
"Hoy, Meiger. Aku tahu betul jika Clara mencintai dirimu. Namun, sampai kapan itu akan bertahan?"
"....."
Edmond menatap geram Kaisar. Sekarang ini memang benar kalau Meiger posisinya menjadi yang terdepan dibandingkan rival - rivalnya. Tapi benar kata Edmond, sapan kapan dia akan tetap sendirian di depan? Akan selalu ada celah untuk tikungan tajam.
"Menyebalkan. Kandidat terkuat selain dirimu itu adalah Duke Wayne. Di sisi lain ada George, Jean dan sekarang bertambah lagi yaitu Raģe Cheltics. Aku heran. Dengan semua rival hebat itu, kau masih bisa tenang. Aku akui Clara bukan gadis yang mudah oleng sana - sini. Tetapi ketika seorang gadis tidak mendapatkan kepastian dalam jangka waktu yang lama. Dia akan menganggap rasa cintamu menjadi hal yang dibiasakan. Saat itu terjadi, kau akan kalah."
Kaisar tidak berkutik, dia hanya memandang keluar jendela sambil menyangga dagunya malas. Tentu saja sikap acuh Kaisar membuat Edmond geram.
"Aku berbicara kepadamu, Meiger Schubert von Westhley!" Edmond meninggikan suaranya, memanggil nama Kaisar dengan lengkap.
Kaisar mengerutkan keningnya, dia tidak terlalu suka nama itu. Karena itulah dia menyingkat namanya hanya menjadi Meiger Westhley. Sebab nama lengkapnya tidak begitu ia sukai karena kenangan dalam nama itu.
Edmond mendelik, ternyata Kaisar tidak tergerak juga bahkan setelah mendengar nama lengkapnya dipanggil. Pria ini memang sudah dewasa. Dia sudah bisa mengendalikan emosi dan sikapnya sendiri. Perkembangan yang bagus.
"Huh! Pergilah dan temui Clara. Sebelum kau menyesal."
Edmond menghela nafasnya, merasa pasrah dengan sikap keras kepalanya Kaisar. Kalau dia bukan Kaisar, Edmond sudah sejak awal menyeretnya untuk melakukan pernyataan.
Tapi sejujurnya, sebagian besar pria cenderung mengungkapkan rasa cintanya melalui tindakan. Namun hal ini takkan mempan untuk gadis tak peka seperti Clara. Mau tak mau harus dilakukan, sebelum kau kalah dari orang lain.
"Hei, apa kau pernah menciumnya?" Tanya Edmond jahil, dia menoel pundak Kaisar dari belakang.
"Pernah."
"Ouh... pernah..." Edmond diam sesaat, menelaah setiap kalimat yang dikatakan Kaisar. Ketika sadar, Edmond yang terkejut menatap Kaisar.
"Pernah?!"
"....."
"Dan kau belum menikahinya?"
Kaisar masih enggan menjawab.
Edmond makin gusar, padahal sama - sama ciuman pertama tapi mereka tidak pernah melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Lagipula dalam aturan tertulis di Hortensia, tidak ada keharusan jika pendamping Kaisar haruslah dari kalangan bangsawan.
Edmon selalu dibuat bingung sendiri dengan tingkah Kaisar. Tidak memperbolehkan Clara dekat dengan pria namun di sisi lain dia belum menyatakan perasaannya. Itu membuat celah yang bagus untuk para rivalnya.
Lagipula, cewek seperti Clara itu. Mau diberi kode sekeras apapun, dia akan gagal paham.
"Jika kau kalah. Jangan salahkan aku. Itu salahmu sendiri yang sampai sekarang tidak mau bertindak."
Edmond menghantamkan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Baru sekarang ini dia dipusingkan oleh masalah yang sebenarnya tidak perlu ia pikirkan sama sekali. Hubungannya dengan Valentina sejauh ini lancar - lancar saja. Tetapi sahabatnya ini...!
