The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Chapter 45 - Jatuh Cinta?


__ADS_3

Jean membuka kelopak matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah jendela dengan gorden hitam. Saat itu ia sadar bahwa dirinya tidak berada di kasurnya.


"Ah! Ini kamar Nona!" Teriak Jean.


Namun semua itu terlambat saat Jean berniat merapikan kasur. Dia menatap aneh pada kain lembut yang menutupi tubuhnya. Dan melihat seseorang yang asyik mengupas kulit jeruk.


Orang itu sadar kalau Jean telah bangun, dia menyapa Jean dengan santainya. "Yo! Sudah bangun?"


"Ma..maaf Nona! Saya sama sekali tidak bermaksud untuk tidur disini. Sayaー"


"Astaga Jean santai saja, kau tidak sedang melakukan kejahatan. Mengapa begitu panik? Lagipula aku tidak keberatan, kau pasti merasa sangat lelah, bukan?"


Jean terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Clara. Bahkan Avrim, orang yang ia hormati selain Meiger. Selalu menegurnya untuk kesalahan - kesalahan kecil dengan bahasa halus.


Anehnya, Clara yang Jean kira sebagai gadis yang lebih perfeksionis dari Avrim malah membiarkan seorang berstatus pelayan tidur di kasurnya. Bahkan menyelimutinya, Jean yakin itu ulah Clara.


"Seharusnya Nona marah karena ini bukanlah hal sepele. Apalagi saya seorang pria, bukankah Nona agak terganggu dengan gender saya?"


"Hng? Hahaha!!!" Clara awalnya bingung tapi selanjutnya malah tertawa terbahak - bahak. "Itu benar kalau aku cukup canggung karena perbedaan gender kita. Namun aku tidak pernah mengatakan terganggu, bukan? Kau bisa lihat sendiri kalau aku tidak terlalu masalah dekat Yang Mulia. Dulu juga aku setiap hari bersama Tuan Hendrick."


"Itu... benar..."


"Kan? Jadi kau tidak perlu terlalu formal kepadaku. Kalau kau mau, kau bisa memanggilku dengan nama depanku yaitu Clara. Sayangnya Avrim tetap memanggilku Nona."


"Saya juga akan tetap menggunakan panggilan Nona."


"Huh..." Clara mendengus.


"Hey, Jean. Kapan Avrim kembali? Aku sangat merindukannya, dia lama sekali...!" Keluh Clara, meski ia mengatakan lama. Tapi sebenarnya itu belum tiga hari penuh.


"Nona... Bibi Avrim juga bukannya bermain - main disana."


"Aku tahu, hanya saja aku kesepian saat ini."


"Disini ada saya Nona."


"Itu memang benar."


Clara memasukkan potongan jeruk ke dalam mulutnya sekaligus banyak. Membiarkan Jean yang masih duduk termenung diatas kasurnya.


"Jean, besok pagi aku akan pergi ke perbatasan bersama Yang Mulia. Maafkan aku karena membebanimu dengan semua pekerjaan itu."


"Apa? Ke perbatasan bersama Yang Mulia? Memangnya ada apa? Nona mau berkencan?"


"Uhuk!" Seketika Clara tersedak jeruk.


"Ah! Nona!"


Jean turun dari kasur Clara dan menghampiri Nona-nya itu. Tapi Clara mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa ia baik - baik saja.


"Nona..." Jean berkata dengan khawatir.


"Apa maksudmu dengan kencan? Kami bahkan tidak saling mencintai! Mustahil dua orang berkencan kalau tidak ada perasaan cinta sama sekali diantara mereka."


"Oh, saya hanya asal bicara saja Nona. Masalahnya adalah ini memang sudah waktunya Yang Mulia mencari pasangan."


"Begitu. Aku tak tahu tentang itu."


Mungkinkah rumah bangsawan yang ingin ia kunjungi adalah rumah dari seorang gadis yang akan dimasukkan ke dalam harem-nya?

__ADS_1


"Nona. Yang Mulia tidak tertarik membuat harem ataupun sekedar mengambil satu selir dan satu permaisuri. Setidaknya Yang Mulia hanya akan menikahi orang yang mencintainya dan dicintainya."


Seolah mampu membaca pikiran Clara, Jean segera meluruskan.


"Ah! Perasaan yang timbal balik 'kah? Yang Mulia sangat memperhatikan persoalan kecil. Padahal kalau mau, Yang Mulia bisa memaksa gadis bangsawan yang tidak ia cintai untuk menikah dengannya."


