The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 117 - Adik & Kakak


__ADS_3

"Kita harus keluar dari hutan ini, Valentina."


"Apa?! Dan meninggalkan Clara?!" Valentina mulai berang.


James menjadi bimbang. Dia tahu seberapa kuatnya Clara, dan James yakin Clara takkan mati semudah itu. Tapi jika Valentina sudah mendesaknya, yang James perlu lakukan ialah mengikuti keinginannya.


"Kabutnya mulai menghitam. Bagaimana kau bisa keluar dari hutan sendirian? Yang perlu dikhawatirkan itu kau!"


"Tapi tetap saja! Apa kau tidak melihat Kak Rara-mu sebagai perempuan?! Ada kalanya dia merasa terdesak!"


James selalu memberi alasan, sementara Valentina juga tidak mau kalah. Sebagai orang yang lebih muda, entah kenapa James yang harus berpikiran dewasa sekarang ini.


Tapi kenapa kabutnya berubah warna seperti itu? Apakah karena sihir?


"Yo? Butuh bantuan?"


James dan Valentina menatap asal suara. James merasa de javu dengan kejadian ini, sebab saat ia dan sepupunya baru memasuki gerbang Ranunculus, pria ini muncul sebagai penyelamat mereka.


"Ide bagus. Terima kasih, Pangeran Ranunculus."


James mendorong Valentina hingga lebih dekat dengan kuda yang ditunggangi Rovers. Sebagai pangeran, tampilannya saat ini seperti seorang gelandangan. Meski kelihatannya tetap tampan.


Setelah memastikan bahwa dia adalah Rovers asli bukan musuh atau semacamnya. James berlari membelah kabut hitam. Persetan dengan apa yang ia lihat, intuisinya berkata dia harus berlari kearah mana.


Sepeninggal James, Valentina merasa sedikit lega karena James akhirnya mau menyusul Clara. Valentina menoleh Rovers sejenak.


"Apakah Pangeran ada urusan disini?"


"Hm? Yah... seseorang memintaku mencarimu setelah kau kabur." Rovers tersenyum kaku, mengingat betapa menyeramkannya Grand Duke Harold saat tahu Valentina ada di Ranunculus tapi batang hidungnya tak terlihat.


"Terima kasih sudah membantu kami." Valentina tersenyum lembut.


"He? Itu adalah tanggung jawabku untuk melindungi rakyatku. Memang masih calon. Ayo naik, kita harus segera meninggalkan tempat ini." Ajak Rovers.


"Pangeran tidak bertanya kemana James pergi?"


Rovers tersenyum tipis.


"Dia pasti sedang melakukan hal yang penting, bukan? Berharap saja bahwa dia akan kembali."


"Ouh... ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Nada Valentina mulai berubah serius, begitu pula cara ia memandang Rovers.


"Apa itu?"


"Duke Wayne... beliau tewas dalam pertarungan dengan Raja Freesia."


"?!"


...****...


James terus melangkahkan kakinya untuk memasuki hutan lebih dalam. Kini pakaiannya sudah koyak karena tergores ranting serta batu. Namun apa pedulinya, dia harus mencari Clara dan membawanya pergi keluar hutan.


"Ini menyebalkan."


"Kak Rara!"


Pandangan James menyapu sekitarnya. Meski dominan hitam dan gelap, samar - samar dia masih mampu menangkap siluet pohon serta semak belukar. Ia harap Clara bisa segera ditemukan. Bukan karena dia takut, James hanya merasa janggal dan tertekan dengan aura aneh yang dihasilkan kabut hitam tersebut.


"KAK RARAー!"


SRET BRUK!


James tersandung sesuatu dan jatuh tersungkur. Dia tidak bisa merasa kesal karena yang salah adalah dia sendiri sebab tak fokus. James mengubah posisinya menjadi duduk, dia merasakan lukanya berdenyut. Itu menyakitkan karena meninggalkan bekas yang dalam.

__ADS_1


"Ugh..."


Heh?!


