
Setelah hari kemarin, Clara melakukan kegiatannya seperti biasa. Yang berbeda hanyalah hubungannya dengan Hellen yang semakin memburuk. Selagi Clara dan Duke Wayne pergi ke istana, Hendrick dan Duchess harus menenangkan Hellen semalaman.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Clara.
Hendrick hanya menjawab singkat, "Dia hanya menangis kemudian tertidur. Hari ini dia belum mau keluar, nampaknya mentalnya cukup tergoyahkan."
"Haruskah saya meminta maaf padanya?"
Alis Hendrick menyatu mendengarnya, "Kau mau ditampar lagi olehnya? Selain itu sebelum melakukan sesuatu pikirlah matang - matang dahulu. Kau membuatku kerepotan karena Hellen yang histeris. Setelah itu kau tanpa rasa bersalah malah pergi bersama Duke ke istana."
"Otakmu pasti sudah tidak berfungsi dengan baik lagi." Sambung Hendrick sambil menyindir Clara.
"Baiklah, untuk saat ini setidaknya saya akan diam dan menunggu. Lalu setelah itu..."
"Lebih baik kau menunggu dia yang mendatangimu, jangan ceroboh seperti kemarin, aku tak mau mengulanginya lagi."
Clara terdiam, matanya terfokus pada pena yang ia pegang. Sudah banyak dokumen ia selesaikan namun tumpukan - tumpukan dokumen itu seperti tidak ada habisnya.
Seharusnya aku meminta maaf dengan cara yang biasa saja... mungkin setidaknya takkan seburuk ini.
"Saya akan pikirkan tentang hal itu nanti." Ucap Clara.
Hendrick hanya berdecak pelan, "Kau tahu? Hanya waktu yang bisa membalas semua perbuatanmu entah itu baik atau buruk. Kusarankan kau untuk tetap diam dan menunggu saat yang tepat."
"Tuan Hendrick, kapan Duke Wayne melepaskan gelarnya?" Tanya Clara.
Hendrick mendengus pelan, "Tak tahu. Tanyakan saja padanya, aku tidak peduli."
Karena mendengar Hendrick mengatakan itu, Clara menatap Hendrick penasaran sekaligus heran.
Masih dalam masa pemberontakan ya...
Hendrick menggores selebaran kertas dengan agak kesal. Mungkin karena Clara yang tiba - tiba membawa nama orang yang paling dia benci untuk saat ini.
Inikan tugasnya sebagai Duke! Mengapa pula harus menumbalkan aku?! Tua bangka itu pasti sedang berfoya - foya diluar sana!
"Tch, masih kupantau pak tua itu!" Geram Hendrick.
"Sekarang hari yang paling menyebalkan..." Lirih Clara.
Hari ini, sesuai janji dari Hellen dan Rovers. Putra mahkota itu akan datang mengunjungi tunangannya dalam rangka tidak diketahui. Sementara waktu ini sampai Rovers kembali pulang, mungkin Clara akan bersembunyi di ruangan kerja Hendrick.
Tidak, tunggu dulu!
"Bukankah adik Tuan Hendrick masih dalam masa pemulihan karena kejadian kemarin? Apa akan baik - baik saja jika tunangannya datang kemari?"
"Tenang saja, dia pandai menutupi luka di hatinya."
"Terdengar seperti orang munafik bagi saya."
__ADS_1
"Bukankah kau juga sama saja? Jangan mengharapkan apa - apa dari Hellen setelah dia berteman denganmu selama tiga tahun."
Clara terdiam, ia memang merasa kesal. Namun pernyataan Hendrick tidak bisa dibantah. Karena bagaimanapun juga Clara sendirilah yang sangat pandai menutupi perasaan sebenarnya bahkan jati dirinya sendiri.
Ketika mengambil lembaran dokumen yang lain, Clara teringat akan sesuatu.
"Bagaimana jikalau saya menetap disini sampai orang itu pulang ke habitatnya?"
"Beruntung kau mencemooh Rovers bukan di depan Hellen sendiri. Kalau memang iya, rencanamu untuk berteman kembali dengan Hellen di masa depan bisa hancur seperti bubur."
"Saya hanya masih merasa dendam padanya karena hari itu. Tidak bolehkah saya membalasnya dengan hal kecil seperti ini?" Ketus Clara.
"Hah... sudahlah, dia mungkin akan datang sebelum makan siang. Jadi ada alasan bagimu untuk tidak keluar menemuinya."
"Baguslah."
"Kalau dia bukan calon Raja, aku malas sekali meluangkan waktuku untuknya."
"Memangnya kenapa?"
"Itu urusanku, anak kecil sepertimu tidak perlu ikut campur."
"Huh? Saya hanya bertanya saja. Hmph!"
Kembali pada dokumen, sementara Hendrick memikirkan lagi tentang kejadian semalam setelah ayahnya serta Clara pergi ke istana. Hendrick bisa saja menanyakannya, namun dia juga tahu bahwa Clara perlu ruang untuk privasinya.
