
Mungkin hal ini sudah terjadi begitu lama, karena itulah banyak yang melupakan tentang keberadaan dari keluarga bangsawan yang satu ini. Sebuah keluarga bangsawan yang seluruh anggotanya meninggal karena pembantaian, tentunya bisa terjadi karena konspirasi.
Yaitu Lavoisiér.
Sebuah keluarga yang setiap anggotanya lahir, mereka juga mewarisi kekuatan dari orang tuanya. Salah satu warisan yang nampak oleh indera manusia adalah mata ruby mereka.
Itu adalah bukti nyata bahwa mereka ialah Lavoisiér. Mustahil bagi orang yang bukan darah murni dari Lavoisiér untuk memilikinya.
Namun, pengecualian untuk dia.
Seorang kaisar dari Hortensia. Yang dengan kebijaksanaannya membuat wilayah barat menjadi lebih makmur dan damai apabila dibandingkan dengan empat wilayah lainnya.
"Aku penasaran dari mana Yang Mulia mendapatkan mata itu."
Clara membuka buku yang berisi tentang Scoleths. Buku yang ia dapatkan dengan susah payah sampai - sampai dia berhadapan dengan Meiger dan kehilangan ciuman pertamanya.
Walaupun begitu, Clara tidak membenci kejadian itu. Yah, mungkin karena cintanya pada Meiger lebih besar dari yang ia kira. Tapi yang membuat ia penasaran adalah bagaimana perasaan kaisar kepadanya.
"Jangan - jangan dia melakukan itu kepadaku hanya sebagai latihan praktik sebelum ia melakukannya dengan putri dari kediaman Nielsen." Gerutu Clara
Clara jadi berprasangka buruk setelah bertemu langsung dengan Cattleya. Apalagi ketika Cattleya lah yang telah menggangu malam indah Clara bersama Meiger.
"Dia memang cantik dan seorang bangsawan. Tetapi aku tidak bisa menerima kalau Yang Mulia menikahinya! Ini sangat tidak adil buatku!"
"Huh... sudahlah Rara... menyukai Yang Mulia hanya akan membuatmu sakit hati... mari mundur perlahan - lahan." Lirihnya kemudian.
Clara berbicara pada dirinya sendiri, mengabaikan fakta bahwa sejak tadi Jean ada bersamanya. Tapi karena Clara mengeluarkan suara sangat kecil sehingga Jean tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Clara sepenuhnya.
Yang bisa ia ketahui hanyalah Clara berceloteh tentang kehidupan cintanya yang menyedihkan.
"Nona sebenarnya sedang apa? Kalau Nona ada keluhan saya akan mendengarkan kok." Jean memilih untuk mengorek sedikit kebenaran dari orang yang Clara cintai ini.
Tapi kalau Clara tidak mau, maka Jean juga tidak akan memaksa. Dia tahu bahwa setiap orang memiliki privasi, termasuk juga dirinya serta hubungan dia yang sebenarnya dengan Avrim. Kalau saja Clara mengetahuinya, maka senjata ini tidak akan pernah menanyakan keberadaan Avrim atau kapan Avrim pulang.
Sebab Avrim sudah lama tidak kembali dan tidak akan pernah kembali.
"Tidak ada kok, Jean. Aku hanya sedang berfikir apakah suratku sampai atau tidak pada Tuan Hendrick. Soalnya ini sudah dua hari berlalu dan belum ada balasannya."
"Jadi soal itu, mengapa Nona tidak mengirim surat itu lewat Nona Wayne saja?"
Clara berdecak pelan, "Tch! Kalau mengirim kepada Allen maka aku pasti akan mengganggu kencan mereka. Lebih baik melalui Tuan Hendrick saja."
"Tapiー"
"Sudahlah Jean, mari kita tinggalkan topik ini."
"Padahal Nona yang memulainya..." Sahut Jean dengan nada kecewa.
