The Antagonist: World Ends Theory

The Antagonist: World Ends Theory
Extra Part 1 - Yang Mencintai Takkan Melupakan


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, burung berkicau bersama kawanannya. Langit biru yang di gradasi warna jingga terbentang luas. Dan pantai yang seolah memantulkan warna langit.


Seorang gadis melukis pemandangan pantai sendirian. Dia tampak serius pada setiap detail goresan di kanvas miliknya. Matanya terfokus pada pemandangan yang ia abadikan dalam bentuk lukisan.


"Hm... hm..." Gadis itu tersenyum lembut sambil bersenandung riang. Dia mengayunkan kedua kakinya.


"Ah...!"


Tiba - tiba ada sebuah bola yang menghantam lukisannya. Padahal lukisan itu sudah hampir selesai, gadis itu menatap kecewa pada lukisan di atas permukaan pasir.


Dia langsung mengambil kanvas dari pasir dan berusaha membersihkannya. Dia berharap kalau lukisannya masih bisa dipakai dan tak perlu membuat yang baru.


"Hosh... hosh... kamu, maafkan aku tentang lukisanmu. Itu..."


Seorang pria datang dengan napas memburu. Sepertinya ia menghampiri gadis tersebut dengan berlari.


Gadis itu hanya memperlihatkan ekspresi terbaiknya. "Jangan khawatir tentang lukisanku, aku bisa membuat yang baru. Lagi pula kau juga tidak sengaja, bukan?"


Gadis itu bangkit setelah mengambil kembali lukisannya. Dia merapikan alat lukis serta cat air miliknya. Sementara itu, si pria masih menunggu gadis itu selesai.


"Tapi..."


"Tidak masalah 'kok. Sudah kubilang 'kan kalau itu bukan salahmu. Tenang saja, aku adalah pelukis terhebat dalam satu sekolah. Masalah begini hanya hal kecil bagiku."


"Benarkah?"


Gadis itu mengangguk yakin.


Namun pria itu meragukannya. "Aku..."


"LAURA...!"


Mendadak pekikan seseorang terdengar dari jauh. Meskipun jauh, suaranya jelas terdengar.


Gadis itu, Laura tampak panik seketika ketika mendengar suara tersebut. Mendadak tubuhnya menegang tak bisa digerakkan.


Laura langsung menghentikan amukan temannya. Dia menghampiri orang yang teriak itu dalam waktu sepersekian detik.


Pria itu menatap kepergian Laura. "Laura, ya..."


...❀...


"Ouch...!"


"Hey, Michael. Apa yang kau lamunkan? Aku tahu kau sering diam melamun. Tapi, hari ini nampaknya kegalauanmu muncul lebih lama."


Michael memegangi keningnya yang diketuk pelan oleh temannya.


"Terserahkulah."


"Hah... apa kau sedang menyukai seorang perempuan sekarang?"


"..."


"Jangan - jangan kau memang punya? Astaga, tidak kusangka anak populer sepertimu baru mendapat hidayah sekarang."


"Hentikan itu, lagipula yang kau katakan sama sekali tidak benar."


"Jack." Panggil Michael pada teman sebangkunya itu.


"Hm?"


"Apa kau tahu di mana kelas dari gadis bernama Laura?"


"Kau menanyakan seorang gadis namun mengelak bahwa kau menyukainya. Pria lain dengan sifat sepertimu harus dihapuskan dari muka bumi ini." Desis Jack.


"Sudahlah, jawab saja!"


"Baik - baik, dia itu adalah ketua dari klub seni. Karena dia pandai membuat sketsa, gambar, dan lukisan. Guru selalu membawanya bertanding di ajang - ajang bergengsi."


"Aku bertanya di mana kelasnya."


"Kau tidak sabaran, sekali. Dia dari kelas 3 - 7."


"Jauh sekali."


"Karena itulah kau hampir tidak bisa mengenali siapa Laura. Dia hanya terkenal di kelasnya dan para guru. Sebab klub seni tidak begitu menonjol di sekolah kita."


"Begitu. Namun dengan rupanya, mungkin saja kalau dia disukai banyak pria."


Diam - diam Michael menggeram kesal akan sesuatu.


Jack menahan tawanya. "Memangnya kenapa? Kau cemburu kalau ada pria yang mendekatinya? Padahal kau bukan siapa - siapa, kau bahkan mengenalinya tanpa sengaja. Dan sekarang kau bertingkah seolah dia adalah kekasihmu. Lucu sekali!"


