
"Apa yang kalian berdua lakukan disini? Mengintip?"
Clara dan Hendrick terkejut dengan suara seseorang dari belakang mereka. Hendrick yang pertama sadar, dia menatap orang tersebut dari atas ke bawah. Dia tidak mengenalinya, tapi sepertinya Clara mengenalnya.
"George, jangan mengagetkanku!"
Nah? Lihat 'kan betapa akrabnya mereka saat ini?
Clara mendecak sebal pada George. George sendiri enggan meminta maaf. Toh, mereka yang salah karena sudah mengintip orang lain dan mengorek - ngorek privasi mereka. Ingatlah, ini Agapanthus, bukannya Vinca ataupun Hortensia.
George memandang Hendrick lamat - lamat. Sejujurnya, jika mengingat kembali jepit giok yang selalu dipakai Clara kemana - mana. Dia menjadi dendam sendiri pada pemberinya. Padahal yang menerima hadiahnya santai - santai saja.
Hendrick yang ditatap begitu oleh George mengangkat sebelah alisnya. Merasa heran dengan orang yang baru ditemuinya ini yang langsung mendeklarasikan perang. Lalu Hendrick beralih menatap Clara yang ada di samping George.
Tidak ada angin maupun hujan, suasana hati Hendrick kian memburuk, apalagi setelah dirinya berpapasan dengan Raģe barusan.
Memangnya berapa banyak kenalan pria Clara ini? Awas saja kalau Hendrick menemukan ada pria lainnya yang mengaku dekat dengan Clara atau melarangnya akrab dengan gadis ini. Sejak kepergian Clara, Hendrick agak was - was, takut akan sesuatu. Rupanya yang ia takutkan adalah ini, Clara membuatnya memiliki saingan.
Wajah Hendrick berkedut kesal, hari ini dia sudah panas hati karena Raģe. Dan Clara lagi - lagi berulah. "Clara, siapa dia?"
Clara menatap Hendrick. Dia berinisiatif untuk memperkenalkan George kepada Duke Wayne. "Tuan Hendrick, perkenalkan ini George. George, ini Duke Wayne."
"George?" Hendrick mengulang nama George. Yang dia inginkan bukanlah nama, melainkan status pria ini dengan Clara.
"Iya. Dia adalah senjata yang saya culi- ups!"
Clara menutup mulutnya dengan cepat, berusaha menghentikan apa yang ingin dikatakannya kepada Hendrick. Ia lupa, sangat lupa. Hendrick berasal dari Ranunculus, dan karena ulahnya menculik George, Ranunculus dan Freesia semakin tidak baik - baik saja.
"Ternyata begitu..." Hendrick menggumam.
George, dia tidak mengatakan apapun. Untuk masalah dirinya yang adalah seorang senjata, George malas berkomentar apa - apa tentang itu. Ditambah, George masih gagu kalau harus membicarakan tentang latar belakangnya yang cukup sensitif bila dijadikan bahasan.
Clara mendadak berkeringat dingin. Dia ketakutan karena Hendrick mendengar ucapannya. Setelah ini, Clara merasa dirinya takkan hidup damai lagi. Inilah yang membuatnya tidak betah dengan dunia novel ini, pikiran Clara selalu dibuat lelah.
Semua salah rumor yang tersebar. Kalau rumor buruk tentangnya tidak ada, sudah dipastikan saat ini dia sedang bersenang - senang dengan Hellen. Ataupun menolong Hendrick menyelesaikan dokumen. Jika Clara bertemu dengan si pencipta rumor, maka dia akan...!
Eh?
Tubuh Clara menegang. Matanya membelalak. Dia tidak mampu berkata apa - apa lagi. Tangannya juga bergetar hebat, merasa ketakutan akan sesuatu yang belum terjadi.
Siapa sebenarnya yang menciptakan dan menyebar rumor - rumor tersebut? Entah rumor buruk yang memfitnahku, ataupun mengadu domba Ranunculus dan Freesia. Sebab, Freesia juga bukannya buta karena dendam. Mereka masih bisa berfikir kalau 'kali ini belum berarti Ranunculus'.
Spontan Clara melirik ke sekelilingnya. Dimana di lorong panjang ini hanya tersisa mereka bertiga saja. Clara hanya mengantisipasi apabila ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka. Sama seperti dirinya dan Hendrick yang mendengar Raģe dan Valentina sebelumnya.
Tidak ada siapapun selain mereka bertiga. Bahkan jika Clara memeriksa setiap tempat berulang - ulang, nihil hasilnya. Dia sangat berharap tak ada siapa - siapa yang mendengar mereka saat ini.
Hendrick dan George memandang aneh Clara yang mendadak misuh sana - sini. Mencari sesuatu yang George sendiri tidak tahu apa itu. Dia hanya menatap Clara yang celingak - celinguk saja.
Hendrick menghela napas pelan, "Tidak ada seorang pun selain kita disini. Ada apa denganmu?"
"...Saya hanya berjaga - jaga."
"Soal yang kau bicarakan barusan. Aku mau berdiskusi dengan kalian berdua." Titah Hendrick, dia berjalan lebih dulu kearah kamar tamu.
