The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 94 - Hitam Artinya...


__ADS_3

"Haa...am!"


Clara dengan lahap memakan roti bakar dengan olesan selai anggur yang dia beli bersama Duke Wayne di pusat kota. Mereka sudah kembali ke istana Agapanthus, sambil membawa banyak kudapan lainnya. Clara berniat untuk membagi - bagikannya.


Sebentar lagi sebenarnya jam makan malam. Namun Clara memilih untuk menghabiskan kudapan kecil lebih dulu sebelum makan malam. Tidak hanya Clara dan Duke Wayne. Tapi Hellen dan Valentina juga ada, walaupun sejak tadi mereka saling lempar tatapan permusuhan.


"Hm? Ah! James!"


Teriakan Valentina membuat ketiga lainnya yang sedang duduk menatapnya. Tentunya Valentina cuma memanggil James yang mungkin sedang dalam perjalanan kembali ke kamarnya.


James menoleh pada Valentina yang berkumpul bersama Clara, Hellen dan Duke Wayne. Dia agak riskan untuk duduk diantara kedua orang disana karena sebelumnya ada insiden kecil di taman lavender. Ini semua salah Raģe!


Tapi karena Valentina mengayunkan lengannya untuk meminta James duduk bersama mereka. James pasrah dan berjalan menghampiri mereka.


James duduk di samping Hellen, dimana gadis itu adalah pujaan hatinya. Tapi karena sekarang Hellen sudah punya tunangan, James harus lebih menjaga sikap. Namun entah kenapa, Hellen selalu bisa membuatnya jatuh cinta berkali - kali.


James melirik pada Duke Wayne. Pria ini cukup mengerikan saat memergoki Raģe. Meskipun tidak semengerikan pengawal pribadi itu, tapi James merasakan bulu kuduknya meremang ketika melihat tatapan penuh amarah Duke Wayne.


Ini menjadi lebih menenangkan baginya ketika Duke Wayne hanya diam dan memakan kudapan yang ia beli di pusat kota. Dia tidak mencampuri bagaimana ekspresi garang terpancarkan dari wajah adiknya dan Valentina.


Clara sendiri walaupun terlihat ingin menghentikan mereka, dia sejak tadi tidak berbuat apa - apa. James sadar, jika Clara bertindak maka Hellen dan Valentina akan semakin garang.


"Nama anda James, yah?"


Clara yang tak tahan dengan pertengkaran kekanakkan kedua gadis itu memilih berbicara pada James. Karena Clara masih tidak bisa mendinginkan Duke Wayne yang nampak muram.


"Ah, iya Nona Scoleths." James tersenyum simpul.


"Jangan panggil aku Nona Scoleths, donk!" Mendadak Clara jadi non formal.


"Uh... jadi maunya dipanggil apa?"


"Berapa usiamu?"


"15."


"Woah! Kau masih semuda itu?"


James mengangguk.


"Kalau begitu panggil saja aku Kak Rara." Clara tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Eh?" James terdiam.


Duke Wayne menatap tajam Clara, memang tidak bisa dilepas sebentar saja gadis ini. Walau yang paling Duke Wayne khawatirkan adalah kedekatan Clara dengan Kaisar Hortensia. Karena bukan sebentar mereka bersama tanpa kehadiran Duke Wayne disana.


"Ayo panggil aku begitu." Desak Clara.


James menghela nafasnya dan dengan ragu mengatakan, "Kak... Ra..ra..." Ucapnya sedikit gugup, tentu saja karena tatapan tajam yang diarahkan kepadanya.


"Kyaa! James sangat imut saat mengatakannya." Clara tanpa sadar mencubit gemas kedua pipi James.


Duke Wayne merotasikan matanya, jengah dengan sikap Clara. Awas saja kalau setelah ini James menjadi rivalnya. Dia pasti akan mencincang Clara.


"Kakak, jangan sampai kau kalah." Desis Hellen.


"James."


James yang masih ditarik pipinya oleh Clara menengok pada Valentina. Gadis itu memanggilnya dengan sedikit nada tanya. Apa mungkin mau menanyakan keberadaan Raģe saat ini?

__ADS_1


"Dimana Tuan Edmond?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Valentina. Setelah keheningan sesaat, Valentina tersadarkan. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya buru - buru. Sekaligus untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.


James menautkan alisnya, mengapa mendadak orang - orang disekitarnya terkena virus cinta? Lalu James bisa merasakan tekanan di pipinya menghilang. James mengusap kedua pipinya yang memerah karena terus ditarik Clara.


