
"Valen?"
Valentina masih tidak bergeming meski Clara atau James berkali - kali menyebut namanya. Gadis itu tetap terbuai dalam pikirannya, meratapi setiap hal baru saja terjadi.
Dia kembali merasakan pahitnya patah hati.
Maaf saja tidak akan cukup untuk sekarang. Karena itulah Edmond menyesali semua kata - kata manis yang pernah ia katakan kepada Valentina.
"Kenapa aku harus mencintai...? Bukankah ini hanyalah perasaan yang sia - sia? Sangat membuang waktuku..."
Suara Valentina terdengar bergetar hebat. Dia mencengkeram gaunnya. Setetes air mata telah meluncur membasahi setiap sudut wajahnya. Dia benci situasi sama ini terulang kembali.
"Cinta bukanlah hal yang sia - sia."
James mendekap lembut sepupunya dari belakang. Sungguh, dia bisa menerima patah hati jika itu terjadi padanya. Akan tetapi jangan untuk Valentina. Setidaknya, tidak untuk kedua kalinya. Gadis ini tak sekuat itu, dia sangat rapuh bahkan hanya untuk disentuh.
"Jika seseorang yang kau cintai menangis demi dirimu, tersenyum kepadamu, marah untukmu dan bahagia karenamu. Maka kau harus bersyukur karena telah mencintainya..."
Clara tertegun. Ia tak menyangka kata - kata keren barusan keluar dari mulut seorang pria yang bahkan lebih muda darinya. Kalau itu dia, Clara akan mengatakan sesuatu yang menenangkannya.
Cara kami memang beda, sih...
Valentina terdiam, dia menyentuh kedua tangan James yang melingkar sempurna di lehernya. Valentina kemudian menumpahkan air matanya disana, tidak peduli seberapa jelek dirinya saat ini. Yang dilakukannya hanyalah menangis dan terus menangis.
"Kau tahu? Cinta itu layaknya lautan. Sangat dalam dan tidak bisa diprediksi. Semakin kau tenggelam dalam cinta, maka kau akan tahu dunia yang lebih luas daripada yang selama ini kau lihat."
Mendengarnya, membuat Clara tersenyum getir.
Itu benar. Jika kau tenggelam dalam lautan terlalu dalam, kau akan tersesat dan memilih putus asa.
...****...
"Sudah merasa lebih baik?"
Valentina mengangguk pelan saat Clara bertanya padanya. Gadis bersurai putih itu memberikannya air agar bisa lebih tenang. Keadaan Valentina memang memprihatinkan barusan, siapa yang tidak tega melihatnya.
"Aku akan memeriksa situasi diluar hutan. Semoga tidak ada pihak musuh bersiaga."
Clara melangkah pergi meninggalkan James untuk menjaga Valentina. Agak riskan jika terus berjalan tanpa tahu situasi di setiap sudut hutan. Karena mereka baru berpapasan dengan Edmond, berarti ada kemungkinan mereka melakukan penjagaan di sekitar hutan.
James duduk di samping Valentina, menatap siluet Clara yang semakin masuk ke dalam hutan yang gelap itu.
"Kak Rara itu gadis yang berani. Sedikit berbeda darimu dan Allen." Celetuk James.
Valentina mendelik kesal, nama Hellen masih sensitif bagi telinganya. Apalagi akhir - akhir ini gadis itu juga menjadi rivalnya sebagai sahabat dari Clara Scoleths. Rasanya kekesalan Valentina yang sempat teredam, membuncah kembali.
"Kudengar dia senjata buatan Freesia."
DEG!
Valentina terperanjat, dia menatap tajam pada James seolah tak percaya. Namun James malah memperlihatkan wajah santai seakan tak melihat ekspresi menyalang Valentina sekarang.
"Apa kau berbohong?" Tanya Valentina tajam.
"Jika itu sebuah kebohongan. Maka aku akan lebih memilih mencari kebenarannya lebih dulu sebelum mendiskusikannya denganmu."
James menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Hari ini dia agak lelah, sekarang juga telah larut. Tubuhnya mulai ambruk dan kehilangan banyak stamina. Sayangnya, sejak datang ke Ranunculus dia belum makan apapun.
Valentina bungkam. Mulutnya terkatup sempurna. James mustahil berbohong pada dirinya. Pada Raģe saja tidak berani, apalagi pada sepupu perempuannya ini.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
James diam sejenak, mengingat sosok penuh kharisma yang berpapasan dengannya ketika ia mengendarai kuda ke Ranunculus. James tak mungkin melupakannya, karena pria itu adalah 'orang besar' dari wilayah netral.
"Ada seseorang, kau tak perlu tahu."
Valentina mendengus samar. Seiring berjalannya waktu, James semakin pandai menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan saat James menyukai Hellen. Dia terlalu mahir menutupinya sehingga Valentina telat menyadarinya. Berbeda dari Raģe yang sadar sejak awal.
__ADS_1
"Apakah aku mengenalnya?"
Valentina masih berusaha mengorek informasi dari James.
"Kau tidak mengenalnya. Tapi kau tahu siapa dia."
"Apa dia kakak yang baik?" Tanya Valentina.
"Hm?"
"Clara Scoleths."
Valentina memandang tempat tanpa cahaya rembulan yang baru saja dilewati Clara. James juga ikut menatapnya saat Valentina mulai membicarakan Clara. Si cantik yang mematikan.
"Dia bukan kakakku." James terkekeh.
Valentina melirik James sebentar.
"Namun, ketika dia memintamu memanggilnya Kak Rara, kau menurutinya tanpa protes. Dan sampai sekarang kau belum mengubah panggilanmu terhadapnya."
Tawa James terhenti. Benar kata Valentina. Padahal Clara hanya memintanya sekali saat mereka tengah berkumpul. Dan entah kenapa dia malah keterusan memanggilnya begitu hingga sekarang.
"...Aku suka memanggilnya begitu. Dia juga tidak protes bagaimana caraku memanggilnya." Jawab James setelah ada jeda di kalimatnya.
"Begituー"
Tanah yang mereka pijak mendadak bergetar hebat. James segera menopang Valentina agar gadis itu tak jatuh dan menghantam pohon di sebelahnya.
"Mengapa mendadak ada gempa bumi?!"
Dalam hatinya, James terus mengumpat kesal. Clara belum kembali dan sekarang malah ada gempa bumi. Ini bahkan tak lebih baik daripada diserang musuh secara membabi buta.
"Hey, James."
"Apa?!" Tanya James. Nada suaranya terdengar kesal, dia benci pada kesialan yang terus menerus menimpa dirinya.
"Apakah cuma perasaanku saja atau memang malam ini berkabut?"
"Sial."
...****...
"Claire? Apakah kau masih bisa bertahan?"
[Ini agak sulit, Master. Pria itu menimbun begitu banyak sihir hitam. Aku sangat terbebani disini.]
Alis Clara menyatu kebingungan. Setelah berhasil menyerap dendam Raja Willem, ia tahu jika sekarang tubuhnya sedang dalam kondisi terburuk. Ditambah Claire sepertinya tidak mampu menahan semua sihir hitam itu lebih lama lagi.
"Omong - omong, apa yang akan terjadi ketika kau meledakkan sihir hitam yang sudah kau serap?"
Clara memotong rerumputan di sekitarnya dengan pedang mawar kesayangannya. Jujur saja dia merasa sayang menggunakannya hanya untuk menebas ilalang. Tetapi pedang yang ia gunakan barusan sudah tak bisa memotong apapun karena sudah karatan.
[Aku akan mati dan Master yang akan menggantikanku untuk menopangnya.]
Langkah Clara mendadak berhenti.
[Jika Master juga tidak mampu menahannya atau mengolahnya. Maka sihir hitam akan meledak dan kembali pada pemiliknya.]
Pemilik?! Maksudnya penyihir pria di masa lampau yang pernah Jean ceritakan?
"Ugh..."
Clara hendak kembali melangkah, tetapi tubuhnya tiba - tiba goyah ketika tanah mulai bergetar. Nyaris saja Clara kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
"Apa? Gempa bumi..." Clara berkata dengan cemas.
