Nanti kuberi permata safirnya, kecil sih... jadi buatlah kalung dari permata yang kuberikan, oke?"
"....." Aku masih diam mematung setelah mendengar permintaannya.
"Tenang saja, setelah kalungnya selesai akan kuberi kau upah."
Ini bukan tentang uang!
"Huft... oke..."
__ADS_1
"Yeay! Kau terbaik, James."
Hellen tersenyum lebar kepadaku. Astaga, ketika Hellen seperti itu dia cantiknya bertambah berkali - kali lipat. Ini membuat jantungku berdebar, wajahku terasa sangat panas saat ini. Ayolah berhenti berdebar, jantung!
...❀...
Aku sedang duduk di sofa kamarku, memandang safir yang diberikan kepadaku oleh Hellen pagi hari ini setelah dia mengajukan permintaan pembuatan perhiasan itu beberapa hari lalu.
Permata yang pas untuk dijadikan mata kalung. Masalahnya adalah, aku membutuhkan perak untuk rantai kalungnya. Sigh... persediaanku cukup tidak yah? Kalau emas aku sudah kehabisan bahan baku.
Aku memutuskan untuk memoles permata lebih dulu. Untuk rantai kalung, kupikir aku akan memakai yang sudah jadi dari kalung lain. Tak apalah, aku masih bisa mengakalinya. Aku tak mau merepotkan Ayah menyangkut hobiku ini.
KRAK!
"Gah!"
Aku mengumpat pelan ketika permata yang sudah kuukir malah pecah. Tapi aku bersyukur juga saat safir tersebut tidak pecah sepenuhnya. Akan tetapi, ada lubang kecil yang terbentuk ditengah permata safir. Astaga, mengapa malah pecah ditengah sih?! Sekarang harus bagaimana?
Saat aku masih frustasi dengan terbentuknya cekungan kecil ditengah permata. Aku melihat kotak kecil, dimana ada permata - permata lain yang kusimpan untuk nanti jika dibutuhkan.
Aku membuka kotak tersebut, disana tidak ada safir sama sekali. Kalau aku menggunakan permata lain seperti azura, akan terlihat sekali kalau itu ditambal. Haish... menyusahkanku saja.
"Hm?"
Pandanganku tertuju pada potongan permata amethyst. Benar juga! Kalau kutambal dengan amethyst, aku punya alibi saat ditanyai oleh Hellen alasan aku memakainya. Kau sangat cerdik diriku!
Terdengar suara helaan nafas dari ambang pintu. Membuatku menoleh sesaat kemudian kembali mengukir amethyst agar bentuknya lebih menarik. Supaya alibiku semakin kuat juga.
"Kapan Kak Raģe datang? Kenapa tidak bersama Valentina? Tidak biasa sekali." Aku menuturkan beberapa pertanyaan pada kakak sepupuku yang sedang mengambil posisi nyaman di sofa sebelahku.
"Aku datang kesini sendirian."
"Hm? Dengan kuda?"
"Iyalah. Masa dengan kereta kuda. Enak saja aku disamakan dengan para anak bangsawan yang manja itu! Aku bisa kabur ke Agapanthus sendiri." Jawab Kak Raģe dengan ketus.
Ouh... sepertinya dia masih tak mau menerima jabatan ayahnya Valentina. Kau aneh sekali Kak. Bisakah kau bersikap lebih dewasa sedikit saja? Usiamu sudah 16 tahun sekarang.
"Seharusnya kau berhenti membuat perhiasan. Bagaimana jika kau diejek oleh teman - temanmu di akademi lagi? Mereka nampaknya lupa kalau kau adalah seorang pewaris tahta." Tutur Kak Raģe, kini nada bicaranya agak lebih bersahabat.
Aku pasrah saja deh soal mereka. Mereka kalau diingatkan jika aku seorang pewaris tahta, kebanyakan dari mereka akan menjawab "kau nanti akan diganti oleh orang lain di masa depan, pasti! Soalnya kau lembek. Tidak seperti diriku yang gagah perkasa!" Dan setelah mendengarnya aku pasti berfikiran untuk menenggelamkan mereka ke dasar laut.
