
Di bawah langit malam tanpa rembulan. Seorang pria tengah berlari dengan tergesa - gesa. Napasnya memburu. Dia harus keluar dari tempat mengerikan ini, setidaknya dia harus bisa sampai ke wilayah putih yang tak ada penghuninya.
Setelah melihat banyaknya kematian serta seseorang yang tidak ia sadari bahwa orang tersebut berpotensi sebagai dalang dari segala kejanggalan yang ada di Benua Herbras.
George mulai berkeringat dingin ketika dirinya mengingat tubuh Jean yang terbujur kaku yang kemudian berubah menjadi serpihan bunga, menyatu dengan Hortensia.
Kabut hitam ini juga mulai George curigai. Pasalnya, tekanan dari kabut hitam ini sangat besar hingga membuatnya sesak napas. Ia juga membutuhkan lebih banyak oksigen saat berlari, sayangnya malah kabut hitam itu yang terhirup. Tentu saja dadanya semakin sesak, seolah dipenuhi gumpalan asap.
"Aku harus memberitahu Clara secepatnya!"
"Kenapa dia harus tahu?"
DEG
George mati langkah saat telinganya kembali mendengar suara yang sama dengan si pembunuh yang hampir membantai seluruh penjaga istana.
"Kenapa kau masih hidup? Kupikir kau hanya seorang penyihir dalam legenda sekarang..." George bertanya - tanya.
Sejujurnya dia enggan berbincang dengan pria sinting di hadapannya ini. Namun jika George belum bisa membunuhnya, maka masih jauh baginya untuk bisa bertemu Clara.
Ditambah pria yang berhadapan dengannya ini bukanlah manusia sembarangan. Dia pernah melihat figur pria ini. Hanya sekelebat dalam pikirannya, saat ia kehilangan kendali dan malah berubah menjadi senjata sepenuhnya.
Pria ini menghampirinya dan mengulurkan tangannya. Berkata bahwa dia akan memberikan George kekuatan hebat dalam sekejap. George yang sedang terpojok tanpa pikir panjang langsung menerimanya, dia lupa terhadap konsekuensi yang telah pria ini katakan.
"Bagaimana rasanya? Meminjam kekuatan seseorang dalam waktu yang lama. Apakah kau sekarang merasakan apa yang gadis itu rasakan?" Tanya pria itu lagi dengan nada menantang.
George diam tertunduk, rasanya sakit sekali saat berhadapan langsung dengannya. George tidak yakin apakah perkiraannya tentang identitas pria ini benar atau salah. Yang George rasakan hanyalah rasa sesak tak terhingga di dadanya. Ia harap jantungnya terus berdetak.
"Apakah memang semenyakitkan ini?" Tanya George dengan suara lemah.
"Tidak juga. Kondisi itu hanya terjadi ketika tubuhmu menarik sihir hitam di sekitar. Aku tak tahu persis apa yang kau lakukan pada mereka di dalam sana."
Saat aku pingsan tadi. Kukira dia akan membunuhku dan pergi ke wilayah Ranunculus.
"Aku takkan kemana - mana. Sebelum semua yang kukeluarkan kembali lagi kepadaku."
George sedikit terkejut saat pria itu berhasil mengetahui apa yang dipikirkannya. Apa ekspresi wajahnya sangat mudah untuk dibaca? Namun segera George bersikap normal kembali. Tak ada gunanya merasa terkejut atas setiap perilaku diluar nalar pria ini.
"Sihir hitam maksudmu?"
"Mungkin... kalian menamakannya sihir hitam, yah?"
Ternyata benar! Orang sinting ini yang membantuku di saat - saat yang genting tempo hari.
"Apa kau memang tidak mati sejak awal?"
Pria itu menatap sinis George. Surainya yang berwarna emas bergerak mendayu saat dia menggerakkan kepalanya perlahan. Ia membuka lebar kedua tangannya sembari berekspresi begitu bangga.
"Manusia mana yang tidak mati? Tidak ada yang namanya abadi di dunia ini." Pria itu berkata dengan lirih diakhir kalimatnya. "Bahkan Zavius pun hidup bukan dengan artian hidup yang sebenarnya."
"Jadi, dengan sihir hitam pun kau tidak bisa menjadi makhluk abadi?" George mengangkat sebelah alisnya.
"Hal yang mustahil untuk dilakukan. Sehebat - hebatnya sihir hitam itu, dia tak bisa mengubah takdir Tuhan mengenai kematian." Pria itu mengangkat kedua bahunya dengan santai.
