The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 81. Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Hortensia adalah tempat yang terbaik bagi Clara. Dari segi pemandangan maupun kedamaian. Disinilah dia bisa menjadi pemalas setiap harinya, tapi bisa tetap makan.


Cukup berbeda dengan dirinya yang dulu. Yang mana harus bekerja banting tulang untuk mendapatkan uang demi kehidupannya dan adiknya.


"Mirye, apakah kau sehat - sehat disana?"


Bertanya pada langit adalah hal terbodoh yang Clara lakukan hari ini. Dia tahu tidak akan ada yang menjawabnya, namun Clara tetap bertanya.


Mirye, satu - satunya keluarga yang masih bisa Clara sebut sebagai keluarga. Sebab, kedua orang tua yang selalu marah - marah itu tak pernah menganggap dirinya dan Mirye sebagai anak. Clara hanya membalasnya dengan tidak mengakui mereka sebagai kedua orang tuanya.


Meski Clara tidak suka, tapi Clara masih menanggung hidup ketiga orang itu. Ia bekerja keras setiap hari demi menghidupi mereka. Bəjingan nya, kedua orang tua itu malah memaki dirinya karena dapat gaji yang kecil.


Clara mendecak sebal ketika sebuah ingatan memasuki pikirannya. Mendadak dia mengingat betapa menyebalkannya kedua orang tua yang menyebut diri mereka ayah dan ibu. Hanya ada Mirye di sampingnya, hanya Mirye lah keluarga Clara.


Tidak biasanya Clara mengingat sesuatu. Sebab karena dia selalu tak sengaja menyerap sihir hitam. Kemampuannya dalam segala hal agak menumpul, kecuali kemampuan bertarung dan membunuh. Kalau yang itu, tak akan menumpul sampai kapanpun. Hanya saja Clara masih payah dalam menghadapi musuh yang tak kasat mata, jadi kemampuan membunuh nya agak tenggelam dari kelemahannya.


Tadi pagi mereka baru tiba di Hortensia setelah perjalanan semalaman (mereka banyak bersinggah jadi lama sampai). Clara yang merasakan pegal di seluruh tubuhnya langsung melemparkan diri keatas kasur. Jean sendiri masih mengekori kaisar kemanapun pria itu pergi.


Jadi, dimana kaisar sekarang?


Clara tidak tahu pasti, tapi kemungkinan Meiger keluar istana kekaisaran agak kecil hari ini. Sepertinya dia berada di ruang kerja, kuil, atau paling tidak di kamarnya sendiri.


"Mh, aku sudah janji untuk mengirim pesan pada Allen dan Duke Wayne. Aku mau meminta kertas dan pena pada Nero saja."


Akhirnya, Clara berjalan ke dapur istana. Dimana biasanya Nero selalu ada disana, dia tidak bisa selalu bersama Jean sekarang. Entah kenapa, tapi yang pasti kaisar lebih membutuhkannya dibanding Clara.


"Nero?"


Clara memasuki dapur istana, disana kosong. Karena masih jauh menuju makan siang, jadi para koki istana sepertinya sedang beristirahat. Mungkin Nero juga sama.


"Kalau begitu aku ke kuil saja deh. Harap - harap disana ada Yang Mulia supaya aku bisa meminta kertas dan pena padanya."


...❀...


Clara berjalan menuju kuil istana. Betapa terkejutnya ia melihat kuil yang bentuknya lumayan berbeda dari yang Clara lihat terakhir kali. Ini seperti, kuil nya direnovasi ulang. Meski lumayan terlihat berbeda, namun Clara memiliki kesan yang sama terhadap kuil ini.


Dan didekat sana juga, ada kaisar yang duduk sambil mengerjakan tugas kekaisaran. Menjadi kaisar itu bukan sekedar berleha sana sini mencari istri, mereka juga kerja rodi untuk rakyat.


Clara menghampiri Meiger dengan senyum dustanya. Dia akan bersandiwara ketika ada maunya, untung saja Meiger sudah tahu sifat rubah Clara ini.


"Kau mau meminta apa?"


Clara tersentak, udang yang ia sembunyikan di balik batu rupanya masih bisa terlihat. Senyum Clara semakin lebar, yang ini untuk meminta ampunan untuk hidupnya.


