
Sigh... Duke Wayne dan aku belum berbincang lagi setelah dia memberikan pedangku kembali. Aku juga belum bicara apa - apa lagi Hellen. Hanya Hendrick yang selalu ada di saat seperti ini.
Clara duduk di jendela sambil menatap pemandangan malam ini. Karena sudah memasuki musim gugur, cuacanya lumayan dingin. Tapi karena Clara sudah biasa dingin, dia tak begitu khawatir akan kesehatan tubuhnya.
Kepala Clara menyender pada jendela. Dia begitu asyik menatap bintang - bintang sehingga tidak sadar kalau Avrim sudah masuk ke kamarnya untuk mengantarkan makan malam.
Bintang di dunia ini begitu terang. Pasti karena belum ada polusi udara yang merusak langit sehingga bintang dan yang lainnya masih begitu alami di sini.
Karena melihat Clara yang merenung di jendela, Avrim tahu bahwa nonanya butuh waktu untuk sendirian. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi Clara pasti mencari - cari informasi tentang pertemanannya dengan Hellen.
Setelah meletakkan makan malam, Avrim melangkah pelan menuju pintu dan menutupnya juga tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
"Hidup di dunia novel ternyata tidak semudah di novel - novel yang kubaca. Yang tentang masuk ke dunia novel dan berakhir di dalam tubuh antagonis. Karena takut mati mereka mengubah jalan takdir mereka dan malah disukai pemeran utama pria dengan alasan tertentu. Sebab si FL punya kepekaan yang kurang, sampai ending biasanya dia baru akan menyadari perasaan pada ML."
"Aku harap setidaknya ada harapan untukku bisa merubah jalan ceritanya. Agar Aku tidak mengalami kejadian mengerikan itu. Jika saja kepribadianku hanya satu." Lirih Clara.
[Master ingin membuangku?]
"Huh? Suara dari mana itu?" Clara beranjak berdiri ketika sebuah suara menyapu pendengarannya.
[Padahal Master yang melahirkanku. Mengapa Master sejahat ini kepadaku?]
Reflek Clara menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya. "Jangan bercanda! Siapa yang Kau panggil Master?!" Clara berteriak kalap, kemudian berjongkok.
[Master.]
"Hentikan! Aku tidak pernah melahirkan siapapun, Kau jangan mengaku - ngaku!" Clara merintih, dia nyaris menangis saat suara tersebut terus bergema di kepalanya.
__ADS_1
TOK
[Ternyata Master telah melupakanku. Apakah Master selalu mencampakkan orang lain setelah berteman dengannya?]
"Aku...bukan orang seperti itu! Itu pasti salahmu! Bukan aku! Kumohon keluarlah dari pikiranku." Kini tangisan Clara sudah pecah tanpa alasan. Tidak biasanya dia menangis tanpa alasan seperti ini. Bahkan saat dia masih di dunia sebelumnyaー
BRAK
Pintu terbuka secara paksa, Hendrick terlihat di baliknya dengan wajah kesal. Sedari tadi dia mengetuk, namun tidak ada respon sama sekali dari dalam. Jadi dia memutuskan untuk mendobraknya, seperti dulu.
Ketika melihat Clara yang berjongkok sambil menangis dengan wajah yang sudah memerah. Hendrick menghampirinya, dia menepuk pelan kepala Clara.
Clara perlu mendongak untuk tahu siapa yang melakukan itu. "Tuan Hendrick... aku..."
"Aku tahu. Tenang saja, mengapa kau berteriak dan menangis? Wajahmu yang jelek jadi tambah jelek 'kan." Tanya Hendrick. Dia juga duduk di lantai di hadapan Clara.
Dia memang pantas jadi jomblo seumur hidup!
Setelah lama menangis, Clara murung dan tak bergeming dari tempatnya. Dia mulai mengabaikan keberadaaan Hendrick di kamarnya. Namun karena hal ini adalah langka, Clara memutuskan untuk bertanya.
"Mengapa Tuan Hendrick ada disini?"
Mereka sama - sama menyender pada ranjang Clara dan duduk bersamping - sampingan.
"Dia menyuruhku datang kemari."
"Hmm? Siapa? Duke Wayne?" Tebak Clara.
__ADS_1
Mendengar kata 'Duke Wayne' membuat wajah Hendrick menjadi gelap. Clara langsung tahu kalau Hendrick sedang dalam masa pemberontakan sehingga enggan bertemu orang tuanya untuk saat ini.
"Itu Avrim. Tidak mungkin pak tuー uhuk! Ayah yang memintaku."
Dia tadi mau mengatakan pak tua, bukan?
"Yang penting kau baik - baik saja sekarang. Meskipun aku tahu bahwa kau tidak bisa cerita untuk saat ini."
Ah... dia menyadarinya.
Clara tersenyum lembut pada Hendrick. Meski tersenyum, tersirat makna permintaan maaf juga disana. "Maaf. Untuk saat ini biarlah menjadi rahasia. Nanti Duke Wayne akan memutuskan menceritakan pada anda atau tidak."
"Fyuh... kau dan Ayah sama saja. Aku pergi dulu."
Setelah Hendrick pergi dan menyisakan kembali kesunyian di kamar Clara. Clara sempat menyadari ada sesuatu yang berubah pada Hendrick. "Dia bohong."
Clara tahu persis kalau baru saja Avrim memasuki kamarnya. Melihat keadaanya yang seperti ini, Avrim pasti akan membiarkan dirinya sendirian untuk beberapa saat.
Mungkin, Hendrick kemari atas inisiatifnya sendiri. Dan Clara tahu apa maksudnya itu. Dia tidak begitu bodoh untuk mengetahuinya.
Clara menenggelamkan wajahnya ke lututnya.
"Maafkan aku Tuan Hendrick. Namun aku tidak bisa membalaskan perasaanmu kepadaku. Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?"
TBC
Jangan lupa like dan komen ^-^
__ADS_1
So, see you in the next chapter~