The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 111 - Masa Depan Nan Kelabu


__ADS_3

"Kak Rara..."


James memandang sendu punggung Clara yang bergetar hebat. Bukan hal yang mudah untuk menerima kepergian seseorang yang berharga dalam hidup. James tidak tahu mengapa Clara begitu sedih atas kematian Frederick Wayne, namun yang bisa dia simpulkan hanyalah pria tua itu dianggap berharga oleh Clara.


Sejak hujan mereda, Clara dan James belum beranjak dari posisi mereka. James tetap berdiri di belakang Clara dengan payung hitam. Dan Clara masih setia bersimpuh memeluk angin kosong, terus menangisi kepergiannya.


James tak bergeming. Dia menatap Raja Willem yang berbaring tak jauh dari mereka, dia sedang tak sadarkan diri. Jikalau Raja Willem sudah kalah seperti ini, bukankah itu berarti perang sudah berakhir?


James berharap perang segera berakhir. Dia enggan melihat pertumpahan darah karena dendam. Walau ia juga tahu, sihir hitam pun menjadi pengaruh terbesar mengapa perang bisa pecah.


Pandangan James kembali teralih pada Clara. Gadis itu sedang berusaha berdiri dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan. Kakinya bergetar hebat, dia masih tak sanggup berdiri. Tetapi, James tidak tergerak untuk membantu Clara sedikitpun.


James terus memandangi pergerakan Clara, gadis itu berjalan tertatih - tatih menuju tubuh tak berdaya yang tergeletak penuh simbahan darah. Karena Raja Willem belum gugur, akankah Clara mengakhiri peperangan ini dengan membunuh pelopor utama konflik?


Sebenarnya James merasa sedikit bersalah karena meninggalkan Valentina diluar gerbang perbatasan Ranunculus. Dia merasa bahwa akan membahayakan apabila membawa Valentina kemari bersamanya. Apalagi pasukan tempur Vinca sudah berjaga disana.


Tujuan James sebenarnya adalah Istana atau kediaman Wayne. Setidaknya, dia perlu mengulik situasi terkini di Ranunculus menggantikan Raģe. Sebab Ranunculus dan Agapanthus sendiri telah melakukan kerja sama tertulis dengan beberapa perjanjian.


"Apa yang akan Kak Rara lakukan?"


Bulu kuduk James seketika meremang. Sekelebat bayangan hitam sempat dilihatnya melalui ujung matanya. Karena gerakannya yang cepat, James hanya melihatnya sekilas saja.


Merasa perlu waspada, James meletakkan tangan kirinya pada gagang pedang dan menggesernya pelan memperlihatkan mata pedang yang tidak keluar sepenuhnya. Mata James bergerak liar kesana kemari demi menemukan bayangan hitam tersebut.


"Kemana dia?"


Saat itu, sudut mata James berhasil menangkap bayangan tersebut. Dia berdiri jauh darinya. Dia menghadap Clara, sayangnya Clara tidak sadar bahwa ada sosok lain yang berdiri mengamati Willem.


"Kak Rara!"


Sontak James berteriak, dia takut kalau bayangan tersebut tiba - tiba menyerang Clara. Sebab dia memiliki firasat kalau orang di balik jubah besar itu adalah seseorang yang tidak boleh diremehkan.


Clara tersentak, dia menatap James di belakangnya dengan tatapan tanya.


Bayangan hitam itu mendadak bergerak dengan sangat cepat menuju arah mereka berdua. Seperti angin, dia berlari sangat cepat lalu membawa tubuh terkapar Raja Willem ke punggungnya. Secepat kilat, dia menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Sial. Dia mendahului kita." Clara mengumpat.


Mendadak Clara kehilangan kekuatannya untuk berdiri. Badannya kembali terhuyung, kali ini untung ada kedua tangannya yang menumpu badannya agar tidak jatuh ke tanah.


James berlari ke arah Clara yang semakin memucat. Wajah gadis itu benar - benar sudah tidak memiliki warna sekarang. Dalam hatinya dia merutuki diri sendiri. Pikirnya, perang belum usai karena bayangan itu mengambil Raja Willem sebelum mereka bisa membunuhnya.


James meletakkan salah satu tangan Clara di pundaknya. Kini titik berat Clara dipusatkan pada James seluruhnya. Agak riskan bagi James menggendong Clara di punggungnya.