James terkejut bukan main saat dia mendengar lenguhan seseorang. Itu seorang wanita. Dia hanya berharap itu bukan hantu atau penunggu hutan ini.


Setelah beberapa lama terdiam, James tersadar dan kini bisa melihat lebih jelas apa yang membuatnya sampai tersandung. Seorang pria tua dengan pakaian kekaisaran Hortensia.


"Eh? Bagaimana bisa bangsawan Hortensia berada di pedalaman Ranunculus...?"


James terus memandangi sekitarnya, apabila ada suatu petunjuk yang bisa membuatnya mengerti dengan situasi ini. Mustahil rasanya bangsawan dari wilayah Barat mendadak ada disini dengan tampilan mengenaskan.


DEG


"Kak Rara..."


Melihat sosok yang dikenalinya tergeletak tak jauh dari bangsawan Hortensia tersebut, James langsung berlari kearahnya dengan cepat.


"Kak Rara! Kak Rara!" Panggil James dengan suara keras.


Tapi sayang, Clara tak menunjukkan pergerakan apapun meski suara James begitu mengganggu pendengaran. Bahkan bangsawan Hortensia itupun melenguh pelan dan perlahan kesadarannya kembali.


"Dia sudah siuman... Kak Rara juga harus segera bangun! Kak Rara tolong dengarkan aku!" Teriak James lagi.


"...James...?"


"Huh? Kak Rara! Iya ini aku..."


James nyaris menangis haru karena mendengar suara Clara meski sangat kecil seperti sedang berbisik. James membawa kepala Clara ke pangkuannya dan mengambil kantung berisi air yang dibawanya dari Agapanthus.


James tersentak pelan saat tangan Clara yang gemetaran menyentuh wajahnya. Dia sendiri cukup kaget dan mendadak kaku, bahkan kantung air itupun sekarang tengah bergantung di udara.


"Mirye..."


Huh? Mirye? Siapa itu?


Setelah itu, Clara malah larut dalam isak tangisnya sendiri. Melupakan bahwa orang yang sedang memangkunya adalah James, bukan adik yang ia igaukan.


"Tapi, jangan membenci Kakak, oke?"


James masih tak berkutik, kata - kata barusan agak mengena di hatinya ketika Clara mengucapkannya sambil menangis. Jika Clara sedari tadi menyebut dirinya kakak, itu berarti Mirye adalah adiknya.


Jari - jemari Clara yang lembut bergerak mengusap pipi James. Tentunya James makin terkejut, dia masih belum sadar dan sekarang tangan Clara tak bisa dikondisikan.


"Jangan meninggalkan Kakak juga. Kakak tidak mau sendirian di dunia ini, dunia yang tak ada dirimu di dalamnya. Aku ingin kembali padamu, Mirye..."


Kalimat demi kalimat yang keluar dari bibirnya membuat James terdiam kaku. Aneh. Dunia mana yang Clara maksud? Jadi ini dunia yang berbeda dari yang ditempati adiknya atau apa? James kurang menangkap setiap maknanya.


Yang bisa dimengerti James sekarang ialah penyesalan Clara karena telah meninggalkan adiknya sendirian entah dimana. Hal yang akan membuat sang adik mungkin membencinya, karena itu Clara terus memohon dan memohon.


James menangkup tangan kiri Clara yang menempel pada wajahnya, dia memegangnya dengan erat meskipun tahu pemiliknya sangat rapuh saat ini. Namun melihat Clara terus menangis sambil memohon agar tak dibenci membuatnya berfikir harus melakukan sesuatu.


"Jangan khawatir, Kak Rara. Aku takkan membencimu, apalagi meninggalkanmu..."


Ekspresi Clara berubah bahagi, meski warna wajahnya tetap pucat. Gadis itu mengukir senyum tipis dan perlahan memejamkan kedua matanya kembali. Walaupun begitu, James tak berniat melepaskan genggaman tangannya pada tangan Clara yang masih menempel di wajahnya.


...****...


