The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 54 - Arti 'Maaf' Di Hari Itu


__ADS_3

TAP TAP


Seorang pria berbadan tegap dengan jubah kekaisaran berjalan melewati lorong yang sepi.  Tujuannya saat ini hanyalah satu, yaitu perpustakaan. Setibanya disana, dia mendekat ke salah satu rak buku dan menggesernya sedikit.


Dan mengejutkannya, ada ruangan rahasia di balik rak tersebut. Pria itu memasukinya tanpa rasa curiga, menatap anak perempuan penghuni ruangan dalam diam. Manik mata anak perempuan itu adalah safir, sama sepertinya.


Anak perempuan itu menyadari keberadaan kaisar. Namun bukannya memberi penghormatan, anak itu hanya berdiam diri saja. Kaisar juga nampak tak mempermasalahkannya.


Kaisar mendekati anak perempuan itu lalu mengelus pelan pucuk rambutnya. "Bagaimana kabarmu hari ini?"


Anak perempuan itu menjawab dengan nadar. "Biasa."


Kaisar kemudian tersenyum kecut. "Maaf tidak bisa membawamu keluar, kulitmu sangatlah sensitif. Akan berbahaya jika terkena sinar matahari langsung."


"Tak apa, aku sudah terbiasa." Suara anak itu terdengar serak.


Kaisar memandang anak itu lembut, membawanya ke atas pangkuannya selagi kaisar duduk. "Apakah kau sudah terbiasa dengannya?"


Anak itu memegang dadanya. "Dia sering muncul tiba - tiba dan sekalinya muncul bertindak semena - mena. Terkadang juga karenanya aku melupakan jati diriku yang sebenarnya... akhir - akhir ini aku juga melupakan banyak hal."


"Maaf, tapi semua ini kulakukan agar kau bisa mengimbangi sihir hitam dalam tubuhmu."


"..."


"Menurutmu bagaimana Freesia itu?" Tanya kaisar, berusaha mengalihkan topik.


"Sama saja seperti disini, aku tetap tidak bisa bermain keluar..... Aku iri kepada mereka yang normal."


"Tapi kau tahu? Tidak semua orang memiliki kondisi spesial seperti dirimu. Meskipun kau tidak menginginkannya, aku harap kau bisa menerima keadaanmu ini suatu hari nanti."


Anak itu tak merespon, kaisar merogoh sakunya, mengeluarkan benda kecil yang ia dapatkan dari seseorang.


"Lihatlah ini..."


Anak itu terlihat tertarik dan mengambil benda kecil tersebut dari tangan kaisar. "Apa ini? Penanda buku? Aku sudah memiliki banyak dari mereka, berbeda motif pula."


"Yah... tapi kau belum memiliki yang berbentuk bunga hortensia bukan?"


"Ini... dari bunga asli?" Anak itu bertanya - tanya.


"Itu benar."


"Hebat, kalau begitu ini untukku saja."


"Ini memang untukmu."


Di luar ruangan itu, bersandar diantara rak. Berdiri seorang anak laki - laki yang berpakaian tidak jauh berbeda dari kaisar. Warna ruby menghiasi kedua matanya secara sempurna.


Kemudian anak itu menatap buku di tangannya.


"Hortensia, Scoleths ialah dirimu dan diriku?"


...❀...


"Tu..tunggu! Apakah anak perempuan dalam cerita Yang Mulia adalah... Hamba...?"


Clara melotot tak percaya pada Meiger, setelah Kaisar Hortensia ini menceritakan tentang kisahnya di masa lalu. Dimana saat itu ternyata Clara Scoleths pernah tinggal disini sebelum di Freesia. Serta penanda buku hortensia itu adalah pemberian dari kaisar sebelumnya, Siegward Westhley.


"Tidak percaya ya sudah..."


"Ugh...! Namun Yang Mulia, bagaimana kaitan dari cerita itu dengan buku ini? Terlebih lagi tulisan di halaman pertamanya sangat ambigu, begitu mudah menimbulkan kecurigaan."


"Kau ingat bukan mengapa kau menyentuh dadamu sendiri ketika itu?" Tanya Meiger balik.


