The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 103 - Dendam yang Terpendam


__ADS_3

"ARGHH!"


Clara merunduk kesakitan, sambil memegangi mata kirinya yang mengalami luka tusuk, lukanya begitu dalam hingga cairan merah kental dari matanya terus mengalir. Pedang yang ia pegang pun sudah jatuh karena reflek Clara.


Clara terus meringis menahan rasa sakit yang menerpa matanya. Dari mata kanannya, Clara bisa melihat darah yang terus menetes mengenai tanah sekitarnya.


"Apa ini tidak bisa disembuhkan dengan sihir hitam?" Frederick mendesis kesal, memandang tajam Raja Willem. Dia berdiri di depan Clara, waspada apabila Raja Willem kembali memberi serangan kejutan.


"Sihir hitam itu menorehkan luka, bukan menyembuhkannya." Jawab Clara dengan kesal, tangan kirinya masih menahan bendungan darah yang terus mengucur.


"Aneh. Kenapa yang dia serang mata kiriku padahal mata kananku lebih dekat untuk diserang?"


Kali ini Clara sudah mulai tenang, karena awalnya dia histeris sebab baru pertama kali terluka di bagian wajah. Dia merobek gaun berenda miliknya, mengikatkan potongan kain pada mata kirinya supaya tidak pendarahan lebih parah.


"Dia itu sedang mengejekmu!"


Clara mendelik, Frederick memang tidak pernah tahu tempat untuk melontarkan candaan gelap nya. Di saat seperti ini kalau Frederick mati itu adalah salahnya, karena lebih banyak bermain - main dibanding berusaha menghabisi musuh.


"Anda lupa jika ini dua lawan satu. Kalau kita kalah pokoknya ini salah anda! Rasanya memalukan saat kita yang keroyokan tapi kita jugalah yang kalah." Cibir Clara, tangannya menggapai pedang yang sempat dijatuhkannya.


"Mau saya yang maju lagi?" Tanya Clara sinis.


"Jangan. Bagaimana kalau kau tergores dan anakku dendam juga padaku? Sudah cukup orang itu..." Frederick menatap Raja Willem yang tengah membuang pisau berlumuran darah.


Frederick melangkah selangkah lebih depan dari Clara. Dia menghunuskan pedangnya pada Raja Willem yang sudah membersihkan bekas darah Clara dari zirah juga pakaiannya.


"Anda tidak lupa bukan bahwa kemampuan Raja Willem menjadi pesat karena sihir hitam? Anda juga bisa dilumpuhkan dengan mudah dengan sihir hitam. Jadi, jangan lengah."


"Aku tahu. Aku saat ini membutuhkan 'dirimu yang lain' untuk membunuhnya. Apa kalian bisa bertukar?"


"Akan saya usahakan. Negosiasi dengannya itu tidak mudah, dia lumayan pembangkang."


Frederick tersenyum sinis, telinganya terasa gatal. "Berarti dia versi hebat dirimu. Kalian sama - sama liar dan pembangkang."


"AP--!"


Clara berdecak, menatap punggung Frederick yang semakin menjauh. Baru saja Clara ingin protes dengan ejekannya, namun Clara sadar bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk candaan basi ini.


Clara memejamkan matanya.


Claire? Dimana kau, Claire?


[Mengapa Master begitu gencar mencariku? Aku bukan buronan kerajaan seperti Master. Karena sejak awal aku hanyalah parasit di batang pohon.]


Kau bukanlah parasit, Claire! Kau adalah kau! Sudahlah, ada sesuatu yang perlu kau lakukan.


[Yang perlu kulakukan? Apa Master masih sulit beradaptasi dengan kemampuan membunuh yang diwariskan Clara Scoleths? Anda lebih mirip Lyserith sekarang.]


Apa?! Jadi kau tahu bahwa aku, Clara dan Lyserith jiwa yang sama dengan raga berbeda?

__ADS_1


[Tentu saja. Karena itulah aku tidak terlalu protes saat Master memasuki tubuh Clara Scoleths seenaknya. Jika Clara Scoleths adalah reinkarnasi Lyserith. Maka Master adalah reinkarnasi Clara Scoleths.]


Tidak tunggu dulu! Bukankah aku dan Clara adalah reinkarnasi Gadis Mawar Putih.


