The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 73 - Momen Sebelum Kepergian


__ADS_3

Hari - hari berlalu begitu cepat, kebiasaan di istana Freesia tak ada perubahan signifikan. Clara rutin mengunjungi kamar George setiap hari dan tanpa mempertanyakan soal kabur lagi. George juga diam saja, dia tidak banyak bicara mengenai kepulangan Clara.


Hingga dua hari lagi sebelum Clara kembali ke Hortensia.


Pagi itu sangat gelap, banyak awan mendung di langit. Mungkin salju akan turun jika suhu serendah ini. Clara tidak lupa kalau musim dingin mengikuti dirinya yang pergi ke Freesia.


"Hey?" Panggil George.


"Kenapa?"


"Kau mengatakan sesuatu tentang Hortensia 'kan? Apa jangan - jangan kau bukan dari Ranunculus?"


He? Aku sudah lama kabur dari sana...


"Ya, aku dari Hortensia. Kalau Ranunculus sih... aku sudah sekitar sebulan kabur dari sana. Kenapa tiba - tiba bertanya begitu?"


"Tidak ada. Hanya saja, kau pernah mengatakan kepadaku bahwa Hortensia adalah rumahmu sehingga kau perlu pergi dari Freesia."


"Memang, itu tidak salah."


"Jadi kau akan benar - benar pergi?"


Clara meringis pelan. Dia padahal sudah berusaha keras menjauhi topik ini sebisa mungkin. Tapi sekarang malah George yang memancingnya membicarakan hal sensitif ini. Padahal semuanya akan percuma, George juga takkan ikut dengannya.


"Jawab aku, Clara."


Tapi sayangnya George cukup keras kepala. Dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Clara. Jujur, ini situasi yang sama sekali tidak menyenangkan.


"Tidak ada pilihan lain. Seperti katamu, kau tidak mau meninggalkan Freesia karena disinilah rumahmu. Dan aku harus kembali ke Hortensia karena disana adalah rumahku." Clara menjabarkan dengan perlahan.


Hari yang menyenangkan telah mereka lalui selama beberapa minggu meskipun awalnya mereka bersitegang. Tapi nyatanya George cukup nyaman dengan kehadiran Clara dalam hidupnya.


Juga, Clara tidak membombardir George dengan pertanyaan menyebalkan lagi.


Mereka menghabiskan waktu yang memang terbilang singkat. Dan, mereka sempat mendapatkan misi eksekusi lagi sebelum hari ini. Raja Willem mendesak George agar ikut dalam penyerangan membabi buta terhadap Ranunculus. Dia begitu ingin anak haram nya menjadi senjata yang sempurna seperti Clara.


George memperhatikan Clara yang melahap buah di tangannya bulat - bulat.


George tidak tahu apakah Clara juga diikutsertakan oleh Raja Willem dalam penyerangan ini. Tetapi mendengar pernyataan Clara yang akan pergi, mungkin saja diam - diam dia merencakan untuk kabur ketika itu.


"Kapan kau akan pergi?"


"2 hari lagi kurasa..." Clara mengingat - ingat.

__ADS_1


George terperanjat, itu adalah hari dimana Raja Willem dengan pasukan elit nya menyerang Ranunculus. Jika Clada pergi saat itu juga, bukankah akan berbahaya? Paling parah dia akan tertangkap lagi dan terkena hukuman sebab berusaha kabur.


"Haruskah? Kenapa tidak dimundurkan atau dimajukan saja?" Tanya George agak panik.


"Tidak bisa."


"Begitu..."


George tak berucap apapun lagi.


Baru tiga minggu kurang di Freesia. Rasanya tidak puas. Tapi ini juga agar bisa sekaligus menghentikan penyerangan Freesia bersama Jean dan rekannya aku rasa. Soalnya dia berbicara tentang memanfaatkan orang lain.


Aku tidak menyangka waktu berjalan secepat ini. Sekarang di Hortensia juga tak ada Avrim di sana, kenapa aku harus cepat pulang yah?


...❀...


Waktunya makan siang, seperti biasa Clara hanya akan makan sendirian. George tidak mau keluar, dia terlalu betah di kamarnya yang sebenarnya tidak ada apa - apa.


Clara memotong daging dengan santai, dia tidak memperdulikan tatapan aneh dari para pelayan. Sebagai seorang senjata, Clara mana perlu semua tata krama dan keanggunan wanita. Lagipula dia bukanlah bangsawan, dia hanyalah anak pungut yang kebetulan punya kecantikan diatas rata - rata.


