The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 97 - Kode Untuk Berperang


__ADS_3

"Ayah! Bagaimana dengan Ayah? Ranunculus tidak mendapat serangan ini juga 'kan?"


Hellen bersimpuh di depan kakaknya, wajah cantiknya telah dipenuhi oleh air mata. Kalau Agapanthus yang hanya berkoalisi saja diserang sedemikian rupa. Apalagi Ranunculus. Ditambah ayahnya adalah target utama Raja Freesia. Semua itu menyebabkan dirinya kalut.


Duke Wayne juga awalnya ingin mempercepat kepulangan mereka. Akan tetapi, kalau dipikir - pikir lagi, di situasi begini akan berbahaya untuk menerobos pulang. Karena Ranunculus juga pasti sedang dalam keadaan yang sama. Juga tak ada kemungkinan jikalau Freesia tidak menahan kedua wilayah ini untuk saling membantu.


Semakin mereka nekat menerobos, semakin besar pula nilai persentase kegagalan mereka.


Raģe juga hanya diam memperhatikan Hellen yang masih memohon pulang kepada kakaknya. Gadis itu begitu mengkhawatirkan kondisi ayah dan ibunya. Mungkin dia lupa kalau ayahnya dijukuki Master Pedang di tanah Herbras ini.


Duke Wayne tak tega melihat adiknya seperti ini. Sehingga dia pasrah dan menuruti kemauan adiknya. Dia menatap Raģe dan Valentina. Kalau Raģe memang akan lama disini, tapi Valentina tidak. Namun dengan perubahan kondisi ini, Valentina akan memperlambat kepulangannya.


Duke Wayne dan Hellen akan pergi dengan kuda yang disiapkan di Agapanthus. Walaupun Raja sempat menentang karena keadaan genting ini, namun Hellen yang begitu keras kepala tidak bisa mengubah keputusannya, bahkan Rovers pun tak bisa memengaruhinya.


Hellen dengan setia menunggu kakaknya menuntun kuda ke gerbang utama. Ia menggenggam tangannya lebih erat. Rovers cukup kecewa karena dirinya belum melakukan pergerakan apapun sejauh ini. Hanya melihat kepergian Hellen bersama kakaknya menuju sumber api.


Semuanya akan baik - baik saja 'kan?


...❀...


"Mau kemana? Menemui adikku?"


Di kediaman Wayne. Eleanor menahan lengan suaminya, memintanya untuk tidak pergi keluar dari kediaman mereka.


Beberapa saat yang lalu, ada berita dari istana langsung mengatakan bahwa Freesia berusaha menerobos dinding pertahanan serta gerbang utama perbatasan Ranunculus. Yang lebih mengejutkannya lagi, hutan bagian selatan Agapanthus habis dilalap si jago merah.


Frederick tidak habis fikir. Seberapa bencinya adik iparnya terhadap dia. Setengah jam setelah berita penyerangan. Ada kiriman surat diantar melalui udara. Isinya adalah Raja Willem yang meminta Frederick datang ke perbatasan.


Itu adalah tempat yang strategis untuk dijadikan lapangan pertarungan. Walau sangat disayangkan, wilayah kosong itu jaraknya cukup dekat dengan Hortensia.


Eleanor pun mengetahuinya, sebab itulah ia menahan suaminya untuk tidak pergi. Apalagi dalam surat tertulis Frederick harus datang sebelum matahari terbenam. Waktu yang tepat untuk perpisahan.


"Jangan temui adikku, kumohon!" Pinta Eleanor. Tangannya masih setia memeluk suaminya dari belakang.


"Besok aku akan tetapi pergi, Lea. Karena konflik diantara kami sudah berlarut - larut. Maka harus segera dihentikan." Frederick melepaskan pelukan Eleanor dan menghadapnya. "Aku benar - benar harus melakukan ini."


"Dan pergi meninggalkanku?"


Eleanor sudah tak mampu membendung air matanya. Rasa sedih meluap dalam dadanya. Dia takut. Sangat takut untuk kembali kehilangan. Diawali kematian kedua orang tuanya, dia meninggalkan adiknya untuk mencari kebahagiaannya. Sekarang Eleanor sudah menemukannya, apakah sudah saatnya untuk dilepas?