Sebenarnya, James mulai harap cemas melihat kondisi Clara yang sangat buruk. Mulai dari mata kirinya yang mengalirkan darah segar, dan luka tebasan di sekujur tubuhnya. Sebuah keajaiban Clara masih bisa bernapas hingga saat ini.


Mata kiri Clara tampak terkoyak dan mengenaskan. Namun tidak ada guratan kesakitan di wajahnya. Seolah gadis itu telah terbiasa mendapatkan luka - luka tersebut. Dia hanya merasa marah karena Willem berhasil kabur.


"Menurutmu, apakah itu kawannya?"


James melirik Clara. Dia sendiri tidak tahu apakah bayangan itu ada di kubu Willem atau tidak. Tapi sejauh yang terlihat, dia nampak memihak Freesia.


"Tidak tahu."


Clara menghembuskan napas dengan kasar. Tidak ada tanda signifikan suasana hatinya berubah, dia masih menahan pil pahit atas kematian Frederick Wayne. Wajahnya menjadi sendu. Clara tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahukan Eleanor atas kematian suaminya. Mungkin Clara akan mengatakannya kepada Hendrick saja. Clara yakin, Hendrick tidak akan menjadi gila setelah mendengar berita kematian ayahnya.


"Bagaimana caramu melewati Vinca?"


"Ouh... ada Pangeran Mahkota Ranunculus disana. Dan mungkin Valentina sekarang ada bersamanya. Mustahil aku membawa Valentina kemari, itu terlalu berbahaya."


Clara mengernyit. Merasa ini bukanlah hal bagus apabila Hellen mendengarnya. Segera Clara menepis pikiran buruknya. Saat ini, dia harus segera ke kediaman Wayne atau Istana Kerajaan untuk memberitahukan bahwa Willem berhasil direbut kembali pihak seberang.


"Kita akan kemana sekarang, Kak Rara?"

__ADS_1


"Bawa aku ke kediaman Wayne. Tapi kalau lebih dekat dengan Istana Kerajaan, lebih baik kesana saja. Bendera merah sudah dikibarkan. Mungkin perang akan pecah tak lama lagi."


James mengangguk.


...❀...


"Apakah sesuatu telah terjadi di Istana?"


Hendrick menatap si pembawa pesan dengan penuh tanya. Pasalnya, meski Vinca telah menutup akses keluar masuk, hingga saat ini belum ada tanda - tanda perang sudah berlangsung. Bahkan Count Cheltics pun sudah menuju Istana untuk mengantarkan Rovers, mungkin saja begitu.


"Seseorang berjubah putih mendadak datang dan meneriakkan nama Tuan Frederick Wayne. Para prajurit sudah berusaha untuk mengusir orang aneh itu. Tetapi... dia lumayan hebat dan berhasil mengelak dari kejaran para prajurit."


Hendrick mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ada lagi yang ingin ia lakukan selain meneriakkan kata 'lelah' berkali - kali. Sungguh, dia muak dengan semua yang terjadi hari ini. Sekarang sudah mulai larut dan semuanya makin runyam, luar biasa!


"Dan Yang Mulia Raja memintaku untuk datang sebagai pengganti Ayahku?" Tanya Hendrick retoris.


Si pembawa pesan mengangguk pelan, tatapannya ke bawah terus menerus. Merasa segan untuk mengetahui bagaimana ekspresi atasannya sekarang ini. Dia tahu, Hendrick pasti geram setengah mati. Namun dirinya disini hanya sebagai pemberi pesan. Tidak ada yang salah dengan kehadirannya.


"Baiklah." Ucap Hendrick dengan wajah gusar.


Hendrick mengambil jubah kerajaan dan memakainya. Ia melangkah mendahului si pembawa pesan menuju Istana Kerajaan. Seekor kuda hitam sudah ada di depan kediaman Wayne bersama seorang ajudan Frederick.


...❀...


"Hey, ayolah... pertemukan aku dengan Master Pedang Ranunculus yang kalian hormati itu! Hanya itu saja yang kuinginkan!"


Raja Ranunculus menatap datar seorang pria yang merengek meminta dipertemukan dengan Frederick Wayne. Demi apapun, dia ingin sekali menendang pria ini keluar dari istananya. Namun apa daya, keinginan itu tidak bisa direalisasikan karena kemampuan pria itu yang tak mungkin diremehkan.


"Sudah berapa kali kubilang! Frederick Wayne berada di perbatasan bersama Count Cheltics." Jawab Raja, menahan amarah yang membuncah dalam dirinya.


