The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 80 - Badai Malam


__ADS_3

"Ke Agapanthus? Di musim semi?"


Edmond mengangguk cepat ketika Meiger bertanya. Rencana Edmond, dia akan ke Agapanthus di awal musim semi. Bukan untuk berkoalisi dengan Agapanthus, dia akan diterjang Freesia jika berani melakukannya.


"Untuk apa kau kesana?"


"Tentu saja untuk menemui Nona Cinta-ku." Edmond tersenyum menyeringai, tak menghiraukan tatapan enggan dari pria di belakang Meiger.


"Kau bisa ke Ranunculus langsung. Untuk apa menemuinya di Agapanthus?"


"Begini, sobatku. Negaraku 'kan telah berkerja sama dengan Freesia. Otomatis tanpa disadari aku juga menjadi musuh Ranunculus. Kalau aku kesana begitu saja, maka aku akan dijadikan b*bi guling. Nah! Kebetulan di awal musim semi ini Nona Cinta akan ke Agapanthus sebagai kunjungan, jadi aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin."


"Agapanthus itu 'teman' Ranunculus, kau lupa?"


Edmond tertawa mengejek, "Meskipun itu memang benar. Tapi mereka masih menerima kedatangan dari wilayah lain, termasuk Freesia sendiri."


"Ah, aku melupakannya."


"Pokoknya kau harus ikut denganku kesana!"


"Tidak mau, ajak saja yang lain."


...❀...


Malam telah tiba. Hari ini sepertinya akan ada badai salju. Suhu semakin menurun, membuat Meiger menggigil kedinginan. Walaupun begitu, dia masih sibuk dengan pekerjaannya dan belum tidur.


Dia duduk di kamarnya, menghadap ke jendela. Malam ini langit tampak mendung. Memang benar jika akan ada badai, hanya dengan melihat keluar saja Meiger tahu persis.


TOK TOK TOK


"Masuk?"


Pintu terbuka, Clara muncul darisana. Meiger mengerutkan keningnya, merasa heran dengan kemunculan senjata rusak yang satu ini. Seharusnya kan dia sudah tidur, karena waktu nyaris mencapai tengah malam. Bahkan badai salju telah turun, butiran salju memenuhi setiap sudut tempat.


"Kenapa?" Tanya Meiger.


"Um... Hamba mendadak merasa kedinginan, dan mau mengambil air hangat tapi ternyata habis. Saat hamba mau ke dapur, kamar ini masih terbuka, jadi..."


"Begitu. Seharusnya kau meminta para pelayan saja." Meiger kembali memfokuskan perhatiannya pada buku yang ia baca. Kebiasaannya sedari kecil terbawa hingga sekarang.


"Clara?"


Lama tak mendapat respon, Meiger menoleh pada Clara lagi yang masih dalam posisi sama. Dia nampak tak bergerak sedikitpun selama beberapa menikt ke belakang.


"Heh? Kau membeku!"


Akhirnya, Meiger membawa Clara masuk ke kamarnya dan memberikannya selimut serta minuman hangat agar kembali mencair. Gadis ini tidak bilang kalau dia membeku disana, tetapi...


"Sejak kau tahan panas, kau jadi tak tahan dingin."


Clara mengeratkan gulungan selimut yang menutupinya. Dia juga langsung meneguk satu gelas penuh cokelat panas yang diberikan Meiger kepadanya.


"Yang Mulia pasti bercanda. Mengapa tega sekali membiarkan hamba membeku selama beberapa menit dliuar sana." Cibir Clara, tatapan tajamnya mengarah pada Meiger.


"Kau kedinginan?"


"Tentu saja, Yang Mulia seharusnya tidak menanyakan hal yang sudah jelas." Clara semakin menggulung dirinya dalam selimut, hawa dingin malam ini sangat menusuk.

__ADS_1


Meiger berdiri dari kursi dan menghampiri Clara yang menggulung dirinya di pinggir kasur. Clara bilang dingin tapi dirinya sendiri malah duduk di lantai, tentu saja takkan terasa hangatnya meskipun pakai selimut berlapis - lapis.


