
Perjalanan berlanjut kembali, mereka sudah setengah jalan. Clara menjadi lebih diam, itu semua karena Avrim fokus mengendarai kuda. Dan Jean yang tampak suram tak seperti dia yang biasanya.
"Hei Avrim, mengapa Jean sejak tadi diam saja?"
"Freesia adalah kampung halaman kedua orang tuanya, Nona."
"Lalu kenapa dia murung terus???"
"Kenangan buruk tentang kedua orang tuanya ada disini."
"Apa kedua orang tua Jean tidak baik?"
"Mungkin bisa dibilang begitu."
Tidak ada percakapan lagi setelahnya diantara mereka. Clara mungkin takkan menyentuh garis privasi Jean yang menyangkut kedua orang tuanya. Ataupun alasan kenapa dia membenci Freesia karena mereka.
Ada saatnya Clara untuk tak ikut campur.
"Kenapa berhenti mendadak Jean?"
Clara bertanya - tanya, merasa penasaran ketika Jean menghentikan laju kudanya. Otomatis Avrim juga berhenti, sejak awal penunjuk jalan menuju Freesia memang adalah Jean.
Jean menjawab dengan singkat, "Kita salah arah."
Lalu Jean memutar balikkan kudanya, kembali melaju diikuti Avrim. Clara ikut saja, dia ini buta peta. Walaupun pernah menghuni Freesia namun itu adalah Clara Scoleths, bukannya dia.
Perjalanan mereka begitu sepi, hanya ada suara jangkrik dan hewan - hewan malam yang menghiasi. Bintang malam ini juga tak banyak, pasti karena cuacanya mendung makanya mereka tertutupi. Alhasil mereka hanya mengandalkan cahaya bulan sebagai penerangan.
SREK
"Hm?"
Jean untuk kedua kalinya menghentikan kudanya secara tiba - tiba.
"Kenapa lagi Jean?"
"Kita salah arah."
Ek?! Lagi?! Dia ini sedang galau 'kah? Kalau memang benar ini semua karena kenangan buruk yang ia dapat dari keluarganya. Mengapa Yang Mulia mengirim Jean bersama kami? Bukankah Avrim sudah cukup? Atau mungkin Avrim tak tahu 'jalur belakang' menuju Freesia?
Mereka melanjutkan perjalanan lagi, Clara harap Jean lebih fokus agar mereka tak membuang - buang waktu. Sebulan itu memang lama, namun pendirian seseorang yang kuat itu sulit diubah. Mereka harus segera bertindak.
Aku tak mau perang pecah seperti pada novelnya... ending hitam itu cukup menyisakan aftertaste yang mengerikan. Sampai sekarang aku bahkan tak bisa melupakannya, ketika Clara Scoleths memulai perang. Apa mungkin kalau perang dimulai olehnya karena ada pengaruh dari sihir hitam???
Astaga... hentikan berfikiran buruk Clara!
SREK
Lagi, Jean menghentikan kudanya.
"Jean, kenapa berhenti lagi? Jangan katakan padaku bahwa kau salah arah lagi..."
"Iya Nona, sepertinya begitu."
"Ini yang terakhir kali, oke?"
"Baik Nona."
Walau Jean mengatakan 'baik', namun nada bicaranya agak acuh dan abai. Seolah dia tak mendengarkan sama sekali apa yang Clara katakan. Jujur saja, itu membuat Clara kesal. Namun dia berusaha sabar dan mengharapkan kerja sama Jean saat ini. Akan tetapi sayangnya...
Jean salah arah lagi.
Dan lagi.
Setelahnya juga begitu, tak berbeda jauh.
Juga kali ini...
"Sepertinya kita salah arah lagi, Nona." Kata Jean dengan nada datar, itu terdengar seperti dirinya tak peduli jika mereka salah arah.
Sudah cukup! Clara telah kehabisan kesabarannya. Dia merasa jengkel dan geram dengan kelakuan pengawal pribadi kaisar itu. Ini sudah kesekian kalinya Jean membuat mereka tersesat. Anehnya, Avrim tak merespon apapun atau sekedar menegur Jean.
"Jean hentikan itu! Kau memang berhak atas perasaanmu! Tetapi saat ini kita sedang dalam misi menculik seorang senjata. Berhentilah bersikap acuh sekarang!" Hardik Clara.
