
CLANG
Suara pisau dan garpu yang berdentingan memenuhi meja makan. Dengan wajah masam Hendrick menelan sarapannya. Kali ini ia perlambat karena Duke Wayne masih saja memberikannya kerjaan tambahan. Dia tidak mau cepat - cepat untuk mengerjakannya.
Sementara di sampingnya ada Rovers, dia makan dalam diam. Di depannya ada Hellen yang juga masih tidak mengatakan sepatah katapun.
Duchess Wayne tidak bisa berbuat apa - apa terhadap situasi ini. Selain karena ada calon penguasa yang membuat mereka menjaga sikap. Hellen memang tidak dalam keadaan yang baik mengingat kalau dua hari lalu sempat terjadi cekcok antara dirinya dan Clara.
Sementara itu, Duke Wayne belum kembali. Menurut Hendrick, orang tua yang satu itu pasti sedang menjelajah dan bersenang - senang di atas penderitaan anaknya.
Di kamar Clara sendiri, Clara sarapan ditemani Avrim. Biasanya Avrim hanya memperhatikan Clara sarapan, namun nampaknya hari ini Avrim dipaksa sarapan bersama Clara.
"Nona, bagaimana bisa anda berkeliaran semalam di saat Pangeran Mahkota menginap?" Tanya Avrim, dia sedang menggigit sayur brokoli kesukaannya.
"Aku bertemu dengannya kok, Avrim. Dia tidak semenyebalkan yang kukira. Mungkin kalau aku bisa bilang, setidaknya hubungan kami tidak seburuk yang lalu."
Senyum simpul merekah di wajah Avrim.
"Itu bagus, Nona. Dan soal permintaan Duke..."
"Huh? Hmm... aku akan mulai menjalankan tugasku yang itu ketika Tuan Hendrick sudah menjadi Duke."
"Begitu. Baguslah. Nona masih punya banyak waktu istirahat. Tinggal menghitung bulan saja untuk hari itu datang."
"Yeah... nampaknya aku akan mengubah jam tidurku menjadi siang. Ah, untung saja tempat ini tidak terjamah oleh matahari."
Kembali Clara memasukkan buah ke dalam mulutnya.
"Asam...!" Clara menjulurkan lidahnya kemudian minum air putih dengan tergesa - gesa. "Uhuk!" Alhasil Clara tersedak.
"Nona!"
Avrim bergerak cepat memukul pelan punggung nonanya. Sampai batuk Clara tidak terdengar lagi ia pun berhenti melakukannya.
"Nona baik - baik saja? Padahal sudah sering saya katakan kalau minum itu pelan - pelan."
"Tapi rasanya asam..."
"Memang begitu rasanya. Apa yang Nona harapkan?"
"Aku pikir tadi itu apel."
__ADS_1
"Ahaha... hanya karena warnanya merah? Ukurannya sangat berbeda jauh loh, Nona. Lagipula rasa apel juga asam."
"Setidaknya tidak seasam strawberry."
"Huft... lidah Nona sangat pemilih rupanya."
"Itu karena aku lebih suka makanan manis, Avrim. Aku tidak mau nantinya rasa hidupku asam seperti strawberry."
Avrim menggelengkan kepalanya pelan, "Nona yang benar saja..."
Clara dan Avrim kembali melanjutkan sarapan mereka. Avrim kini menjadi lebih dekat dengan Clara, padahal jika diingat - ingat lagi. Dulu bahkan Avrim tidak bisa berbicara sedikitpun dengan nona mudanya ini.
"Rasanya seperti mimpi saja, namun hal ini sudah terjadi cukup lama. Saya rasa sudah tidak mungkin untuk dikatakan kalau ini hanyalah mimpi."
"Kau terlalu aneh Avrim. Ini kan memang bukan mimpi. Kau tahu? Aku akan selalu menerima dirimu bagaimanapun keadaanmu."
"Terima kasih, Nona. Saya senang bisa akrab dengan Nona."