[Itu keliru Master. Seharusnya Clara Scoleths sudah meninggal setelah aku meminum racun lalu bereinkarnasi sebagai Master. Namun Master malah datang ke masa ini dan mengganti posisi Clara Scoleths. Karena perbedaan ruang waktu ini bisa terjadi.]


Timeline yang berbeda, yah... Bagaimana dengan novel yang kubaca? Bukankah itu adalah cerita original di dunia ini?


[Itu benar Master. Tapi seseorang sudah menyabotase masa depan. Master, masa depan itu tidak hanya ada satu. Setiap kejadian kecil akan berpengaruh pada masa depan, apa yang akan terjadi. Inilah yang dinamai efek kupu - kupu. Kepakan sayap kupu - kupu yang rapuh belum tentu mustahil menjadi badai.]


Siapa yang berani melakukannya?


[Semua ini ulah Lavoisiér.]


DEG


Debaran jantung Clara berpacu lebih cepat setelah mendengar Lavoisiér disebut. Clara ingat bahwa seseorang mengatakan bahwa dia adalah satu - satunya keturunan Lavoisiér yang masih hidup.


"Jangan - jangan dia..."


Kenapa dia melakukannya?


[Karena dendam. Orang ini berusaha menghentikan dendam yang terus mengalir di benua Herbras dengan berbagai cara. Sihir hitam yang merajalela adalah alasan utamanya. Namun aku belum sepenuhnya yakin tentang alasannya sih... karena Kaisar Sieg tidak memberitahu lebih banyak dari itu.]


Bahkan Kaisar Sieg pun tahu?! Ada apa ini?! Lavoisiér telah mengacaukan segalanya. Alur yang berantakan, dendam yang terpendam, bahkan sihir hitam yang semakin berkembang.


Claire, kumohon gantikan kesadaranku... bantu aku melawan Raja Willem. Setidaknya bantulah pak tua itu, dia ingin aku membayar enam tahun yang kuhabiskan di kediaman Wayne. Kau juga termasuk diriku...


[Mendengar Master memohon seperti itu. Aku jadi ingat Clara Scoleths. Dia juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang Master lakukan sekarang... enam setengah tahun lalu.]


Clara tahu itu, pasti Clara Scoleths memohon pada Claire ketika Frederick dan Raja Lraight menculiknya. Tapi niat mereka ketahuan, dan terjadilah bentrok diantara Raja Willem dan pasukan Freesia melawan Frederick dan Raja Lraight.


Clara Scoleths saat itu tak mampu untuk membantu orang - orang yang ingin menariknya keluar dari sangkar emas. Merasa kehidupannya akan lebih baik jika ikut bersama mereka, Clara Scoleths memohon kesadarannya diganti dengan Claire.


Awalnya Claire enggan membantu karena bukan waktunya kesadaran Clara Scoleths beralih menjadi dirinya. Tapi Clara Scoleths semakin mendesaknya apalagi setelah melihat Raja Lraight yang ditikam Raja Willem.


Claire kemudian menyetujuinya, dan akhir dari insiden penculikan itu adalah pembantaian yang dilakukan oleh Claire. Belum lama ini juga Frederick tahu jika pelaku pembantaian enam tahun lalu adalah pribadi dalam Clara yaitu Claire.


[Aku akan membantumu, Master.]


Clara tersenyum senang, tetapi kepalanya mendadak diserang rasa pusing. Kesadaran Clara perlahan - lahan lenyap.


Angin berhembus semakin kencang pertanda sudah semakin larut. Akan tetapi pertempuran diantara senjata dan Frederick melawan Raja Willem belum kunjung selesai. Tak ada yang mau kalah, semuanya berjuang keras demi bisa menjatuhkan masing - masing.


Mata Clara yang terpejam kini terbuka. Mata safirnya berubah menjadi warna lapis lazuli, semakin menggelap karena sihir hitam yang terus diserap tanpa sadar oleh raganya. Kini Claire telah mengambil alih kesadaran Clara, masternya.


Betapa mengejutkannya, Claire terperangah dengan pemandangan di depannya. Baru saja dia berdiskusi dengan masternya, menghabiskan waktu bermenit - menit karena topik diantara mereka selalu menemukan cabang baru.


Claire menutup mulutnya tidak percaya. Matanya terbelalak, merasa bahwa dia sekarang sudah sangat terlambat. Tangan Claire semakin menggenggam erat gagang pedangnya.