Masalahnya dia meninggalkan James dan Valentina jauh di belakangnya hanya agar ia bisa memeriksa posisi musuh. Dia tidak memperhitungkan bencana alam ini. Clara jadi harap - harap cemas tentang mereka berdua.
__ADS_1
Baru saja Clara hendak berlari kembali melewati jalan yang ia baru lewati. Tetapi dalam pandangannya, jalan itu menghilang dan yang bisa dilihatnya sekarang hanyalah kabut asap.
"Mengapa mendadak ada kabut disini?!" Kesal Clara.
Bagus. Sekarang bagaimana caraku menyusul mereka berdua?
[Master, ini gawat.]
"Kenapa?"
[Sepertinya dia kembali.]
"Siapa maksudmu?!"
[Crater de'Lavoisiér.]
Nama siapa itu? Aku pernah membaca nama itu... tapi dimana?
...****...
"Urgh...!"
Seorang pemuda bersurai perak mengerang kesakitan, matanya terbuka perlahan hanya untuk menatap kabut putih tebal yang menyelimuti seluruh penjuru.
Dia bangun dalam keadaan terkejut, meraba sekitarnya dimana ada cairan kental di sudut lantai. George mengernyit, dia menahan rasa mual karena menghirup bau anyir dimana - mana.
"Oh ya, Clara?!"
"Aku harap dia tidak kenapa - napa."
Sejauh yang ia ingat, dia menemukan mayat yang terlempar dari dalam istana. Lalu dia bertemu dengan seseorang yang familiar sekaligus asing baginya. Karena George menghalangi jalannya, mereka berakhir dalam pertarungan. George bertaruh, dia mengalami kekalahan dari orang itu.
George tersentak. Dia memicingkan matanya, berharap bisa melihat lebih jelas walau kabut tebal menghalanginya. Mencari titik dimana dia menemukan mayatnya tergeletak.
"Jean?!"
George berseru ketika tangannya meraih sesosok pria dengan pakaian butler miliknya. Seorang pengawal sekaligus pelayan dari kaisar besar.
Ketika George berniat menyentuh tubuh dinginnya, kelopak mata Jean bergerak untuk terbuka. George memekik senang, dia rasa masih ada harapan untuk Jean bisa selamat.
"Tidak, Tuan George."
"Huh?" George memandang Jean heran.
"Inilah adalah akhirku. Aku bahagia bisa berjumpa dengan Kak Avrim sebentar lagi." Ucap Jean dengan suara parau.
"Bicara apa kau?! Kau ini juga spesial bagi Clara. Seharusnya kau bertahan untuknya lebih lama lagi. Jangan membuat dia harus merasa kehilangan, lalu rindu padamu..." Volume suara George mengecil.
"Saat aku hendak pergi juga, kau menahanku."
Jean terdiam, dia memejamkan kedua matanya perlahan. "Dimana Yang Mulia sekarang?"
"Entahlah... aku tidak tahu."
"Mungkin Yang Mulia sedang menyusul Nona sekarang. Yang Mulia orangnya jadi khawatiran kalau menyangkut Nona, manis sekali." Jean menghembuskan napas berat. "Sayangnya, hingga saat ini mereka belum bersama..."
"Memangnya semudah itu?"
"Hehe... banyak yang menginginkan Nona, sih."
George merasa jika tubuh Jean berangsur - angsur menjadi transparan. Tampak dirinya mulai berubah menjadi kelopak tulip berwarna ungu. Terbang bersama angin malam dan hilang disamarkan kabut.
George menatap langit malam. Lagi, dia menemukan fomalhout sendirian di langit malam. Sepertinya fomalhout sedang mengejeknya karena George juga kesepian, sendiri tanpa seorangpun menemani.
Sehelai kelopak dari tulip ungu tertangkap oleh sudut matanya. Mata George memicing, alisnya menyatu. Dia berkabung, tapi dia tak menangis.
"Bahkan diakhir pun, kau tetap setia padanya."
__ADS_1
TBC
Like + Komen