"Diamlah. Aku paling tak ingin mendengar itu darimu. Dasar playboy."


"Mulutmu jahat sekali, pantas saja gadis yang kau tolak selalu menangis setelahnya." Cibir Jack.


"Ap-"


Sebelum berhasil menyelesaikan kalimatnya, Michael dihentikan oleh seorang guru yang datang ke ruang kelasnya. Itu adalah guru seni.


Guru seni ini agak unik sebab jarang sekali pindah ke ruang seni ketika jam pelajarannya. Jadi murid - muridnya pun akan bertanya dulu kalau hari ini belajar di kelas atau ruang seni.


"Hari ini kita sudah masuk materi melukis. Karena itu, harap semua murid membawa peralatan lukis ke ruang seni." Ucap guru tersebut.


Semua murid pun mulai membawa peralatan lukis mereka dan keluar ruangan kelas. Begitu pula dengan Michael dan Jack.

__ADS_1


"E-he! Aku tak sabar ingin melihat lukisanmu itu."


"Pada dasarnya kau mau mengejekku, bukan?"


Yah, Michael memang payah dalam urusan seni dan keindahan. Meskipun akademik dan kemampuan olahraganya sangat luar biasa. Namun dia sangat tidak pintar dalam pelajaran yang satu ini.


"Aku akan mengajarimu!" Jack setengah mengejek.


"Cih, penipu."


Setelah seluruh murid duduk di tempatnya masing - masing. Guru seni tersebut membentangkan gulungan kertas yang sejak tadi ia bawa. Ternyata itu adalah lukisan pemandangan. Guru itu melukis tepi pantai dengan langit sore hari.


"Eh?" Michael tertegun melihatnya. Dia merasa tak asing dengan lukisan itu sehingga menatapnya cukup lama.


"Kenapa?" Tanya Jack. Dia menyadari kalau Michael agak terkejut tadi.


"Tidak ada 'kok."


"Huft... Kau benar - benar pembohong yang buruk."


"Kali ini kita akan melukis dengan tema alam. Kalian boleh melukis apa saja dan itu harus identik dengan alam. Namun fokusnya adalah flora, karena kita akan mendalami makna dari setiap bunga. Waktunya sampai kelas selesai, tapi bagi yang tak cukup dan belum selesai saat itu. Kalian boleh melanjutkannya di rumah atau disini pun boleh hingga pukul tujuh. Kita akan membahas setiap makna lukisan di pertemuan selanjutnya."


Jack mendekat pada Michael kemudian berbisik. "Apa yang akan kau buat?"


"Mungkin 'yang mencintai takkan melupakan'...? Bunga kecil seperti forget me not cukup mudah dibuat untuk amatiran sepertiku."


Jack terdiam.


"Apa?" Tanya Michael.


"Tidak, tidak ada. Biasanya kau begitu buta jika menyangkut masalah seni. Apalagi seni lukis dan musik. Tapi hari ini kau agak 'bersinar' kalau aku mau bilang."


"Maksudmu?"


"Yah... Agak tidak biasa bagimu untuk memahami bahasa bunga. Tapi, baru kali ini kau terlihat mengagumkan. Setidaknya yang kau ketahui tidak hanya 'kamulah satu - satunya'¹."


"Kau berlebihan."


"Aha! Maaf kalau begitu."


"Tapi aku juga belum tentu bisa melukis itu. Rasanya aku sudah tak ingat lagi bagaimana bentuk lukisan itu. Mungkin karena aku tak melihatnya lebih lama makanya agak terlupakan."


"Huh? Apa yang kau bicarakan? Lukisan itu? Maksudmu 'yang mencintai takkan melupakan' itu adalah sebuah lukisan nyata dan bukan karya orisinil milikmu?" Jack menatap temannya itu heran.


"Tidak... Aku yakin tidak ada lukisan yang diberi nama itu 'sih."


Jack mengabaikan ke-eror-an temannya dan fokus pada lukisan yang akan ia buat. Michael melihat lukisan Jack yang sudah selesai seperempatnya.


Michael mengerutkan keningnya. "Vinca? Kau penyuka hal - hal menyangkut kenangan rupanya. Apakah mengenang adalah kegiatan menyenangkan?"


"Diam! Ini bermakna besar untukku."