"Kencan sorenya berhasil?" Tanya Clara jahil.


Valentina semakin menutup seluruh wajahnya, merasa malu pada orang - orang disekitarnya. Terlebih keberadaan Duke Wayne di tengah - tengah mereka. Itu semakin membuat Valentina merutuki kecerobohannya.


Hellen mengangkat sebelah alisnya, "Apa maksudmu Rara? Kencan sore? Dia? Dengan Edmond Southbayern? Bohong atau tidak? Karena gosip besar semacam ini tak mungkin tidak kuketahui!" Hellen langsung membombardir Clara dengan banyak pertanyaan.


"Sabarlah Allen. Lagipuka kencan sorenya baru terlaksana sore ini. Dan itupun baru 2 jam yang lalu." Clara menatap mengerling pada Valentina yang mengintip dari celah jarinya. "Kau suka? Atau cinta?"


Valentina menurunkan tangannya, memilin gaunnya dengan wajah tersipu. Rona merah di kedua pipinya kini nampak jelas terlihat oleh mereka berempat.


"Mungkin keduanya..." Jawab Valentina dengan suara kecil.


"Apa?" Dengan jahil Clara berpura - pura tidak mendengarnya.


"Sudahlah Clara! Ak-aku malu..." Valentina membuang wajahnya ke sisi lain. Telinganya bahkan memerah saking malunya dia.


Pembicaraan cinta antar wanita ini agak ternodai dengan kehadiran Duke Wayne dan James.


Malas sekali harus terlibat pembicaraan seperti ini. Rasanya mau menarik Clara saja darisini. Pikir Duke Wayne jengkel. Dia kemudian menyesap kembali teh pahitnya.


Jadi Valentina sudah melupakan Pangeran Mahkota Ranunculus, yah? Bagus untuknya. Semoga aku bisa melupakan cintaku pada Hellen juga. Batin James.


James tanpa sadar memandang kearah Clara yang tersenyum penuh makna kepada Valentina. Gadis ini niatnya mau dicomblangkan oleh Valentina dengan Raģe. Tapi malah dia yang menjadi mak comblang untuk Valentina serta Edmond. Sungguh luar biasa.


Aku harap ada yang mau menerima apa adanya. Walaupun aku punya hobi yang menurut para bangsawan lelaki aneh.


Lalu James menundukkan sedikit wajahnya. Menatap pantulan diatas teh yang baru saja ia tuangkan kedalam cangkir di depannya. Senyum tipis terpatri di bibirnya.


"Iya?"


"Bagaimana caraku bisa mendapatkan hati Tuan Edmond?" Tanya Valentina, wajahnya semakin merona.


Clara terbelalak, kemudian mengerjapkan matanya berkali - kali. Bukankah dengan ini misi George dan dirinya membantu Edmond untuk mencuri hati Valentina berhasil? Sudah saatnya bagi mereka untuk kembali.


Clara tersenyum tipis pada Valentina.


Tangan Clara terulur dan mengusap surai halus Valentina. Gadis itu hanya menunduk, merasa malu atas pertanyaannya sendiri. Padahal bukan pertama kalinya ia jatuh cinta. Namun baru kali ini Valentina lebih berani dan membuka dirinya terkait masalah hatinya.


"Tenanglah saja. Bersikap seperti dirimu apa adanya. Dan saat itu pula, kau akan mendapatkannya. Tidak, dia juga mendapatkan dirimu."


"Rara!"


"Huh?"


Hellen bersidekap, dia menggembungkan pipinya karena cemburu. Iya, cemburu sebab Clara mengelus rambut Valentina. Clara padahal belum pernah mengusap rambutnya.


"Bagaimana dengan kepalaku?!" Tanya Hellen dengan sebal.


Clara terkekeh, mengulurkan tangannya yang satu lagi dan mengusap pucuk kepala Hellen. Tentu saja Hellen menjadi sangat girang, bagi dirinya Clara adalah sahabat terbaiknya.


"Allen sudah dapat pujaan hati, sih. Aku hanya memberi sedikit saran saja pada Valen. Nanti kalian berdua bisa menikah bersamaan kali. Hehe... Aku jadi iri kepada kalian."


Seketika Clara ditatap datar oleh Hellen dan Valentina. Tadi Clara bilang apa? Iri? Atas apa? Seseorang yang dicintai oleh beberapa ikemen sekaligus seharusnya tabu untuk mengatakan kalimat tersebut.