Eh? Mungkinkah saat itu Clara asli berbicara tentang...

__ADS_1


"Itu... pribadi dalam Hamba?" Tebak Clara.


"Tepat."


"Apakah memang benar kalau Kaisar Siegward lah yang telah membuat Hamba menciptakan pribadi dalam sendiri. Tapi, apa alasannya? Apa maksud dari 'mengimbangi sihir hitam dalam tubuhku' itu?"


Clara mencengkeram pakaiannya, entahlah. Semenjak dia berada dalam tubuh Clara Scoleths, dirinya sering sekali merasa sedih karena keadaan yang menimpa Clara. Perasaanya lebih mudah terombang - ambing setelah dia menjadi pemilik baru tubuh ini.


Apa mungkin kalau perasaan Clara asli masih bersemayam di tubuh ini...?


"Hamba mohon Yang Mulia! Tolong jawab pertanyaan Hamba!"


Setetes air mata mengalir di pipi Clara, ia merasa bahwa ini sudah puncaknya. Rasa lelah karena dia menjadi antagonis serta rumor yang membuat hidupnya tidak tenang. Sudah cukup baginya untuk bersabar, sabar itu ada batasnya.


Meiger tertegun sejenak, sebelum ia bisa mengambil nafas kembali. "Apa kau tahu dari mana nama keluarga Scoleths yang sebenarnya?"


Clara menggeleng samar.


"Jika begitu, pernahkah kau mendengar tentang gadis terakhir pemilik mata putih menyerupai berlian?"


Kali ini Clara mengangguk.


"Baiklah kalau kau tahu, selanjutnya akan lebih mudah. Tahukah kau? Kalau sebenarnya benua Herbras ini sudah dicemari oleh sihir hitam sejak ratusan tahun silam. Dan gadis itu ialah orang yang menyerap sihir hitam."


"Huh? Maksudnya?"


"Singkatnya, gadis itu menyadari kalau sihir hitam yang semakin berkembang akan berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia. Jika hal itu hanya dibiarkan, akhirnya hanya ada satu. Manusia akan ditelan oleh sihir hitam dan menjadi mayat hidup."


DEG


"Bagaimana cara menghentikannya...?" Clara menyela ucapan Meiger.


"Tentu saja dengan membunuh para manusia sebelum mereka ditelan sihir hitam. Sebab jika mereka mati sebelum ditelan sihir hitam, akhir mereka akan lebih baik dibandingkan menjadi mayat hidup."


"Nama gadis itu adalah Lyserith Scoleths."


"...!"


"Dan sisa ceritanya kau bisa menyambungkannya sendiri mengenai kau yang memiliki nama belakang sama seperti gadis itu. Walaupun Scoleths bukanlah nama keluarga bangsawan."


Clara terlihat mulai gentar, kebenaran yang dia inginkan sudah sedikit demi sedikit dia dapatkan. Tetapi, entah kenapa dia tidak suka dengan fakta. Lebih baik baginya untuk tidak tahu apapun.


"Kemampuan yang sama 'kah...?"


Wajah Clara yang sudah pucat semakin memucat. Mengucapkan satu kalimat saja ia tak kuasa, bibirnya gemetar hebat.


"Huft... dan maaf tentang Ayahku yang membuatmu mempunyai dua kepribadian. Itu dia lakukan agar kau bisa menopang sihir hitam yang terserap dalam tubuhnya sengaja atau tidak."


"Maaf? Apakah ini yang dimaksud Yang Mulia dengan 'maaf' di hari itu? Permohonan maaf inilah yang Yang Mulia maksud." Clara berbisik samar.


"...Benar. Maafkan aku, Clara."


Suasana sepi tercipta.


Meiger yang benci suasana melankolis, memilih memandangi alam sekitarnya. Cara sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya dalam - dalam. Memikirkan betapa rumitnya alur novel yang ia cap sebagai novel abal - abal itu.


Terlalu banyak plot twist... meski begitu, mengapa aku menangis? Siapa saja, adakah yang berkenan memberitahuku apa alasanku menangis?