Baru saja pria berjubah putih itu mau merespon kalimat Raja. Dia melompat cukup jauh dari posisinya berdiri saat ini ketika sebuah pedang diarahkan kepadanya dari arah belakang.


Di balik tudungnya, pria itu tersenyum menyeringai setelah mengetahui seseorang yang berani mengarahkan pedangnya di kala tak ada satu pun prajurit yang mampu menyentuh helai rambutnya.


Count Cheltics mengernyit tak suka. Mengapa pula ketika mereka membicarakan Frederick, namanya selalu diseret - seret. Ini tidak seperti dirinya dan Frederick adalah sahabat sejati sehingga selalu disandingkan.


Di belakang Count Cheltics, Rovers menatap tanya ayahnya. Sebab keberadaan pria misterius berjubah putih ini benar - benar mengherankan. Ia khawatir jika pria itu dikirimkan Freesia sebagai pengalihan selagi pihak musuh menyiapkan serangan selanjutnya. Padahal mereka sendiri masih belum siap, tengah menunggu kedatangan pasukan Agapanthus.


"Meskipun kami dekat, bukan berarti kau bisa menganggap kami akrab." Count Cheltics berkata tajam.


"Wow. Cara bicaramu semakin mirip dengannya. Dan kau masih mengelak pertemanan kalian yang sudah berjalan belasan tahun itu?" Pria itu mengejek Count Cheltics.


Rovers mengerutkan alisnya. Meski suaranya tidak benar - benar serupa, tetapi rasanya suara itu terdengar familiar di telinganya. Dia pernah mendengarnya, namun entah dimana dan kapan.


"Ho... wajah anak muda itu tampak seperti Frederick." Pria itu menyeletuk.


Sontak pandangan Raja, Rovers dan Count Cheltics tertuju pada Hendrick yang baru tiba dengan jubah kerajaan yang menempel di badannya. Wajahnya kelihatan kusut, sudah dipastikan kalau sebenarnya dia enggan kemari.


"Aku memang anaknya." Jawab Hendrick singkat. Mendadak ia merasa geli sendiri karena menyatakan bahwa dirinya anak dari Frederick. Jujur, ini kali pertama dia mengatakan hal semacam ini.


"He~ Sepertinya waktu telah berjalan begitu cepat. Sampai - sampai bocah sinis itu sudah memiliki anak. Aku takkan heran kalau sekarang aku sudah menjadi kakek."


Pria itu mulai meracau tidak jelas. Kecurigaan Rovers semakin besar. Entahlah, rasanya tidak mungkin bagi pria itu memiliki cucu. Walau tak terlihat sepenuhnya, pria ini kelihatannya belum setua itu.


"Cukup basa - basinya. Aku disini untuk menggantikan Ayahku. Katakan saja apa yang ingin kau katakan padanya, biar kusampaikan." Kata Hendrick.


Pria itu mengulum senyumnya. "Apakah kau benar - benar bisa menyampaikannya?"


"Huh?" Hendrick mengernyit tak paham.


Pria itu melangkah perlahan menghampiri Hendrick. Dia berdiri di samping Hendrick dan berbisik padanya. Karena gerak - geriknya itu, Count Cheltics dan Rovers memposisikan diri apabila pria itu melakukan penyerangan.


"Apakah kau yakin bahwa Ayahmu akan kembali?" Bisiknya.

__ADS_1


Mata Hendrick melebar. Benar apa katanya.


Apakah ayahnya akan kembali?


Tetapi, bukankah ayahnya dan musuhnya saat ini adalah saudara ipar? Bolehkah Hendrick berharap mereka berdua kembali tanpa lecet sedikitpun? Apa harapannya sangat mustahil dikabulkan?


Kalian akan kembali, bukan?


...❀...


Langit malam tanpa bintang menyelimuti setiap wilayah di benua Herbras. Firasatnya sangatlah buruk sekarang. George bahkan tak bisa memejamkan matanya hanya untuk semenit. Akhirnya George memutuskan menenangkan diri dengan melihat bintang, sayangnya bintang tak muncul malam ini. Awan menghalangi indahnya sinar mereka.


"Perang antara Ranunculus melawan Freesia sebentar lagi akan pecah. Mustahilkah untuk dihentikan?" George bertanya - tanya.