Sungguh, hidupku adalah yang terpenting. Jangan bunuh aku!


"Ehehe... hamba hanya mau meminta pena dan kertas. Kamar hamba sangat miskin kertas, jadi hamba harus keluar kamar kalau mau membuat surat." Clara menggaruk pipinya yang tak gatal.


"Di kamarmu banyak kertas kosong 'kan?" Meiger menautkan kedua alisnya.


"Yang Mulia, itu berbeda. Itu untuk melukis, sedangkan yang hamba butuhkan adalah untuk menulis."


"Memangnya beda?"


Clara menganggukkan kepalanya dengan kuat.

__ADS_1


Meiger menghela napasnya, dia menyerahkan selembar kertas dan sebuah pena pada Clara. Meiger takkan bertanya, karena sudah jelas tujuan surat itu adalah Duke Wayne.


"Kau begitu rajin mengirim surat kepadanya. Apa dia begitu penting?" Tanya Meiger, yang entah kenapa terdengar nada kekesalan di telinga Clara.


"Hamba sudah menganggapnya sebagai keluarga." Jawab Clara dengan cepat.


Dia sudah mulai menulis suratnya. Saat Clara menyatakan bahwa Hendrick itu ia anggap seperti keluarga sendiri. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.


Jujur saja, Meiger kesal dengan keakraban dua orang itu. Tetapi tetap saja, Meiger tidak berhak merasa kesal. Lagipula, memangnya siapa dia?


"Clara, kemari."


Meiger melambaikan tangannya, menyuruh Clara untuk mendekat. Clara akhirnya mendekat, masih dengan pena di tangannya. Dia tidak bangkit dari kursinya, hanya mencondongkan kepalanya pada Meiger.


Meiger menangkup kepala Clara dengan cepat. Membuat posisi kedua wajah mereka mendekat, Clara bersumpah jika kedua hidung mereka sudah saling bersentuhan.


Tentunya hal ini membuat jantung Clara berdebar kencang bukan main. Kini, dia bisa melihat sepasang mata ruby nan indah itu yang hanya ada satu di dunia ini (Grein tidak termasuk karena dia telah tiada).


Karena jantung Clara sudah tak kuat lagi, Clara memutuskan memejamkan matanya. Demi mengurangi damage akibat melihat mata Meiger dengan dekat. Dia jadi tidak tahu kalau jarak antara kedua bibir mereka semakin menipis.


Mirye! Ini tidak lucu sama sekali. Mulutku sudah tidak suci lagi dan sekarang aku harus terima dicium lagi. Hah... aku pasrah sajalah.


Kedua tangan Meiger sudah melingkari kepala Clara. Clara makin pasrah kalau dirinya jadi korban lagi. Tangan Clara bahkan sudah gemetar hebat karena posisi luar biasa mereka.


TREK


Heh? Trek? Apa itu...?


Dalam kehitaman penglihatannya, Clara merasa jika rambutnya terurai ke bawah. Ini aneh, padahal Clara sudah menjepit rambutnya dengan jepit giok berbentuk bunga ranunculus itu.


Ah?!


Clara sadar jika tubuhnya masih condong kearah Meiger. Sehingga Clara kembali menarik dirinya ke posisi semula, yaitu duduk berseberangan dengan kaisar.


Pipi Clara masih merona, itu karena dia sudah membayangkan adegan yang tidak - tidak. Jangan salahkan Clara, sebab Meiger lah yang membuat Clara menjadi berfantasi liar. Clara memegang dadanya, berusaha menetralkan detak jantungnya sendiri.


SREK


"Hm?"


Clara yang awalnya fokus menetralkan detak jantungnya. Menjadi teralihkan ketika melihat kaisar yang menyerahkan sesuatu kepadanya, kaisar meletakkan benda itu diatas meja.


"Jika kau ingin memakainya. Setidaknya jangan di depanku, karena itu membuatku marah."


Meiger menarik tangannya kembali, benda yang ia serahkan kepada Clara kini terlihat jelas. Itu adalah jepit giok bunga ranunculus yang diberikan khusus dari Hendrick untuk dirinya.