Meiger mengambil tempat duduk di samping Clara, dia sudah menyimpan bukunya diatas meja. Dia mengambil selimut lainnya dan memakainya juga sambil menambah lapisan selimut yang digunakan Clara.


Clara tentu saja terkejut dengan tindakan Meiger. Ini adalah sesuatu yang diluar nalar. Clara mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia melupakan adegan yang iya - iya saat mereka di perpustakaan tempo hari.


Dan sekarang Clara malah bersikap biasa saja pada Meiger, seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka. Padahal Clara sudah menjauh, bagaimanapun Cattleya lebih pantas sebagai permaisuri dibandingkan dirinya.


Bukannya Clara rendah diri, dia hanya sadar akan posisinya. Clara bukanlah seorang bangsawan terkenal, maupun keturunan pedagang kaya raya. Dia hanya senjata yang kebetulan masih ada hubungannya dengan Lyserith Scoleths, gadis yang bisa menyerap sihir hitam sama sepertinya.


Clara tak mau berprasangka atas benang merah yang mengikatnya dengan Lyserith. Meski Meiger sudah membenarkan, Clara masih takut akan fakta itu. Dia tidak mau tenggelam dalam sihir hitam.


Jika aku mati, apakah semuanya akan baik - baik saja? Atau aku perlu menerima takdirku sebagai penyerap sihir hitam? Tapi, apa alasan Lyserith meninggal kala itu? Gadis istimewa itu pasti berakhir tragis. Buktinya, aku menjadi penerusnya sekarang.


Clara membenamkan wajahnya pada kedua tangannya. Selimut ini sedikit berguna karena bisa menghangatkan dirinya. Meiger melirik kearah Clara, lalu mendengus samar.


"Prasangkamu itu tidaklah salah. Hidupmu adalah milikmu. Jalan apa yang kau pilih, jangan terpaku pada satu pilihan saja."


Meiger bukan sok bijak disini. Dia juga tidak ingin Clara semakin tenggelam dalam keputusasaan. Namun, realita bukanlah sesuatu yang kau bisa hindari ataupun dibenci. Realita kehidupan adalah sesuatu yang kau jalani, manis pahitnya hidup adalah kebenaran.


Jika Clara bahagia hidup dalam kebohongan, itu malah terdengar semakin miris. Meiger enggan membuat gadis itu merasakan pahitnya hidup, tapi balik lagi pada topik awal. Ini adalah realita.


"Satu pilihan saja...?" Clara berkata lirih.


"Kau pasti pernah memikirkan 'jika aku menjadi Lyserith dan menyerap semua sihir hitam yang ada, semuanya pasti akan membahagiakan, bukan?'. Seperti itulah yang kau pikirkan."


Tebakan Meiger tepat sasaran.


Clara pernah berfikir begitu, perandaian ketika dirinya menjalankan tugasnya seperti Lyserith.


Meiger mengeratkan pegangan pada selimutnya, supaya tidak ada hawa dingin yang masuk.


"Tentu saja. Jean juga pernah menggunakannya untuk menghidupkan Avrim kembali. Yah... meski itu tidak bisa disebut sebagai menghidupkan kembali. Tapi, apa yang kini bicarakan disini adalah sihir hitam. Ilmu yang melawan hukum alam, keajaiban itu tak pernah ada. Sihir itu pada dasarnya jika digunakan hanya akan menimbulkan kebencian."


Clara terperanjat, "Yang Mulia tahu tentang kondisi Avrim?!"


"Ya."


"Sejak kapan?"


"Sejak aku pertama kali bertemu Jean."


"Eh..."


Pantas saja saat Avrim tidak bersama kami, Yang Mulia bersikap biasa saja. Bahkan sekarang, ketika keberadaan Avrim menghilang sepenuhnya. Yang Mulia tidak menanyakannya.


"Apa Jean tahu kalau Yang Mulia-"


"Dia tahu."


"Benarkah?"


"Yah, sudah sejak lama. Tapi dahulu dia masih meragukannya. Namun sekarang saat aku bersikap begini atas hilangnya Avrim, dia barulah yakin sepenuhnya jika aku tahu. Nero pun menyadari kejanggalannya."


