
"Wahaha! Rupanya mereka sudah bersiaga, ya? Aku takkan heran sih, Freesia memang tidak akan menyia - nyiakannya."
Hendrick mendelik, sosok misterius dengan jubah putih itu sudah berada di belakangnya dan Rovers. Ia tak tahu keberadaan Count Cheltics dan Raja Ranunculus sekarang, mungkin mereka tengah mempersiapkan formasi juga untuk menghadapi musuh.
"Sudah mendekati akhirnya, kah?"
Rovers menoleh ketika melihat siluet Vester yang berlari kearahnya. Kedua pria itu tampak saling bertukar informasi, Hendrick sendiri tidak peduli pada obrolan mereka.
Krisan putih di tangannya semakin kencang digenggamnya, hingga kelopaknya rusak dan tak berbentuk sama sekali. Dalam hatinya ia terus memanggil - manggil nama ayah dan wanita yang ia cintai. Bertanya - tanya, apakah mereka masih hidup hingga detik ini.
"Jika Nona Scoleths memergokiku di Ranunculus. Sudah pasti dia akan menamparku karena membuatnya khawatir, soalnya aku kabur tanpa memberikannya pesan." Gumam pria misterius itu lagi.
Kini pandangan Hendrick teralih padanya ketika dia mendengar nama Clara disebut, "Apakah kau mengetahuinya?"
"Tentu. Karena aku pernah menjadi koki untuknya dan penguasa wilayah terbesar itu."
Pria itu tersenyum dibalik tudung jubahnya. Kedua tangannya bergerak untuk menyingkap tudung yang terus menutup sebagian besar wajahnya sejak tadi. Mata Rovers serta Hendrick membulat sempurna, mereka mengenal siapa orang di hadapan mereka sekarang.
"YANG MULIA RAJA LRAIGHT?!"
...❀...
"Hatsyuu!"
James menatap cemas pada Clara yang sejak tadi terus bersin. Mereka tidak peduli jika Edmond dan Valentina jadi mengetahui tempat persembunyian mereka. Walaupun pria itu ada di kubu seberang.
"Apa Kak Rara sakit?"
"Sepertinya begitu." Clara mengusap hidungnya yang mengerluarkan cairan berlendir.
"Cuaca seperti ini memang memungkinkan Kak Rara sakit, sih. Mau menggunakan jubahku?" Tawar James.
Clara menggeleng, "Nanti kau yang kedinginan. Tidak apa - apa, aku juga sudah punya jubah sendiri kok."
SRET
__ADS_1
Jantung Clara berdebar kencang karena cemas, sebilah pedang nyaris saja mengiris lehernya. James menatap menyalang pada pelakunya dan bersiap juga mengeluarkan pedangnya.
"Hentikan James. Pria ini hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pewaris Vinca." Clara menenangkan James dan melirik sinis si pelaku. "Aku benar 'kan, Edmond Southbayern?"
"Mungkin kita akan berbeda mulai dari sini."
Edmond mendesah pelan, merasa segan untuk menebas leher cantik si pembunuh gila ini. Dia takkan lupa bila gadis ini adalah barang antik paling sukar disentuh di seluruh Hortensia. Tidak diperbolehkan baginya untuk membunuh Clara Scoleths.
"Anda benar."
Clara kembali berbicara dengan formal. Berdiri kemudian membersihkan gaunnya yang terkena debu dan tanah.
"Jadi, tolong jauhi Valen mulai sekarang. Yah... setidaknya sampai konflik ini mereda." Sinis Clara.
Entah kenapa dia mulai tidak bisa berbicara dengan nada bersahabat pada Edmond. Seolah semua kejadian yang terjadi di Agapanthus hanyalah angin lalu. Bahasa kerennya, kemarin kawan hari ini lawan.
Edmond terkesiap, begitu juga dengan Valentina. Gadis itu semakin terjatuh dalam kesedihan, akankah cinta keduanya gagal seperti saat dia jatuh cinta pada Pangeran Ranunculus?
"Kau tidak salah..."