KREK


"Huh?" Clara mengangkat sebelah alisnya.


"Kenapa kau disini, George? Tadi pagi padahal kau belum mau sarapan diluar." Clara berkomentar.


Benar, George yang sangat tidak suka keluar kecuali karena Raja Willem dan misinya mendadak duduk di meja makan berhadapan dengan Clara. Ini adalah fenomena yang bahkan terjadi lebih jarang dari gerhana.


"Apa masalahnya? Terserahkulah." Jawab George acuh.


"Tidak tidak tidak! Mengapa kau tiba - tiba makan bersamaku? Biasanya kau jijik jika harus makan dan di depanmu adalah aku." Clara mengerutkan keningnya, makin heran.


"Aku lapar."


Clara mendesah lelah, mengalah dari si kepala batu ini. "Terserah kau saja deh..."


"Memang, daritadi aku mengatakan itu. Kau tuli?" Ucap George dengan nada menyebalkan.


Ada apa dengannya?! Pagi tadi dia baik - baik saja. Mengapa sekarang seperti kucing garong yang sedang balas dendam?!


"Kau ada dendam denganku, George? Mendadak menjadi menyebalkan begini." Clara menyuap potongan daging ke dalam mulutnya, pandangannya masih tertuju pada pemuda labil itu.


"Menyebalkan? Aku? Lalu siapa yang akan meninggalkanku dengan seenak jidatnya huh? Bercermin itu lebih baik sebelum mengomentari orang lain. Dasar payah."

__ADS_1


JLEB


Itu sakit bung!


Clara hanya bisa bersabar saja dengan kelakuan George. Dia menganggap jika pemuda itu sedang dalam hari merah nya. Yah, Clara akan berfikir jika George dalam suasana hati terburuknya.


Apa dia tidak suka jika aku pergi? Padahal dia seringkali mengusirku. Sekarang aku mau pergi dan dia jadi kesal. Salahku dimana sekarang? Aku hanya mengikuti kemauan nya -_-.


Tanpa sadar Clara mengelus dada dengan dramatis.


Dia melanjutkan makan siang tanpa banyak bicara lagi. George juga tampak tak begitu ingin terlibat dalam percakapan apapun selama dia makan. Beberapa pelayan yang memperhatikan hanya bisa merasa bingung dengan kalimat George yang terakhir. Mereka merasa janggal dan tidak paham, tapi mereka tak berani juga untuk bertanya.


TRING


Sinar matahari yang mengumpat dibalik awan - awan mendung memantulkan sinarnya pada jepit giok milik Clara. Itu menjadi pusat perhatian George, jangan lupa kalung yang indah itu juga.


"Kau cukup kaya untuk ukuran seorang senjata." Ujar George yang telah menyelesaikan makan siang nya.


"Apa?" Clara mengangkat sebelah alisnya, keheranan.


"Jepit giok dan kalung mu itu." George menunjuk dengan dagunya.


"Ouh... ini juga pemberian orang lain bukan aku sendiri yang beli. Aku mana punya uang untuk membeli perhiasan mahal ini."


"Orang lain?"


Clara mengangguk, "Iya."


Dia memegang kalung yang tergantung di lehernya. "Ini adalah pemberian dari anak bungsu Tuan Frederick Wayne. Ini adalah hadiah balasan darinya setelah aku memberikan sesuatu padanya, padahal pemberianku tidak sebagus itu."


"Hellen Wayne 'kah?" Gumam George, "Yah... dia tidak melihat hadiah apa yang diberikan kepadanya melainkan siapa orang yang memberikan hadiah nya. Lalu, siapa yang memberimu jepit giok itu...?"


Eh? Hendrick sudah menjadi Duke sekarang. Agaknya tidak sopan memanggil dia dengan sebutan Tuan Hendrick.


"Duke Wayne yang memberikan ini kepadaku sebelum aku pergi dari Ranunculus." Senyuman mencuat dari bibir tipis Clara.


Wajah George agak kesal, Clara jadi merasa salah sendiri entah kenapa. Mendadak dia juga merasa de javu, karena Kaisar juga pernah jadi begini hanya karena dia ingin mengirim surat pada Hendrick.


Mengapa tidak ada yang suka pada Hendrick sampai - sampai mereka membenci hadiah pemberiannya kepadaku?


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2