Mengapa sejak tadi pria ini berkata seolah sihir hitam bukanlah objek melainkan orang ketiga yang sedang kami diskusikan?
"Apakah kau penasaran?"
"Huh?" George mendadak tidak paham.
"Tentang kekuatan sebenarnya sihir hitam ini. Mungkin kau belum menyadarinya, tapi aku akan berbaik hati memberitahukannya padamu."
"Berhentilah berbicara omong kosong!"
Pria itu tersenyum lebar.
__ADS_1
"Dia akan menutupi keberadaan mentari dan rembulan. Kau seharusnya sadar, bukan? Sekarang ini sudah waktunya matahari datang dan menyinari dunia."
"?!"
George mendongakkan wajahnya dengan cepat untuk menatap langit yang tetap berwarna hitam pekat. Tak ada perubahan menuju pagi, tak ada cahaya sama sekali yang berhasil menembus langit malam tak berujung ini.
Sial...
"Ah, berbicara denganmu membuang banyak waktuku."
George kembali terpaku perhatiannya pada pria aneh dengan surai keemasan itu. Pria ini sedikit mengingatkannya pada seorang pangeran dari Ranunculus, meskipun yang di depannya tidak memiliki warna iris yang sama dengan si muka dua itu.
Warnanya adalah ruby. Tanda jelas bahwa pria ini adalah seorang Lavoisiér. Makanya hal pertama yang George tebak soal identitasnya adalah penyihir pria dalam legenda. Kisah lama yang agak memudar popularitasnya karena zaman.
"Kau... apa yang kau lakukan?!"
George berteriak kesal ketika kabut hitam di sekitarnya bergerak sesuai arahan dari jari pria itu. Dia dengan santai mengumpulkan mereka dalam satu tempat, yaitu sebuah pedang yang warnanya sangat memikar mata. Itu emas.
Bahkan George mulai merasakan jika kabut hitam ini mulai memudar dan dia bisa kembali menghirup oksigen. Dia memang diuntungkan, namun apa yang dilakukan musuhnya akan membuat kesialan beruntun tak lama lagi.
Sayangnya, pria aneh itu mengabaikan George sepenuhnya. Ia tetap fokus menyerap sihir hitam di wilayah Benua Herbras ini dan mengumpulkannya ke dalam sebilah pedang.
"Manusia itu serakah, yah?" Pria itu berbisik.
Pria itu menancapkan pedang emasnya ke tanah. Sementara tangannya melingkari udara seolah dia sedang memeluk seseorang.
"Aku merindukanmu... kembalilah kepadaku."
...****...
TRANG!
Lraight berhasil menyikirkan sebuah pedang yang hendak memisahkan kepala dari badannya, tadi itu sungguh nyaris. Lraight mulai kehilangan fokusnya saat langit malam semakin gelap, tak ada tanda matahari akan naik.
"Hei! Perhatikanlah langkahmu!" Teriak Hendrick kesal.
Count Cheltics dan Vester hanya diam saja. Mereka tidak seberani para Wayne untuk menyebut seorang Raja dengan panggilan hei, kemudian berteriak tanpa bahasa formal.
"Kau menyadari keanehan inikan?" Ujar Lraight kesal, para Wayne memang selalu mampu memancing emosinya.
"Aku tahu. Paling ulah sihir hitam lagi." Cetus Hendrick kemudian berlari lagi terjun menuju pasukan musuh.
Lraight mengerutkan keningnya. Hendrick benar. Sihir hitam sedang melakukan sesuatu, atau ada hal lain yang melatarbelakangi semua kejanggalan ini.
"Kau benar..."
...****...
Raģe memandang keluar jendela, tangannya menyentuh kaca transparan itu. Pandangannya tertuju pada gerakan aneh dari kabut hitam yang terus bergerak menuju satu tempat yang sama.
"Kejadian menyebalkan macam apa lagi yang akan terjadi...?"
"Raģe, sedang apa kau? Belum bersiap untuk ke Ranunculus?"
Raģe dikejutkan dengan kedatangan Raja Agapanthus. Raģe memandang kembali kabut hitam yang bergerak secara ganjil sekejap sebelum langkahnya mengikuti arah kemana Raja Agapanthus pergi.
Tidak ada yang benar semenjak Freesia mengacungkan pedangnya pada Ranunculus.
...****...
"Ada apa Pangeran?"