Frederick menatap sayu wajah istrinya yang tampak awet muda. Tidak seperti dirinya yang wajahnya sudah timbul kerutan. Wanita di depannya masih begitu cantik, tidak banyak perubahan dari awal pertemuan mereka.


Dia mengusap air mata Eleanor yang sudah terjatuh. Dan menarik tubuh istrinya dalam dekapannya.

__ADS_1


Andaikata Frederick menolak untuk menjadi murid dari guru itu. Tidak ikut menjelajah dengannya. Menolak permintaan terakhir gurunya. Serta tidak jatuh cinta kedua kalinya terhadap orang yang sama. Maka semua ini mungkin bisa berakhir lebih bahagia.


"Aku sudah terlalu merepotkan adikmu..." Gumam Frederick, terdengar nada penyesalan dalam kalimatnya.


Dalam pelukannya, Frederick merasakan gelengan kepala Eleanor. Wanita itu tidak membenarkan ucapan suaminya.


"Will memang manja. Kau jangan mengikuti permainannya." Eleanor semakin mengeratkan pelukannya. "Aku ingin egois sekali lagi."


Frederick melepaskan pelukan diantara mereka. Dia kembali memandangi wajah sembab Eleanor yang masih sesekali sesenggukan. Frederick menangkup wajah Eleanor dan memberikannya kecupan singkat di bibirnya.


"Aku harus melapor ke istana."


SRET


Namun Eleanor belum rela. Dia mengapit jubah kebesaran milik suaminya, "Kumohon..."


Frederick menggeleng pelan, melepaskan apitan di jubahnya. Membenarkan posisi pedang yang sudah bertengger rapi di pinggangnya. Frederick berlalu dengan kudanya, meninggalkan Eleanor yang terpaku menatap punggungnya.


Eleanor mengusap wajahnya dengan kasar. Ini lebih menyakitkan dari yang ia kira.


"Sampai kapanpun aku akan menunggumu pulang. Jadi... kembalilah kepadaku, Edrick."


...❀...


Setidaknya mereka akan tetap mengisolasi diri dalam rumah masing - masing sampai Raja memberitakan tempat pengungsian bagi mereka.


Frederick tetap melajukan kudanya di jalanan yang lengang itu. Meskipun rasanya tetap aneh. Karena Ibukota adalah tempat paling ramai di seluruh Ranunculus. Dan sekarang mendadak menjadi kota mati.


Entah apa yang akan terjadi. Apakah ketika kita egois untuk kebahagiaan kita sendiri, maka selanjutnya hanya ada air mata penyesalan?


Sorot mata Frederick nampak meredup.


"Guru..."


Sesampainya di istana. Seperti yang diperkirakan oleh Frederick. Banyak bangsawan ternama sudah hadir dalam pengadilan dadakan ini. Padahal tidak ada kehadiran Pangeran Mahkota, tetapi mereka tetap melanjutkan rapat ini tanpa pewaris tahta tersebut.


"Heh! Si pembuat onar malah datang terakhir. Kalau aku jadi kau, sudah pasti takkan berani menampakkan diriku di depan publik."


Baru saja masuk ke ruang pengadilan, Frederick langsung mendapatkan sambutan dari Count Cheltics. Sejak dulu memang Count Cheltics tidak pernah menyukai Frederick. Dan sekarang semakin parah setelah mengetahui biang kerok penyebab konflik semakin berlarut.


Berbeda dengan Count Cheltics yang terang - terangan menyatakan tidak suka pada Frederick. Bangsawan lain lebih memilih tutup mulut, tidak mau membuat masalah dengan si Master Pedang.


"Setidaknya sebelum aku mati, aku tidak hanya meninggalkan nama." Frederick membalas sindiran dari Count Cheltics, seringai licik timbul di wajah Frederick.

__ADS_1


"Ouh, begitukah? Kasihan sekali..."


Anak kedua Count Cheltics menghentikan perdebatan ayahnya dengan Frederick. Sebab sang Raja dan Grand Duke Harold sudah datang. Rapat akan segera dimulai.