"Tapi..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi - tapi."
"Tapi... bukankah Tuan Hendrick harus menemui Raja Agapanthus?" Tanya Clara.
"Itu akan kulakukan nanti malam. Karena kau tahu aku ada jadwal malam ini. Maka jangan buang waktuku, lebih cepatlah berjalan."
Clara dan George saling pandang beberapa saat. Tak lama mereka pun mengikuti langkah Hendrick. Mereka harus membicarakan topik rahasia ini di tempat yang tertutup. Atau semuanya akan bocor ke permukaan tanpa bisa dicegah.
...❀...
"Jadi... siapa sebenarnya George?"
Clara menundukkan pandangannya ke bawah, memainkan jari - jarinya. Dia tidak berani menatap Hendrick. Hendrick jadi repot sebab perbuatan yang ia lakukan ketika di Freesia. Tapi Clara merasa itu tidak salah, dia melakukannya untuk mencegah perang terjadi. Walaupun itu tak pasti. Namun apa salahnya mencoba?
"Saya adalah senjata asli dari Freesia. Saya diciptakan oleh Raja Willem sendiri, untuk menggantikan Clara Scoleths yang telah diambil oleh Frederick Wayne." Sahut George, dia memutuskan menjawab menggantikan Clara.
Hendrick mengacak rambutnya dengan frustasi. Sesungguhnya semua masalah antara Ranunculus dan Freesia ini terjadi karena ayahnya. Sayangnya, Frederick tidak mau menyelesaikan masalahnya secara kekeluargaan dan malah menciptakan dendam lainnya. Dan yang kena imbasnya malah seluruh Ranunculus. Keempat wilayah pun saling berseteru, beradu untuk melihat siapa pemenangnya.
Masalah ini adalah alasan lain kenapa dia membenci ayahnya setelah pemaksaan menjadi Duke. Pak tua itu tak berfikir sama sekali jika tindakannya di masa lalu sangat membuat kacau di masa kini. Hendrick tadinya ingin menghapus nama Frederick dari keluarga Wayne kalau dia melupakan cinta besar ibunya pada pak tua itu.
"Bibimu..." Hendrick menggantungkan kalimatnya, memandang George menyelidik.
"...Eleanor Northern adalah ibuku 'kan?" Sambung Hendrick, tatapannya menajam pada George, dia menunggu jawaban pria itu.
George memejamkan matanya, topik yang sama seperti yang ia bicarakan dengan Edmond. Dia malas mengulas hal yang sama. Tapi karena kali ini yang ia ajak diskusi adalah sepupunya sendiri, maka ia akan lanjutkan.
"Ya."
Clara yang duduk diam sedari tadi menatap melongo pada kedua orang di depannya. Sungguh, dia tak paham dengan perubahan topik yang mendadak. Ditambah lagi rasanya ini terlalu dini untuk Clara mengetahuinya.
Plot twist lagi... plot twist lagi... Kenapa novel FG ini terlalu banyak isi plot twist? Tidak bisakah mereka membiarkan otakku beristirahat sehari saja?!
"Tapi Tuan Hendrick... bagaimana anda bisa tahu soal itu?" Selang Clara.
Hendrick memijat pelipisnya, dia sungguh merasa sangat tua kalau dihadapkan dengan masalah ini. Harusnya pak tua itu yang menyelesaikannya. Namun nyatanya dia malah berleha - leha di kediaman Wayne bersama ibunya. Menyebalkan!
"Tua bangka itu pernah mendapatkan sebuah surat dari seseorang, tidak jelas siapa. Disana diberitahukan pada ayah, jika satu - satunya keponakan lelakinya dijadikan sebagai senjata pengganti. Sebenarnya kejadian ini terjadi beberapa tahun silam, setelah kau menjadi bagian keluarga Wayne." Ujar Hendrick, pandangannya tertuju pada Clara.
"Awalnya aku tidak berfikir jika George adalah orangnya. Karena sejak awal aku tak pernah bertemu dengan orang ini. Tapi setelah dia sendiri mengatakan kepadaku bahwa dirinya adalah senjata, maka kenyataannya cuma ada satu." Lanjut Hendrick.
Akhirnya, Hendrick ingin berbicara empat mata dengan George. Dia mempersilahkan agar Clara mau memberikan mereka berdua ruang. Mau tak mau Clara juga harus meninggalkan mereka berdua.
Clara berjalan diantara lorong istana. Berbeda dengan istana kekaisaran Hortensia yang gelap dan hanya diterangi oleh cahaya minim dari lilin. Agapanthus sangat terang sama halnya seperti Ranunculus. Mungkin memang hanya Hortensia saja yang suka gelap. Bahkan Freesia saja tidak segelap itu setiap ruangannya.
"Aku akan memberi usul kepada Yang Mulia untuk menambahkan jumlah lilin. Kalau pelit mana ada yang mau datang ke istana Hortensia." Cibir Clara.
Gadis ini lupa dengan perusuh dari Vinca yang membuat Meiger jengah setengah mati.