Setelah beberapa saat terdiam, Edmond akhirnya berbicara. Dia hanya membenarkan apa yang diusulkan Clara. Karena memang sejak awal pengejaran cintanya pada Valentina adalah keliru. Seharusnya dia sadar, mereka saling menghentakkan senjata.
"Jangan pergi..." Lirih Valentina.
Dengan wajah penuh air mata, Valentina menengok menatap Edmond yang kelihatan penuh penyesalan.
"Tidak, jangan lakukan itu. Jangan pergi dariku..."
Suara Valentina makin sukar terdengar. Edmond memandangnya penuh kelembutan, memberikan gadis yang ia cintai senyum kebahagiaan. Agar gadis itu tahu, bahwa perpisahan ini tidak boleh meninggalkan bekasnya.
"Selamat tinggal, Nona Cinta."
...❀...
"Kukira dia sudah mati."
__ADS_1
Hendrick mendengus ketika mengetahui matanya tidak salah melihat. Masalahnya aneh saja saat dia melihat seseorang yang sudah diumumkan mati berdiri di depannya dengan badan sehat, bahkan dia tampak awet muda.
"Dia kakekmu, dan dia masih hidup. Ternyata mataku tidak ada masalah sama sekali."
Berbeda dari Hendrick yang mengakui matanya sehat - sehat saja. Di sisi Rovers, pria itu masih membeku tak percaya. Jika ayahnya disini pun, reaksinya pasti tidak jauh beda dengan Rovers.
"Bagaimana Yang Mulia masih hidup?"
Lraight terkekeh, "Karena sejak awal aku tidak mati."
Hendrick terdiam.
"Oh? Kau masih tidak paham? Biar kujelaskan."
Pria dengan pangkat Duke itu berkedut kesal ketika Lraight malah dengan santainya duduk di lantai. Tak peduli pada keadaan diluar, dimana ada banyak sekali prajurit yang siap menyerang mereka. Jadi Hendrick takkan terlalu terlarut dalam penjelasan Lraight atau dia akan mati di tempat.
"Sebenarnya, akulah yang membuat Clara Scoleths dibeli oleh Freesia. Hehehe~ Freesia itu awalnya tidak tahu jika ada seorang senjata yang disimpan Hortensia. Dan karena aku butuh, aku membocorkan perihal ini pada Freesia dan mereka menunjukkan ketertarikan. Kalian berdua bisa menebak apa yang terjadi setelah itu. Yap! Freesia berdiskusi panjang dengan Hortensia sampai mereka mendapatkan senjata gila tersebut." Papar Lraight.
Mendengar penjelasan yang memusingkan dari Lraigt, Rovers semakin sulit mengatakan sesuatu. Dia meras pusing bukan karena tidak tahu, melainkan terlalu banyak informasi yang didapatkannya selama seharian ini. Bahkan hari belum berakhir dan kepalanya dipaksa dijejali info lainnya.
"Hal itu kulakukan agar bisa menculik Clara Scoleths dengan mudah. Aku tak mau berurusan langsung dengan Hortensia, terlalu mengerikan. Ah, dan beruntung aku mendapat bantuan dari Frederick saat itu."
Hendrick mengernyit, "Bukankah ayah yang memang menginginkan Clara Scoleths lalu Yang Mulia membantunya?"
"Ho. Pada dasarnya yang kami inginkan adalah sama, karena itulah kerjasama diantara kami bisa terjalin. Aku salut padanya. Dia anak muda yang menepati janjinya." Lraight mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Janji?"
"Umu! Dia punya seorang guru yang mati dieksekusi. Guru itu sebelum benar - benar mati menitipkan sebuah pesan kepada Frederick. Dan ketika dia sudah menikah dengan Eleanor, dia menjalankan pesan terakhir gurunya."
"Pesan macam apa itu?"
Lraight tersenyum misterius, memandang Hendrick yang memiliki rupa begitu mirip dengan Frederick. Mungkin kesamaannya dengan Eleanor hampir tidak ada.
"Memberikan kebebasan kepada sang senjata."
__ADS_1
TBC
Like + Komen