"Nero juga tahu?! Apa hanya hamba yang baru menyadari ketika perjalanan kami di Freesia...?" Clara mendesah kesal, semakin hari dia semakin tak peka saja.


Meiger menatap badai salju yang makin lebat. Waktu juga semakin larut, seharusnya mereka tidur. Sayangnya topik yang mereka bicarakan tidak akan selesai hanya dalam waktu beberapa menit, seharian pun belum tentu akan habis.

__ADS_1


"Apa hamba harus menjadi Lyserith kedua?"


Pada akhirnya, setiap orang akan tetap pada garis takdirnya. Clara mau mengatakan begitu, betapa pilunya menjadi Clara Scoleths. Hidup dengan jalan yang sudah ditentukan oleh dunia busuk ini.


"Eh?" Clara teringat akan sesuatu.


"Memang benar bahwa mata berlian putih itu langka. Biasanya yang punya tersebut jalan hidupnya ditentukan oleh dunia bukan oleh dirinya sendiri."


"Ya..Yang Mulia."


"Hm?"


"Apakah sebelumnya, mata hamba bukan berwarna safir?"


"Tidak tahu. Karena saat bertemu denganmu, yang kutahu matamu adalah safir. Kau mungkin berfikir kalau awalnya warna matamu sama seperti Lyserith, kan?"


Clara mengangguk pelan.


"Aku tidak tahu. Tapi mungkin Kaisar Siegward tahu."


"Begitu."


Clara tertunduk dalam - dalam, menutup matanya yang terasa berat. Dia sudah mengantuk, tapi rasa penasaran dalam kepalanya membuat keinginannya untuk tidur sempat lenyap.


Mayat tak bisa bersaksi. Raja Lraight maupun Kaisar Siegward, mereka semua tidak bisa memberi kebenaran apapun. Jika saja Frederick Wayne mau membuka suara, maka aku akan...


...❀...


Hari ini adalah hari kepulangan. Kaisar, Clara dan Jean akan kembali ke Hortensia. Dan untuk sementara ini, George akan tinggal di Vinca sampai mentalnya membaik. Itu bagus untuknya. Vinca adalah wilayah yang bersih dari sihir hitam.


"Aku akan mengunjungimu dua bulan dari sekarang. Kita akan menjelajah ke Agapanthus bersama." Edmond melambaikan tangannya kepada merek bertiga.


Hanya Clara yang membalas, sedangkan Jean membuang muka karena merasa kesal. Meiger yang paling biasa, dia hanya memandang Edmond serta George dengan datar.


Clara naik kereta kuda bersama Meiger, tidak ia sangka kaisar datang kemari bukan dengan kuda. Hanya Jean yang naik kuda sendirian, dia tidak bisa mengangkut siapapun sebab Avrim telah tiada.


Jean sudah merasa lebih baik, hari berkabungnya telah berakhir. Dia kini sadar, ada banyak orang di sisinya. Clara membuatnya sadar akan hal itu, seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Andai dia bisa memiliki nona berkulit pucat itu sepenuhnya. Sayang sekali, jika dia ikut dalam 'peperangan', rival nya terlalu banyak.


Jangankan George, tuannya saja yang seorang kaisar ikut andil dalam pertarungan. Jangan lupakan, seseorang yang berada jauh di tanah Ranunculus, dia yang selalu memikirkan nonanya. Tanpa sengaja juga membuat banyak rival.


Nona-nya memang hebat.


"Kau saja yang ikut dengannya." Meiger menyodorkan Clara dengan mudahnya pada Edmond, dia tak mau ikut campur urusan cinta pria brengs*k itu.


"Baiklah Yang Mulia." Clara berkata dengan pasrah.


Mau menolak tapi tidak bisa. Kalau Jean tidak bisa ikut dengannya, dia akan menyeret George dalam perjalanan ke Agapanthus. Sungguh, dia tidak mau berduaan dengan Edmond. Bagaimana jika kaisar berfikir yang tidak - tidak terhadap mereka?


"Tenanglah, masih ada dua bulan sebelum kau menerima siksaan."


Argh! Tidak bisakah aku bersantai?!


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2