Sedetik kemudian dia tersadarkan sesuatu. Hal yang sebenarnya berperan besar dalam perang ini. Tentu saja itu adalah sihir hitam yang telah merajalela di seluruh benua. Bahkan Hortensia lumayan pekat digerumuli sihir hitam. George bukannya tidak tahu, mulutnya memang didesain untuk tidak banyak berkata - kata. Dia bahkan memiliki bakat tersembunyi, yaitu berpura - pura tidak tahu.


Semenjak insiden dirinya yang menjelma menjadi senjata sepenuhnya, George membuka pandangannya. Dia meluaskannya menjadi semakin lebar mengenai dunia. Pikirannya yang sempit menjadi lebih terbuka. Dunia memang tidak sesederhana kelihatannya.


Bahkan sesuatu yang disebut takdir itu.


Dia bisa memberikan, mendatangkan dan mengambil dari dirimu. Takdir adalah sebuah teori yang misterius. Bahkan ketika orang ditanyai mengenai definisi takdir, jawaban mereka akan berbeda - beda, bahkan mereka tidak tahu apa itu takdir.


BRUK!


George terperanjat. Tiba - tiba dia mendengar suara yang jatuh di sekitarnya. Pandangannya menelisik sekeliling guna menemukan sumber suara. George agak kaget saat melihat seorang pria terjatuh dengan simbahan darah.


George dengan segera menghampirinya. Karena dia masih sedikit trauma dengan darah dan luka, George menjaga jaraknya dengan pria itu. Tangannya bergerak pelan membalikkan tubuh pria itu yang telungkup.


"Kau...!"


George menjerit tertahan. Dia menarik kembali tangannya setelah melihat wajah pria yang telah kehilangan nyawanya. Dalam sekejap, kabut hitam dalam jumlah besar keluar dari tubuh pria itu dan bergerak menuju ke dalam istana kekaisaran.


Mata George menyapu sekitar, mengikuti arah kabut hitam yang bergerak ke satu arah. Dia sangat tahu benda apa itu. Kabut tersebut adalah sihir hitam.


Tidak terlalu mengejutkan bagi George mengetahui jumlah sihir hitam dalam pria itu lebih banyak daripada manusia pada umumnya. Itu menandakan dia istimewa. Dia mungkin adalah pewaris kekuatan dari penyihir pria terkutuk di masa lampau. Atau, seseorang yang adalah pewaris sebenarnya memberikannya kekuatan itu.


George kembali berdiri membelakangi korban. Matanya menatap tajam seseorang yang dengan santainya berjalan diantara mayat para prajurit. Senyum iblisnya adalah yang paling menakutkan.


George sedikit bergeming, aura mengerikan yang dikeluarkan orang itu sangat mengganggu dirinya. Janggal. Aneh. Tidak nyata. Itulah yang bisa disimpulkan George padanya.


George terkejut saat melihat dengan jelas wajah orang itu. Giginya bergemeletuk, menahan rasa takut dan marah yang bercampur menjadi satu. Perasaan yang membuatnya mual. Sungguh, George tidak ingin berurusan dengan hal ini lagi.


Namun...


"Aku hampir saja termakan sisi manusiawiku. Inilah kenapa aku benci banyak berinteraksi dengan orang lain. Lambat laun aku akan terpengaruh sisi baik mereka dan melupakan misiku di kehidupan ini."


Suara pria itu terdengar. George mundur setengah langkah, tekanan yang didapatnya dari pria itu sangat membebaninya. Seperti ada batu besar yang diangkatnya namun dia dipaksa untuk tetap berdiri.


"Bagaimana bisa kau berkhianat darinya..." Geram Goerge.


Pria itu tersenyum semanis mungkin pada George. Tetapi itu hanya bertahan sebentar, senyum manisnya berubah menjadi senyum berjuta makna. Hanya dia yang tahu apa arti senyuman itu.


"Aku tidak berkhianat. Sejak awal kami memang tidak berada di sisi yang sama. Nona Muda itu terlalu memercayaiku sih... Aku jadi tidak enak."


George mengernyit. "Nona Muda...?"


"Cukup perkenalannya. Menyikirlah dari jalanku, senjata." Katanya penuh penekanan.


Apakah orang ini ada hubungannya dengan perang yang akan terjadi? Mengapa aku merasa dia punya kaitan erat dengan semua ini?


"Takkan kubiarkan itu terjadi!"


TBC

__ADS_1


Like + Komen


__ADS_2