Michael yang memang payah dalam melukis menunda kepulangannya dan terus menetap disana. Di sampingnya ada Jack yang setia menunggu dengan hasil lukisan sudah terpajang di dinding ruangan, dia hanya bermaksud pamer.


Guru seni itu juga nampaknya tak bermasalah dengan kondisi Michael. Dia sudah hafal betul kalau murid cerdas ini tumpul di satu - satunya pelajaran, yaitu seni.


"Apa tidak masalah kalau kalian Ibu tinggalkan?"


"Tidak masalah, Bu! Aku akan menemani Michael sampai ia tumbang."


"Oy! Apa maksudmu itu?!"


Setelah guru meninggalkan mereka berdua, tak lama ada seorang gadis yang menghampiri Jack.


"Jack, mengapa kau masih di kelas? Aku lelah menunggumu di gerbang sekolah, tahu!"


Jack menengok pada gadis itu, dia menepuk keningnya sendiri seolah telah melupakan sesuatu. Michael yang punya firasat buruk langsung mendesis pelan.


"Cepatlah pergi sebelum dendamku padamu semakin besar." Desis Michael.


"Ehehe, sampai jumpa besok kalau begitu." Jack tertawa canggung lalu segera pulang bersama gadis tersebut.


Michael kembali melanjutkan lukisannya.


.


.


"Hee? 'Yang mencintai tak akan melupakan' kah? Tidak buruk untuk pemula..."


?!


"AKH!!!"


"KYAAA!!!"


BRUK


Michael kaget karena ada seseorang yang tiba - tiba berbicara dari belakangnya. Karena itulah dia memekik kaget, seseorang itu juga akhirnya ikut berteriak karena terkejut bahkan sampai jatuh tersungkur.


Setelah itu, Michael membalikkan badannya, di sana ada gadis seusianya yang sedang berusaha bangkit, namun Michael tak punya niatan untuk membantunya dan lebih memilih menunggu gadis itu berdiri sendiri.


Seolah hal itu pernah terjadi sebelumnya, entah dimana.


Ia hanya mengulang hal yang sama.


Michael lalu tersadar kalau gadis itu adalah Laura, gadis pelukis yang ia sempat temui di pantai kemarin menjelang petang hari.

__ADS_1


"Yo, kita bertemu lagi." Sahut Laura, saat ini dia berhasil berdiri lagi dan memecahkan keheningan diantara dirinya dengan Michael.


Michael kembali sadar dan menatap Laura yang melambai padanya. "Mengapa kau ada disini?"


Laura menunjukkan kedua jarinya sambil tersenyum lebar. "Aku ini adalah ketua klub seni, aku datang kesini untuk mengambil beberapa peralatan lukis milikku yang ketinggalan."


"Ah ya, Jack mengatakan kepadaku tentangmu yang adalah ketua klub seni."


"Hng? Jack...? Siapa itu?"


"Dia sahabatku, jangan terlalu dipikirkan." Lalu Michael kembali fokus pada lukisannya.


Laura mencondongkan tubuhnya ke depan, melihat karya lukis buatan Michael, "Forget me not bunga yang sangat berkesan eh... Mengapa kau memutuskan melukis ini?"


"Entahlah, aku hanya sedang ingin melukis bunga ini. Aku pernah melihatnya entah dimana, aku sudah tidak mengingatnya lagi."


"Begitu, alasan yang tidak bisa diterima sekali."


"....."


"Tapi tenang saja, aku akan membantumu melukisnya! Aku ini ratunya seni lukis loh." Kata Laura berbangga diri.


"Oh..." Michael tampak tak tertarik sedikit pun.


Laura segera mengambil kuas di samping kanvas, menyelupkannya ke dalam palet berisi cat. Laura berniat membantu Michael menyelesaikan lukisannya lebih cepat.


Meski awalnya agak kesal, Michael membiarkan Laura membantunya. Karena bagaimanapun juga Laura dan dirinya bagai langit dan bumi. Dimana saat ini Michael membutuhkan bantuan darinya.


"Apa kau punya kekasih? Kalau kekasihmu melihatmu dekat - dekat dengan seorang pria. Hubungan kalian akan terancam, kau tahu?"


Seketika tawa renyah Laura lepas dari bibirnya, "Memangnya aku punya? Sebenarnya kau dapat darimana info sesat itu? Aku tidak pernah punya pacar kok selama ini."


"Begitu."