"Bukannya aku tak mau..."
Setelah lama ruangan dilingkupi keheningan. Kaisar angkat bicara, dia menggantungkan kalimatnya. Namun Edmond tidak ada niatan untuk menginterupsi Meiger. Biarkan pria itu bercerita lebih banyak padanya.
Kaisar semakin menatap pada fomalhaut yang bersinar terang di langit malam, hanya sendirian. "...Aku hanya tidak bisa."
"....."
Edmond mendadak bungkam. Melihat wajah sendu sahabatnya yang sama sekali tak pernah diperlihatkannya selama ini. Sesuatu yang salah mungkin sedang terjadi diantara mereka berdua.
Sepertinya campur tangan Edmond berakhir sampai sini.
...❀...
Malam di Agapanthus terasa dingin bagi Clara. Tidak ada kehangatan disini, Clara ingin sekali bertemu dengan Kaisar sekarang ini. Tetapi sekarang sudah malam, dia malas kemana - mana.
"Lebih baik aku tidur saja."
__ADS_1
"Rara! Ayo tidur bersamaku!"
Terdengar rengekan dari belakang Clara. Ada Hellen yang sudah duduk di kasurnya, dia menepuk - nepuk selimut meminta Clara mendekat.
Awalnya Hellen memang disediakan kamar sendiri. Tetapi karena ada Clara, Hellen merengek pada kakaknya sendiri untuk bisa tidur sekamar dengan Clara. Dan selanjutnya inilah yang terjadi.
"Baiklah, aku juga sudah mengantuk."
.
.
Pagi telah tiba. Sinar mentari telah menyinari kamar yang ditempati Clara dan Hellen. Pintu kamar tersebut terbuka, memperlihatkan seorang pria dewasa dengan pakaian kebesarannya. Menatap cemburu pada adiknya sendiri.
Hendrick tentu saja akan cemburu. Hellen tertidur sambil memeluk Clara sampai gadis itu tidak bisa banyak bergerak dan hanya bisa tidur terlentang supaya Hellen nyaman.
"Kau perhatian dengan orang lain. Lalu kenapa tidak bisa perhatian kepada dirimu sendiri? Kau tak pernah menjaga diri sendiri, membuat orang lain khawatir saja." Hendrick menggumam.
"Allen... bangun. Sudah pagi."
Duke Wayne mendongak ketika mendengar suara lirih Clara yang baru bangun tidur. Dia menepuk pelan pundak Hellen yang menimpa lehernya. Sungguh, posisi tidur yang sangat menyiksakan bagi Clara.
Clara sendiri tidak sadar jika Duke Wayne sudah berdiri diambang pintu sambil bersidekap dada. Sibuk memperhatikan cara Clara dalam membangunkan adiknya.
Clara hanya menepuk pelan dan bersuara kecil karena nyawanya belum terkumpul. Belum lagi tubuh Hellen yang menindih setengah dari badan Clara yang mungil. Gadis itu tampak tersiksa di pagi hari yang ceria ini.
Melihat Hellen yang belum bangun, dan Clara yang makin tersiksa. Duke Wayne menghela napas dengan gusar, melangkah menghampiri kasur untuk membangunkan Hellen.
"Ek..! Tuan Hendrick..." Cicit Clara, tak terduga sekali pagi - pagi begini Duke Wayne sudah ada di kamar mereka. Tapi Clara sedikit terbantu sebab Duke Wayne berhasil membangunkan Hellen.
Hellen melenguh pelan, bukannya bangun Hellen malah semakin mengeratkan pelukannya pada leher Clara. Pergerakan Clara semakin terbatas. Dilihat dari luar Hellen sangat ideal bahkan ramping, tapi ternyata tubuhnya sangat membebani.
Apa mungkin ini karena badanku yang kecil? Sudah saatnya aku makan banyak. Saat Avrim masih ada dia selalu memberikanku porsi untuk dua orang sekaligus!
