
Setelah beberapa saat, Clara melepaskan pelukannya dari Hellen. Dia tersenyum tipis melihat betapa merahnya wajah Hellen yang habis menangis. Clara mengusap air mata yang mengalir di pipi Hellen.
Ia sadar betul bahwa tangisan ini ditujukan untuk ayahnya. Pak tua itu yang paling bermasalah dengan Freesia, tentu saja Hellen takut jika ayahnya kenapa - napa. Karena walau menyebalkan sekalipun, dia adalah figur ayah terbaik bagi anak - anaknya.
Clara melepaskan kalung yang selama ini bertengger manis di lehernya. Dia memakaikan kalung dengan permata safir tersebut kepada Hellen. Hellen malah dibingungkan oleh Clara. Sebab sahabatnya ini malah mengembalikan hadiah yang menjadi simbol persahabatan mereka selama ini.
"Kenapa?" Tanya Hellen, masih diselingi oleh isakan tangis.
"Kupikir Allen adalah orang terbaik untukku menitipkan barang berharga ini." Senyuman Clara semakin menipis, dia membelai kepala Hellen sebentar lalu melangkah ke hadapan Duke Wayne.
Hellen memegang kalung Clara dengan erat. Pandangannya terpaku pada punggung sempit dari seorang gadis yang telah menjadi sahabat karibnya selama 6 tahun, meski 3 tahun sebelumnya sempat bercekcok.
Duke Wayne menatap tajam Clara, ketika tatapan Clara berubah serius itu berarti ada sesuatu yang akan terjadi.
"Aku malas kalau harus meladeni salam perpisahanmu itu." Kata Duke Wayne dengan ketus.
Mendengar 'salam perpisahan' membuat Hellen terkejut. Namun sebelum Hellen protes, Clara tertawa kecil. Duke Wayne menjadi sangat sensitif kalau bersamanya. Clara hanya bisa memohon maaf karena belum bisa menjawab perasaannya secara langsung. Lagipula Duke Wayne sendiri tidak pernah berkata apapun, jadi Clara pun santai - santai saja.
"Anda masih saja sensi kalau berhadapan dengan saya. Saya hanya ingin mengatakan kalau saya akan ikut dengan anda. Allen disini saja bersama James. Karena seseorang berkata kalau dirinya berada di pihak netral." Sindir Clara.
Rovers dan James nyaris bertepuk tangan karena melihat Kaisar yang tak berkutik walau sudah disindir oleh gadis muda ini. Sepertinya rumor bahwa Clara adalah barang antik di Hortensia adalah benar.
"Dan Yang Mulia Pangeran Mahkota juga harus kembali pulang." Ujar Clara, kini tatapannya mengarah pada pria muda di samping Hellen yang sejak tadi hanya menonton.
Rovers tersenyum simpul, "Niatku memang begitu."
"Rara?"
Clara menatap Hellen dan kembali menyunggingkan senyuman termanisnya. Berbeda dengan Kaisar yang mulai jengah dengan sikap tegar Clara. Hellen nyaris menangis lagi karenanya.
"Pangeran James." Panggil Clara.
James yang sedari tadi diam terkejut saat ada seseorang memanggilnya. Apalagi fokusnya sekarang adalah kalung safir yang malah Clara kembalikan pada pemiliknya. Padahal Hellen sudah memberikannya sebagai hadiah persahabatan mereka.
"Ada apa, Kak Rara?"
"Tolong jaga Allen. Dan tentu saja dirimu sendiri. Tuan Muda Cheltics belum tentu akan melindungi anda."
__ADS_1
James mengangguk jujur. Raģe cukup kejam dan sadis padanya. Jadi kecil kemungkinan bahwa Raģe akan melindunginya. Tapi semua itu bisa saja tidak benar. Karena pada dasarnya mereka saudara sepupu.
Clara menatap Kaisar yang nampak enggan mengikuti percakapan. Dia selalu mengambil jarak dan membuat dinding pembatas diantara dirinya dan orang - orang di sekitarnya. Clara tersenyum setipis mungkin, tapi Kaisar tahu kalau Clara tersenyum padanya.
Clara menundukkan setengah badannya pada Kaisar, sebagai penghormatan yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan Clara. Karena dia selalu saja bersikap semena - mena walau pada seorang kaisar sekalipun.
Clara menaiki kuda dibantu Duke Wayne. Kali ini dia duduk dibelakang Duke Wayne. Sementara Rovers ada di kuda lainnya, dia melaju lebih dulu.
Ketika Clara melirik ke belakang, ia bisa melihat Hellen kembali meneteskan air matanya. Entah untuk siapa air mata itu dijatuhkan. Untuknya yang adalah sahabat Hellen. Atau untuk Rovers yang adalah kekasih sekaligus tunangannya.
Sampai jumpa, Yang Mulia.
...❀...
"Kupikir kau akan memeluknya." Ucap Duke Wayne dengan ketus pada seseorang yang tengah memeluknya dengan erat dari belakang.
Kuda yang mereka tunggangi memang berlari cepat karena mereka sendiri yang terburu - buru. Jadi Clara yang katanya takut terjatuh memilih memeluk Duke Wayne sangat erat.
"Memeluk? Untuk apa? Saya juga tidak berniat mati disana." Jawab Clara, keningnya berkerut karena bingung.
Clara tahu siapa yang dimaksud Duke Wayne ketika mengatakan memeluk. Tentu saja itu adalah Kaisar. Berbeda dengan Hellen yang mendapatkan pelukan hangatnya serta James yang sedikit bercakap dengannya. Kaisar tak mengatakan apapun dan Clara hanya sekedar memberikannga senyuman tipis itu.
