The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 76 - Rahasia Setiap Senjata


__ADS_3

"Guah...!"


Jean dengan sisa - sisa tenaga memulihkan dirinya sendiri dengan sihir. Meskipun lukanya telah hilang, tak dapat dipungkiri kalau rasa sakitnya masih sangat terasa.


Busur yang ia kenakan pun patah dan dia terpaksa melawan mereka dengan pertarungan jarak dekat, dia meminjam pedang milik Clara.


Tapi Jean agak tidak diuntungkan karena kemampuan pedang mawar dalam menyerap sihir hitam tak bisa digunakan di keadaan seperti ini. Seharusnya dia bisa menang jika saja pedang mawar bisa diajak kerja sama.


Atau mungkin hanya Clara yang diperbolehkan melakukan itu?


"Aku harus segera menyusul Nona."


Jean mengabaikan rasa nyeri serta ngilu di seluruh tubuhnya. Dia bangkit dan meninggalkan sembilan mayat yang telah dibunuhnya dengan cara curang (Jean bisa sihir).


"Nona harus selamat."


Jean hanya bisa berharap dan terus berharap.


Dia memang mampu menggunakan sihir, tapi itu terkesan lamban. Karena Jean jarang menggunakan sihir yang aktif, jadi sekalinya dipakai belum terlalu dia kuasai.


Ditambah dengan fakta kalau yang ia lawan adalah sembilan prajurit elit, itu cukup untuk membuatnya kewalahan. Jadi, butuh waktu lama baginya untuk menuntaskannya.


Dan disini, bukannya Jean meremehkan kemampuan membunuh dan bertarung Clara yang tidak ada duanya, dia itu seorang senjata. Tetapi yang Jean khawatirkan adalah kecerobohan gadis itu yang bisa menyebabkan nya terluka.


Apabila itu terjadi...


Jean merinding saat membayangkannya.


Jangan lupakan tentang insiden Clara yang jatuh pingsan, sungguh barang elit yang antik. Sangat sulit dicari, tapi sekalinya ditemukan malah dalam keadaan yang rapuh, menyebalkan.


Dengan langkah yang terseok - seok, Jean terus melanjutkan langkahnya turun dari bukit.


"Tetaplah berfikir positif, Jean. Mereka takkan kenapa - napa... kurasa..."


...❀...


Jean terkejut ketika melihat seseorang di depannya yang telah dipenuhi oleh darah. Gadis penuh darah itu dipangku oleh George yang justru bersih dari noda tersebut, hanya pedangnya saja yang dilumuri cairan kental itu.


Tatapan George menjadi kosong, meski wajahnya menghadap pada Clara yang tak sadarkan diri.


Kemudian Jean melihat sekitarnya, dimana ada delapan prajurit sisa yang telah terkapar di tanah dengan menyedihkan. Mereka telah mati. Dengan kejam Jean berfikir memakamkan mereka berdelapan dengan cara diinjak agar tubuhnya tertanam dalam tanah.


Di tengah tumpukan mayat itu ada sebuah pedang tertancap, pedang penuh darah milik George.


Jean tahu jika penyebab kematian kedelapan prajurit elit itu bukanlah Clara melainkan George.

__ADS_1


Kenapa dia bisa tahu?


Sebenarnya itu mudah. Jean melihat tubuh berlubang nona nya, sedangkan selain pada luka tusuk itu tidak ada bercak darah di tempat lain. Berbeda dengan George yang meski badannya bersih, tapi di tangan kanannya ada sedikit bercak disana.


Pria ini bukan kidal rupanya... yang lebih penting lagi, kini dia telah menjadi senjata sepenuhnya.


Jean menatap pilu pada kedua manusia yang ditakdirkan menjadi senjata ini. Hidupnya di masa lalu memanglah tak bahagia, namun kini dia bersyukur karena punya kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi kedua senjata ini...


Akankah masa depan yang cerah menghampiri mereka berdua?


Sebab Jean pernah mengutip sebuah kalimat dari seseorang yang dihormati di tanah Ranunculus. Dia pernah mengatakan:


"Pembunuh itu tidak akan memiliki masa depan."


Menyakitkan memang, tapi itu adalah kenyataannya. Terlebih lagi Jean sadar jika 'pembunuh' dalam kalimat itu berada dalam cakupan yang lebih khusus dan punya makna tersendiri bagi si pengucap.


George mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki yang berhenti di depannya. Dia diam saja, karena George belum pernah bertemu apalagi mengenal pria itu. Tetapi George tahu jika pria itu mengenal gadis di pangkuannya.


"Siapa... kau?" Dengan suara samar George bertanya.


"Saya Jean. Rekan Nona Scoleths, kami sedang dalam misi penculikan daur ulang. Meski itu atas paksaan Nona sendiri 'sih..." Jean memijat pelipisnya, merasa pusing tujuh keliling.


"Nona?" George menautkan alisnya, mengalihkan pandangannya pada wajah Clara. "Jadi dia seorang 'Nona' di Hortensia...?"


George terperanjat.


"Maksudmu kau tahu bagaimana perasaanku padanya?


Jean hanya tersenyum untuk menanggapi keterkejutan George.


"Semua orang menyukainya, termasuk saya."


George kembali menunduk dan sekilas merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Clara. Dia menggendong Clara dan memberikannya pada Jean, sementara dia melangkah pergi.


"Tuan? Anda mau kemana?!" Teriak Jean.


"Pergi."


"Ck! Bahkan setelah semua yang dilakukan Tuan George kepada Nona? Apa anda masih belum mau menyatakannya begitu saja? Itu sudah sangat jelas. Seharusnya Nona pernah mengatakan sesuatu kepada anda 'kan?!" Jean jadi menggebu - gebu.


Dia kesal, tentu saja sangat kesal. Memang saat ini tidak ada tindakan Clara yang berguna. Tetapi di istana silver, Clara melakukan segala hal hanya agar pemuda ini tak kesepian lagi. Juga, Jean telah berkontribusi besar dalam misi ini. Tindakannya perlu dibayar dengan harga yang setimpal.


George menghentikan langkahnya.


"Aku ini cuma senjata sampah, tidak ada yang mau menerimaku begitu saja."

__ADS_1


"Kembali ke Freesia juga bukanlah pilihan yang tepat! Berhentilah keras kepala dan jangan buat Nona bersedih karenamu! Saya sendiri merasa kesal ketika anda selalu labil dalam pemikiran anda."


Kata - kata yang sangat menusuk. George tak ada niatan membalasnya karena semuanya benar. Tapi mengingat wajah Clara yang selalu terbayang di benaknya, tersenyum padanya sambil mengatakan:


"Hey - hey, aku datang kesini hanya untuk menawarimu sarapan."


Idiot... Batin George.


"Nona terluka juga karena anda." Desak Jean.


"Baiklah, aku akan bersama kalian sampai gadis itu bangkit dari tidurnya." George berdecak kesal.


Mungkin saja, Hortensia adalah tempat terbaik untuknya.


"Hey? Butuh bantuan?"


George dan Jean terkejut dengan kedatangan seorang pria dengan kudanya. Pria itu menebar senyuman manis. George tak berkutik, sedangkan Jean membalas senyumannya dengan tatapan jijik.


"Enyah kau dari sini." Ucap Jean tak tanggung - tanggung.


"Cih, air susu dibalas air tuba. Mana rasa terima kasihmu karena aku telah membantumu, huh?! Aku bahkan rela membocorkan berita Freesia padamu-!"


Edmond terdiam dan refleks menutup mulutnya saat dia teringat kalau pemuda di samping Jean adalah senjata Freesia. Sayangnya senjata itu tak peduli lagi pada wilayah Utara. Dia tidak masalah kalau pria ini memberitahukan rahasia Freesia, karena dia juga bukannya pihak yang loyal pada kerajaan.


Melihat reaksi George, akhirnya Edmond merasa tenang dan tak ada lagi yang perlu ditutup - tutupi. Lalu ditatapnya gadis yang diangkat Jean.


Ouh... mungkinkah dia Clara? Batin Edmond.


Kemudian Edmond juga menatap George, dia terkekeh.


"Kalian berdua sama - sama senjata, jodoh sekali bisa bertemu. Aku harap kau tidak jadi rival Meiger maka semuanya akan baik - baik saja."


George agak tersinggung.


Jodoh? Clara itu sengaja mendatanginya dan punya tujuan tertentu, dia bahkan datang bersama kacungnya. Dan soal rival? Memangnya ada pertarungan apa sehingga mereka menjadi rival.


"Aku tak mungkin jadi rival seorang kaisar. Urusannya saja tidak jelas, tiba - tiba malah membicarakan rival."


Yah, itu yang dikatakan George. Mungkin saja benar, atau... tidak?


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~

__ADS_1


__ADS_2