"Tidak Nona. Yang Mulia begitu menghargai perasaan orang lain."


"Walau dia tidak menghargai satu nyawa pun?" Cetus Clara, mengingat kalau malam pertemuan mereka Meiger begitu acuh padanya.


"Ahaha... itu urusan lain, Nona..."


"Heh, begitu rupanya. Tenang saja, aku mempercayainya."


"Tapi kedengarannya tidak."


...****...


Di esok harinya, sesuai jadwal dan janji Clara. Clara akan ikut Meiger pergi ke rumah bangsawan di dekat perbatasan. Mereka saat ini sedang berada dalam kereta kuda.


Karena ini pagi, meski berada di dalam kereta kuda. Clara tetap memakai jubah panjang serta cadar penutup kepalanya. Sementara duduk di depannya, Meiger yang setengah tertidur hanya berpangku tangan memandang keluar.


"Apakah ini adalah pertemuan resmi?" Tanya Clara. Ia merasa terlalu sepi disini, biasanya kalau ada di situasi ini, perbincangan akan tetap jalan bersama Duke Wayne ataupun Hendrick.


Mungkin Meiger tak begitu suka berbicara.


"Tentu. Kalau bukan, untuk apa aku merepotkan diriku untuk datang sendiri? Aku bisa meminta Jean pergi menggantikanku."


Heh? Kedengarannya tidak adil bagi Jean. Apa dia memang selalu menerima ketidak-adilan ini sejak lama?


"Biasanya pertemuan resmi di istana kekaisaran. Mengapa malah pergi ke rumah bangsawan? Mungkinkah ini adalah pernikahan politik?"


Gasp! Mulutku licin sekali!


"Um... Yang Mulia...?"


"Itu tidak sepenuhnya benar ataupun salah, tapi mungkin saja kepala keluarga mereka sedikit mengharapkannya. Hanya saja untuk saat ini aku tak begitu tertarik dengan ikatan pernikahan. Jadi harapannya tak bisa menjadi kenyataan."


"Lantas apa tujuan pertemuan resmi ini?" Tanya Clara, alisnya mengkerut karena kebingungan melanda otaknya.


Meiger tersenyum tipis. "Bukankah kau mau menemaniku seharian bukan sebagai kaisar? Apa kau melupakannya?"


DEG


Clara tersentak mendengarnya, sesuatu membuat jantungnya terpacu sangat cepat. Wajahnya yang memerah juga terasa panas sekarang ini. Akhirnya Clara mencengkeram dadanya dimana pacu jantungnya tak terkendali. Beruntung ia memakai jubah, kalau tidak, Meiger bisa tahu bagaimana ekspresi yang Clara buat.


Hee? Apa ini sebenarnya?! Aku ini hanya terpesona saja padanya atau apa? Padahal saat aku bersama kekasihku hal ini tidak pernah terjadi. Mungkinkah ini... aku jatuh cinta padanya?


"Hamba... tak melupakannya kok Yang Mulia. Tenang saja, hamba akan membuat Yang Mulia merasa santai hanya di hari esok!"


"Baguslah kalau kau mengingatnya."


Itu tidak mungkin cinta, aku pasti hanya kaget.


Clara merasa lebih tenang setelah jantungnya kembali berdetak dengan kecepatan normal. Bertepatan dengan itu, ternyata mereka telah sampai ke tujuan.


"Bangsawan tingkat apa mereka itu?" Tanya Clara.


"Duke, ini adalah rumah bangsawan Duke Nielsen."

__ADS_1


"Aku tak menyangka kalau pangkat setinggi mereka bisa - bisanya tinggal di perbatasan."


Clara turun dari kereta kuda dibantu oleh Meiger. Ia kembali ingat saat dirinya dan Hendrick pergi ke istana di hari peringatan kelahiran Raja. Dia juga melakukan hal yang sama persis seperti Meiger.


"Salam sejahtera untuk Kaisar Hortensia."


Seseorang dengan wajah keriput dan rambut beruban memberikan salam penghormatan pada Meiger. Clara berfikir jika itu adalah Duke Nielsen yang sempat mereka bicarakan di perjalanan.


Saat itulah, Duke Nielsen menyadari kalau Kaisar tidak datang sendirian melainkan ada seseorang berjubah bersamanya. Dilihat dari tinggi badannya, Duke Nielsen berasumsi kalau itu adalah seorang wanita.