"Kenapa kau? Mendadak berhenti?" Tanya Duke Wayne dari sisi lain kasur. Dia masih mencoba membangunkan Hellen yang ternyata sulit untuk sekedar membuka mata.
Clara tersenyum tipis pada Duke Wayne, "Saya hanya mengingat seseorang, itu saja. Tuan Hendrick tidak perlu khawatir."
"Begitu."
Duke Wayne menepuk pundak Hellen.
GREP
"Heh?"
SRET
"Argh!"
Hellen menyentuh tangan kakaknya di pundaknya dengan tangannya yang satunya. Dengan cepat dia mendudukkan tubuhnya, lalu menarik tangan Duke Wayne sampai tubuhnya tertarik ke kasur. Dan dalam sekejap posisi Hellen tergantikan oleh Duke Wayne begitu saja.
"Sampai jumpa di meja makan Kakak~"
Hellen dengan jahilnya meninggalkan Clara dan kakaknya begitu saja tanpa membantu. Gadis itu malah menutup pintunya biar semakin seru.
"Sial. Aku ditipu olehnya, ternyata sejak tadi dia sudah bangun." Duke Wayne menggeram kesal. Sepertinya dia akan membuat Hellen batal bertunangan dengan Rovers jika sikapnya begini.
"Ugh... Tuan Hendrick. Bisakah anda turun dari saya?"
Ketika mendengar lenguhan pelan dari bawahnya, Duke Wayne menatap kearah bawahnya. Dimana ada wajah tersiksa Clara karena lagi - lagi lehernya tertimpa beban yang berat.
Duke Wayne baru sadar jika saat ini posisi mereka sangat ambigu. Kalau ketahuan orang lain di Kerajaan Agapanthus ini, sudah pasti Duke Wayne diprotes habis - habisan. Mengambil kesempatan dalam kesempitan namanya.
__ADS_1
Karena tak kunjung turun, Clara sedikit meronta. Akhirnya Duke Wayne kembali tersadarkan, dia segera mengangkat tubuhnya. Permata safir itu sejenak memabukkan untuk dilihat. Rasanya sangat menakjubkan melihat safir dari seorang yang bukan Westhley.
"Kenapa kau juga tidak bangun?"
Saat Duke Wayne sudah memposisikan dirinya duduk di sebrang Clara. Namun gadis itu masih dalam posisi yang sama, terlentang di tempat sama. Seolah masih ada beban di lehernya.
"Hari ini adalah hari terakhirmu di Agapanthus. Seharusnya kau lebih disiplin." Ucap Duke Wayne asal.
Bukan tanpa sebab Duke Wayne membangunkan adiknya dan Clara. Lagipula hari ini urusannya dengan sang Raja juga telah usai. Dia harus membawa Hellen serta Rovers kembali ke Ranunculus. Sedangkan Clara akan ikut bersama Kaisar dan Jean.
Mendengar itu ada rasa tidak rela dalam hatinya. Jadi sebelum gadis itu pergi setelah sarapan. Dia berfikir untuk menemani Clara sampai waktu sarapan dimulai.
"Saya tahu. Tuan Edmond sudah mengatakannya. Walaupun dia sendiri masih betah disini dan akan pulang lebih lambat." Ucap Clara, dia memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya kedalam selimut yang lembut.
"Terus terang saja, dia 'kan ke Vinca. Sedang dirimu dan Kaisar ke Hortensia. Jelas berbeda. Tidak masalah kalau kalian berbeda waktu perginya."
"Bukan begitu. Tuan Edmond 'kan sering merusuh di Hortensia dan mengganggu kedamaian istana kekaisaran Hortensia. Jadi, rasanya aneh saja saat dia kali ini mengambil jalur berbeda."
Duke Wayne hanya ber'oh ria saja. Enggan membahas Edmond yang ia ketahui sedang dalam misi cintanya. Bagaimana ia bisa tahu? Duke Wayne sudah berulang kali memergoki kebersamaan mereka berdua selama di Agapanthus. Dari gelagatnya juga sudah jelas. Apalagi Valentina tidaklah sepolos Hellen terkait cinta, jadi perjuangannya terasa mulus - mulus saja.