Tapi untuk Clara yang sudah melewati dua bulan bersamanya di ruang kerja itu, merasa sindiran ini tidak ada apa - apanya. Mungkin kemampuan Duke Wayne menyindir orang lain lumayan menumpul karena tidak diasah. Tidak mungkin jika Duke Wayne mengasah kemampuannya pada bangsawan random. Ketidakhadiran Clara membuat lubang besar dalam kehidupan Duke Wayne.
Clara melirik Rovers yang ada di depan mereka. Sejujurnya dia merasa tenang dan cemas ketika diingatkan bahwa dia adalah tunangan Hellen. Karena dalam novel, dia punya dua wajah. Yang baik adalah topeng dan lainnya adalah yang original.
"Tuan Hendrick, bagaimana hubungan Allen dan tunangannya?" Tanya Clara sambil berbisik. Tak enak juga apabila Rovers mendengar pertanyaan absurdnya ini.
Duke Wayne meringis kesal, jelas sekali hubungan antara Hellen dan Rovers baik - baik saja. Itu adalah kabar baik bagi Clara, tapi tidak untuk Duke Wayne.
Clara ingat kalau Hellen datang ke Agapanthus bersama dengan Rovers. Entah apa urusan kedua orang ini datang kesana. Mungkin ingin menyusul Duke Wayne. Tidak. Rovers tidak akan segabut itu untuk kemari dengan alasan barusan. Apalagi hubungannya dengan Duke Wayne tak sebaik itu. Duke Wayne masih suka sindir sana sini bila dihadapkan dengan Pangeran Mahkota Ranunculus itu.
Hal yang berani untuk dilakukan hanya oleh anggota pria dari keluarga Wayne. Karena Raģe yang ketus pun masih memperlihatkan sopan santunnya kecuali saat Rovers dan dia ada dalam situasi non formal.
"Mengapa Duke Wayne tidak menyukai Pangeran Mahkota?"
Tatapan Duke Wayne menajam pada Rovers. Walaupun pria itu fokus menatap ke depan. Akan tetapi Duke Wayne menyadari bahwa apa yang mereka bicarakan terdengar olehnya. Duke Wayne tersenyum menyeringai, kalau begitu sekalian yang kencang saja biar dia mendengar lebih jelas.
__ADS_1
"Aku benci orang bermuka dua."
...❀...
"Oy tua bangka. Apa kau benar - benar yakin dengan insting tumpulmu? Kalau kita mati dibantai Vinca dan Freesia. Aku akan membuat matimu tidak tenang."
Frederick mengabaikan kicauan burung di sebelahnya. Dia lebih fokus menunggu kedatangan dari orang - orang yang diharapkan ada.
Sekarang Frederick dan Count Cheltics sedang berada di perbatasan, dimana tempat ini dijaga oleh pasukan Vinca supaya tidak ada yang keluar masuk. Frederick ingin memberikan jalan kepada anaknya dan Clara jikalau meraka tiba. Dia sudah mengutarakan niatnya pada Raja, dan Raja memerintahkan Count Cheltics membantu dirinya.
Hal yang paling menyebalkan setelah bekerja sama dengan orang yang membencimu adalah dia selalu mengatakan hal - hal tidak penting dengan suara keras. Berniat menyindir rivalnya di masa lalu.
Walau sebenarnya yang dikatakan Count Cheltics ada benarnya. Belum tentu mereka akan datang. Dan kalaupun akan datang, tidak mungkin sekebetulan itu sampai mereka lewat jalur yang diawasi Frederick dan Count Cheltics.
Kalau prediksiku meleset, berarti benar yang dikatakan Gerald. Aku ini tua bangka.
Count Cheltics menatap kearah langit yang membentang luas berwarna jingga dengan gradari kebiruan. Rasanya begitu bebas dan luas. Ia mendadak merasa iri dengan burung - burung yang dapat terbang bebas melintasi cakrawala. Tanpa dibatasi oleh apapun.
Count Cheltics cukup penasaran dengan keadaan anaknya di Agapanthus bersama iparnya. Sebenarnya Count Cheltics merasa tidak enak memaksa anaknya harus menjadi penasihat kerajaan menggantikan Grand Duke Harold. Semua ini karena Grand Duke Harold tak mempu menghasilkan anak pria.
Awalnya Count Cheltics merasa pemberontakan Raģe sangat jelas. Tapi entah kenapa setelah misi pengejarannya terhadap buronan Ranunculus. Alih - alih terus memberontak, Raģe berangsur - angsur menerima keadaan dan takdirnya.
Apa seseorang telah mengubah cara berfikirnya atau sesuatu semacam itu. Count Cheltics tak tahu. Tapi sepertinya memang benar ada campur tangan seseorang yang Count Cheltics tidak ketahui siapa. Count Cheltics harus berterima kasih kepadanya.
SRING
Lamunan Count Cheltics terhenti saat mendengar suara gesekan pedang yang dikeluarkan dari sarungnya. Count Cheltics menatap Frederick yang mendadak waspada. Tanpa disadari Count Cheltics juga mengambil posisi yang sama.
"Kenapa?"
Frederick tersenyum penuh kemenangan. "Prediksiku benar. Berarti kau yang tua bangka."
"Hah? Bicara apa kau--"
Samar - samar Count Cheltics mendengar derap langkah kuda. Count Cheltics memicingkan matanya berusaha menajamkan penglihatannya. Matanya membulat dengan sesuatu yang ia lihat. Yah, kali ini biarkan Frederick mengejeknya tua bangka.
"Mereka benar - benar kembali..." Bisik Count Cheltics.
__ADS_1
TBC