KREK
Tiba - tiba pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis manis berambut coklat susu dengan iris yang serupa dengan emas. Dia tersenyum ceria pada sosok yang ia panggil kakak.
Namun ketika melihat ada penghuni lain di ruangan itu, gadis itu langsung berekspresi suram. Gadis bergaun hitam dengan kulit sepucat orang mati itu membuatnya tidak berselera untuk merasa bahagia.
"Mengapa mayat hidup itu ada disini, Kak?" Hellen bertanya dengan nada ketus. Di sisi lain, Clara hanya memperhatikan kedua saudara itu dengan tatapan datar.
"Haduh, apa kau lupa kalau dia memang selalu berada disini setiap hari?" Karena merasa kepalanya sakit, Hendrick memijat pelipisnya.
"Oh." Hellen menjawab tanpa minat.
"Jadi, ada apa mencariku?"
"Ini tentang kedatangan Putra Mahkota, apa Kakak akan seperti Ayah yang tidak menyambutnya? Kakak tahu? Ibu mendedikasikan waktunya untukku, tidak mungkin Kakak juga tidak akan melakukannya."
"...Kau tidak melihat dokumen yang diberikan Ayahmu padaku?" Dengan tanpa nada Hendrick segera menjawabnya.
"Ayahku juga Ayahnya Kakak." Celetuk Hellen.
Kemudian Hellen melihat ada sekitar tujuh tumpukan dimana salah satu tumpukan adalah yang sudah selesai. Lalu dia melihat ke meja satunya dimana dokumen masih bertengger manis di depan Clara dengan jumlah yang tak kalah banyak.
"Bukankah itu bisa diselesaikan nanti?" Wajah Hellen mulai cemberut tak senang.
__ADS_1
"Kau mau menyelesaikan ini untukku nanti?"
"Nanti 'kan?" Ucap Hellen kesal.
"Malam nanti pokoknya harus selesai, itu tenggat waktu paling singkat. Kau mau menyelesaikannya untukku?" Hendrick mengulang pertanyaannya.
Kali ini wajah Hellen terlihat ragu, dia kembali melihat Clara yang sekarang mulai menyelam lagi untuk menyelesaikan semua tugas hingga malam nanti.
"Bukankah hanya dia disini juga bisa? Dia makhluk malam bukan? Tidak mungkin Kakak tidak tahu." Tunjuk Hellen, dia masih belum menerima kalah debat dari kakaknya.
"Kalau dia bisa mengerjakannya aku juga pasti melempar semua dokumen ini padanya. Masalahnya, dia masih harus bertanya padaku jika ada dokumen yang tidak bisa ia tangani." Sambung Hendrick dengan nada rendah.
Clara pura - pura tidak mendengarnya.
Aku tahu aku bodoh! Lagipula aku ini bukan anak ekonomi tahu! Aku hanya ahli di bidang seni saja!
"Huh..."
"Mungkin Kakak akan mempertimbangkannya lagi ketika dokumen ini berkurang setengahnya." Dusta Hendrick, mana mau dia lembur lagi karena tugasnya lagi - lagi ditambah oleh Duke Wayne.
Kalau tugas yang ini saja belum dia selesaikan kemudian ditambah dengan yang lain. Itu akan berbahaya bagi keseimbangan keluarga ini, ada kemungkinan Hendrick kabur dan melepaskan gelarnya sebagai calon Duke.
"Ayahmu memperbudakku, katakan padanya bahwa aku sudah muak dengan semua kertas ini. Jadi, kerjakanlah sendiri." Kata Hendrick lagi sebelum Hellen meninggalkan ruang kerja kakaknya itu.
"Kakak masih memberontak rupanya."
KRIET
Pintu kembali tertutup, meninggalkan kesunyian diantara Hendrick maupun Clara. Tak lama Clara memutuskan untuk memulai percakapan.
"Apa Putra Mahkota akan datang sekarang?"
"Aku pikir dia tak lama lagi akan datang."
CLAK
Huh? Kebetulan sekali, baru saja diomongin.
Clara menatap keluar sambil memegangi cadarnya, di gerbang utama keluarga bangsawan Wayne. Ada seseorang yang menaiki kuda berbulu cokelat. Pria itu menggunakan pakaian resmi anggota kerajaan.
Mata sebiru samudra serta surai keemasan, akan aneh jika ada yang tidak menyukainya. Namun Clara adalah pengecualian, orang itulah yang sudah membuat pribadi dalam Clara keluar dan menempati kesadarannya.
"Dia datang!"
TBC
Oh ya, pemberitahuan ini agak telat sih tapi bakalan tetap dikasih tahu, sebenarnya ketika Clara berada di ruang kerja Hendrick. Ruangan itu hanya diterangi oleh cahaya minim dari lilin. Gorden dan pintu ditutup rapat untuk mencegah sinar matahari masuk. Clara kan sangat dilarang kena sinar matahari karena kulitnya bakal terbakar (ini dalam artian yang sebenarnya, bukan sekedar kulit Clara menghitam tapi beneran dapet luka bakar -_-).
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~