Valentina mengasihani Raģe dalam hatinya. Sementara Hellen menatap pilu pada kakaknya. Duke Wayne langsung membuang muka, malas sekali dikasihani adiknya atas nasib cintanya. Hellen juga kalau bukan karena Frederick, belum tentu sudah bertunangan dengan Rovers sekarang.

__ADS_1


James sendiri tertawa geli melihat bagaimana interaksi kecil diantara ketiga gadis itu. Sekarang dia jadi tahu seorang pria yang akhir - akhir ini membuat Valentina blank. Dia juga jadi tahu dengan bagaimana sikap Clara. Gadis ini selalu bisa menarik hati orang lain karena sikapnya yang bersesuaian.


Entahlah. Mungkin James akan mencari pasangan ketika usianya sudah 18 tahun. Saat ini James harus fokus pada pelatihan menjadi Raja saja. Setelah cintanya ditolak secara tidak langsung oleh Hellen, dia masih mengobati luka hatinya.


...❀...


Sepeninggalan Jean, James dan George. Rovers masih setia menemani Raģe yang terdiam kaku. Sebenarnya bukan karena gagal mengakui pada Clara. Namun tentang identitas asli dari pengawal pribadi Kaisar Hortensia. Raģe rasa ada yang salah dengan orang itu.


"Aku tahu kau patah hati, tapi kau sudah terdiam disini selama sejam lebih. Apa tidak lelah duduk terus?" Rovers menyeletuk pelan.


"Tidak. Kalau berisik lebih baik pergi darisini saja." Raģe mendengus kasar.


Rovers tersenyum simpul. Mereka memang teman masa kecil yang saling memahami. Ada kalanya Raģe bertukar posisi dengan Rovers saat ini. Pertukaran kecil semacam ini sudah terjadi sejak lama.


Raģe mengerutkan keningnya, mungkin karena wawasannya akan dunia ini masih terlalu sempit. Sehingga pertanyaan yang sedari tadi hinggap di benaknya tak kunjung terjawab.


Aku harus bagaimana? Pria itu, ini pertama kalinya aku melihat fenomena seperti barusan...


"Ah, bukankah itu Jean." Celetuk Rovers.


Raģe mendongak, "Jean?"


"Pengawal pribadi Kaisar Hortensia itu namanya Jean." Jawab Rovers.


Raģe memandang kearah yang sama dengan Rovers. Disana ada Jean yang sedang berjalan beriringan dengan seorang pelayan wanita. Dia mungkin sedang meminta petunjuk jalan agar tidak tersesat.


Ekspresi Raģe semakin rumit ketika menatap wajah datar Jean.


Kenapa aku tidak bisa melihat warna emosinya? Tidak ada satupun warna lain selain hitam. Hanya warna itu saja. Sebenarnya apa yang terjadi?


Tanpa menoleh, Jean melirik tajam pada Raģe karena merasa diperhatikan. Spontan Raģe memandang ke sisi lain, untuk menghindari tatapan Jean yang menusuk.


"Apa yang terjadi denganmu?" Rovers bertanya bingung.


Raģe mendecak samar. Kembali melirik pada Jean yang sudah berjalan menjauh dari mereka. Yang bisa Raģe lihat hanyalah lorong kosong yang sunyi.


Aku yakin Jean bukanlah nama aslinya.


...❀...


Seorang pria bersurai perak menatap sendu langit yang mulai menghitam. Matahari sudah terbenam sejak tadi, tapi bulan dan bintang baru menampakkan dirinya.


Ada sesuatu yang membuat George gelisah, hatinya tidak bisa tenang. Langit malam yang biasanya membuat dia tenang malah menimbulkan efek sebaliknya. Ada yang salah disini.


"Kenapa..."


George memicingkan matanya, menatap bintang yang bersinar sendirian di langit malam. Tidak peduli dengan kumpulan bintang di sisi lain, bintang itu hanya memancarkan sinarnya sendiri tanpa ada yang menemani walau hanya satu.


Dia bersinar begitu terang namun kesepian disana.


Biasanya bintang ini mengeluarkan sinar paling terangnya ketika musim gugur. George tak tahu mengapa di musim semi ini bintang itu nampak tetap yang paling bersinar. Cahaya bintang di sekitarnya seredup itukah?


"Fomalhout." George menyebut nama bintang itu.


George mencengkeram dadanya. Rasa gelisah dalam dirinya semakin kuat. Namun George tak bisa mengatakan kekhawatirannya ini kepada siapapun. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar berkata - kata, dia hanya bisa memendam semua kegelisahannya.


Firasatku buruk. Semoga saja tidak terjadi sesuatu...


TBC

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2