"Huh? Mengapa Nona mulai membicarakan perasaan? Saya ini hanya salah arah, bukan galau karena ditolak cintanya!" Jean membalas dengan nada tinggi.
Emosi Clara menjadi terpantik setelah Jean membalasnya barusan. "Kau ini! Seharusnya kau malu dengan umurmu! Usiamu itu sudah tak muda lagi! Berhenti bersikap seperti anak - anak dan dengarkan nasihat orang lain! Jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri! Dasar!"
"Saya tahu kalau saya ini hanyalah bawahan, tapi sikap Nona mulai kurang ajar."
"Kau lah yang membuatku menjadi seperti ini! Mulai sekarang berhentilah bermain - main. Dengar dan ingatlah!"
"Ap-!"
KRETAK!
__ADS_1
Terdengar suara getaran keras yang begitu memekakkan di telinga. Clara langsung merespon, "Longsor 'kah?"
KREK
"Heh?!"
Respon Jean yang tercepat, dia menyadari jika tanah yang menjadi pijakan mereka adalah sumber dari suara retakan barusan. Clara juga sadar, dia ingin memperingatkan Avrim tentang adanya kemungkinan longsor.
Namun saat Clara mengetuk pelan pundak Avrim, sang wanita paruh baya tak bergeming. Ia mulai merasakan dingin ketika menyentuh Avrim. Clara menjadi curiga dengan keadaan Avrim sekarang, dia menatap Jean di sampingnya. Wajahnya nampak pucat pasi.
"Jean-!"
GREK
"AKHHH!!!!"
Clara terlambat, dia serta Avrim dan Jean terlalu lambat untuk menjauh dari tempat yang berpotensi longsor. Dan ternyata gerakan tanah barusan bukan hanya menimbulkan longsor melainkan timbul sebuah lubang. Saat Clara jatuh ke dalamnya, dia memejamkan matanya. Membaca semua komat - kamit yang ampuh agar dia selamat.
Kesialan macam apa lagi yang menimpaku ini...! Aku akan menangis jika kenyataannya ini bukanlah kesialan terakhir yang menimpaku!
...❀...
Di sebuah ruangan besar, dimana ada banyak sekali kertas berwarna kuning yang menumpuk disana. Serta beberapa rak yang sengaja ditempatkan di ruangan tersebut untuk menyimpan banyak buku.
Pria yang sedang memegang pena nampak menyangga dagunya. Dia tidak menulis, melainkan hanya mengetuk - ngetukkan penanya keatas meja. Mungkin itu adalah gaya nya ketika sedang berfikir, kelihatannya biasa saja.
BRAK
Pria lainnya masuk ke ruangan itu dengan ekspresi menyebalkannya. Kalau pria ini bukanlah seorang pewaris tahta kekaisaran tetangga, maka si pemilik ruangan sudah pasti menendangnya ke antah berantah.
"Meiger? Padahal ini masih terlalu pagi untukmu berurusan dengan semua kerjaan itu. Apa kau tidak merasa lelah walaupun sedikit saja?"
Pria itu dengan kurang ajarnya langsung duduk di depan Meiger. Beruntung saja Meiger punya level kesabaran yang lebih tinggi ketika dia sedang bersama makhluk ini.
Meiger menghela nafasnya, upaya mengatur kesabarannya ke level tertinggi. Dalam hati merutuk pria aneh di hadapannya dengan berbagai umpatan yang tak pantas.
Seharusnya aku kabur ke kuil saja agar ulat berjalan ini tidak mengusikku. Sayangnya aku lengah dan menganggap bahwa dia takkan datang di pagi - pagi buta.
Pria itu menatap kanan kiri, menyelidik ke sekitarnya. "Hey, mengapa aku tidak melihat pengawal pribadimu itu? Siapa namanya ya... kalau tidak salah Jean 'kan?"
"Dia pergi ke Freesia." Jawab Meiger, singkat, padat dan jelas.
BRAK!
"Oy Meiger! Mengapa kau mengirim bawahanmu ke Freesia? Kau mau memulai peperangan dengan mereka?! Aku pikir kau tak peduli dengan pertengkaran antara Ranunculus dan Freesia."
"Aku memang tak peduli."