Clara diam - diam memperhatikan wajah samping Meiger. Bohong kalau Clara bilang dia tidak terpesona. Sejak dia jatuh cinta pada pria ini, Clara selalu kagum dengan Meiger dari sisi manapun.


Aku bukanlah Clara asli, tapi aku bisa merasakan penderitaannya. Akan tetapi... perasaanku kepadanya bukanlah benci.


GREP


Clara mempererat cengkeramannya pada gaun miliknya. Dia tidak peduli kalau wajahnya yang sehabis menangis sangatlah kusut. Dia juga tidak peduli dengan kesan Meiger kepadanya setelah ini.

__ADS_1


Tapi satu hal yang membuat Clara yakin. Meskipun waktunya kurang tepat, akan lebih menyesalkan lagi baginya kalau kehilangan kesempatan ini.


"Yang Mulia..." Panggil Clara, suaranya gemetar, wajahnya sudah sangat merah karena malu serta manik matanya yang berkaca - kaca.


Meiger menghadap pada Clara lagi.


"Walaupun Yang Mulia merasa bersalah karena hal itu. Tapi sebenarnya Hamba tidak membenci Yang Mulia, maupun Kaisar Siegward." Ucap Clara, suaranya tidak berhenti bergetar.


"Apa? Mungkinkah kau orang bodoh? Pribadi dalammu sudah banyak menyusahkanmu 'kan?"


"Memang benar... tetapi... Hamba tidak akan pernah bisa membenci Yang Mulia. Lagipula, kepribadian Hamba yang lainnya itu tidak begitu menyusahkan."


"...?"


Clara semakin menguatkan dirinya, meyakinkan diri sendiri untuk melakukannya. Terakhir kali ia begini mungkin... tidak pernah? Entahlah, Clara sudah melupakan banyak hal di masa lampau.


"Yang Mulia... sebenarnya Hamba meー"


SREK


Heh? Siapa?


Clara menengok ke belakangnya, dimana dia mendengar semak - semak bergemerisik. Nyatanya itu bukanlah ulah angin, melainkan seseorang dengan wajah keriputnya.


Wanita dengan pakaian pelayan serta wajahnya yang bijaksana. Tapi ekspresinya saat ini mengatakan bahwa ia sangatlah terkejut akan sesuatu, merasa bahwa ia telah mengganggu momen bersejarah yang jarang terjadi.


Avrim kembali!


DEG!


Baru saja Clara tersenyum senang ketika Avrim sudah kembali. Tetapi rasa sesak lagi - lagi menyerang dirinya, aura gelap, dingin dan berat seolah memaksa masuk ke dalam tubuhnya.


Clara memegangi kepalanya yang semakin berat, ia bahkan berfikir kalau ada besi yang dilemparkan dengan kecepatan tinggi kearah kepalanya. Semakin menusuk rasa sakitnya, Clara juga semakin menguatkan cengkeramannya.


"Clara? Kenapa kau? Apa kau baik - baik saja?"


BRUK


"CLARA!"


"NONA!!!"


Tubuh Clara ambruk jatuh ke tanah, ia terus memegangi kepala dan dadanya yang rasa sakitnya menjadi berkali - kali lipat lebih parah dari sebelumnya.


Ugh! Rasa sakit ini lagi! Sebenarnya kenapa ini?!


Rasa sakit semakin melanda dirinya, kini bahkan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Clara nyaris tidak bisa merasakan tubuhnya lagi saat ini.


Meiger membantu menopang tubuh Clara agar tidak jatuh lagi. Samar - samar juga Clara mendengar Avrim berteriak meminta bantuan para prajurit untuk memanggil tabib.


Begitu sakit rasanya, kini Clara sudah tidak kuasa bahkan untuk sekedar mengeluarkan sepatah kata saja. Dia setengah menangis, tanpa bersuara sedikitpun.


Nafasnya terengah - engah, kesadarannya serasa direnggut perlahan - lahan. Matanya lama - lama terpejam.


Sebelum kehilangan kesadarannya, Clara masih bisa mendengar teriakan Avrim yang memanggil dirinya. Serta Meiger... entah apa yang pria itu lakukan, Clara tak tahu lagi.


"Nona, bertahanlah! Nona? Nona! NONA!!"


"Clara..."


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2