__ADS_1


BRUK


Sebuah tubuh yang bersimbah darah jatuh jauh di depan Claire. Ada luka besar memanjang dari dada hingga organ pencernaannya. Meski begitu, Claire melihat bahwa tubuh itu masih bisa melakukan gerakan - gerakan kecil. Darah terus mengalir dari tubuhnya membuat genangan kecil berwarna merah pekat, sangat kental dengan bau amis.


"Aku... terlambat?"


...❀...


Saat Clara masih bernegosiasi dengan pribadi dalamnya. Frederick sibuk mengulur waktu bagi Clara. Dia terus menerus menghujani Raja Willem dengan serangan - serangannya. Tapi Frederick kini merasa malu dengan gelar Master Pedang yang dia miliki.


Raja Willem selalu bisa menangkis serangannya. Stamina Frederick terus terkuras, sangat berbeda dengan Raja Willem yang nampak masih segar. Seolah dia mampu meladeni Frederick hingga fajar kembali tiba. Tetapi lawannya tidak bisa seperti itu.


Apakah ulah sihir hitam? Kenapa sihir itu menjadi amat sangat merepotkan?! Aku benci sihir hitam itu... Guru juga 'kan?


Frederick bersiap menahan serangan pedang lainnya dari Raja Willem. Karena sejak tadi mereka hanya jual beli serangan. Frederick mengatur kuda - kudanya supaya dia bisa bertahan.


SRET!


Ap--?!


Dalam satu kedipan, Raja Willem menarik kerah pakaian Frederick dan menariknya lebih dekat. Tangan kiri Raja Willem terus mencengkeram kerah Frederick sangat kuat sampai Frederick merasa tercekik karenanya.


STAB


"Guah...!"


Pedang Raja Willem dengan mudahnya menembus organ pencernaan Frederick, pria itu ingin berteriak kesakitan tetapi suaranya terasa tertahan. Raja Willem menarik pedangnya keatas sehingga Frederick mendapatkan luka memanjang hingga dadanya.


Setetes darah keluar dari mulut Frederick saat dia batuk. Mata Frederick terbelalak, seperti mayat hidup. Tapi Frederick masih merasakan tubuhnya, dia belum mati rasa. Sial sekali dirinya, padahal Clara masih diam di tempat dan belum ada tanda - tanda peralihan kesadaran.


Frederick mendelik tajam pada Raja Willem. Pedang di genggaman Frederick terlepas, dia mengambil kerah Raja Willem balik dan membenturkan keningnya pada kening Raja Willem. Saking kerasnya membuat ekspresi datar Raja Willem menghilang, darah mengalir dari kening mereka berdua lalu memenuhi wajah.


"Sadarlah Willem! Kau sudah dibutakan oleh dendam di hatimu! Sihir hitam semakin menelan dirimu ke dalam kegelapan..." Frederick mengucapkan kalimatnya penuh penekanan.


"Bicara omong kosong apa aku?! Dasar penculik." Suara dingin Raja Willem akhirnya terdengar kembali. Dia benar - benar seperti kesurupan setan saat bertarung barusan karena dendam kesumat dalam hatinya.


Raja Willem mencabut kembali pedangnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Kini dia mencengkeram kerah Frederick dengan kedua tangannya. Dari sorot matanya bisa disimpulkan bahwa dia benar - benar sudah terjerumus dalam dendamnya terlalu dalam.


Raja Willem menendang tubuh Frederick yang mulai lemas dan memucat. Karena tenaganya hampir habis, Frederick hanya bisa menerima tendangan Raja Willem. Tubuh Frederick terjatuh ke permukaan tanah, tubuhnya mulai mati rasa.


Frederick merasa kesadarannya semakin direnggut. Matanya mulai terpejam, dia enggan untuk menutup matanya, tetapi kelopak matanya serasa berat. Samar - samar bisa Frederick dengar suara teriakan seorang perempuan.


Lea... maafkan aku...


Kedua mata Frederick terpejam perlahan - lahan. Sementara seorang gadis muda dengan surai seputih salju dan iris lapis lazuli berlari ke arah dirinya terbaring lemas.


"TUAN FREDERICK!!!"


TBC

__ADS_1


Jangan lupa letakkan like dan komen.


So, see you in the next chapter~


__ADS_2