"Huh? Lantas apa yang membuatmu mengirim anak bawang itu ke wilayah sebelah???"
"Clara sudah datang."
Pria itu mengerutkan keningnya, merasa aneh ketika Meiger, kawannya ini meracau. Padahal yang ditanyakan olehnya bukanlah tentang Clara. Pria itu terhenyak, dia merasa kalau nama Clara ini terdengar begitu asing di telinganya. Akan tetapi, dia sadar akan satu hal...
"Meiger."
"Hm?"
"Clara yang kau katakan tadi itu nama perempuan 'kan?"
"Yeah, kau bisa menebaknya dari namanya."
"Lalu... bagaimana kau bisa mengadopsi gadis untuk bercinta semalam???"
"Huh?"
"Pikirkan saja, kau tidak pernah melakukan hal bodoh ini sejak dulu. Dan bahkan jika pun kelakuanku ini tidak beda jauh dari setan, tapi aku belum pernah menyerahkan keperjakaanku pada gadis yang hanya berada di kamarmu semalam saja." Pria itu menjadi semakin dramatis.
Meiger yakin, dia sudah mulai berimajinasi secara liar tentangnya dan Clara. Tetapi Meiger tak ada kemauan untuk menghentikan imajinasi - imajinasi absurd itu. Dia lebih suka diam dan membiarkan kawannya(?) berfantasi lebih tinggi.
Yah, tidak salah juga kalau pria itu berfikiran aneh - aneh tentangnya. Lagipula usia Meiger sudah nyaris 21 tahun, itu adalah hal lumrah baginya untuk menikah. Dan ketika pria itu mendengar nama seorang perempuan dari mulut temannya, hanya itu saja kemungkinan yang ada. Yaitu cinta semalam -karena Meiger belum menikah.
Tapi seharusnya dia tak sebodoh itu dan menyimpulkan dengan begitu melenceng. Jika pun Meiger diambang kewarasannya, dia tak mungkin melampiaskannya pada gadis begitu saja.
Tetapi karena pria itu masih dalam pemulihan setelah ditolak secara tidak langsung oleh wanita yang dia cintai, maka itu tidaklah sepenuhnya salah. Otomatis dia akan berfikiran negatif mengenai wanita dan cinta.
Pria itu kemudian mengacak - acak rambutnya dengan frustasi. "Jadi, apa alasanmu mengirim Jean ke wilayah yang sedang sensitif itu?"
"Harus berapa kali kukatakan? Itu karena Clara sudah datang kemari."
"Siapa sih sebenarnya Clara ini?!" Teriak pria itu.
"Dia senjata yang pernah tinggal disini."
Hanya satu kalimat saja, dan logika pria itu berfungsi kembali. Tentu saja pria itu mengetahuinya, itu jelas sekali untuk dia ketahui. Apalagi untuk negaranya yang notabene punya koneksi dan hubungan yang akrab dengan Hortensia.
__ADS_1
Itu adalah sebuah cerita lama yang cukup kelam.
Sisi gelap dari sebuah pemerintahan.
Alasan mengapa Freesia membenci Ranunculus. Alasan mengapa Agapanthus bergabung dengan faksi Ranunculus. Dan alasan bagaimana Hortensia dan Vinca bisa terseret dalam masalah kedua kerajaan itu.
Akar masalahnya begitu kecil, dan awalnya begitu tak berpengaruh. Tetapi semuanya berubah hanya dalam semalam saja, 'hal yang kau pikir takkan mengubah apapun sekarang' berubah menjadi 'ketika kau melalukan sentuhan kecil padanya itu akan mengubah segalanya'.
Kau tak akan pernah tahu apa yang akan takdir datangkan kepadamu.
Meiger menyadarkan dirinya, tatapannya tertuju pada langit - langit ruangan. Dia menyatukan kedua alisnya, sebuah perasaan tak enak muncul di hatinya.
Entah kenapa aku tak bisa tenang meninggalkan Jean bersama Clara. Meskipun ada Avrim disana, tetapi aku tahu kebenaran tentang mereka berdua. Terlebih ini pertama kalinya aku membuat Jean berduaan dengan lawan jenis yang seusianya.
Semoga saja tak ada apa - apa.
...❀...