Pembicaraan mereka terhenti sampai situ, dan mereka kembali fokus pada lukisan bunga Michael. Dan Sekitar 30 menit setelahnya, lukisan itu akhirnya selesai. Setidaknya dengan bantuan Laura dia bisa menyelesaikannya lebih cepat.


Karena ini hanyalah latihan saja, aku tidak diwajibkan memajangnya di ruang seni. Nanti akan terlihat sekali kalau ini bukanlah lukisanku. Aku akan membuat lukisan lain di rumah sebagai penentu nilai seni-ku.


Michael meregangkan tubuhnya, memandang dari jauh hasil lukisannya bersama Laura. Memang tidak salah jika Laura dipilih oleh guru sebagai ketua klub seni.


"Hey, terima kasih atas bantuanmu-- eh?"


Michael menengok ke sampingnya, dan alangkah terkejutnya ia melihat kalau Laura sedang menangis saat ini.


"Apa kau... menangis?" Tanya Michael dengan hati - hati.


"Hee? Ah! Ini sama sekali bukan air mata kok!" Dengan kasar Laura menghapus air matanya, dan membiarkan seragamnya menjadi kusut.


"Kau berbohong, sini biar kulihat wajahmu yang kusut itu."


Michael menahan tangan Laura untuk menghapus air matanya. Jadi dia bisa dengan leluasa melihat wajah menyedihkan Laura saat ini.


"Kau tahu? Bahkan kau terlihat indah ketika kau menangis."


Karena perkataan Michael itu, Laura malah jadi sulit untuk berhenti menitikkan air mata. Baru kali ini dia menangis sejadi - jadinya di hadapan orang asing seperti Michael.


"Di saat seperti ini... tolong jangan bercanda."


Laura masih terus terisak, belum ada tanda - tanda ia akan berhenti menangis. Michael juga tidak menghibur Laura sama sekali, itu jadi terasa menyebalkan bagi Laura.


Tapi... lukisan bunga forget me not itu... benar - benar kurindukan. Bukan pada lukisannya, tapi pada pelukisnya.


Dalam bayang - bayang Michael. Dia melihat ada seorang gadis dengan surai putih yang diikat oleh jepit giok. Dirinya sedang melukis bunga, ditemani dengan pria muda di sampingnya yang selalu memanggilnya nona.


Michael memeluk Laura dengan lembut. Dia membiarkan Laura untuk terus menangis, meski itu berarti dia perlu mengorbankan kebersihan seragamnya saat ini.


Laura tidak membalas pelukannya, dia hanya berani untuk mencengkeram lengan pakaian Michael. Lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pemuda itu.


"Hey, jawablah dengan jujur. Apa kau merasa senang sekarang? Apa kau bersenang - senang saat melukis bersamaku?" Tanya Laura masih diselingi isak tangis.


"Ya. Itu tadi sangatlah menyenangkan, memori indah ini akan kuingat. Selalu."


Michael melirik ke sampingnya, menghindari kontak mata langsung dengan Laura. "Tapi... hal yang paling membuatku senang adalah kehadiranmu di sisiku. Itu saja sudah membuatku bahagia. Mengetahui bahwa kau masih ada ialah berkat untukku."


"Huh?"


Michael memegang pergelangan tangan Laura dan mengaitkan setiap jari mereka satu persatu. Hal itu tentu saja membuat Laura tersipu malu, wajahnya sudah semerah tomat sekarang.


"Selama ini, aku ingin mengatakannya kepadamu. Tetapi setiap kali ingin mengungkapkannya, aku selalu kehilangan kesempatan untuk itu."


"Apa itu?"


"Laura, aku mencintaimu."


Setetes air mata mengalir di pipi Laura. Dia tersentak sebelum akhirnya tersenyum penuh rasa haru. Kali ini dia memberanikan diri untuk membalas pelukan Michael.


"Ya! Aku juga sangatlah mencintaimu!"


Dan begitulah, daun - daun berguguran bersamaan dengan cerita lama. Lembaran lama akan disimpan bersama memori - memori indah. Lembaran baru akan kembali dibuka.


Tidak selalu di musim semi. Bagi beberapa orang, musim gugur adalah musim pertemuan yang sebenarnya.


TBC


[1] Kamu adalah satu - satunya adalah bahasa bunga matahari.


Jangan tinggalin cerita ini dulu oke? Karena masih ada 1 chap lagi yang belum ku post.

__ADS_1


So, see you in the next chapter~


__ADS_2