The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 25 - Terus Berlanjut


__ADS_3

Clara dan Duke Wayne duduk di dalam kereta kuda. Mereka berdua terlihat sama - sama enggan berbicara, apalagi hanya sekedar melirik.


Meski Clara yakin kalau yang membuat Duke Wayne diam padanya bukan karena kejadian tadi pagi. Melainkan masalah yang membuat dirinya harus pergi ke istana.


Tidak biasanya dia tidak mengejekku. Kalau begini rasanya malah sangat sepiーekhem! Ini tidak seperti aku suka ketika aku diejek, ya! Aku bukan masokis!


Clara menepis segala macam pikiran buruk yang menerpanya. Dia sedang sangat malas untuk sekedar menanyakan kabar pria tua itu, karena selama ini mereka kurang berkomunikasi.


"Kuharap semuanya akan tetap sama. Bahkan setelah rahasiamu terbongkar."


Duke Wayne tiba - tiba memulai percakapan. Itu membuat Clara menjadi tidak tahu kemana arah pembicaraan ini karena otaknya sempit.


"Ini tentang masalah enam tahun yang lalu." Seperti bisa membaca pikiran Clara, Duke Wayne kembali angkat bicara.


"Begitu. Saya yakin kalau hal ini malah akan membuat gempar sang Raja."


"Apa yang kau bicarakan? Dia sudah tahu siapa kau yang sebenarnya. Yang dia ingin tanyakan mungkin soal Ayahnya."


Alis Clara menyatu.


"Ayah Yang Mulia Raja juga ikut menyelamatkan saya? Anda mau bilang itu, bukan?"


"Heeh... kau melupakan banyak hal. Bahkan yang penting pun dilupakan."


Clara bungkam. Dia memilih untuk tetap diam dan tak berkomentar apapun menyangkut masa lalu Clara Scoleths. Lagipula dirinya bukanlah Clara yang asli, jadi Clara tak menggubris lebih jauh semua fakta itu.


Aku ingin hidup normal, apa salahnya? Yang ingin kuhindari hanyalah ending hitam kelam itu. Mengapa semuanya menjadi sangat rumit?


Beberapa jam kemudian, kereta mereka sampai di halaman istana. Duke Wayne keluar lebih dulu dan diikuti Clara setelahnya.


Clara serta Duke Wayne sampai di depan istana Ranunculus. Mereka dikawal beberapa prajurit untuk masuk ke aula. Masuk ke aula, ada sang Raja dan Grand Duke Harold.


Ketika sudah memasuki aula, prajurit - prajurit itu membiarkan empat orang tersisa di dalam aula.


"Salam sejahtera untuk Raja Ranunculus." Clara menunduk memberi hormat, sementara Duke Wayne hanya acuh saja menghadapi juniornya itu.


"Ada apa kau memintaku datang kemari?" Tanya Duke Wayne dengan nada kesal.

__ADS_1


Sementara Clara hanya diam saja, dia masih memikirkan pertengkarannya dengan Hellen pagi ini. Tidak mungkin baginya untuk fokus pada percakapan ini.


Haruskah aku meminta maaf lagi? Bagaimana kalau Hendrick mengomeliku setelahnya.


"Nona Scoleths."


"Ah! Ya!"


Clara yang sedang termenung mendengar namanya dipanggil otomatis menyahutnya. Hanya saja suara Clara terlalu keras, padahal yang memanggilnya adalah seorang penguasa.


"Ma..maaf, Yang Mulia." Clara lagi - lagi menundukkan dirinya.


"Tidak masalah. Kalian kupanggil kesini untuk menceritakan kepadaku kronologi detailnya peristiwa enam tahun lalu."


Clara tercengang.


Duke Wayne menautkan alisnya, nampak enggan untuk membuka mulut.


"Mengapa kau perlu tahu?" Tantang Duke Wayne.


"Jangan berteriak di depanku, Frederick Wayne. Aku adalah penguasa Ranunculus. Apa kau berfikir hanya karena kau adalah seniorku di lapangan tanding, kau bisa bersikap seenaknya?"


"Lalu... mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?" Mata sang Raja menyipit.


Duke Wayne bungkam.


Clara yang ada di belakang Duke Wayne mulai eror otaknya. Ini adalah kali pertama dirinya berbincang langsung dengan Raja Ranunculus. Clara hanya tak tahu harus bersikap bagaimana.


"Lalu kau... Clara Scoleths."


Clara menatap sang Raja.


"Bisa kau menceritakan sesuatu tentang masalah enam tahun lalu?"


Clara reflek memegangi kepalanya. "Maafkan Hamba, Yang Mulia. Akan tetapi, Hamba tidak mengingat apapun yang terjadi di hari itu."


"Nona Scoleths tolong berikan kami jawaban selain itu." Desak Grand Duke Harold.

__ADS_1


"Sudah dia katakan, bukan? Dia tidak ingat! Jangan memaksa dia untuk mengatakan hal yang tidak ia ketahui." Duke Wayne mengancam kedua orang di depannya.


Dia tidak peduli kalau salah satu dari mereka punya kekuasaan melebihi dirinya. Duke Wayne hanya melakukan perintah seseorang untuk melindungi Clara Scoleths.


"Bicaramu mulai lancang, Aku tahu kau adalah orang yang menjadi satu - satunya kepercayaan Ayahku. Tapi, beginikah kau memperlakukan penerusnya?"


Suara Raja bergema di aula.


Tangan Clara yang satu lagi mencengkeram dadanya. Ada hawa yang tidak enak masuk ke dalam tubuhnya. Baru kali ini Clara merasakan yang sekuat ini.


Ukh! Aku tidak kuat menahan yang sebesar ini.


"Baiklah! Ayahmu meninggal karena ditikam oleh Raja Freesia saat ini. Tepat enam tahun yang lalu di saat aku dan Ayahmu berhasil menyelamatkan anak ini dari sangkar emas. Kami dikepung dan Ayahmu menjadi korban tak lama setelah pengepungan itu. Sekarang, puas dengan jawabanku?"


Semuanya terdiam.


Raja sedang memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Duke Wayne. Sementara Grand Duke Harold hanya melihat kearah Clara.


"Nona Scoleths, apa Nona baik - baik saja?"


Benar, Grand Duke Harold menangkap gelagat aneh Clara yang mencengkeram dadanya sendiri dan wajahnya seperti merasa kesakitan yang amat sangat.


Setelah satu pertanyaan dari Grand Duke Harold. Anehnya, hawa misterius yang memaksa masuk ke tubuh Clara berhenti. Clara menatap Grand Duke Harold.


"Saya sudah merasa baikan. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya."


Duke Wayne mengutip pembicaraan Grand Duke Harold dan Clara. Ia mulai khawatir dengan imbas yang akan datang jika Clara terlalu lama tinggal di kediamannya.


"Sepertinya aku harus mengirim dia jauh dari jangkauan Freesia." Gumam Duke Wayne.


"Huft... karena aku belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, aku yakin kau masih menyembunyikan sesuatu." Raja menatap tajam Duke Wayne.


"Baiklah, kalian boleh meninggalkan tempat ini."


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2