Valentina bertanya penasaran ketika kuda yang ditungganginya bersama Rovers berhenti. Ia tentunya penasaran. Apalagi sejak tadi Rovers menatap tajam pada kabut hitam pekat yang menghalangi pandangan mereka.
"Tidak ada apa - apa. Mungkin aku hanya salah lihat."
__ADS_1
Rovers melajukan kudanya dengan lebih cepat menuju Istana Kerajaan. Berlama - lama di dekat perbatasan bukanlah hal baik. Apalagi Vinca terus dan terus mengirim pasukan untuk menambah beban para Ranunculus. Pasukan Agapanthus saja belum tiba di tanah ini.
Kabut hitam itu bergerak menuju Hortensia? Yang benar saja... apakah sesuatu sedang terjadi disana?
...****...
"Meiger? Apa kau baik - baik saja disana?"
Edmond dengan tatapan nanar memandang langit malam yang berwarna hitam. Itu sama sekali bukan warna malam. Melainkan warna hitam yang menjadi pertanda buruk bagi setiap orang. Sihir hitam semakin merajalela.
Entah kenapa, dia merasa bahwa sahabat kecilnya itu tidak sedang dalam keadaan baik - baik saja. Edmond bukanlah orang bodoh, ia sadar kemana semua kabut hitam itu bergerak. Atau, Edmond harus menyebutnya sihir hitam?
"Aku tak bisa lagi tersenyum lalu mengatakan bahwa semua ini baik - baik saja. Tidak ada yang normal dengan hari ini!"
...****...
Si sinting ini kenapa sebenarnya?!
"Apa? Apakah kau mau membalaskan dendam yang ada dalam dirimu? Atas kematianmu itu."
George menatap dalam pria aneh yang sejak tadi memeluk udara kosong sambil berbisik bahwa dia merindukan seseorang. Ayolah, dilihat dari manapun dia sudah gila secara mental.
"Anak muda, kau mengorbankan dirimu sendiri agar gadis itu tetap hidup 'kan?"
George kembali terkejut. Pria ini selalu saja membuat dirinya merasa paling bodoh serta tidak tahu apa - apa tentang dunia ini.
"Jika hanya kau sendiri disana saat itu. Kau akan lebih memilih mati daripada menjadi senjata. Tapi karena gadis itu ada disana, maka kau menerima bantuanku saat ini."
Ternyata itu benar dia!
"Sebenarnya kita itu sama, George. Aku juga mengorbankan nyawaku agar gadis yang kucintai tetap hidup."
"Huh?"
"Dalam cerita yang ditulis kakakku, dia pasti percaya jika akulah pemilik sihir hitam yang sebenarnya dan karena dendam pada kalian, aku menyebarkan sihirku itu. Tapi faktanya tidak! Aku bahkan tidak tahu bahwa Lavoisiér punya kelebihan semacam itu. Padahal kelebihan kami hanyalah melakukan sugesti pada kalian. Yang mana itu bisa kalian lakukan juga jika mempelajarinya."
"Jadi penyihir dalam legenda seharusnya bukanlah kau? Itu yang ingin kau sampaikan."
Pria itu mengangguk.
"Sebenarnya gadis yang kucintai lah pemilik sihir hitam. Aku hanya melindunginya dari tangan - tangan kotor para manusia." Ucapnya acuh.
"Dia Lavoisiér juga?"
"Tentu saja."
"....."
"Pasti kau berpikir jika mata gadis itu harusnya ruby sepertiku. Dia memang terlahir dengan mata ruby seperti Lavoisiér pada umumnya. Tapi dengan kepemilikannya terhadap sihir hitam, dia merubah warna matanya agar tidak berakhir seperti seluruh anggota Lavoisiér yang telah dibantai habis."
"Dan kau mengaku - ngaku sebagai orang yang memiliki sihir hitam itu?"
"Poin sempurna untukmu."
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
Pria itu yang awalnya tersenyum lebar, tapi setelah mendengar pertanyaan George, senyumnya lenyap dalam sekejap mata. Pandangannya menajam, mata rubynya terlihat mengerikan. Apalagi di sekitarnya ada kabut hitam yang terserap ke dalam pedang emasnya.
"Aku akan membalaskan dendamku. Untukku, untuk nyawa kakakku, seluruh Lavoisiér dan... untuk Ivory." Ucapnya dengan nada dingin.
TBC
Ada yang masih ingat Ivory? Author tak pernah menyebutkan namanya secara eksplisit. Tapi dia pernah muncul dalam salah satu chapter. Ada yang bisa menebaknya?
So, see you in the next chapter~
__ADS_1