Refleks Clara memegang rambutnya yang sudah tergerai. Ternyata kaisar melepas jepit giok yang mengikat rambutnya. Namun, ada apa dengan sikap kaisar ini?


"Yang Mulia benci jepit giok ini?" Clara mengambil jepit giok tersebut dan memasukkannya ke dalam saku gaunnya. Karena Meiger baru saja memperingatkannya.


"Tidak. Aku benci pada pemberinya." Jawab Meiger. Meski nada bicaranya datar, ada tekanan besar disana.


Yang Mulia benci pada Duke Wayne? Mungkinkah!


Clara tersenyum penuh arti pada Meiger. "Mustahil 'kan jika Yang Mulia cemburu...?"

__ADS_1


Clara niatnya hanya iseng saja, karena bisa gawat kalau kaisar benar - benar cemburu-


"Ya, aku cemburu. Kau punya masalah tentang itu?"


DEG


A...apa?! Aku 'kan cuma iseng saja disini. Tapi kenapa malah jadi pernyataan cinta? Kumohon jangan nge-prank aku yang jones ini...


"Yang Mulia pasti bercanda 'kan...?" Clara bertanya dengan khawatir, bahkan suaranya bergetar karena tidak percaya pada perkataan kaisar yang terkesan seperti pernyataan cinta itu.


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Meiger mengenyit. Sungguh, dia harus sabar menghadapi Clara yang mulai lemot ini.


"Huft... Sepertinya sihir hitam sudah mendominasi dalam dirimu. Sedikit demi sedikit dia mengikis ketajaman indera-mu."


Clara yang awalnya tersipu menjadi membeku. Dia tahu ini, Clara sudah sadar akan efek samping dari penyerapan sihir hitam. Clara sebenarnya enggan menyerap sihir hitam itu, tapi kemampuan khusus nya berkehendak sendiri.


Tanpa sadar Clara mencengkeram ujung gaunnya. Dia kecewa, pada dirinya sendiri, serta pada takdir yang telah menggiringnya untuk menjalani kehidupan penuh penderitaan ini.


Tapi Clara pernah mengatakan sesuatu pada Frederick Wayne. Dia bersyukur. Atas hidup yang ia jalani, meski hidup itu membuatnya menderita. Yang terpenting adalah dia masih bisa hidup, rasa syukur Clara adalah untuk kehidupan keduanya ini.


Tak peduli seberat apapun hidupnya, dia tetap harus hidup.


Ketika dirinya dicintai seseorang, itu sudah lebih dari cukup baginya. Clara bahagia bila dirinya dicintai. Bahkan oleh orang yang juga ia cintai.


"Terima kasih untuk cinta anda, Yang Mulia. Hamba benar - benar merasa bahagia." Clara mengulum senyuman termanisnya, menatap ke bawah sebab tak berani melihat kaisar secara langsung.


"Hm."


Ck! Baru saja aku masuk dalam mode romantis. Mengapa pria ini jadi dingin lagi padaku?!


Clara merenggut pelan, mendadak dia jadi kesal pada kaisar. Pria ini bukannya makin romantis padanya malah jadi tambah batu. Sekeras apa sebenarnya hati kaisar itu?


"Yang Mulia, jadi pernyataan cinta anda berakhir begitu saja?" Cetus Clara, dia berusaha menahan rasa ingin menendang kepala seseorang.


"Hm."


Hm. Hm. Hm. Hm! Begitu aja terus!


Clara merajuk, dia kembali menulis surat untuk Hendrick.


Nampaknya hati kaisar bukannya es lagi melainkan batu. Sebab hatinya tidak bisa dicairkan. Harus ada ombak yang terus menerus mengikis hatinya itu.


"Clara."


"Hng."


Rupanya Clara sedang cosplay menjadi kaisar.


"Bagaimana jika kau menemaniku setiap hari disini?"


Eh?


TBC


Jangan lupa letakkan LIKE, KOMEN, dan FAVORIT kan novel ini jika kalian suka atau mungkin kalian bisa memberikan VOTE. Kalian juga bisa memberikan kritik dan saran agar cerita ini semakin berkembang.

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2