Matahari bersinar begitu menyengat, cahayanya begitu menerangkan. Pagi yang begitu sunyi, seolah tidak ada kehidupan di hutan itu. Di tengah hutan, terdapat bekas longsoran dan lubang besar nan dalam.
Seorang gadis terbaring, wajahnya yang pucat terdapat beberapa goresan. Pakaiannya juga begitu lusuh karena tanah dan debu yang menempel. Dia membuka matanya perlahan, menatap langit - langit yang berwarna kecoklatan.
Dimana ini...?
Kemudian matanya melirik kesana kemari, yang hanya bisa dia lihat adalah reruntuhan sejauh mata memandang serta keberadaan seseorang lainnya.
"Jean..." Dia melenguh pelan.
Clara berusaha mengambil posisi duduk, dia merangkak perlahan mendekati Jean. Ia merasa bersalah karena menghardik pria ini sebelum bencana. Semuanya menjadi kacau karena kesialannya, kalau saja sejak awal mereka tak datang kesini, hal ini takkan menimpa mereka.
Lalu Clara menempelkan jarinya ke leher Jean.
Heh? Lelucon macam apa ini?!
Karena tak percaya dengan jarinya sendiri, Clara segera memeriksa detak jantung Jean melalui pergelangan tangannya.
Huh? Sudah tidak berdetak lagi?! Bohong 'kan ini?!
Clara menjadi panik setengah mati, dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat. Namun yang ada hanyalah tanah dan tanah, sesuatu yang percuma.
"Sejak kapan dia kehilangan detak jantungnya? Semoga saja aku masih sempat!"
Clara menggoyangkan bahu Jean perlahan dan sesekali memanggil namanya dengan suara lantang. Sayangnya Jean sama sekali tak merespon, dan Clara kembali memeriksa detak jantung Jean lagi. Namun tak ada kemajuan sama sekali.
Dia meletakkan Jean secara terlentang, dan mulai melakukan resusitasi jantung paru. Dia meletakkan tangannya di tengah dada Jean dan menimpa tangan pertamanya dengan tangan keduanya.
Clara mulai menekan dadanya dengan tekanan yang kuat. Dia memang hanyalah anak seni, tapi pengetahuan sejenis ini juga Clara pelajari secara otodidak untuk berjaga - jaga. Nyatanya itu berguna di keadaan begini, dia hanya berharap itu bisa berhasil.
Clara terus melakukan kompresi dada, wajahnya sudah memerah karena menahan air mata. Dia merasa takut. Satu persatu bulir air mata telah jatuh, dan Clara mulai terisak.
"Jean... kumohon..."
Dan untungnya usahanya itu berhasil.
Jean kembali menunjukkan tanda - tanda bahwa dia kembali bernafas. Clara nyaris menangis karena dia berhasil menyelamatkan nyawa Jean. Saking senangnya, Clara bahkan memeluk Jean yang masih terbaring.
"Mmh..."
Terdengar lenguhan pelan dari Jean, sedikit demi sedikit kedua matanya kembali terbuka. Dia merasakan ada beban berat yang menimpa tubuhnya, itu membuat badannya semakin remuk setelah dia jatuh karena lonsor.
Semakin lama penglihatan Jean semakin jelas, dia melihat bahwa nona mudanya yang absurd itu tengah memeluknya dengan erat.
"Nona...?"
Clara tak merespon.
"Apa yang sedang Nona lakukan?" Tanya Jean, suaranya tedengar begitu lemah.
"Biarkan aku begini sebentar lagi saja, bagaimana jika kau nyaris punah lagi? Aku akan kena sembur Yang Mulia kalau kau kenapa - napa." Oceh Clara dari balik rambut Jean.
"Bukannya terbalik yah...?"
Jean membiarkan Clara memeluknya lebih lama, kehangatan yang Clara berikan membuatnya merasa nyaman. Dia membalas pelukan Clara, meskipun tak seerat Clara karena dirinya masih lemah.
Kehangatan ini... lebih dari yang Kakak berikan, aku tak membencinya.
Jean semakin terhanyut dalam pelukan Clara, lalu menenggelamkan wajahnya diantara pundak Clara yang sempit. Ia mulai memejamkan kedua matanya, merasa dimabukkan dengan harum seorang gadis meskipun sudah tercampur oleh tanah dan debu.
Aku menyukainya...
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
So, see you in the next chapter~
__ADS_1