"Ini permintaan seseorang, aku tidak bisa menolaknya." Jawabku.
"Pasti Hellen." Ledek Kak Raģe dari sampingku.
Aku tak merespon apapun, lagipula semua ucapannya benar. Aku tidak bisa mengelak disaat Kak Raģe menebak perasaanku pada Hellen dengan benar dan tepat sasaran.
"Kuharap kau ingat, dia menjadi salah satu calon permaisuri terkuat di Kerajaan Ranunculus. Dan mungkin saja manusia itu akan lebih memilih Hellen dibandingkan Valentina. Itu cuma tebakanku saja."
__ADS_1
Iya. Kau menebak dan kau menjatuhkan harapanku! Kau sudah terlanjur meluluh lantahkan impianku yang bisa menjadi pendamping Hellen.
Aku bersumpah. Saat kau membahas ini, kau menjadi lebih menyebalkan daripada para bangsawan di akademi yang sering mengejekku punya dua gender!
"Pergi saja darisini jika Kakak cuma mau mengejek dan menginjak perasaanku." Aku mendengus kasar.
"Oke."
Sialan! Kenapa tidak daritadi saja, hah?! Memang kesini niatnya cuma mau meledekku saja.
Setelah susah payah mengerjakan permata pesanan Hellen. Itu sudah siap di hari ketiga. Aku menatap puas kalung safir dengan sedikit amethyst di tengahnya. Kalau dia bertanya alasanku menyelipkan amethyst mudah saja bagiku untuk menjawabnya.
Akan kukatakan jika amethyst memang adalah tanda jika perhiasan ini dibuat di Agapanthus. Soalnya Agapanthus 'kan menjadi tempat bagi para permata amethyst.
Hehehe... pokoknya aku mengandalkanmu permata amethyst ku! Bantu aku mencuri hati Hellen.
...❀...
[3 Tahun Kemudian]
Aku tidak percaya. Kegagalan ini sangat membuatku kecewa, sangat. Permata amethyst itu sama sekali tidak berguna!
Aku menatap nanar sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta. Itu adalah pujaan hatiku selama 3 tahun ini, Hellen. Sedang menggandeng tangan Pangeran Mahkota Ranunculus. Argh! Aku kalah saing kalau rivalku adalah dia.
Cih! Lebih baik pergi darisini saja deh. Melihat lavender akan membuatku sedikit terobati, meskipun akan tetap sakit hati. Mungkin ini resiko jika aku menyukai seorang seperti Hellen.
Haish!
"Ah... dia kan..."
Kupandangi seorang gadis bersurai seputih salju yang nampak meninggalkan Valentina dan Pewaris Tahta Vinca berdua saja. Apa gadis itu sengaja untuk mencomblangkan mereka?
Saat kulihat gadis itu lebih teliti lagi, ada sesuatu yang menggantung di lehernya. Sebuah rantai perak, kalung? Aku memicingkan mataku untuk melihatnya lebih jelas.
"Eh? Itukan kalung buatanku!"
Aku meringis pelan saat melihat gadis yang sedang dekat dengan Kak Raģe memakai kalung dengan permata safir di lehernya. Bisa kulihat kalung itu masih sangat bagus, tidak ada perbedaan dari saat aku memberikannya pada Hellen. Yah, Hellen memberikanku harga yang pas untuk jasa pembuatan kalung safir itu.
Jadi, Hellen memintaku membuat kalung itu untuk Clara Scoleths?
Sayang sekali.
Mungkin aku perlu mendiskusikan ini dengan Kak Raģe.
TBC
Jangan lupa tampar aja tombol like nya! Tinggalkan jejak kalian juga. Favoritkan supaya gak ketinggalan update ceritanya!
So, see you in the next chapter ~
__ADS_1