Clara menghentikan langkahnya, terpaku pada seorang gadis yang tengah memandangi langit malam. Gadis ini lagi - lagi galau karena seseorang yang ia cintai mesra dengan gadis lain. Menyedihkan sekali rasanya. Tapi jika Clara ada di posisinya, dia lebih memilih mencari orang lain yang bisa menerimanya apa adanya. Namun apa mau dikata, cinta itu buta katanya... Clara harus jadi orang yang peka disini.
Dia melangkah menghampiri Valentina yang terdiam memandang bulan. Harum dari lavender tercium oleh hidungnya, lembut dan menenangkan. Clara menyadari jika spesies bunga agapanthus cukup sedikit dan nyaris punah. Jadi yang lebih banyak ditanam adalah lavender. Ini lebih baik dibandingkan mawar biru yang tersimpan sihir hitam itu.
"Valentina Harold?"
Valentina terperanjat, melirik kecil orang yang memanggilnya. Itu adalah gadis yang datang bersama dengan pewaris Vinca serta seorang misterius lainnya yang tak Valentina ketahui.
__ADS_1
"Clara Scoleths." Ucap Valentina tanpa sadar.
Clara mengulum senyum manisnya, "Aku senang kamu bisa mengingat namaku. Kamu bisa memanggilku Clara, agar kedengaran lebih akrab."
Valentina membalas senyum Clara dengan tulus. "Kalau begitu, kamu juga bisa memanggilku Valen."
Valen? Ini terdengar hampir sama dengan Allen.
"Kamu gadis yang cantik, Clara. Bahkan melebihi wanita itu. Tapi entah kenapa dia yang dijuluki Dewi Herbras, bukannya dirimu. Padahal wajahmu jauh diatas wanita itu."
Valentina kembali memandang langit malam. Dia mendengus kesal ketika menyebut 'wanita itu'. Clara tahu betul siapa yang Valentina maksud. Hanya ada satu orang saja yang bisa membuat Valentina menjadi seperti ini. Siapa lagi kalau bukan rival cintanya yaitu Hellen.
Clara terkekeh pelan, "Valen bisa saja. Aku merasa tersanjung atas pujianmu itu. Karena biasanya orang - orang lebih suka menyebutku jelek, makhluk antah berantah, bocah, pembuat masalah dan sebagainya."
"Benarkah?"
Clara mengedikkan kedua bahunya, tak mau tahu.
"Ngomong - ngomong... apa kamu punya masalah dengan wanita itu- maksudku Hellen Wayne?" Valentina bergidik ngeri ketika dia menyebut nama tunangan Rovers itu.
"Huh? Tidak. Apakah ada sesuatu?"
"Iyap. Saat kami masih di akademi. Anak itu selalu menggumamkan kata - kata seperti 'Clara aku benci padamu' atau 'akan kubalas rasa sakitku ini, Clara'. Kupikir dia sangat membencimu."
"Kami sudah berbaikan kok."
"Heh?" Valentina menatap tak percaya pada Clara.
"Itu benar! Kami memang sudah baikan. Kau punya masalah dengan itu?"
Clara terkesiap, tak siap dengan seorang gadis lainnya yang menarik lengannya dan memeluknya dengan erat. Untung saja Clara berhasil menyeimbangkan tubuhnya, kalau tidak dia bisa saja jatuh.
"Allen?"
Hellen menatap kesal pada Valentina yang tiba - tiba berbicara dengan Clara. Dia takut kalau Clara akan memilih berteman dengan Valentina dibanding dirinya, lalu pergi meninggalkannya jauh - jauh. Hellen tidak mau itu terjadi untuk kedua kalinya.
Valentina juga membalas tatapan Hellen tersebut. Clara melihat ada aliran listrik yang terpancar dari tatapan mata mereka. Bersiap untuk saling melawan. Apalagi rasa cemburu Valentina sudah mencapai puncaknya ketika Hellen juga mendapatkan cintanya Rovers. Kali ini dia takkan membiarkan orang pertama yang ia anggap teman juga diambil olehnya.
Valentina menarik lengan Clara yang satunya dan menariknya dengan kencang, supaya Hellen mau melepaskan pegangannya pada Clara. Clara mendadak merasa sakit kepala karena diperebutkan oleh dua wanita cantik ini.
Apaan sih?! Aku maunya diperebutin cogan bukan cecan!
"Apa yang kalian berdua lakukan? Menyiksanya?"
Adegan tarik menarik terhenti karena ada iklan yang lewat. Raģe melipat tangannya di depan dada dengan ekspresi angkuh. Dia mengernyit, merasa aneh karena melihat Hellen dan Valentina yang malah memperebutkan gadis rusuh tersebut.
Berbeda dengan Hellen dan Valentina yang menatapnya jengkel karena mengganggu, Clara terkesima sebab ia anggap sebagai penolong. Semoga saja Raģe mau menyelamatkan Clara dari ganasnya dua dara ini.
Raģe, tolong aku... hiks...
TBC
Jangan lupa letakkan like dan komen. Apa salahnya meletakkan jempol? Kuharap kalian tidak mencampakkan tombol like begitu saja.
So, see you in the next chapter~
__ADS_1