"Kalau hamba boleh mengetahui, siapakah gerangan orang berjubah yang datang bersama Yang Mulia?" Tanya Duke Nielsen.


"Ini, dia adalah temanku."


"Nama saya Clara Scoleths, Duke Nielsen." Ujar Clara sembari menundukkan sedikit badannya.


"Jadi benar seorang perempuan." Cetus Duke Nielsen.


"Silahkan Yang Mulia, hamba antarkan kedalam."


Duke Nielsen segera mengambil tempat sebagai pemimpin. Dia berjalan dengan lambat, karena itu Meiger menyelaraskan langkahnya agar tidak terlalu cepat. Begitu pula dengan Clara yang hanya mengikuti mereka dari belakang.


Di perjalanan itu, Duke Nielsen serta Meiger banyak berbincang mengenai masalah politik di Hortensia ini. Mungkin karena masalah ekonomi Hortensia sudah stabil dan tidak ada protes dari rakyat, Meiger hanya tinggal mengawasinya saja agar tidak mengalami kemerosotan.


Disana jugalah Clara menyadari, bahwa ekspresi Meiger ketika di istana kekaisaran dan di luar istana sangatlah berbanding terbalik.


Di istana kekaisaran, Meiger cenderung jarang mengalami dinamika emosi atau bisa dikatakan setia pada wajah datarnya. Sementara saat ia berada diluar, dia mempunyai begitu banyak emosi meskipun tetap saja dia berbicara seperlunya seperti di istana kekaisaran.


Meiger memiliki reaksi terhadap apapun yang menyangkut kehidupan rakyatnya. Dan kelihatan acuh bila mengenai kehidupan pribadinya. Agak tidak seimbang memang, tapi beginilah cara Kaisar Hortensia mengembangkan negerinya hingga sedemikian rupa. Bukan hanya Meiger, para Kaisar Hortensia terdahulu juga mengambil langkah yang sama.


Clara bersyukur dia bisa mengajak Meiger bersantai seharian dari tugasnya sebagai kaisar. Kalau tidak, mungkin Meiger akan membiarkan dirinya tenggelam dalam urusan kekaisaran.


Tapi jangan menganggap ini sebagai kencan oke?!


"Ayahanda? Ah! Salam sejahtera untuk Kaisar Hortensia."


Di tengah perjalanan menuju ruangan resmi. Seorang gadis muncul di hadapan mereka, dari segi rupa dia sangatlah mirip dengan Duke Nielsen. Dengan mudah Clara menyatakan bahwa gadis itu adalah anak dari Duke Nielsen.


"Jadi ini anakmu?" Tanya Meiger.


"Itu benar Yang Mulia, namanya adalah Cattleya Nielsen." Jawab Duke Nielsen.


Gadis muda itu, Cattleya memberikan salam penghormatan sebagaimana gadis bangsawan. Senyumnya yang menawan serta ekspresi kelembutan layaknya seorang ibu.


Clara sendiri sebagai seorang gadis, tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Cattleya. Tidak mungkin kalau Meiger tidak tertarik pada kecantikan luar biasa yang dimiliki Cattleya.


Surai biru langit serta mata merah muda. Inilah fisik yang didamba - dambakan banyak gadis. Jangan lupakan kulit putih yang kelihatannya halus itu.


Karena Cattleya juga memiliki kepentingan. Dia mengikuti Clara, Meiger serta ayahnya ke ruang diskusi. Dalam perjalanan singkat itu, Clara bisa melihat keakraban mereka. Bahkan senyum tulus itu, seorang gadis takkan melakukannya kalau bukan pada keluarga ataupun orang yang ia cintai.


Dilihat dari sisi manapun mereka begitu serasi. Meski Yang Mulia tak tertarik untuk menikah, itu bukan berarti dia tidak tertarik pada Cattleya. Cattleya memiliki ketertarikan pada Yang Mulia, bukankah pernikahan diantara mereka bisa saja terjadi?


Clara menjadi murung, dia lagi - lagi mencengkeram dadanya. Ini berbeda dari yang pertama. Saat ini Clara merasa sesak dan sakit melihat pemandangan itu, keakraban Meiger dengan Cattleya.


Mengapa rasanya sakit sekali? Rasanya sangat sesak, aku ingin menangis saat ini. Tapi kenapa aku ini? Setidaknya kalau mereka mau mesra - mesraan jangan di depanku bisa bukan?


"Jadi ini yang namanya cemburu?" Gumam Clara.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ^-^


So, see you in the next chapter~


__ADS_2