The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 120 - Salam Perpisahan


__ADS_3

Clara menatap curiga pada kabut hitam yang bergerak menuju satu arah saja. Seolah ada sesuatu yang menyebabkan mereka terkumpul, apakah pemicunya ada di tempat yang mereka tuju?


"Arah bergeraknya... tujuannya adalah Hortensia." James berkomentar.


Apakah ini ulah seseorang, tapi di Hortensia... siapa? Apakah Jean karena dia bisa sihir juga?


Clara menggelengkan kepalanya, membuang segala macam pikiran buruknya. Jean memang bisa sedikit sihir, namun Clara yakin betul bahwa Jean tak memiliki keunggulan yang sama dengannya. Yaitu menyerap sihir hitam.


Dan lagi, kemampuan yang Clara miliki ini dia dapatkan dari Lyserith. Yang mana Clara masih memiliki satu garis takdir yang bersinggungan dengan sang Gadis Mawar Putih. Sementara Jean, dia mungkin mendapatkan kemampuan sihirnya dari penyihir pria dalam legenda.


Apakah Yang Mulia baik - baik saja? Tuan Hendrick dan yang lainnya juga... Kuharap ada kesempatan bagiku untuk bertemu kembali dengan mereka. Sungguh, aku sudah lelah dengan semua pertarungan ini.


Clara berusaha untuk berdiri. Dia sedikit bersyukur karena kabut hitam yang menghalangi jarak pandang semakin samar. Namun itu bukanlah hal baik karena sihir hitam itu bergerak secara janggal menuju satu tempat.


Ah, aku ingat. Hortensia mengandung banyak sihir hitam. Mawar birunya mungkin sudah berubah hitam sekarang karena sihir hitam dari luar memasuki wilayah itu.


[Hortensia itu benar - benar gila!]


Huh? Claire?


[Master! Dia telah kembali! Lavoisiér dalam legenda, sang pemilik sihir hitam. Dia mengambil kembali sihirnya untuk memusnahkan seluruh umat manusia di Benua Herbras ini.]


Clara tercengang mendengarnya. Namun sebisa mungkin dia bersikap tenang, sekarang bukan saatnya lari pontang - panting seperti orang gila meskipun ia sering melakukannya sebelum jiwanya pindah ke dunia ini.


Siapa maksudmu, Claire?


[Dia adalah Crater. Crater de'Lavoisiér!]


...****...


Suara dentingan terdengar di udara. George berusaha mati - matian untuk menahan serangan beruntun dari orang sinting yang terobsesi untuk balas dendam ini.


Pikirnya, George perlu melakukan sesuatu untuk menghalau pria ini terus mengumpulkan sihir hitam. Karena sihir hitam yang menyatu dan semakin pekat akan membuatnya menjadi lebih susah untuk ditaklukkan.


Namun ketika George mulai menyerangnya, pria ini selalu dengan mudah menahannya dan memukul mundurnya balik.


Entahlah, dia memang mempunyai dendam kesumat terhadap semua orang di Benua Herbras ini akibat kematian kakaknya, keluarganya serta kekasihnya.


"Lavoisiér adalah kutukan. Kalimat itu dicetuskan oleh para bajing*n yang menganggap diri mereka paling suci. Haha! Mereka bahkan lebih kotor daripada perkiraanku."

__ADS_1


George juga terus menahan telinganya agar lebih kuat mendengar setiap ocehan panjang lebar dari si sinting ini. Menahan mulutnya sendiri untuk tidak membalasnya dengan seluruh kata mutiara yang dia ingat.


Ingatlah, George telah belajar banyak hal untuk menjadi lebih sabar ketika dia berada di Vinca. Karena saat dirinya masih di Freesia, George sering melontarkan sumpah serapah kepada semua orang kecuali ayahnya sendiri.


Bagaimana keadaannya sekarang? Apa Clara memutuskan untuk membunuhnya?


George terkesiap saat lengan kirinya mendapat luka tusukan yang cukup dalam. Matanya melirik pada luka tersebut, ada aliran darah yang keluar darisana.


"Harusnya kau fokus terhadapku. Jika kau memikirkan hal lain saat bertarung denganku, bukankah itu berarti kau meremehkanku?" Pria itu berkata dengan nada tidak suka.


"Kalau aku mau, aku bisa membunuhmu dalam sepuluh detik saja." Sambungnya.


"Oh ya?"


"Yeap."


Pria itu menutup matanya sekejap, dan saat dia membuka kembali kelopak matanya. Kedua ruby itu nampak bersinar, berkilat tajam seolah singa yang sudah menemukan mangsanya. Seringai lebar terpampang jelas di bibirnya.


"Aku ini Lavoisiér, loh~"


George terdiam membatu. Bukan karena pria itu berhasil menghipnotis dirinya, melainkan ada sebuah pemandang lain yang mengalihkan perhatiannya.


"Seseorang menghentikannya?" George bertanya - tanya.