Setelah sapaan hormat penuh basa - basi itu. Raja merubah ekspresinya menjadi lebih serius. Tentu saja karena perubahan mendadak ini, situasi di dalam pengadilan menjadi tegang. Mereka enggan mendengar betapa buruknya penyerangan kali ini, sebab tidak ada Pangeran Mahkota, Duke Wayne dan Raģe Cheltics saat ini. Mereka masih berada di Agapanthus.


"Freesia memang belum memberikan serangan lainnya. Namun yang kita harus ketahui sekarang adalah, akses keluar masuk Ranunculus telah ditutup sepenuhnya oleh musuh. Dan yang melakukannya adalah Vinca."


"Ah, mereka memang telah bekerja sama dengan Freesia." Celetuk Baron Llamante.


Raja mengangguk. Kira - kira beberapa minggu lalu Vinca telah mengucap janji diatas kertas bersama Freesia, sebagai tanda mereka berada di kubu Freesia saat ini.


Ranunculus dan Agapanthus bisa saja melawan dan mengalahkan Freesia. Namun sekarang ada Vinca yang menjadi pertahanan mereka. Perisai sekelas Vinca lumayan sulit untuk diterobos.


Sekarang juga mereka telah kehilangan Agapanthus untuk sementara waktu. Karena mereka masih menyelesaikan beberapa masalah di sana. Raja tidak tahu lagi harus kemana meminta bantuan. Prajurit mereka bukannya lemah, namun disini Raja hanya mengantisipasi.


"Apa kita harus mengambil resiko?"


"Jangan gegabah, Yang Mulia. Kita pikirkan solusi lebih tepat lagi. Kita juga tidak mungkin meminta koalisi pada Hortensia." Suara Count Cheltics agak mengecil ketika mengatakan nama wilayah Barat.


Grand Duke Harold mendesah pelan, "Wilayah itu akan tetap menjadi netral. Apa mungkin karena Kaisar Hortensia benci perang?"


"Huh, jika memang benar begitu. Bukankah memilih untuk tidak membantai satu desa kecil di Hortensia hingga bersih akan menjadi opsi yang paling aman?" Frederick tersenyum miring. "Bahkan sebuah keluarga kecil dari Freesia yang tidak tahu bahwa tempat itu bekas pertumpahan darah malah tinggal disana." Frederick berkata lirih. "Padahal disana juga banyak sihir hitamnya."


"Sudahlah. Berhenti berharap yang tidak - tidak pada wilayah netral itu. Walaupun kita melolong kesakitan pun mereka akan tetap tidak peduli."


Frederick mulai cemas karena dia malah mengirimkan gadis aneh itu kepada Hortensia karena situasi genting waktu itu. Frederick takut dia tidak bisa menjaganya dari kejahatan dunia. Karena gurunya berpesan untuk melindunginya.


Clara Scoleths, kau masih hidup 'kan?


"Mereka akan kembali."


Frederick menatap tegas kepada Raja dan para bangsawana yang ada di pengadilan. "Pangeran Mahkota dan anakku pasti akan kembali. Dia akan kembali dengan seorang gadis yang dalam rumor dikatakan membunuh ayah Yang Mulia."


Raja tersentak, dia saling berpandangan dengan Grand Duke Harold. Mereka tahu siapa gadis itu, yang mereka herankan adalah dia yang seorang buronan untuk apa kembali jika akhirnya hanya akan ditangkap. Rumornya memang mulai memudar, tapi bukan berarti Raja menghentikan pencariannya. Dan sekarang, gadis itu kembali dengan sendirinya. Aneh. Padahal waktu itu sudah diberi kelonggaran karena Raja belum mendapatkan bukti perbuatannya.


Sedangkan para bangsawan lain terutama Count Cheltics, dia mengangkat sebelah alisnya. Merasa heran karena gadis dalam rumor itu setelah sekian lama kabur malah kembali. Dia mau masuk lubang buaya lagi?


"Pokoknya mereka akan datang!" Ujar Frederick dengan tegas.


Frederick mengerutkan keningnya, dia rasa dia terlalu comel sekarang. Karena belum tentu tiga orang yang saat ini begitu dibutuhkan muncul begitu saja. Ingatlah, pertahanan Vinca adalah yang terkuat dari wilayah manapun di Herbras ini.


Setidaknya, ini adalah bentuk balas budimu setelah aku dan Lraight menyelamatkanmu enam tahun lalu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2