The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 28 - Tak Seburuk Dahulu


__ADS_3

Dengan sedikit kekesalan serta umpatan dalam hatinya. Clara menghadap Rovers yang masih terus melihatnya dari ujung kepala hingga kaki.


Ketika sudah ingat, Rovers berseru. "Oh! Bukankah kau adalah gadis yang selalu bersama dengan Duke Muda? Tidak kusangka kau adalah gadis yang cantik, bagaimana bisa dia berkata bahwa kau jelek?"


Aku juga ingin tahu.


Clara rasanya ingin memakai cadarnya, buntungnya Clara tidak membawanya. Dia tidak tahu kalau Rovers masih berada di kediaman Wayne dan belum kembali ke habitatnya.


"Mengapa Pangeran Mahkota masih ada disini?" Tanya Clara dengan nada dingin, persis seperti cara Clara memandang Rovers saat ini.


Rovers mengulum senyumnya, "Aku tahu sekali jika hujan sudah reda sejak tadi. Akan tetapi akan terasa canggung bilamana aku memutuskan tuk kembali. Padahal Duchess Wayne sudah mempersiapkan banyak hal untukku."


Itu adalah alasan yang paling tepat saat ini, Clara juga tidak bisa membantahnya. Mungkin Clara telah dibutakan oleh rasa kebencian sehingga hatinya selalu membantah perkataan Rovers.


Akan tetapi saat ini dia masih cukup tahu diri untuk tidak membuat keributan. Masalah di istana kala itu, Clara hanya bisa terus diam saja dan menerimanya dengan lapang dada.


"Menurut penilaian darimu, Hellen Wayne di matamu itu seperti apa?" Tanya Rovers, dia membuka topik baru antara mereka berdua.


Clara menghembuskan nafasnya berat, serta memejamkan matanya sebelum menjawab pertanyaan Rovers. Sesaat setelahnya, mata safir milik Clara terbuka lebar menatap langit malam bertabur bintang.


"Anda perlu tahu bahwa hati perempuan itu sensitif dan sangat mudah menuai luka baru. Jangan lakukan kesalahan bodoh seperti yang saya perbuat."


Rovers terkagum dengan kalimat nasihat Clara, dia kurang tahu tentang bagaimana rumitnya hubungan Clara dan Hellen. Yang ingin dia ketahui sekarang mungkin adalah...


"Siapa namamu?"


Setelah bertemu dua kali ternyata dia masih belum mengetahui namaku toh... aku sangat tidak ingin memberikannya namaku tapi, dia seorang pangeran bukan?


"Clara Scoleths." Lirihnya kemudian.


"Huh?" Rovers menatap Clara bingung.


"Nama saya adalah Clara Scoleths, anda bisa memanggil saya apapun."


"Baiklah, Nona Scoleths. Saya akan memanggilmu begitu."


Sumpah aku tidak peduli dia mau memanggilku apa.


"Apakah kamu tinggal disini?"


"Itu benar." Jawab Clara sesingkat - singkatnya.


Dia sangat ingin pergi dari hadapan Rovers, namun perlu diingatkan kembali bahwa pria ini akan menjadi raja di masa depan nanti. Clara hanya tak mau kena batunya karena bersikap tak sopan padanya.


Anehnya, meskipun Clara membenarkan bahwa ia tinggal disini. Rovers tidak bertanya macam - macam berkaitan dengan alasan Clara. Itu tidak akan berakhir bagus jika dia menanyakan itu. Apalagi sebelumnya hubungan mereka tidak terlalu baik.


"Soal tragedi di istana hari ituー"


"Maaf menyela anda namun saya sudah melupakan hal itu. Saya akan dengan senang hati bila anda tidak mengungkitnya lagi."


"Tapi terakhir kali pertemuan kita, aku kehilangan kesempatan untuk bicara denganmu. Lagipula saat itu ada tunanganku, aku merasa tak enak padanya."


Yah... aku juga masih ingat dengan bagaimana Hellen menyangka jika aku menyukai tunangannya ini. Padahal saat itu mereka belum bertunangan bukan?

__ADS_1


"Saya tahu. Dan saat ini anda berbicara dengan saya, apa itu tidak akan terasa aneh? Saya harap anda tahu batasannya. Sudah saya katakan jika hati wanita sangatlah sensitif dan terlampau lembut."


Rovers menyedari sesuatu, wajahnya nampak diselimuti kesenangan meskipun tidak terlalu kelihatan. "Menurutmu, apa yang disukainya dariku?"


Nya? Maksudnya Hellen? Ini pasti awal bibit - bibit cinta akan tumbuh. Astaga Rovers, gadismu akan menjadi rebutan oleh para orang berkuasa di berbagai belahan benua ini.


Aku mengasihanimu.


Clara berdehem pelan, "Mengapa anda tidak bertanya pada Nona Hellen sendiri? Sejujurnya dia agak terlalu gengsi untuk mengatakan hal memalukan tentangnya pada orang lain. Dengan kata lain Nona Hellen punya sedikit kepercayaan diri mengenai dirinya dan isi hatinya."