「Master, ini mungkin terkesan agak aneh. Namun saya fikir kalau kita berdua sudah tidak bisa lagi menahan semua sihir hitam ini. Mawar putih sudah menghilang, sayangnya tidak dengan sihir hitam. Maafkan saya karena bertindak semena - mena dan terkesan gegabah. Tapi, ini mungkin adalah jalan terbaik untuk kita. Serta, kita tidak bisa menepati janji kepada Yang Mulia.」
「Maafkan aku Master.」
「...Mungkin terlahir untuk ketiga kalinya bukanlah hal mudah. Akan tetapi, aku berharap Master bisa menjalani semua itu sepenuh hati.」
DEG
__ADS_1
Siapa yang menulis ini?
Clara terdiam, ia kehilangan dirinya setelah membaca satu - satunya halaman yang memiliki tulisan di atasnya. Bukannya apa, namun hanya dengan tulisan ini, entah kenapa dia mulai kehilangan tumpuan baginya untuk tetap menjadi egois. Untuk tetap menjalani hidup damainya di Hortensia yang belum lama ini dimulai.
Kalau begitu, dimanakah Clara asli saat ini...? Dan sihir hitam apa? Clara Scoleths yang kutahu dia adalah seorang senjata yang dimiliki oleh Freesia. Lantas, apakah ini ada hubungannya dengan Clara asli yang memberikan penanda buku hortensia kepada Hellen? Jadi, Clara pernah tinggal atau singgah disini?
Dalam hati Clara bertanya - tanya. Namun dia sendiri tahu bahwa itu tidak akan membuahkan hasil. Kalau dia tidak bertanya pada seseorang yang tahu, maka dia tidak akan mendapatkan jawabannya.
Jean menyadari bahwa Clara menjadi agak diam. Jadi dia memutuskan untuk bertanya, "Apakah Nona baik - baik saja? Wajah Nona nampak pucat."
Clara menengok ke sampingnya, "Apa kau tahu dimana Yang Mulia berada sekarang, Jean?"
Jean memegang dagunya, berusaha mengingat - ingat. "Di jam segini, Yang Mulia biasanya ada di sekitar kuil."
"Huh? Untuk apa Yang Mulia disana?"
Clara bertanya dengan heran, pasalnya sekitar 2 hari yang lalu. Ia mengetahui bahwa Meiger tidak pernah mengunjungi kuil. Makanya itu agak aneh ketika Jean berkata 'biasanya'.
"Hanya untuk memantau situasi. Biasanya seseorang akan datang mengacaunya di ruang kerja apabila Yang Mulia berada disana."
"Masuk akal."
Tapi seseorang ini siapa? Bodo amatlah! Yang penting mari kita tanyakan apa yang tertulis di buku ini terlebih dahulu.
"Kalau begitu aku akan pergi kesana. Sampai jumpa lagi, Jean."
"...uh huh... sampai jumpa lagi Nona."
...❀...
"Huft... huft... berlari sangatlah melelahkan...! Aku yang kurus bisa tambah kurus lagi kalau begini caranya...!"
Sambil menggerutu, Clara terus melangkahkan kakinya untuk berlari. Hingga dia sampai di tempat yang ia tuju, kuil kecil.
Sementara di dekatnya, Meiger sedang mengerjakan sebagian kecil dokumennya disini. Mungkin memang benar kalau Meiger tengah menghindari seseorang untuk saat ini.
"Yang Mulia!"
Clara memanggil Meiger, sambil mendekap buku yang menjadi sumber rasa penasarannya. Dia berharap pertanyaan kali ini tidak digantung seperti saat dirinya bertanya tentang Lavoisiér.
Karena merasa dipanggil, Meiger mengalihkan fokusnya pada arah suara sang pemanggil. Tapi ketika mengetahui bahwa itu adalah Clara, Meiger kembali berfokus pada dokumennya.
"Ugh...! Dia sangatlah menyebalkan! Bagaimana bisa aku mencintai pria sepertinya?!" Clara menggerutu pelan, sambil berjalan menghampiri Meiger.