Clara hanya bisa tersenyum lebar untuk menanggapi Avrim. Ia juga tidak menyangka, setidaknya ada seseorang yang menemani dirinya di dunia novel ini.
Ah, tentang mimpi itu, siapa sebenarnya pria itu? Aku bahkan belum mengetahui sumber suara yang memenggilku 'master' itu... aku butuh petunjuk untuk hidupku. Ada apa dengan dunia novel ini?
Setelah selesai sarapan, Clara bersiap untuk melukis sementara Avrim membereskan meja yang mereka pakai untuk sarapan.
"Hah... akhirnya aku bisa melukismu lagi, kanvas. Aku benar - benar sudah lama tidak mencium aroma khas dari cat."
"Ayo kita pikirkan lebih dalam. Meskipun Clara Scoleths menyukai mawar biru, tidak ada salahnya untuk membuat yang berbeda dari biasanya."
Clara menggores kuas lukisnya dengan lincah di atas kanvas. Dia asal saja melukis, Clara tidak terlalu mematok apa yang akan dia lukis. Jadi Clara akan mengetahui apa yang ia lukis ketika sudah selesai. Dia hanya melukiskan apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
Sekitar dua jam duduk di kursi, sambil terus - menerus mencampur warna. Keringat sudah membasahi wajah pucatnya, ia tersenyum ceria ketika lukisannya sudah jadi.
"Siap!"
Dengan bangga Clara mengangkat lukisan tersebut. Ketika melihatnya lamat - lamat, wajah Clara yang pucat semakin memucat.
BRAK
Cepat - cepat ia melemparkan lukisannya ke sembarang arah dengan ketakutan. Lalu menatap kedua tangannya yang mulai gemetaran. Clara malah ketakutan tanpa alasan yang jelas saat ini.
"Bohong kan? Kenapa tanganku malah melukis bunga ranunculus? Lebih baik jika aku melukis mawar biru saja barusan."
__ADS_1
KREK
Pintu tebuka, dan ternyata itu adalah Avrim. Segera Clara menyembunyikan kedua tangannya yang gemetaran dibalik gaunnya.
"Ada apa Avrim?" Sambil berusaha tenang, Clara bertanya pada Avrim.
"Nona, Nona Hellen dan Duke Muda datang. Duke Wayne dan Duchess Wayne juga ada disini." Ucap Avrim sambil berbisik.
Heh? Apa aku ada salah - salah perbuatan? Aku yakin ketika ada di luar tidak ada kerusuhan apapun karena ulahku.
Clara menggunakan jubahnya serta cadar, mengikuti Avrim keluar kamar. Dan ternyata benar saja, ada Hellen, Hendrick, Duke, dan Duchess Wayne. Namun Clara tidak melihat keberadaan Rovers sedikitpun.
Sepertinya dia sudah kembali. Baguslah... namun mengapa keluarga Wayne ini ramai - ramai ke kamarku? Mau pawai kah?
"Mm... ada apa mencari saya?" Menggunakan bahasa formal Clara bertanya.
Hellen maju lebih dulu, mendekati wajah Clara dengan ekspresi marah. Duke Wayne hanya bisa menonton dan membiarkan Hellen melanjutkan kalimatnya.
"Hey..."
"Hm? Ada apa Nona Hellen?"
"Apakah benar kalau kau yang sudah membunuh mendiang Raja sebelumnya? Kakek dari tunanganku."
Heh?
Dengan ekspresi bingung, ia melirik ke arah Duke Wayne berada. Meskipun memakai cadar, Duke Wayne tahu bahwa Clara saat ini sedang kebingungan.
Kemudian tak lama melihat Duke Wayne menggeleng samar.
Eh? Apakah memang benar sudah sampai tahap ini? Haruskah aku membeberkan semuanya? Apa Duke Wayne bisa mengatasi masalah ini?
"Huft... tentang masalah itu. Mengapa kalian menanyakannya sekarang?"
TBC
Oh ya, untuk kalian yang gak tahu bunga ranunculus, sebenarnya itu adalah bunga buttercup.
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~