"Bahkan kepadamu? Yang memiliki usia sepantaran dengannya?"


Clara mengangguk.


"Mungkin anda juga tidak akan mendapatkan jawaban apa - apa jika bertanya secara langsung."


Dengan bingung Rovers kembali bertanya, "Maksudmu aku harus 'berbuat' daripada 'bertanya' jika ingin menanyakan alasannya. Bukankah itu terasa lebih sulit?"


"Maksud saya anda perlu 'berbuat' dahulu barulah 'bertanya' padanya. Namun kondisi ini hanya akan tercipta jika saat anda bertanya dia tak menjawab."


"Katamu dia punya gengsi tinggi, bukan?"


"Iya, itu memang benar.Tapi tidak ada salahnya jika anda bertanya lebih dulu. Harap - harap anda mendapatkan jawabannya."


Rovers mendengarkan setiap kalimat Clara dengan cermat.


"Memangnya anda sebegitu perlu terhadap jawabannya?"


"Iya." Rovers tersenyum sipu, ini agak aneh sebab dirinya dalam novel jarang mengeluarkan isi hatinya yang sebenarnya.


Bahkan saat ini Hellen sedang bersandiwara terkait masalah itu. Dia seharusnya bersedih namun karena kedatangan Rovers dia terpaksa untuk merasa bahagia. Seharusnya aku memang tidak mengganggunya.


Benar kata Hendrick.


"Nona Scoleths?" Panggil Rovers, sejak tadi Clara hanya diam termenung. Karena itu Rovers perlu memanggilnya berkali - kali sampai Clara kembali tersadar.


"Apakah kamu baik - baik saja?"


Meski masih merasa linglung, Clara tetap menjawabnya. "....? Ah iya! Saya baik - baik saja."


Apa yang sebenarnya kupikirkan? Aku mau pergi dari dunia novel ini dan kembali menjalani kehidupanku yang menyenangkan disana. Mungkin... aku juga sangat merindukan'nya'.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri." Clara memberikan hormat pada Rovers dan segera berbalik badan untuk kembali ke kamarnya.


"Baiklah, maaf mengganggumu." Rovers juga kembali masuk ke kediaman Wayne lewat jalan yang berbeda dari Clara.


...****...


Di kamarnya, Clara masih membaringkan tubuhnya. Matanya belum terpejam sepenuhnya. Dia hanya takut untuk menemui mimpi menyeramkan itu lagi.


Ini sudah lewat beberapa hari setelah suara aneh itu tidak terdengar lagi. Clara masih memikirkan bagaimana bisa suara aneh itu memanggilnya begitu.


"Master? Siapa yang ia maksud? Ada apa dengan tubuh ini? Bagaimana bisa aku terus - terusan menerima dampak buruk karena singgah di tubuh ini?"

__ADS_1


Perlahan - lahan Clara memejamkan matanya, kesadarannya pun ikut menghilang.


"Aku... sangat ingin pulang..."


...****...


SREK


"Hm?"


Seorang gadis dengan surai seputih salju, mata safir nya menatap heran kepada rerumputan berbunga indah yang ia pijak saat ini. Padahal sebelumnya dia ingat betul kalau dia ada di kasur hangatnya.


Forget me not?


"Mengapa aku ada disini?"


Kemudian kepalanya mendongak keatas, ada bukit kecil yang rendah disana. Dan disana pulalah ada bangunan menyerupai gazebo lengkap dengan orang yang bersantai disana.


Orang itu meminum teh sambil terpejam matanya, sepertinya orang itu sangat menyukai teh sehingga ketika ia memunimnya ia terlihat sangat menjiwai.


CLANG


Orang tersebut menaruh cangkir teh dengan perlahan.


Menyadari ada orang lain disini, orang itu menengok ke sampingnya. Di bawah bukit rendah itu ada seorang gadis cantik disana. Namun orang itu tidak terpana sedikitpun.


Orang itu memberikan tatapan yang menyayat hati.


"Apakah kau memutuskan untuk berhenti dan berakhir seperti 'dirinya'?"


Apa yang orang ini bicarakan?


Walaupun wajah orang itu menghadap pada Clara saat ini. Akan tetapi Clara tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Seolah ada kabut putih yang menghalangi wajahnya.


"Siapa kau?"


"Aku? Aku hanyalah seorang penagih janji disini."


Huh? Absurd sekali omongannya.


"Jalan mana yang kau tempuh akan menentukan masa depan yang kau ciptakan."


Setelah kalimat tersebut, entah mengapa pemndangan di sekitar Clara menjadi tidak jelas seolah memudar dan berubah menjadi putih sepenuhnya.


Karena cahaya yang begitu terang, Clara menutupi kedua matanya dengan tangannya.


Dan setelah merasa bahwa cahaya terang itu memudar. Ia membuka kembali matanya, dan menyadari bahwa dirinya telah kembali ke kamarnya. Bahkan saat ini ia masih berbaring dir kasurnya.


"Barusan itu.... apa....?"


TBC


Jangan lupa like dan komen ^-^

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2