"Ck. Harusnya aku membunuh dia lebih dulu sebelum menyerap peninggalan Ivory. Meski mereka adalah orang yang sama, aku takkan menganggapnya sebagai Ivory-ku." Geram pria itu.


"Apa maksudmu gadis yang kau cintai dan Clara adalah orang yang sama? Setahuku dia hanya reinkarnasi dari Gadis Mawar Putih." George mendelik.


Pria itu terkekeh pelan, "Kau tidak tahu? Gadis Mawar Putih itu reinkarnasi Ivory. Makanya kakakku bisa dekat dengannya. Itu karena ada ikatan batin diantara mereka sebagai sesama Lavoisiér."


...****...


Claire? Apa kau yakin mau menghentikannya dengan cara ini? Maksudku, jika sihir hitam hilang bersamamu juga maka aku akanー


[Berhentilah berbicara omong kosong Master. Dia tidak bisa dihentikan secara langsung karena dia bisa mengendalikan sihir hitam. Hanya ini satu - satunya cara yang bisa kita perbuat.]


Clara akhirnya diam dan menurut. Rencananya mereka akan mengalihkan sihir hitam untuk diserap ke dalam diri Claire sementara hal yang menjadi tujuan kabut hitam berhenti menyerapnya. Claire menyangka bahwa akan ada sesuatu yang berbahaya terjadi jika situasi ini terus dibiarkan.


"Kak Rara? Kau baik - baik saja 'kan?"

__ADS_1


"Ah, James. Ya. Aku baik - baik saja."


James menatap Clara penuh kekhawatiran. Sementara dia menjaga Duke Nielsen, berharap ia segera siuman. Clara terus diam sambil menundukkan kepalanya. Kedua tangannya pun mencengkeram dadanya erat.


James sendiri sebenarnya cukup terkejut saat kabut hitam nampak samar - samar memasuki tubuh Clara. Namun karena Clara mengatakan ini bagian dari rencananya, James hanya bisa terus diam dan melihatnya.


Iris Clara yang telah berubah menjadi lapis lazuli tampak menyiratkan kesakitan. Sedang mata kirinya yang telah rusak dengan balutan kain tak James ketahui bagaimana keadaan mata kiri Clara. Karena mata itu telah berlubang sepenuhnya dan akan meninggalkan bekas yang cukup dalam.


Clara semakin menundukkan kepalanya. Ia merasa kepalanya seperti ditusuk ribuan jarum, bahkan dia mulai muntah darah akibat menyerap sihir hitam terlalu lama.


"Kak Rara!"


James mendekati Clara dan mulai memeluknya dengan erat. Sekarang ia mulai ketakutan akan kehilangan seseorang lagi. Clara adalah sosok kakak serta ibu pengganti baginya. Semoga gadis itu terus sehat. Clara tidak boleh pergi meninggalkannya seperti yang dilakukan oleh ibunya.


Claire? Hey... jawab panggilanku.


Clara mulai kalut saat Claire tidak menjawab panggilannya. Ia tidak tahu bagaimana jadinya sekarang kalau Claire benar - benar akan berakhir seperti yang direncanakan olehnya.


Harusnya aku menolak permintaannya dan mencari cara lain.


Saat Clara menitikkan air matanya, rasa hangat menjalar di seluruh tubuhnya. Bukan, ini bukan karena pelukan James. Siluet sesosok wanita yang tampak samar - samar memeluk Clara dari belakang gadis itu.


Wanita itu membisikkan sesuatu di telinga Clara.


"Memang tidak sampai setengahnya. Tapi, aku sudah berjuang untuk menghilang bersamanya. Kuharap kau bisa melanjutkan misi Lyserith dan diriku."


Apa? Claire, jangan bicara omong kosong lagi! Bukankah sudah kuperingatkan! Aku... aku...


"Maafkan aku, Master. Karena membiarkanmu berjuang sendirian di dunia yang kejam ini. Tolong lindungilah dunia ini, seperti langit berbintang yang menyelimuti dengan lembut di malam hari."


Semakin samar siluet putih itu, dan mengilang menjadi sebuah bintang yang tergantung dalam kegelapan malam. Satu - satunya yang menyinari di kala gelap menyelimuti.


Kain yang menutup mata kiri Clara pun berangsur - angsur menghilang. Perlahan Clara membuka kelopak mata kirinya. Disana terlihat warna ruby yang indah menghiasi, menggantikan pesona safir yang telah hilang karena luka mendalam.


Clara mengeratkan cengkeraman tangannya pada pakaian James. Sementara pria itu masih setia menenangkan Clara dalam pelukannya. Sihir hitam yang diserapnya pun mendadak berhenti dan mereka kembali bergerak menuju Hortensia.


Aku harus segera kembali ke Istana Kerajaan, lalu menyelesaikan perang bodoh ini. Crater de'Lavoisiér, aku akan menghentikanmu dengan pedangku!


Karena itu, berhentilah mengadu domba orang yang kau benci. Aku muak untuk terus kehilangan...

__ADS_1


TBC


__ADS_2