Kelopak mata Clara yang terus terpejam kini mulai terbuka perlahan - lahan. Gadis itu dengan tatapan kosong memandangi sekitar demi menemukan dirinya yang berada dalam kabut hitam.


Duke Nielsen?!


Karena terkejut, Clara mendadak duduk dan mencari ke sekitar dimana Duke Nielsen tergeletak setelah ia serap sihir hitam dalam dirinya. Clara menghela napas lega ketika Duke Nielsen masih di sampingnya.

__ADS_1


Belum bangun juga?


"Sudah bangun?"


Di saat itulah, Clara menyadari ada sosok lain bersama mereka. Clara nyaris menendang orang itu kalau dia tak menahannya. Kehadiran sosok lain setelah bangun dari pingsan adalah yang terburuk, Clara harus curiga padanya.


"Ayolah, Kak Rara. Kau melupakan adikmu sendiri?"


Are? James, kah?


"Maaf James. Aku tidak tahu itu kau, kabutnya terlalu tebal." Clara mengusap tengkuknya yang tak gatal.


James hanya tersenyum menanggapinya. Sejujurnya jarak pandangnya tidak terlalu bagus dan jelas sehingga dia sering melewatkan banyak hal karena tak begitu nampak. Mungkin dia sedang ditimpa keberuntungan saat mencari Clara.


"Mau minum dulu?"


"Iya."


Aku tak mau terkena dehidrasi.


Clara mengambil kantung air dari tangan James. Membuka penutupnya kemudian meneguk isinya. Clara agak heran, James sedikit lebih pendiam dari biasanya hari ini.


"Kak Rara."


"Hm? Iya? Kenapa?"


"Siapa itu Mirye?"


He? Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh saat hilang kesadaran?


Clara menyimpan kantung air ke sampingnya. Dia mulai memainkan jari - jari tangannya. Clara masih bingung harus memberitahu James atau tidak mengenai Mirye.


"Mirye itu adikku. Satu - satunya keluarga yang kupunya. Jadi, anak itu berharga untukku."


Setelah lama memutuskan, Clara memilih untuk memberitahukannya. Lagipula takkan ada seorangpun yang mengetahui identitas Mirye. Sebab mereka hidup di dunia yang berbeda.


"Jadi dia adikmu yang asli, yah..."


James nampak murung, dia menundukkan kepalanya. Berusaha menyembunyikan wajah sedih dan kecewa yang tercetak jelas. Namun sebuah tangan kurus mencapai puncak kepalanya dan mulai mengusapnya lembut.


James benci rasa hangat ini. Awalnya dia kira Clara tidak mempunyai adik karena memaksa memanggilnya sebagai kakak. Ia merasa jadi pihak yang dikhianati sekarang ini.


"Berhentilah bersikap baik kepada semua orang..." Gumamnya.


"Hm?"


James menampik tangan Clara cukup keras hingga gadis itu meringis pelan. Clara menatapnya bingung, namun James semakin berang sekarang.


"Kenapa James?" Tanya Clara dengan khawatir.


"Sudah kubilang berhentilah bersikap baik! Aku sama sekali tidak suka itu. Aku benci padamu! Kau memang bukan kakakku, tapi kenapa tidak bilang dari awal kau punya adik kandung..."


Melihat James yang tampak putus asa, membuat Clara jadi serba salah. Mungkin memang dirinya tak perlu menceritakan tentang Mirye kepadanya.


"Kau juga hartaku."


"Huh?"


James terkesiap. Kepalanya membentur sesuatu yang lembut. Sebagian pandangannya tertutupi oleh surai seputih salju milik Clara. James menggeram kesal, rasa hangat ini terlalu nyaman untuk disia - siakan.


Jemari James mengapit gaun Clara. Sungguh, dalam hatinya dia tak berani memeluk lawan jenisnya sendiri di usianya yang sudah remaja ini. Rasanya sedikit berbeda ketika Valentina melakukannya saat mereka masih anak - anak.


"Tapi, Kak Rara adalah kakakku."

__ADS_1


TBC


Like + Komen. So, see you in the next chapter~


__ADS_2