SREK
Meiger mengambil dokumen lainnya untuk dikerjakan. Mengabaikan keberadaan Clara yang bahkan saat ini sudah duduk di sebelahnya. Tidak hanya orang itu, ternyata Clara juga telah menjadi pengacau harinya.
"Apa lagi yang mau kau tanyakan? Cepatlah, aku tidak mempunyai banyak waktu mengurusimu." Ujar Meiger tanpa emosi.
SRET
Clara menyodorkan buku yang ia pegang barusan tepat di hadapan Meiger.
"Hm? Bukankah itu buku yang kau curi dari perpustakaan?"
__ADS_1
"...!"
"Yang Hamba mau tanyakan adalah, apakah Yang Mulia bisa menjelaskan tentang buku ini kepada Hamba?"
Meiger mengambil buku di tangan Clara dan membaca tulisan di sampulnya. "Hortensia?" Kemudian ia membuka lembaran pertama buku. "Scoleths ialah dirimu dan diriku...?"
"Apakah Yang Mulia bisa menjelaskan isinya?" Dengan tatapan teguh, Clara memperhatikan Meiger.
"Haish... ini memang sudah waktunya bagimu untuk mengetahui ini, ya?"
...❀...
"Kakak, kapan kau mau memutuskan untuk membalas suratnya?"
"Ck! Aku tidak tahu mau membalas apa! Mengapa tidak kau saja yang membalasnya?"
"Tapi kan Kakak yang dikirimkan surat oleh Rara." Dengan senyum penuh makna Hellen berkata.
Benar sekali, sejak dua hari yang lalu Hendrick sudah menerima surat dari Clara. Permasalahan utamanya disini adalah, Hendrick tidak tahu bagaimana membalas surat tersebut.
Ditambah dengan Hellen yang mulai menggoda kakaknya dikarenakan Clara mengirim surat pada Hendrick bukan padanya. Hellen mengira kalau Clara menganggap Hendrick sebagai orang spesial. Juga, isi dari suratnya terkesan mengagumkan sehingga Hellen semakin mendukung Hendrick untuk mendapatkan cintanya.
"Kakak tinggal menjawab saja pertanyaan dari Rara bukan? Hal mudah seperti itu masa Kakak tidak bisa melakukannya."
"Bicara memang mudah."
Hendrick menatap surat di tangannya menyelidik. "Jika kuingat - ingat lagi, penanda buku yang kau dapatkan darinya berasal dari bunga hortensia, bukan?"
"Itu benar, ada apa memangnya?"
"Tidak ada."
Jika memang begitu, apakah dia akan menemukan faktanya? Bahwa dia masih ada kaitannya dengan wilayah barat itu.
Hendrick memang mencurigai Clara sebagai orang dari wilayah barat. Pertama, Clara memiliki mata safir yang adalah ciri khas dari darah murni Westhley. Kedua, Clara membawa penanda buku hortensia saat datang kemari dan memberikannya kepada Hellen sebagai hadiah persahabatan mereka.
Tapi semua kecurigaannya dipatahkan ketika Clara sendiri mengatakan bahwa ia adalah senjata milik Freesia. Serta Duke Wayne atau ayahnya lah yang menculiknya. Akibatnya Duke Wayne begitu dibenci oleh Freesia hingga hari ini.
Hendrick menyangga dagunya, "Aku lelah dengan semua omong kosong ini..."
"...?"
"Namun kebohongan yang dibalas dengan kebohongan lainnya. Hanya akan menimbulkan konflik lain entah itu dari dalam atau luar. Menjadi bangsawan sangatlah sulit."
Hendrick menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya. Sedangkan Hellen hanya diam, dia mungkin terpikirkan kalau Clara akan menjadi sangat aneh jika dia mendapatkan bunga hortensia karena kebetulan saja. Padahal bunga hortensia hanya bisa didapatkan di wilayah barat.
Hening melingkupi ruang kerja Hendrick.
"Kakak, kalau kau tidak mau membalas suratnya. Maka biar aku saja yang melakukannya." Ujar Hellen memecah keheningan.
"Terserah kau saja."
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~