"Ngomong - ngomong, akhir - akhir ini kau dekat dengan Raģe Cheltics bukan?"
"Iya..."
"Mendadak kau dekat dengannya. Ada hubungan apa kalian berdua?" Duke Wayne mendengus kesal, nada suaranya begitu menyiratkan ketidak sukaan.
"Teman."
Iya, kau menganggapnya teman. Tapi dia? Pikir Duke Wayne sambil menahan kekesalannya yang sudah lama terpendam.
Selama di Agapanthus, dia kekurangan waktu dengan Clara. Karena urusannya disini serta Clara yang memang lebih sering bersama Raģe Cheltics. Itu bukanlah berita menyenangkan saat Raģe mulai tertarik pada Clara. Bahkan kejadian kemarin membuat Duke Wayne sadar jika Raģe bukan tipe lamban, dia gerak cepat.
Duke Wayne mengarahkan pandangannya ke samping Clara, dimana ada meja setinggi kasur. Disana tergeletak sebuah jepit giok berbentuk bunga ranunculus, pemberiannya sendiri. Tidak Duke Wayne kira jika Clara masih memakainya sampai sekarang. Atau mungkin karena dia tak punya perhiasan lain.
"Terima kasih kau menjaga hadiahku."
Clara mendadak membuka matanya, melirik Duke Wayne yang menatap ke pintu kamar. Lalu ia menoleh pada jepit giok yang ia simpan diatas meja. Karena tidak mungkin dipakai saat tidur, nanti bangunnya pasti sakit kepala.
"Itu adalah hadiah yang indah. Kalau tidak dijaga 'kan sayang." Jawab Clara asal, dia tersenyum merekah pada Duke Wayne. Asal kalian tahu saja kalau Clara masih berbaring karena malas bergerak.
"Sayang? Kepada siapa? Aku?"
Clara yang niat awalnya bercanda, harus menelan kata - katanya sendiri. Duke Wayne malah menggodanya dengan senyuman menawan yang seharusnya hanya bisa didapat dari para pemeran utama pria saja. Nyatanya pemeran figuran ini tidak kalah ketampanannya dari mereka berlima.
Bukankah aku pernah berfikiran jika dia selalu lembut kepadaku. Aku bisa saja meleleh dan berujung baper. Tapi karena hatiku sudah untuk Yang Mulia. Rasanya sekarang biasa saja. Akan tetapi... sampai kapan aku bisa bertahan dengan perasaan yang sama pada Yang Mulia?
Karena Clara yang tiba - tiba murung, Duke Wayne jadi jengah sendiri. Niat hati semakin mendekatkan diri pada Clara. Namun gadis itu malah menjadi murung tanpa sebab. Duke Wayne mengutuk Hellen karena membuatnya di posisi serba salah begini.
"Iya. Saya sayang pada Tuan Hendrick."
Blush...!
Lama Clara diam, namun dia kembali sadar dan menebar senyuman penuh pesona sambil membalikkan godaan Duke Wayne. Anggap saja sebagai candaan pagi sebelum sarapan.
Clara segera bangun dari kasurnya untuk membasuh diri. Meninggalkan Duke Wayne yang belum beranjak dari kasur, malah condong ke tak bergeming. Clara membiarkan saja, mungkin Duke Wayne masih memikirkan masalah kerja rodi nya di kediaman Wayne.
Setelah Clara pergi. Duke Wayne masih duduk diatas kasur. Dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya karena tersipu. Seharusnya dia tahu itu cuma candaan Clara saja, namun kalimat itu sudah terlanjur menjadi ingatan manis bagi Duke Wayne.
"Sial."
TBC
Jangan lupa letakkan like dan komen.
__ADS_1
So, see you in the next chapter~